Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 150 # First Meet


__ADS_3

---



[ Visual by Pinterest for Jims, Keano, Carol dan Sandra ]


─────────────


Kids Station, Kota S.


"Yeeaaayyy Papaaa memang paling hebaat sedunia!!"


Jimmy begitu senang akhirnya dia mendapatkan Teddy Bear seukuran papa besarnya. Dia langsung memeluk dan tenggelam di dalamnya. Keenan menyeringai bahagia dengan tingkah polos Jimmy. Carol ikut tersenyum senang sembari terus mencuri pandang pada pria yang telah mencuri hatinya.


"Kau sudah puas?" Keenan mengacak rambut Jimmy berujar begitu hangat.


"SANGAT PUAASS!" pekiknya bersemangat. "Aku sudah bilang apa, kalau Papa yang kesini semua mainan yang aku inginkan pasti bisa Papa dapatkan." celoteh Jimmy girang dengan berusaha menarik boneka dengan tangan mungilnya.


Bagaimana tidak, sekalipun Keenan tidak menang semua staff akan menurunkan apa yang di inginkan keponakannya. Carol begitu bahagia, walau statusnya masih abu-abu bagi dia pribadi. Tapi sebagian masyarakat luar menyebar rumor yang membuatnya sedikit besar kepala. Mereka menganggap bahwa Keenan tengah dekat dan akan mempersunting dirinya. Bahkan tak tanggung berita sebelumnya mengatakan bahwa Jimmy adalah anak haram dia dan Keenan. Setelah berita itu rilis Keenan segera melakukan akusisi pada perusahaan entertainment yang begitu berani menyinggung dan membuat rumor palsu.


Sedangkan di sisi lain di tempat yang sama Keano dan Farah telah berada di tempat yang sama. Farah sedikit heran dengan putranya, biasanya Keano tidak pernah mau bermain dan berbaur dengan anak-anak lain yang seusianya. Dia hanya akan membeli langsung game dengan papa sambungnya dan memainkannya di rumah. Bagi Farah ini sebuah pencapaian besar Keano mau keluar menikmati waktu.


"Dengar Sayang, ini bukan di Jepang." Farah bersimpuh bersiap memberikan wejangan sebelum Keano bebas melakukan apapun di sana. "Tempat ini bukan daerah jajahan Kakek dan Papa Kecil, so berhati-hatilah termasuk masker dan topimu!" pesan Farah pada Keano yang di sambut dengan anggukkan mengerti.


"Boleh aku mencoba permainan itu?" Keano menunjuk salah satu permainan menembak.


Farah menatap dengan memutar bola matanya. Tidak ada yang normal yang berada di sampingnya, bahkan putranya sendiri sudah menampilkan jati dirinya sejak dini. Jika anak lain lebih suka maen odong-odong Keano sedikit naek level.


"Pergilah... Ibu mau kamu belikan ibu boneka itu sebagai gantinya." Farah menunjuk ke arah stand pengambilan hadiah.


"Ibu ingin boneka jelek itu? Aku akan membelikannya di tempat yang jauh lebih bagus!" semprot Keano dingin.


Farah membuka mulutnya walau tidak terlihat karena maskernya. "Kaauu!!" Farah menjewer Keano lembut tanpa menyakiti pria kecilnya.


"Aarh Ibu berhenti kekanak-kanakan!" Keano menyingkir dan bersiap melakukan permainannya.


Sebelumnya mereka berdua mengisi deposit kartu untuk memainkan seluruh wahana dan permainan lain yang tersedia disana. Jangan tanya berapa nominal yang mereka isi ya...


Farah sibuk merekam Keano untuk di kirimkan pada Axcel, kemudian dia membaur dan mengajak Keano melakukan permainan bersama suka atau tidak Farah akan sedikit memaksa kali ini.


Di kantor Lucifer Axcel menerima sebuah pesan singkat berisi video wanita dan putra sambungnya. "Kids station?" gumam Axcel kebingungan.


"Bukannya mereka ijin pergi ke KTech?" Axcel kembali memutar video yang disadarinya hanya ada Farah dan Keano saja. "Apa mereka tidak jadi bertemu? Atau ada hal lain─" Axcel mengembangkan senyuman. Dia bangkit dan menyerahkan pekerjaannya pada asisten kepercayaannya.


