
“Faraaah…” Axcel terbangun dan segera memanggil gadisnya.
Keenan semakin merasa cemburu pada keduanya. Axcel terjaga sepenuhnya, dia terkejut akan kondisi mereka saat ini.
“Lepaskan dia Keenan, bajingan!” pekik Axcel meronta kembali berselisih mempertahankan hak gadisnya.
Plaaak!
Tanpa menunggu lama Keenan menampar keras pria di samping kekasihnya. “Mulutmu sungguh lancang!!”
“Kaaak!!” pekik Farah tak kalah keras berharap kakak sepupunya tidak melakukan hal berbahaya lainnya.
“Kamu peduli padanya, Sayang?” Keenan berbalik menatap Farah tajam.
“Lepaskan dia, Kak… Aku mohon… Huhuhu!” Farah kembali berderai air mata.
“Kalian keluarga Kaviandra, jadi seperti ini perlakuan kalian pada Farah Lee selama ini?” Axcel kembali menyulutkan api di keadaan seperti sekarang ini.
Plaaak!
Keenan kembali menampar keras wajah Axcel sampai bibir pria kecil itu pecah. Dengan tatapan dinginnya Keenan mendekat dan mencengkram wajah pria yang berani menyentuh gadisnya. “Jika kamu tidak tahu pasti keadaan keluarga kami. Jangan sesekali berasumsi yang mungkin bisa berakibat fatal bagi kehidupanmu!”
Keenan menatap Farah bengis. “Kamu tidak tahu betapa kami Keluarga Kaviandra memanjakan Si Degil ini!!”
“Heh… Memanjakannya menjadikan dia simpananmu?”
Buuug!!
“Axceeel!!”
Farah mencoba menyudahi Keenan yang terus memukuli tubuh tidak berdaya Axcel yang mulai kehilangan kesadarannya.
“Hentikan Kak, dia bisa mati!! Cukup…”
Keenan menghentikan aksinya, matanya telah gelap sepenuhnya, kabut amarah menutupi pandangan Keenan. “Memangnya kenapa jika dia mati? Kamu akan membenciku? Balas dendam padaku atas namanya?”
Buuug!
“Aaarkkk!”
“Cukuuup!!” Farah kembali memekik pilu.
“Dengar Axcel, aku bukan simpanannya… Aku adalah Nyonya Keenan!!”
Sejauh ini Axcel bertahan, sekeras apapun Keenan memukulnya dia tetap akan memasang badan untuk melindungi gadis pujaan hatinya. Kalimat yang dilontarkan Farah barusan benar-benar meruntuhkan pertahanannya. Keenan tersenyum senang dengan penuturan gadisnya. Dia berhenti sepenuhnya, mencengkram kuat wajah Axcel yang lengket oleh darah pekat yang membanjiri wajah tampannya. “Kamu bisa dengar itu? Gadis yang kamu cintai adalah calon istriku!”
Tik!
Keenan menjentikkan jarinya. “Mana vaksinnya? Aku akan membuat kamu menyerah untuk selamanya Axcel Luciano!!”
“Tidaaak, aaarrkkk!!”
Farah menjerit sekencangnya, perutnya kram dan mengeluarkan darah pekat dari bawah tubuhnya. Keenan berbalik menatap Farah dan menyadarinya. “Faraaah!!”
“Aaarrghh, perutku sakiiit… Aarrrghh!!”
“Sayaaang!!” Keenan menghampiri cepat membuka seluruh ikatan di tubuh gadisnya. Keenan tercekat darah segar merembes dari tubuh Farah. “Sam, panggil dokter!!”
__ADS_1
Keenan segera menggendong Farah, seluruh anak buahnya bergegas melakukan evakuasi darurat pada calon nyonya besar Kaviandra kedua.
Farah merangkul erat leher Keenan, kesadarannya mulai menurun. “Sakiiit…”
“Maafkan aku, tahan sebentar. Tante Vero sebentar lagi akan mengobatimu…” Keenan berujar cepat dengan lirih. Dia mencoba menenangkan kekasihnya. Jangan ditanya bagaimana kondisi jantungnya saat ini. Dia merasa organ tubuhnya lepas dari tempatnya.
“Kak…”
“Jangan banyak bicara Sayang!”
“Lepaskan Axcel, aku mohon!”
“Di saat seperti ini kamu masih memikirkannya?”
Keenan kembali merasakan kecemburuan pada perhatian Farah yang dianggapnya terlalu berlebihan.
“Aku sudah bilang, Axcel hanya membantuku… Jika Kakak tidak melepaskannya, aku lebih memilih mati… Dengan demikian, aku berharap Kakak tidak akan pernah lagi berbuat kejahatan pada orang yang tidak bersalah!”
Keenan semakin merasakan sakit di dalam hatinya. Farah rela mati demi pria lain, sungguh beruntung sekali putra Lucifer itu.
“Apa kamu pantas mati untuk pria seperti dia?”
“Heh, apa Kakak lupa? Aku sudah rela berkali-kali menghadapi kematian demi Kakak!!”
Keenan sudah berada di ruangannya. Dia menaruh Farah perlahan di ranjang seperti biasanya. “Kak, they say love is blind, and I'm so blind… And you know it!!”
