Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 68 # Jiwa yang bersedih


__ADS_3

Sandra telah selesai memberikan arahan dan pengenalan perusahaan pada Farah juga kedua temannya. Tanpa menunggu lama, kedua temannya sudah berada di divisi dimana mereka akan melakukan proses magang selama di KTech. Sedangkan Farah, dia masih berada di samping sekretaris kekasihnya. Tujuan mereka adalah lantai teratas dimana ruangan presdir KTech berada.


Ku pernah coba bertahan, namun sering kau lupakan... Ku pernah coba melawan, tapi aku tersingkirkan...


Sandra merasa canggung dengan perubahan sikap nona kecilnya yang lebih sering terdiam.


"Maaf Nona, apa ada masalah?" Sandra memberanikan diri bertanya pada kekasih tuannya.


"Eh?" Farah berbalik menatap orang kepercayaan kakak sepupunya. "Ehm... Tidak ada..." Farah kembali menundukkan tubuhnya, dia mengeratkan kepalan tangan di depan tubuhnya. "Apa Kakak sudah disini?"


Sandra menunjukan senyum ramahnya. "Iya Nona, pagi sekali Tuan sudah berada disini!"


Farah kembali menunjukan senyuman canggung dan kembali menundukkan pandangannya.


Lebih baik berpisah, dari pada terus terluka... Karena ku selalu yang salah, jujur aku trauma...


Farah tersadar, tidak seharusnya dia menunjukan perubahan sikapnya saat ini. Akan sangat membahayakan jika Sandra mengatakan gelagatnya pada Keenan. Dengan cepat Farah merubah sikapnya. "Oh ya, apa aku akan bekerja di bawah Miss Sandra?"


"Oh itu, jujur saya tidak tahu Nona. Pasalnya, Tuan belum menginstruksikan secara langsung. Saya hanya mengikuti arahan Sam sekarang!"


"Hah?"


Sandra terkekeh saat melihat respon Farah yang tercengang dengan jawabannya. Sandra mempersilahkan Farah keluar dari lift setelah pintu terbuka lebar.


Tring!


"Nona tunggu sebentar disini ya?" Sandra menarik kursi yang biasa digunakan oleh rekannya Sam. Farah mengangguk patuh dan segera mengambil posisinya. "Saya akan menghubungi Sam, anda sudah berada disini!"


Farah mengabaikan perkataan Sandra, dia menatap pintu ruangan kekasihnya. Terbersit perasaan tidak nyaman hinggap di benaknya. Farah membuang nafasnya berat, pria yang paling dicintainya tidak memberikan kabar apapun. Setelah melakukan kebrutalan terhadap dirinya, pria itu meninggalkannya begitu saja.


Aku tak mengejarmu saat kau pergi, bukan karna ku tak cinta lagi... Tapi ku ingin berhenti, kita saling menyakiti aku... Tak menahanmu tetap disini, bukan karna tak bahagia lagi... Tapi kini ku sadari, cinta tak harus saling miliki...


Sekuat tenaga Farah tidak meneteskan air matanya, tubuhnya memang terlihat pucat dan dengan sekuat tenaga Farah tetap terjaga dan berdiri tegak walau kenyataannya dia teramat sangat rapuh saat ini.


Tring!


Bunyi denting suara lift yang terbuka membuat pandangan Farah tertuju kedepan dengan perasaan campur aduk. Terlihat jelas di kedua netranya, kekasihnya berjalan tegak dan berhenti tepat di depan pandangannya.

__ADS_1


"Baby!"


Lebih baik berpisah, dari pada terus terluka... Karena ku selalu yang salah, jujur aku trauma...


Farah terdiam sejenak, dia tidak tahu harus seperti apa, begitu pula Keenan. Pria itu menatap nanar gadis kecilnya yang sudah menunjukan wajah yang semakin pucat pasi. "Come here, Honey!"


Segera Farah bangkit dan bersiap mendekati prianya. Dia masih waras, dia harus menyenangkan kembali perasaan prianya. Jika tidak, mungkin Keenan tidak sekedar kembali brutal di ranjang. Bisa saja nyawanya melayang sekarang. Farah sudah berada tepat di depan Keenan, kedua matanya berkaca. Pria itu sukses memporak-porandakan perasaannya. "Kakak sungguh jahat meninggalkanku!"


Secepat kilat Keenan memeluk erat gadisnya. "I'm sorry, Baby... Maafkan aku..."


Aku tak mengejarmu saat kau pergi, bukan karna ku tak cinta lagi... Tapi ku ingin berhenti, kita saling menyakiti aku... Tak menahanmu tetap disini, bukan karna tak bahagia lagi... Tapi kini ku sadari, cinta tak harus saling miliki...


Farah sudah meneteskan air matanya, Sam dan Sandra ikut larut dalam suasana sendu keduanya. Entah masalah apa yang sedang terjadi dengan tuannya, yang jelas Sam akhirnya mengerti, Keenan menghajar anak buah mereka hanya karena kembali melibatkan Farah dalam kehidupannya. 'Bukankah semakin jelas kelemahanmu, Keenan...'


Keenan melonggarkan pelukannya, dia menyelidik tampilan gadisnya. Sweater manis membungkus tubuh ringkih gadisnya. Dia juga menyentuh kerah turtlenecknya menyembunyikan luka yang Keenan ciptakan. Hati Keenan semakin teriris pedih. "Maafkan aku, salahku meninggalkanmu dan tidak memperhatikan keadaanmu..."