Tanpa di minta dan tanpa meminta ijin Axcel berniat menyusul keluarga kecil impiannya. Dalam benak Axcel sepertinya Farah dan Keano sudah selesai dengan Kaviandra.


Farah tertawa bahagia saat dia bermain permainan anak kecil bersama putranya. Permainan memukul kepala buaya yang hilang timbul. Sesekali Farah malah memukul lemah kepala putranya yang di balas pekikan tidak suka Keano. Farah semakin menjadi menggoda putranya yang dingin itu, menyeretnya menaiki komidi putar mini yang berada di pusat bangunan.


"Aku tidaaaak mauuu Ibuuu... Ini terlalu memalukaaaan!" pekik Keano mempertahankan diri menggenggam tiang.


"Hahaha... Kau bocah sialan... Jangan durhaka sama Ibu!" Farah tidak peduli tatapan orang-orang yang mulai memperhatikan tingkah absurd-nya.


Keenan dan Jimmy telah selesai dengan permainan mereka. Keenan membujuk keponakannya itu untuk segera pulang dan beristirahat. Keenan memiliki jadwal padat hari ini, dia ingin cepat menyelesaikan semua urusan kantor dan fokus mencari istri dan putranya.


DEG!


"Farah!" Keenan memiliki perasaan lain kali ini. Dia mengedarkan pandangannya, dia merasakan suara yang begitu dia hapal dan dia rindukan selama ini. Keenan mengarah pada tiang yang sebelumnya bertahan seorang anak kecil dan ibunya. Hanya saja saat ini sudah tidak ada siapapun di sana.


"Papaaa..." Jimmy membuyarkan lamunan Keenan.


"Aku mau ice cream." pinta Jimmy menarik ujung jas papa besarnya.


"Oh iya..." Sebelum benar-benar keluar Keenan kembali membalikkan badannya memastikan sekali lagi dan menyelidik sekitar.


Tidak ada sesuatu di sana membuat Keenan kembali berbalik badan. Seandainya dia bertahan menatap kedepan selama lima detik lagi, mungkin dia bisa melihat Farah tertawa riang bersama putranya yang di paksa duduk di sebuah kuda poni dengan wajah di tekuknya.


Keano menyeringai, dia menatap punggung pria yang baru saja menyakiti perasaannya. 'Sebuah kebetulan yang besar Mr. K... Let's see!'

__ADS_1


Farah dan Keano telah selesai dengan komidi putar mereka. Farah merasa haus, dia mengajak Keano membeli minum dan cemilan.


"Ibu aku mau ke toilet ya, ibu tunggu di sini saja ya." ujar Keano meminta ijin bertingkah seolah dia tengah menahan sesuatu di bawah sana.


"Apa kamu tahu di mana tempatnya?" tanya Farah khawatir.


"Tuh!" Keano menunjuk papan pemberitahuan posisi toilet.


"Oh, oke... Cepatlah, setelah ini kita pulang." tukas Farah menyetujui.


Keano menunjukan senyum smirknya dia segera berlari menjauh dari ibunya dan menjalankan misi pertamanya.


Di sebuah stand penjual es krim Jims telah menerima yang dia inginkan. Tiba-tiba Sam mendekati mereka, dan berbisik di telinga Keenan.


"Maaf Tuan aku mengganggu waktu anda." bisik Sam dengan sedikit terengah.


"Hm.. Katakan."


"Kita sudah menemukan lokasi kemungkinan Nyonya Muda!" tutur Sam sedikit berhati-hati.


DEEG!!


"DIMANA?!" Keenan sedikit beremosi dan bersemangat menjadi satu.


"Negara B Tuan... Foto itu di unggah di salah satu warnet kota H di Negara B. Dia salah satu pencari pekerjaan di Jaringan Hitam."


"Siapkan jetku sekarang juga!" Keenan kembali mendekati Jimmy yang tengah bercengkrama dengan Carol.


"Jimmy, maaf Papa tidak bisa mengantarmu pulang. Di bawah ada supir yang akan mengantarkanmu pulang. Oke?"


"Hmm... Papa mau kemana?" Jimmy sedikit murung dengan ucapan Keenan yang kembali meninggalkannya.


