Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 133 # Pamit


__ADS_3

Farah telah selesai dengan sarapan paginya, di temani Axcel yang ikut sarapan bersamanya. Sesekali mereka bertukar makanan dan saling menyuapi seperti biasa seperti mereka makan di kampus selama ini. Axcel terus mencuri pandang bahagia ke arah Farah.


'Tidak masalah Farah, selama kamu bahagia akupun demikian. Melihat senyumanmu membuat hatiku damai seketika. Kamu memang sumber kekuatan dan masalah yang datang bersamaan. Hahaha... I love you Farah Lee...' batin Axcel bermonolog dalam dirinya saat melihat Farah dengan gaya makannya yang selalu antusias dan bersyukur atas apa yang di terimanya.


"Aarhh kenyaaang!" Farah mengusap perutnya memutar perlahan dan menatapnya dengan rasa bahagia. "Kamu rakus ya kisanak, makan yang banyak di perut Ibu... Agar kamu tumbuh sehat kedepannya!" ujar Farah lirih seolah berbincang dengan bayinya.


Axcel terpaku mendengarnya, ada rasa haru seolah mereka berdualah kedua orang tua bayi yang ada di dalam perut Farah.


"Axcel... Aku ingin pulang... Keluargaku pasti mencariku." ujar Farah mendongak menatap penuh harap.


Axcel sendiri sudah sangat tahu keadaan di luar kediamannya. Semua portal berita menyatakan bela sungkawa atas hilangnya putri angkat keluarga Kaviandra yang di akibatkan kecelakan di Samudera Hindia. Karena hal ini juga rumor aktivitas illegal Keenan terendus publik dan mereka menyatakan bahwa ini adalah tindakan kriminal seorang mafia. Mereka ingin Keenan kelaur dari Negara S yang saat ini justru mempermalukan nama baik keluarga Kaviandra karena bisnis ilegal yang belum pasti kebenaran dan buktinya.


"Farah..." Axcel berencana memberitahukan keadaan mereka saat ini.


Farah sepertinya mengerti apa yang akan di bahas sahabatnya itu.


"Aku minta maaf, aku sendiri tidak langsung memberikanmu pada keluargamu saat aku menyelamatkanmu." Axcel menatap nanar ke arah Farah.


"Semua semata untuk kebaikanmu, kebaikan Kakak sepupumu." bujuk Axcel mencoba membuka pikiran Farah atau lebih tepatnya mencuci otaknya.


"Aku akan menceritakan kejadian sebenarnya, aku tidak sengaja menemukanmu di Sektor K... Aku sudah lebih dulu mengetahui kehamilanmu saat itu..."


DEG!!


Farah terbelalak dengan ucapan Axcel, dia tidak menyangka gerak-geriknya bahkan sudah terbaca oleh Axcel. Sulit di percaya!


"Saat itu aku menyadari ada yang tidak beres, beberapa orang sudah mengintaimu dari rumah sakit!"


"Aku membuntuti mereka dan mendapati kamu benar-benar jadi targetnya!"


Farah kembali menjatuhkan air matanya mengingat kejadian yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.


"Sampai aku akhirnya mengetahui keberadaanmu terombang-ambing di Samudera!" ujar Axcel menahan emosi.


"Itu artinya apa?" Axcel mulai menekan mental Farah. "Selama kamu berada di samping priamu, selama itu juga kalian berdua akan mendapatkan masalah. Saat ini kamu selamat, begitu pula Kakak sepupumu... Bagaimana nanti? Apalagi kamu tengah mengandung!!" Axcel terus memojokkan Farah dengan asumsinya.


"Apa kamu tidak memikirkan keselamatan bayimu?" bisik Axcel mencoba mengusap perut Farah.


"Saat ini, kamu sedang mengambil keberuntunganmu. Bayimu selamat setelah hampir dia mencoba keluar di usia kandungan yang masih muda. Apa kamu ingin ini terulang kembali?!" Axcel mendongak menatap Farah serius.


Farah menggelengkan kepalanya, dia kembali mengalirkan air mata di wajahnya yang masih terlihat pucat.


"Aku hanya memberitahukan kenyataannya Farah, Kakak sepupu atau saat ini tunanganmu itu... Dia bukan pria biasa. Dia bermain di jaringan hitam juga, kamu pasti sudah tahu dengan jelas. Hidupmu tidak akan setenang dulu saat kamu hanya sekedar jadi putri angkat keluarga Kaviandra." terang Axcel perlahan.