Farah melongo dengan penuturan kekasihnya, Keenan merangkul wajah sayu Farah dengan kedua tangannya. "Aku pantas menerima hukumanmu!"


Tidak hanya Farah yang tertegun bego saat ini, kedua anak buah setianya ikut tidak percaya atas apa yang mereka dengar. Walau Keenan berucap lirih, mereka dengan jelas bisa mengerti apa yang diucapkan tuannya.


"Kamu selalu berhasil menggodaku, bahkan disaat kamu tidak melakukan apapun!"


"Aaarghh!"


Farah menjerit terkejut saat Keenan menunduk dan menggendong gadisnya menuju ruang kerja CEO KTech. Dengan sigap Sam membantu membuka pintu ruangan, Keenan berhenti sejenak. "Aku tidak ingin diganggu!"


"Dimengerti Tuan!"


Braaak!


Pintu menutup sempurna, Keenan mendudukkan gadisnya di meja kerjanya. Dengan perlahan Keenan membelai wajah gadisnya. Ingin rasanya Keenan mengakui segalanya, namun...


Farah terdiam, dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. "Kak?"


"Maafkan aku, semalam..."


Farah dan Keenan sama-sama terdiam. Farah sendiri bukan tidak ingin memaafkan perbuatan kekasihnya, jujurnya dia sungguh tidak punya hasrat untuk membahasnya. Perlahan Keenan mencoba menanggalkan pakaian gadisnya. Farah sempat menolak, namu tatapan tajam Keenan membuat nyalinya kembali hilang entah kemana.

__ADS_1


Tangan Keenan bergetar saat melihat tampilan asli tubuh Farah yang kembali menunjukan memar dan luka bekas gigitan gigi rapinya. Tanpa banyak berkata pria itu segera melakukan panggilan pada asistennya.


Tuuut!!


"Ya, Tuan?"


"Bawakan aku obat memar!"


Sam terdiam sejenak, sejujurnya pria itu sudah menyadarinya. 'Hal apa yang membuat kamu menyakitinya lagi?'


"Bawakan juga injeksi vitamin yang dibutuhkan!" Tanpa banyak berkata lagi dan tanpa menunggu tanggapan anak buahnya Keenan mematikan sambungan.


Perlahan Keenan memindahkan Farah menuju ruang istirahat pribadinya seperti sebelumnya. Farah juga enggan banyak berkata, selain da sungguh tidak bertenaga. Kehadiran dan perhatian Keenan saat ini sudah cukup baginya.


"Ini salahku tidak memperhatikanmu tadi pagi," ucap Keenan lirih mengusap perlahan tiap bagian luka yang diciptakan olehnya. "Lain kali, jika aku menggila... Kamu─"


Pria itu menahan kalimatnya, tenggorokannya tiba-tiba tidak bisa lagi mengeluarkan kata. Farah tersentuh dengan ucapan Keenan kali ini. Terlihat jelas di kedua netra prianya, dia berucap dengan tulus.


"Apa aku bisa lari?"


Pertanyaan simpel Farah membuat kedua bola mata Keenan terbelalak. Dia sendiri tahu, tidak ada yang bisa keluar dari jeratannya. Meminta Farah lari dari kungkungannya, tentu sebuah kemustahilan. Keenan bagai terkena serangan skak mat oleh gadis kecilnya. Beruntungnya suara ketukan pintu membuat dia bisa menghindari pertanyaan Farah.


Tanpa berkata apapun lagi Keenan bangkit dan keluar dari ruangan, menyisakan Farah yang sudah mengulumkan senyuman getirnya. "Tentu saja aku tidak mungkin pernah bisa lari darimu, isn't it?"


Farah bergumam setelah tubuh kekasihnya menghilang di balik pintu yang pria itu kembali tutup. Gadis itu sudah tidak bisa menahan laju air matanya, dia menopang wajah dengan kedua tangannya. Tubuhnya bergetar hebat, setelah hampir setengah hari Farah berpura-pura tegar tanpa mengeluarkan air matanya. Kini, dia sudah tidak bisa bertahan.


Menangislah, kan kau juga manusia... Mana ada yang bisa, berlarut-larut... Berpura-pura sempurna...


Di balik ruangan dimana Farah berada, Keenan kembali menggila. Dia membanting apapun yang ingin dia banting. Suara nyaring semua pecahan kaca semakin membuat tangis Farah deras keluar dari netranya. Kekasihnya juga menjerit kecewa atas apa yang terjadi dengannya saat ini. Sam hanya bisa menatap nanar keadaan tuannya. 'Sudah dua puluh delapan tahun aku bekerja sama denganmu. Selama ini kamu adalah orang hebat yang ditakuti oleh seluruh manusia di jaringan hitam. Bagaimana jadinya jika mereka tahu kamu dalam keadaan paling rapuh saat ini? Apakah ini kode untuk kamu berhenti mengejar ambisimu, Keenan Kaviandra!'


Sampaikan pada jiwa yang bersedih, begitu dingin dunia yang kau huni... Jika tak ada tempatmu kembali, bawa lukamu biar aku obati... Tidak kah letih kakimu berlari, ada hal yang tak mereka mengerti... Beri waktu tuk bersandar sebentar. Selama ini kau hebat, hanya kau tak didengar...


--- to be continue ---


Credit of song : Trauma by Elsa dan Jiwa yang bersedih by Ghea Indrawari.


-----

__ADS_1


__ADS_2