Jimmy merasa kesepian di kediaman besar, selama ini jika bukan Carol tentu dia lebih senang menempel pada Papa besarnya di banding Ibunya. Ibunya tengah sibuk mengurusi bisnisnya yang hampir terpuruk karena ulah suami tidak becusnya.


"Papa ada sedikit pekerjaan mendesak, patuhlah..." ucap Keenan mengusap kepala Jimmy lembut.


"Baiklah..." Jimmy mengalah dan mencium pipi Keenan sebagai ucapan perpisahan.


Keenan hanya menatap tajam Carol setelahnya pergi dengan dingin tidak peduli. Keenan melebarkan langkah kakinya kelaur kawasan permainan dan bersiap terbang menuju tempat yang salah yang memang di giring oleh kelompok Klan Naga. Tanpa dia ketahui justru orang yang dia cari mati-matian selama ini berada sangat dekat dengannya.


Bruuukk!


"Aaww..." Seorang anak kecil tidak sengaja menabrak Keenan yang tengah berjalan terburu-buru. Keenan dan Sam berhenti sejenak.


"Maaf Pamaan..." ucap si anak kecil itu bangkit dan mendongak.


"SHIIT!! Kau menyita waktuku... Enyahlah!!" pekik Keenan kemudian berlalu tidak peduli.


Sam mendengus dan tidak percaya dengan tuannya. 'Dia hanya seorang anak kecil,'


"Kamu cepatlah cari keluargamu... Tidak baik keliaran sendiri." Sam mendekat dan menepuk bahu si anak kecil kemudian mengejar langkah kaki Keenan.


Baru berapa langkah Keenan kembali bertabrakan dengan seorang anak lelaki asing.


DEG!


Keenan ingin kembali mengumpat namun kalimatnya tiba-tiba tertahan entah alasan apa yang membuat dia berpikir berbeda dari sebelumnya.


"Sorry..." Keano menunduk meminta maaf dan bersiap berlalu dari hadapan Keenan.


Sam sudah mendekat dan mengernyitkan keningnya melihat sikap Keenan sekarang. "Ada apa Tuan?"


"Hei tunggu!" Keenan mengejar Keano tanpa memperdulikan Sam.


"Tuaaan!" Sam terpaksa ikut berlari kembali mengejar tuannya.


Keano menyadari Keenan mengejarnya, dia melebarkan senyuman di balik maskernya dan terus berlari kecil menghindar.

__ADS_1


Grep!


Akhirnya Keenan bisa menangkap tangan Keano. Keano berbalik badan menunjukan ekspresi terkejutnya.


"Hah..." Keenan sedikit terengah dan menatap lekat tampilan Keano yang menggunakan topi menutupi sebagian kepala dan keningnya. Sebagian lainnya tertutup masker, Keenan hanya bisa menatap mata Keano yang bening.


"Maaf Paman?" Keano meringis saat di rasakan cengkraman tangan Keenan begitu keras.


"Oh aku minta maaf..."


Sam kembali menghentikan langkah kakinya di belakang Keenan dan segera membulatkan matanya saat mendengar tuannya menggunakan kata maaf.


"Apa kamu tersesat? Di mana orang tuamu? Apa kamu tidak tahu bahaya bermain tanpa pengawasan?" rentetan pertanyaan yang di rasakan tengah khawatir membuat Keano menaikan sudut bibirnya.


'Aku tidak menyangka, kamu mengejarku... Ini di luar ekspekstasiku Mr. K!' batin Keano menyelidik tampilan ayahnya yang kini begitu dekat dengannya. Ada gelenyar aneh yang menyelusup di dada Keano saat melihat ayah kandungnya sedekat ini.


'Mengapa aku merasa begitu dekat dengan anak ini?' batin Keenan merasa hatinya sangat sensitif.


Keano berpikir dengan cepat, dia ingin mencoba menguji ayahnya. "Hm... Begitulah, aku tadi ke toilet tapi aku tersesat."


Keano merubah aksen bicara dan gaya bicaranya. Dia berujar sedikit manja dan juga ada kegelisahan di tiap katanya. Jangan sampai Keenan curiga akan penyamarannya.


"Baiklah, Paman bantu cari orang tuamu ya." tukas Keenan menunjukan senyuman tulusnya.


DEG!


