
“Hal yang belum kamu pahami dari kelamnya dunia bisnis adalah─” Keenan menjeda kalimatnya. Dia menerawang menatap langit-langit kamar. “Untuk mencapai puncak, kita tidak bisa mengatakan bahwa diri kita bersih sepenuhnya!”
Farah tertegun, dia berbalik badan dan memeluk Keenan dengan erat. Keenan berbalik memeluk erat mencium lekat pucuk kepala calon istrinya. Keduanya menjadi canggung, Keenan sendiri sedang mencoba untuk terbuka pada wanitanya, mau bagaimanapun, kelak istrinya akan mengetahui pekerjaannya.
“Menjadi pengusaha sukses memang impian semua orang. Begitu pula aku…” Keenan menatap wajah teduh Farah lembut, tak lama pandangannya kembali menatap langit-langit kamar.
“Manusia adalah makhluk hidup paling serakah!” Keenan mengungkapkan kata perlahan memberi jeda agar wanitanya bisa memahaminya. “Mereka tidak akan pernah merasa puas! Begitupula diriku. Aku sudah mendapatkan apa yang aku cita-citakan selama ini. Aku merasa tidak puas jika sekedar menyandang gelar pengusaha yang sukses saja!”
Farah menelan salivanya, bersama Keenan dalam waktu yang cukup singkat membuat gadis itu bisa mengerti sedikit kemana arah maksud pembicaraan calon suaminya.
“Aku butuh kuasa penuh untuk mengendalikan siapapun, demi membuat namaku semakin berada di puncak teratas piramida kehidupan!”
“Selama ini, kamu sudah bisa melihat sendiri bukan? Kamu satu-satunya keluargaku yang terus memergoki pekerjaan jaringan hitamku!” Keenan terkekeh sejenak, mengingat bagaimana dia terjerat dengan gadis kecilnya. “Demi membangun KTech bisa sebesar sekarang ini, tetesan keringat, darah, juga waktu yang aku buang selama delapan tahun kebelakang menjadi saksi bisu perjalananku karirku.”
Keenan berbalik menatap Farah, menunjukkan senyuman manis di depan wajah kekasihnya. “Jika aku lemah dan lengah sedikit saja. Kamu pasti bisa mengerti apa yang akan terjadi berikutnya!”
“Sampai kapan?” Farah memberanikan diri mengajukan pertanyaan terpenting dalam hidupnya.
Keenan tercekat, jelas dia mengerti maksud kekasihnya. Farah semakin mengeratkan pelukannya. “Sampai kapan Kakak berkecimpung di dunia gelap seperti itu? Apa Kakak tidak memikirkan konsekuensi kedepannya?”
“Sayang…” Keenan menatap lekat wajah sendu kekasihnya. “Tanganku sudah bau amis yang tidak akan pernah hilang meskipun aku sudah membasuhnya!”
Farah menjatuhkan air matanya, dia mengerti apa maksud dari perkataan Keenan. “Demi bisa menjaga orang yang aku sayangi, selalu ada pengorbanan yang harus kita keluarkan.”
“Apa Kakak akan mengorbankan kebahagian kita dengan aktivitas hitam itu?” Lagi-lagi Farah membuat Keenan seolah tercekik.
“Aku minta maaf,” ucap Farah lirih. “Bisakah aku meminta sebuah permintaan sederhana sebelum kita menikah?”
Keenan masih tidak bergeming, dia juga tidak menjawab pertanyaan kekasihnya. Jiwanya seolah tertahan oleh sesuatu membuat setiap kata tertahan di tenggorokannya.
“Mimpiku sederhana, hidup bahagia dengan suamiku… Tidak perlu mewah, hanya ada kedamaian yang aku inginkan… Setiap kali aku mendengar bunyi peluru itu, aku merasa terseret ke dasar jurang yang dalam… Aku takut… Aku sungguh takut!”
__ADS_1
Keenan memeluk Farah erat, tubuh gadisnya bergetar dengan hebat. Farah kembali mendorong Keenan, ini saat yang tepat untuk meyakinkan hatinya. “Apa ini alasan Kakak tidak menginginkan keturunan?”
Wajah Keenan pucat pasi mendengar pernyataan kekasihnya. “Apa Kakak berpikir aku dan anakmu adalah beban terbesarmu?”
Bagai disambar petir disiang bolong, Keenan membulatkan kedua matanya di depan Farah.
“Sayang…” Keenan mengusap wajah Farah perlahan, dia juga menyeka air mata yang membasahi wajah cantik calon istrinya. “Apa seorang bayi begitu penting untukmu?”
