
Seminggu telah berlalu, Farah dinyatakan sembuh total oleh dokter Vero. Selama Farah sakit dan bedrest, gadis itu berada di Beverly, mansion pribadi yang dibelikan Keenan untuknya. Selama seminggu itu pula Keena kembali bekerja di rumah. Dia sendiri yang memastikan perawatan Farah. Pria itu juga memanjakan gadisnya, Farah semakin tertawan oleh sikap manis kekasihnya.
“Kak…” Farah mendekati Keenan yang sedang bekerja di ruang pribadinya. Gadis itu sengaja membawakan buah-buahan untuk kekasihnya.
“Hm?” Keenan menatap Farah dengan senyuman tampannya. “Mengapa kamu keluar dari kamarmu!” Keenan bangkit dan mendekat.
“Aku sudah sembuh, Kak!” rengek Farah manja di depan Keenan.
Kedua tangan gadisnya merangkul tubuh Keenan, sedangkan prianya mengambil alih membawa satu mangkuk strawberry merah kesukaan gadis tengilnya.
“Benarkan?” Keenan memeluk Farah mencium kepalanya.
“Hm!” Farah mengangguk antusias. “Kakak bisa melihatnya!” Farah melepaskan pelukan dan menunjukan otot tangannya. Keenan terkekeh, dia kembali duduk di kursinya. Farah mengikuti langkah kaki Keenan dan berhenti duduk di pangkuan kekasihnya.
“Apa kita akan pulang?”
“Ya, besok anniversary KGroup, kamu lupa?” Keenan menyuapi Farah. Gadis itu kembali merona, ingin rasanya dia menghentikan waktu dan membuang kegelisahan hatinya. Dia ingin terus seperti ini bersama prianya. Keenan tidak pernah lagi kasar padanya, bahkan pria itu terlalu lembut sampai Farah sempat merinding dibuatnya.
“Kalau begitu, Karen pulang?!” Farah mengapit wajah kekasihnya.
“Ya,” sahut Keenan tersenyum tampan.
“Yeay!!” Farah memekik girang memeluk erat kekasihnya.
Keenan mencium ceruk leher Farah yang harum lembut. “Sayang…”
“Ya?”
Keenan sudah merasa tidak tahan, selama seminggu ini dia menahan hasratnya. “Apa kita sudah bisa bercinta?”
Farah tersipu malu mendengarnya. “Apa Kakak begitu menginginkannya?”
Farah justru bersikap menggoda kekasihnya yang sudah sangat berhasrat itu. Selama ini, Farah membohongi Keenan. Dia terus menggunakan pembalutnya, Farah juga menggunakan sirup merah sebagai warna darah. Gadis itu cukup kesulitan saat melakukannya, ribuan kamera pengawas seperti mata yang tak terlihat bagi manusia awam sepertinya. Beruntungnya, sampai detik ini Keenan masih tidak menyadarinya.
Farah sempat merasakan mengidam sesuatu, dia tidak sengaja mengatakan pada Keenan. Farah sungguh beruntung, tanpa kesulitan berarti semua yang diinginkan Farah selalu dipenuhi oleh kekasihnya.
“Aarghh…” Farah melenguh saat bibir Keenan menyesap kuat ceruk lehernya.
“Kamu ingin melakukannya disini atau di kamar, Sayang?” tanya Keenan mengusap lembut wajah Farah.
“Dimanapun yang Kakak mau!”
Keenan tersenyum senang, tanpa menunggu waktu lama Keenan menyuruh gadisnya menari diatas tubuhnya dengan tetap berada di kursi kerjanya. ‘Selalu ada harga di setiap perjuangan, dia sudah rela merawatku, dia begitu murah hati mengabulkan semua keinginanku. Aku hanya bisa menyerahkan tubuhku lagi dan lagi sebagai balas budi… Hahaha, konyol!’
***
Kediaman Keluarga Kaviandra.
“Baru saja Bibi mau menghubungimu!” Nyonya Lyn menyambut kedatangan Farah. Sudut netranya menangkap sosok putranya. “Kamu bersama Kakakmu?”
Farah mendadak gelisah, dia menatap Keenan sekilas meminta bantuan. Keenan tersenyum tipis. “Ya, aku tidak sengaja ada bisnis disana. Dia juga memintaku menjemputnya!”
“Owh, baguslah!” Nyonya Lyn kembali tersenyum lebar.
Farah membuang nafas lega, dia menatap Keenan sendu. Pria itu bergegas menuju ruang pribadinya setelah pamit pada ibunya.
“Gimana kabar di rumahmu? Ibumu sehat? Bagaimana kabar Daniel?”
__ADS_1
Farah kembali pucat, dia tidak tahu harus seperti apa. Kenyataannya dia tidak pulang ke rumahnya. “Mereka baik-baik saja Bi, Ibuku juga menitipkan salam…”
“Oh syukurlah! Kita akan kesana lagi pekan depan, okay?”
Deg!
‘Bagaimana ini…’ batin Farah berkecamuk hebat. “Iya, Bi!” Hanya ini yang bisa Farah ucapkan.
“Btw, kamu kok sedikit berisi ya?” Bibi Lyn menyelidiki tubuh Farah. Gadis itu sungguh terasa seperti tengah di kuliti saat ini juga.
‘Ini karena Kakak yang terus memintaku makaaan kerjanya!’
“Ah, Bibiii!! Aku akan diet besok… Kemarin Ibu terus membuatkan aku makanan, dia akan menangis jika aku tidak makan!”
“Hahaha…”
Keduanya terbahak bersama, Farah tentu saja tengah berpura-pura.
“Hey, everybody… I’m coming home!”
Farah berbinar, suara yang sangat dikenali dan dirindukannya tengah memekik di belakang sana.