“Sayang…” Keenan mengusap air mata Farah yang terjatuh perlahan. “Apa kamu tidak tahu bahwa aku cemburu?!!”
Farah tersipu sejenak, melihat dan mendengar Keenan mengucapkan kata barusan, rasanya semua sakit yang diterimanya termaafkan begitu saja.
“Kak, aku sudah katakan… Aku hanya mencintai satu pria dimuka bumi ini? Tidak sepantasnya Kakak cemburu pada temanku. Aku berteman dengannya bukan baru-baru ini… Aku berteman dengannya sudah dua tahun lamanya. Tapi… Aku mencintaimu sudah delapan tahun berlalu, semua tetap sama… It’s not apple to apple… Dia tidak pantas untuk kamu cemburui!”
“Kamu puas Sayang?”
Farah tersenyum, dia mendekat dan mencium sekilas bibir Keenan. “I love you too Keenan, as always!”
Keenan memeluk erat gadisnya, dokter telah sampai. Pria itu beringsut mundur, memberikan waktu pada dokter memeriksa tubuh Farah.
“Farah…”
Dokter Vero telah selesai memeriksa kondisi keponakannya. “Jujur pada Tante, apa kamu hamil?”
Farah menunduk dengan pertanyaan lirih tantenya. Farah kembali terisak menutup wajahnya.
“Sayaaang…” Tante Vero merasa iba, dia menggenggam erat kedua tangan Farah dan menyeka air mata gadis di depannya.
“Aku mohon, tolong aku… Jangan biarkan Kakak mengetahuinya!”
“Apa?”
Tante Vero menelan saliva, dia menatap titik dimana kamera pengawas berada. “Mengapa? Bukankah lebih baik dia mengetahuinya dan bertanggung jawab penuh padamu?”
“Dia tidak menginginkannya!”
Deg!
“Tante mengerti…” Dia merogoh saku jas dan menuliskan sesuatu.
__ADS_1
Farah berderai air mata.
Kamu hampir keguguran!
“Serahkan pada Tante, okay!”
“Terima kasih…” Farah kembali menunduk dan menangis tergugu.
Dokter Vero segera memeluk keponakannya, dia ikut hanyut dan menjatuhkan air matanya.
“Dia tidak menginginkannya, tapi aku mau!”
“Kamu yang kuat Farah… God bless you!”
“Thanks Tante…”
Dokter Vero keluar dan memberikan hasil pemeriksaannya pada Keenan.
“Bagaimana keadaannya?”
Keenan bergegas mendatangi tantenya dengan raut wajah yang khawatir.
“Haish, Tante pikir dia kenapa!”
“Eh?”
“Dia sedang menstruasi! Begitu saja kamu tidak tahu…” Tante Vero berusaha sealami mungkin.
Keenan terbelalak, sejurus kemudian dia tertawa keras. “Hahaha!”
Sudah bisa dipastikan, Farah benar. ‘Aku tidak menyangka kamu tega seperti ini pada Farah!’
"Tapi─"
"Tapi apa?"
Keenan terdiam, mendadak sisi lain hatinya tidak nyaman saat ini. Tante Vero menghentikan kesenangan Keenan. Pria itu percaya ternyata Farah benar-benar tidak hamil seperti pengecekan semalam.
"Mentalnya terganggu otomatis hormon yang ada dalam tubuh Farah terganggu juga. Dia akan terus mengalirkan darah dalam jumlah abnormal. Oleh karenanya tante resepkan obat agar menghentikan pendarahan abnormalnya. Dia juga harus bedrest dan memakan makanan yang sehat." Tante Vero menyerahkan secarik kertas pada Keenan.
"Suruh Sam menebusnya di apotek Tante, ada salah satu obat yang tidak di jual di apotik manapun. Itu khusus daya tahan tubuh Farah yang semakin kesini semakin merosot tajam. Benar demikian?"
Keenan merasa terpojokkan, memang benar semenjak Farah berhubungan dengannya. Gadis itu rentan sekali terkena penyakit. Padahal sebelumnya mana pernah gadis itu sakit-sakitan, influenza saja sangat jarang, jikapun terkena paling cuma bertahan selama dua atau tiga hari saja dalam setahun.
"Aku akan menyerahkannya pada Sam!"
Keenan menaruh resep di saku jasnya. Tante Vero sempat berdebar saat meresepkannya, dia khawatir Keenan mengetahui obat jenis apa yang diresepkan olehnya.
“Keenan…”
"Tante, semakin sedikit yang Tante ketahui maka semakin bagus!”
"Jika kamu mencintainya tidak mungkin kamu menyakitinya bukan? Farah begitu mencintaimu jangan sampai dia─"
“Cukup! Silahkan Tante keluar sekarang!!”
Keenan mengusir tante Vero dengan kasar. Dokter pribadi kediamannya itu hanya bisa mengusap dada. Tidak ada yang bisa menghentikan kegilaan Keenan jika sudah seperti ini.
__ADS_1
“Bagaimana jika keluargamu tahu apa yang sudah kamu lakukan pada Farah?” gumam tante Vero lirih menatap kepergian Keenan menuju ruangan dimana Farah berada. “Huh, terlebih Karen… Dia akan murka padamu Keenan!”
--- to be continue ---