
Kediaman Besar Kaviadra.
Seperti yang sudah diduga oleh Farah, seluruh anggota keluarga besar mulai memberondong dengan berbagai pertanyaan yang sama sepanjang jalan.
“Sejak kapan kalian memiliki hubungan?” tanya bibi Lyn menjadi penengah.
Farah kembali gusar, dia menundukkan kepala bermain tangan di bawah sana. Sejujurnya dia bisa saja menjawab kebenarannya. Hanya saja, dia tidak tahu apa yang sedang dimainkan kekasihnya. Tidak mungkin Farah mengatakan mereka terjebak saat Keenan tidak sengaja menggagahinya beberapa bulan yang lalu.
“Apa semenjak kamu pindah ke Condo? Bibi selalu merasa curiga… Apalagi saat kamu sakit, Kakakmu begitu terlihat mengkhawatirkanmu…”
“Cih… Kamu diam-diam menghanyutkan ternyata!” cibir Karen dingin semakin membuat tegang keadaan mereka sekarang.
“Kamu kenapa sih? Hal yang tidak bisa aku terima adalah jika semua ini paksaan dari Kakak brengsekku itu!!” umpat Karen tidak senang, kedua orang tuanya menatap tajam Karen dan Farah bergantian.
“Benarkah demikian Farah?” tanya tuan Kaviandra penasaran.
“Tidak!” Farah segera menghardik pemikiran keluarga calon suaminya. “Bukankah mustahil jika Kakak yang memaksaku… Justru, aku yang memaksanya! Maafkan aku…” Farah menunduk menjatuhkan air matanya.
“Sayaaang!” Nyonya Lyn bangkit dan memeluk Farah segera. Karen masih berdiri di tempatnya. Ada rasa tidak nyaman yang masih menggerogoti hatinya.
“Kami semua tahu, kamu begitu mengagumi Kakakmu itu… Namun, kamu tahu sendiri… Keenan memiliki sikap kasar juga keras… Kami khawatir, kamu justru tidak bahagia dengannya…” Nyonya Lyn kembali memberikan semangat pada anak angkat yang akan menjadi menantu kesayangan keluarga Kaviandra.
“Farah, kami tidak mempermasalahkan bagaimana rumor yang akan menimpa keluarga kita nantinya.” Tuan Kaviandra mendekat, dia mengacak rambut Farah perlahan. “Kamu hanya perlu percaya, Keenan benar-benar menyayangimu!”
Jantung Farah seperti berpacu lebih cepat sepuluh kali lipat dari biasanya. Dia memeluk erat bibinya. Rasanya sungguh tidak bisa diungkapkan kata.
“Farah, Keenan tidak pernah menunjukkan sikap manisnya selama ini. Hehe… Tapi, kamu harusnya tahu sendiri… Sejak dulu, kamu selalu jadi prioritasnya… Bukankah begitu Karen?”
“Hm!” Karen menjawab singkat dengan hanya berdehem saja.
“Karen…” Nyonya Lyn merasakan putri bungsunya sedikit berbeda kali ini.
“Huh! Aku bisa menerima semuanya, asalkan Keenan berjanji benar-benar menjagamu!!” Karen mengeluarkan suara. “Lihat dirimu? Kamu tidak seperti Farah sebelumnya… Apa saja yang sudah kalian lakukan? Apa kamu hamil?!”
Deg!
“Karen!!” Nyonya Lyn segera menyanggah makian putrinya yang terasa berlebihan.
Wajah Farah sudah pucat pasi, hal itu jelas sekali di netra Karen semakin yakin banyak hal disembunyikan adik kesayangannya itu. ‘Aku tidak akan pernah memaafkan Kakak jika dia menyakitimu, Farah!’
“Kamu mengada-ngada!!” rutuk Farah kembali mengembalikan keadaan seperti biasanya. “Kakak mana berani… Dia hanya kasih kiss doang…” Farah menunduk malu, semburat merah di wajah cantiknya membuat semua orang disana terkekeh dengan tingkah menggemaskannya.