Jantung Farah seperti tertusuk sembilu, dia jelas kembali menjatuhkan air matanya. Pertanyaan Keenan sungguh tidak masuk akal baginya.
“Heh, jadi maksud Kakak… Kita tidak bisa memiliki keturunan kita sendiri selamanya?” Farah sudah tidak tahan, air matanya semakin deras keluar dari wajahnya.
“Sayang, kita cukup lelah hari ini! Istirahatlah…”
Keenan menghentikan pembicaraan dengan mengalihkan pertanyaan Farah yang tidak bisa Keenan jawab sekarang.
Farah menghela nafas perlahan, emosinya tertahan di kerongkongannya. Dia sadar, dia tidak mungkin bisa lagi meminta lebih dari prianya.
“Apa itu, Sayang?” Keenan ikut serta bangkit mengusap perlahan wajah gadisnya.
“Apa Kakak tahu siapa pembunuh Papaku?!”
Deg!
Wajah Keenan kembali pucat, keringat dinginnya membanjiri tubuhnya dengan sangat cepat. Hari ini Farah benar-benar melucutinya.
Farah menunduk, hatinya selalu merasa sakit jika dia mengingat kembali kenyataan buruk yang terjadi delapan tahun yang lalu.
“Kakak bilang, semua pengusaha pasti memiliki jalan hitam demi berada di puncak!” Farah mendongak menatap sendu kekasihnya. “Apa Papaku juga memiliki pemikiran yang sama? Mungkinkah dia ikut terlibat di dalam jaringan hitam?”
“Sayang…” Keenan menarik tubuh Farah dan memeluknya erat. “Biarkan Papamu tenang ya, ada aku dan keluargaku yang akan menjagamu sampai kapanpun!”
__ADS_1
“Ini selalu menjadi mimpi buruk keluargaku… Kami kehilangan orang yang sangat kami cintai… Kami dipaksa merelakan kepergiannya!”
Keenan menutup kedua matanya erat. ‘Maafkan aku, Sayang!’
Sampai kapanpun, Farah tidak akan pernah lupa kejadiaan naas delapan tahun yang lalu. Dia melihat dengan kedua matanya sendiri, ayahnya jatuh tersungkur tertembak tepat di jantungnya. Nyawa tuan Lee tidak tertolong, meskipun Keenan dengan cepat membawa tuan Lee menuju rumah sakit terdekat.
Kasus kematian tuan Lee tidak bisa bertahan, pihak berwenang tidak lagi mengusut kematian tuan Lee yang terkesan terencana itu. Bagian kepolisian mengatakan bahwa tewasnya tuan Lee dikarenakan peluru nyasar dari seseorang yang tidak dikenal.
“Apa Kakak tahu, selama ini aku hidup dalam bayang ketakutan… Aku takut kejadian itu akan terulang…”
“Sayang, aku akan melindungimu dengan seluruh jiwa ragaku!” Keenan menekan kedua bahu Farah. “Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu! Kamu tahu itu bukan?”
“Aku tahu…” Farah menatap kosong kedepan. “Tapi, apa Kakak tidak pernah berpikir sebaliknya?”
Keenan mengerutkan keningnya. “Maksud kamu?”
“Bukankah suamiku kelak mempunyai musuh yang tidak terlihat? Apa Kakak tidak berpikir, kemungkinan terbesar lima puluh persen aku akan mengalami kembali kejadian seperti Ibuku kehilangan Papaku…”
Keenan terpaku dengan ocehan gadis kecilnya. “Suamiku akan selalu menjadi target musuhnya, apa Kakak tidak pernah memikirkan masa depanku? Aku tidak ingin kehilangan orang yang aku cintai lagi dan lagi!!”
“Aku tidak mau… Huhu…”
“Farah…”
Keenan memeluk erat tubuh ringkih kekasihnya. “Aku berjanji, aku tidak akan membiarkan kamu kehilangan siapapun lagi. Baik keluarga besar Lee, Kaviandra, bahkan diriku sekalipun… Aku bukan pria lemah dan bodoh yang bisa tertangkap musuhku begitu saja. Kamu tahu sendiri kekuatan suamimu ini bukan?”
"Sekuat dan sehebat apapun seorang manusia, saat takdir berkata lain, kita hanya bisa menyesal dikemudian hari!!" ucap Farah menatap kosong kedepan.
Kalimat singkat itu sukses menusuk di jantung Keenan dan akan terus terngiang di telinganya sepanjang harinya. Mendadak sebagian kekuatannya melemah, dia begitu takut apa yang diucapkan Farah terjadi padanya kelak.
--- To be continued ---
__ADS_1