Sesat Keano tidak percaya apa jawaban Keenan bahkan sikap pria itu. Sungguh berbanding terbalik dengan data yang dia dapat dari Jaringan Hitam. Keano adalah hacker handal termuda di Jaringan Hitam tanpa di ketahui Keenan tentu saja, dia memiliki nama samaran KJ. Dia mengetahui bahwa ayahnya adalah ketua jaringan hitam dengan sebutan pembunuh berdarah dingin yang baru saja melenyapkan satu Klan Long.


'Pria ini tersenyum padaku? Apa otaknya bermasalah setelah memiliki keluarga bahagia?' batin Keano menjadi kesal setelah sebelumnya hatinya menghangat.


Sam sendiri sudah membuka mulutnya lebar melihat tingkah Keenan sekarang yang bak Bumi dan Mars. 'Tadi setengah horor dia maki anak kecil sebelumnya? Apa dia mendapatkan hidayah langsung?'


"Thanks Paman, but it's okay... I can handdle by my self." Keano mencoba melepaskan tangan Keenan yang sedari tadi masih menggenggam lengannya. "Mommy bilang aku tidak boleh percaya pada pria asing!" tolak Keano di buat selucu mungkin. Dia sempet merasa geli mendengar suara kekanak-kanakannya saat ini, tapi dia harus bertahan.


"Hehe..." Keenan terkekeh menundukan wajahnya. "Aku bukan pria jahat loh!" ucap Keenan mencoba bercanda.


"Omina... Omina... Omina..." gumam Sam takjub dengan perubahan sikap Keenan pada pria kecil yang baru mereka lihat beberapa menit yang lalu tapi terasa sudah sangat akrab.


"Beritahu saja pada Paman ciri-ciri mommy kamu, Paman bisa dengan mudah mencarinya. Bukankah bagus kamu bisa langsung bertemu ibumu?" Keenan bersimpuh menyakinkan Keano agar dia mau menerima tawarannya.


"Tapi Tuan.... Kita harus─" Sam mendekat dan mengingatkan Keenan akan tujuan mereka saat ini.


Keenan berbalik badan menatap Sam tajam, kemudian dia tersadar dan kembali menatap Keano sendu.


Keano terlalu lama kembali membuat Farah gelisah, dengan cepat Farah mencari putranya. "Keanooo!!" pekik Farah mencari keberadaan putranya.


Biasanya Keano sangat awas, jika Farah berteriak memanggil namanya Keano dengan cepat bisa menyadari keberadaannya. Ya, Keano tersadar ibunya sudah mulai mencarinya.


"Paman, boleh tidak mengantarkanku keluar? Aku tidak tahu jalannya..." Keano meminta dengan begitu manja membuat dia ingin muntah rasanya.


"Baiklah, Paman akan mengantarkanmu ke pusat informasi saja gimana? Nanti ibu kamu yang akan mendatangimu." Keenan bangkit dan menggenggam tangan Keano kemudian membawa pria kecil itu menjauh dari sana.


Sam benar-benar takjub dengan pemandangan kali ini. "How come ma? Bukannya hanya Jimmy yang bisa membukakan hatinya? Kenapa nambah satu orang asing lagi..." gumam Sam kesal berkacak pinggang.


"Tapi, di lihat dari postur tubuh anak itu... Sepertinya dia berusia lima tahun lebih, apa mungkin Keenan kembali berhalusinasi akan putranya?" Sam menyelidik sejenak dan mendengus melangkah pergi mengikuti kemana tuannya saat ini.


Tak berapa lama Farah berlari ke tempat sebelumnya putranya tertahan oleh Keenan. "KEANOOO!"


"Hiiiss!" Farah begitu cemas, tidak biasanya putranya tidak bisa mendengar panggilannya. Farah sempat membuka maskernya kembali memekik memanggil putranya. Tapi hasilnya nihil!


Farah segera menghubungi Axcel. "Ceeeelll.... Keano menghilang... Huhu!"


"APAA? Kamu tenang di situ... Aku sudah di dalam Mall!!" pekik Axcel segera melebarkan langkahnya.


"Cepatlah..." lirih Farah menangis dan menutup sambungan menunggu Axcel menghampirinya.


---To be continued---

__ADS_1


__ADS_2