“Paman, Bibi… Aku sungguh lelah, bolehkah aku istirahat lebih dulu?” Farah segera menghentikan pertanyaan untuk hari ini. Dia sungguh tidak akan sanggup lagi, siapa tahu Keenan tidak akan pulang, habis sudah dia tidak tahu harus berbohong seperti apalagi.
‘Karen terus menatap perutku… Sungguh membahayakan!”
__ADS_1
“Hei, kamu mencoba melarikan diri?!!” Karen bersiap kembali menahan adiknya, dia belum puas selama semuanya masih terlihat aneh di matanya.
“Sudahlah Karen, biarkan Farah beristirahat!” cegah nyonya Lyn menahat tangan putrinya.
“Maaa!” Karen berbalik merutuki ibunya.
Farah menatap nanar ke arah kakak sepupu tersayang miliknya. ‘Maafkan aku, Karen!’
Tanpa sepatah kata apapun lagi, Farah berlari kecil menuju kamarnya.
“Apa kalian tidak bisa melihat tingkah Farah saat ini?!”
Karen tidak tahan dan mencerca kedua orang tuanya. “Aku merasa aneh, aku memiliki firasat buruk!”
“Nak, Keenan sudah mengatakan di depan publik tentang hubungannya. Itu artinya, dia sudah siap bertanggung jawab dengan segala sesuatu yang terjadi dengan mereka!” Tuan Kaviandra mengambil alih mengkondisikan keadaan kembali normal seperti biasanya.
“Aku merasa aneh, apa mungkin Farah hamil duluan?!” Karen menjatuhkan air matanya.
“Itu lebih bagus, kita tidak perlu menunggu lama lagi menjadi oma dan opa! Hahaha…” Tuan Kaviandra berkelakar di depan putrinya. Nyonya Lyn ikut terkekeh dengan asumsi suaminya.
“Sayang, apapun yang terjadi kita akan menerimanya bukan?” Nyonya Lyn merangkul putrinya. Dia mengerti kegelisahan putrinya, Farah memang menjadi kesayangan mereka bukan tanpa sebab. “Kita yang membawanya kesini, kita akan bertanggung jawab penuh pada masa depan Farah!”
“Lagi pula, urusan kita belum selesai… Bagaimana dengan kelanjutan hubunganmu dan Erick Shin?!” Tuan Kaviandra menatap tajam Karennina. Sontak gadis itu merubah raut wajahnya dengan cepat.
***
Setelah kepergiannya dengan buru-buru Farah tidak sadar bahwa prianya sudah kembali ke kediaman. Di lorong penghubung tangan Farah ditarik oleh seseorang. Gadis itu terkejut, dia hampir menjerit kencang. Untung saja Keenan sigap menutup bibir gadisnya dengan bibirnya. Farah tersadar, dia mendorong tubuh Keenan sekuatnya.
“Kak!!”
“Setelah aku umumkan status kita, kamu terlihat lebih tidak sungkan lagi padaku!” rutuk Keenan tidak menyukai respon Farah yang seolah tidak mengharapkan kedatangannya. “Apa kamu berkelit takut ketahuan?”
Farah meringis, dia mengatupkan bibirnya erat. “Bukan begitu… Aku terkejut!”
Keenan kembali merengkuh tubuh kekasihnya. “Baru beberapa jam aku pergi, aku sudah begitu merindukanmu, Baby…”
Farah melengkungkan senyuman bahagianya, dia membalas pelukan Keenan, hanya saja bau anyir menyeruak menusuk hidungnya. “Kakak dari mana?!”
Farah kembali mendorong tubuh Keenan dan menatap penuh selidik. “Jangan bilang, Kakak?!”
“Heh…” Keenan terkekeh, dia tidak menyangka gadisnya bisa mencurigai apa yang sudah dia lakukan sebelumnya. “Kamu tidak perlu tahu aku dari mana, sekarang kamu hanya perlu membuat aku senang!” Keenan menggendong Farah segera. Gadis itu sekuat tenaga menahan diri untuk tidak mengeluarkan isi perutnya karena mual.