“Kareeen!!”
Kedua gadis itu menghambur saling berpelukan. “Aku rinduuu!!” cicit Karen mengerucutkan pipi Farah dan menciumnya.
“Me too!!” Kebahagiaannya sirna saat dari belakang tubuh kakak sepupunya terlihat seorang pria yang sudah tidak asing di mata Farah.
“Karen?” Farah meminta penjelasan dengan kedatangan pria tampan yang kini tengah tersenyum kearahnya.
“Huh!” Farah memang tidak terlalu menyukai pria yang terlihat berani menyentuh saudara angkatanya.
“Kareeen!!”
“Mamaaa!!”
Ibu dan anak itu segera berpelukan melepas kerinduan. “Wah, siapa itu?”
“Ehm, Ma… Kenalin dia Erick pacar Karen!”
Karen menunjukkan kekasihnya dengan bangga, Erick tersenyum sopan dan menjulurkan tangannya sebagai perkenalan. “Selamat sore, Tante! Saya Erick Shin.”
“Owh iya… Saya Mama Karen, panggil saja Tante Lyn,” ucap nyonya Lyn tak kalah ramah menyambut tamunya.
“Terima kasih Tante sudah mau menerima saya…”
“Ah, memang seharusnya seperti itu pada tamu! Ayo, kita langsung ke ruang makan saja, sebentar lagi Papa dan Kakak Karen bergabung.”
“Kakak sudah di rumah?” tanya Karen takut namun rindu.
“Ya, dia menjemput Farah dari rumahnya.”
Deg!
Farah mulai salah tingkah, dia refleks menundukkan pandangannya.
“Apa?! Kamu pulang ke Negara B?” Karena menatap Farah dengan wajah kebingungannya. “Sejak kapan kamu berani meminta jemput pada Kakak?”
__ADS_1
“Sejak tadi!” Farah berujar dengan wajah annoyingnya, tak lama Karen menoyor kepala Farah gemas.
“Ish, sudah-sudah… Kakakmu bilang besok dia juga akan membawa calon istrinya!” Nyonya Lyn kembali menunjukan senyum sumringahnya.
“Apa?!!” Farah dan Karen memekik bersama-sama, nyonya Lyn terkekeh.
“Kamu kan sudah tahu Farah!”
“Eh?”
Lagi-lagi Farah seperti maju mundur kena dengan bibinya sekarang.
“Apa aku melewatkan banyak hal?” tanya Karen sebal.
Mereka sudah berada di ruang makan, seluruh pelayan mulai sibuk melayani tuannya. Erick hanya bisa diam memperhatikan para wanita yang asyik bergosip ria.
“Makanya pulang Sis!” cibir Farah sebal.
“Nyenyenye!”
“Haha, kalian ini…”
“Aku berani bertaruh, Kakak sedang berbohong! Dia mana mungkin punya cewek!!” Karen kembali bersungut menggebu mengejek kakaknya. "Siapa cewek yang tahan dengan manusia setengah es batu itu?!" Farah sempat tertawa dalam benaknya, jika saja Karen tahu siapa wanita kakaknya, mungkin dia akan pingsan.
“Jika dia bohong, buat apa juga dia pakai cincin couple!”
Farah dan Karen kembali membulat kompak, nyonya Lyn dan Erick sampai menekan perutnya untuk tidak terbahak.
“Hahaha…” Karen terbahak menatap Farah. “Cemburu to the max ya Sis?!”
“Biasa aja!” cicit Farah lirih membuang wajahnya.
Erick tercengang, dia baru mengetahui bahwa adik angkat kekasihnya menyukai kakaknya.
“Hi ilih, pura-pura… Padahal hati sudah panas membara, kan?! Ngaku aja lah biar terima beres!”
“Ish, kamu ini… Farah juga kan udah punya pacar! Tuh, dia juga pake cincin couple miliknya!”
“What the fu-ck!!”
Wajah Farah menegang, Erick meminta pelayan membawakannya biji bunga matahari menemani live streaming serunya. Sejauh ini, ini yang paling jauh!
“Siapa yang mau sama Si Degil ini?!!” Karen memekik tidak terima.
“Hey jangan salah, penerus Luciano yang meminangnya!”
“Ppyuuhh!!” Farah menyemburkan air minum yang sedang berusaha membasahi kerongkongannya yang kering saat bibinya dengan santai menyebutkan sebuah nama. ‘Wtf!’
“Demi apaaa?!” Karen tidak percaya dengan penuturan ibunya. Nyonya Lyn tersenyum penuh makna. Dia menatap Farah yang sudah seperti kehilangan jiwanya.
"Siapa yang mengijinkan laki-laki itu masuk!" tukas Keenan dingin membuyarkan kesenangan para wanita disana.
Seketika tidak ada yang berani bersuara, bahkan Karen yang biasanya lebih berani sekarang terdiam tanpa ingin bertingkah. Erick kembali pucat, dia menunduk tidak berani menatap calon kakak iparnya. Skandal sebelumnya membuat Karen dan Erick begitu trauma.
Keenan begitu emosi saat mendengar ibunya mencatut nama ahli waris Lucifer Group. Satu-satunya nama pria yang dia benci dan membuatnya cemburu. Dia menatap Farah yang sudah pucat dan terlihat gelisah. Keenan sempat marah saat Farah tidak menepis apa yang dikatakan ibunya. Namun, dia kembali melayangkan senyuman manis menguatkan kekasihnya. Keenan sungguh dalam mode jatuh cinta berjuta rasanya. Tidak hanya Farah, seluruh anggota lainnya terbelalak, mereka pikir sepertinya Keenan sedang kerasukan.
--- To be continued ---
__ADS_1