Farah mengerutkan keningnya, dia menyadari Keenan tidak membawanya ke kamar miliknya melainkan kamar kakak sepupunya yang tidak pernah tersentuh oleh siapapun selama disana.
“Kenapa kesini, Kak?” tanya Farah polos.
__ADS_1
“Hehe, kamu lupa Sayang? Kamu kan sudah jadi Nyonya Keenan mulai sekarang dan seterusnya… Selama akhir hayat kita!”
Farah tertegun sejenak dengan ucapan manis kekasihnya, dengan segera Farah memagut bibir Keenan sebagai balasan sikap manisnya.
“Kamu sungguh tidak sabaran, Sayang!”
“Aarhh… Hahaha!!”
Keenan segera membawa masuk gadisnya, Farah tertawa karena geli terus diciumi tiada henti oleh kekasihnya. Tidak hanya terus menciumi lehernya, Keenan menggosokkan hidung bangirnya membuat Farah semakin menggeliat tidak tahan mengeluarkan suara tawanya. “Geli, Kak!”
Keenan menaruh perlahan tubuh Farah di ranjang besarnya. Mata Farah takjub menyelidik tiap sudut ruangan yang tidak pernah tersentuh olehnya. “Aku mandi sebentar, setelah itu… Aku akan memakanmu sebagai hidangan penutup!”
Plaaak!
Farah memukul bahu Keenan cukup keras. “Sayang cabul!”
Keenan berangsut pergi dengan menggelengkan kepala atas respon Farah. Pria itu begitu lelah, energi chi-nya benar-benar terkuras habis hari ini. Dia butuh mengisinya kembali, cara paling tercepat tentu saja dengan menggagahi calon istrinya.
Farah bangkit, dia berkeliling mengamati sekitar. Dia berhenti menatap pantulan dirinya di cermin besar yang terpajang disana. “Kamu sudah mulai membesar ya, Nak?” gumam Farah lirih mengusap perutnya yang sedikit menonjol. “Bibimu sampai bisa menyadarinya!”
Farah tengah mengamati dirinya, dia harus mengimbangi menambah berat badan di tiap bagian tubuhnya. Jika hanya perutnya yang buncit, niscaya cepat atau lambat Keenan akan menyadarinya.
Lamunan Farah membuat dia tidak menyadari keberadaan kekasihnya. Keenan mengulumkan senyuman menatap siluet cantik kekasihnya. Pria itu mendekat dan memeluk dari belakang mengejutkan Farah.
“Aarghh!” pekik Farah terkejut dengan suhu dingin yang dialirkan tubuh kekasihnya yang topless.
“Kamu sedang berpikir apa? Apa baru menyadari kamu gendutan?”
Pertanyaan Keenan membuat jantung Farah ekstra bekerja keras. Diantara kemarahan juga ketakutan kehamilannya terbongkar Farah mencubit bahu calon suaminya.
“Apa kamu tidak mau lagi diet, hm?” goda Keenan mencium ceruk leher Farah.
“Bajingan!” lirih Farah kesal. “Jika Kakak tidak suka, sana bercinta dengan cewek seksi diluaran sana!!”
“Benarkah? Apa kamu mengizinkan aku melakukannya?” Keenan terus menggoda Farah, membuat gadis itu uring-uringan tentu saja menjadi kesenangan barunya.
Farah tertegun, Keenan tidak tahan. Dia segera membawa tubuh kekasihnya kembali menuju ranjang besar mereka. “Sayaaang!”
Keenan menatap penuh cinta pada kekasihnya. “Ya…”
“Apa Kakak masih menyiksa orang lain? Sampai meninggalkan perayaan yang hanya terjadi setahun sekali?”
Keenan yang bersiap memadu kasih merubah raut wajahnya seketika. Dia menghela nafas perlahan. Dia menjatuhkan tubuhnya di ranjang dan memeluk erat Farah.
--- To be continue ---
__ADS_1