__ADS_1


"Aku tidak memaksakanmu... Semua keputusan ada padamu, aku hanya ingat ada seorang gadis yang meminta bantuanku untuk pergi menjauh dari hidupnya hanya untuk menyelamatkan putranya. Is it right? Farah Lee?"


Farah kembali terisak, dia menutup seluruh wajah dengan kedua tangannya. Tubuhnya kembali bergetar, pikiran Farah mengatakan tidak ada yang salah dengan asumsi Axcel. Bahkan semuanya terdengar tepat sekali!


Farah hanya bingung, Keenan sendiri sudah mengakui bayinya dan justru menginginkan keduanya hidup. Hal yang mengganggu pikiran Farah adalah dia adalah kelemahan prianya. Semakin dia dekat dengan Keenan maka hidup Keenan akan terancam karenanya. Farah semakin di buat dilema saat ini.


'Apa aku kembali dengan rencana awal melarikan diri dan membesarkan putra kami? Atau aku─' batin Farah merakinkan dirinya untuk membuat sebuah keputusan.


Farah mendongak menghentikan tangisannya. "Axcel, ijinkan aku menemui Kakakku untuk yang terakhir kalinya..."


Axcel mengembangkan senyuman, dia menang kali ini. 'Tidak masalah siapa ayah dari bayi dalam kandunganmu. Kedepannya, akulah yang akan menjamin kebahagiaan kalian berdua.'


***


Rumah Sakit KHealth.


Karen telah selesai berkeluh kesah dan memaki kakaknya yang masih terbaring tidak berdaya di atas ranjang ICU. Dia segera keluar dari ruangan, dia takut kehadirannya justru memperburuk keadaan kakak kesayangannya. Dia hanya berharap Keenan mendengarkan kenyataannya dan bangun segera setelah mengetahui adiknya hilang.


Axcel dengan bantuan kekuasaannya sudah berada di Rumah Sakit tanpa di ketahui siapapun. Farah telah menutup seluruh tubuhnya, tidak akan ada orang yang mengetahui keberadaannya.


"Karen..." lirih Farah emosi kembali menjatuhkan air matanya.


Farah ingin sekali berlari saat ini juga memeluk sepupu tersayangnya. Hanya saja dia tidak bisa, setelah keluar dari kediaman Luciano dia tidak menyangka berita tentang dirinya tengah merebak luas. Kediaman besar Kaviandra bahkan tengah di soroti publik. Dia bisa melihat bibi, paman dan Karen tengah menangisinya.


Ceklek...


Farah telah mengenakan pakaian khusus saat mengunjungi prianya. Hatinya di paksakan siap melihat kenyataan kondisi pria pujaan hatinya.


"Hiks... Kakak... Huhu..." Farah terseok untuk sampai di ranjang di mana Keenan tengah terbaring seperti mayat hidup saat ini.


Tuutt... Tuutt... Tuutt...


Siapapun yang mengunjungi Keenan hanya bisa di sambut dengan detektor pendeteksi detak jantung saja.


Bruk!!


Farah terjatuh sama halnya seperti yang terjadi pada Karen sebelumnya. "Maafkan aku Kaaak... Aku membuatmu seperti ini..."


Farah menghentikan tangisannya, dia menghirup udara dalam dan menghembuskannya perlahan. Tak lama dia bangkit. Dia semakin mendekati prianya, rasa rindu menguar hebat di sekujut tubuh Farah saat ini.


"Aku senang Kakak masih baik-baik saja. Aku yakin Tuhan akan memberikan keajaibannya membuat kakak kembali bangun dan kembali seperti sediakala." bisik Farah di samping telinga Keenan.


"Kak..." Farah tengah terduduk di samping tubuh Keenan bersiap mengutarakan semua pesan terakhirnya.

__ADS_1


"Berjanjilah hidup lebih baik seperti yang kamu ucapkan padaku." Farah kembali mengalirkan air matanya.


"Aku sangat mencintaimu, apapun akan aku berikan untukmu. Bahkan jika saat ini aku bisa memberikan ruhku untuk membangkitkan ruhmu. Akan aku lakukan!!" Farah menggenggam tangan dingin Keenan mengalirkan kehangatan disana.


Farah tersenyum kembali ingat bagaimana prianya menjaga dan merawatnya selama dia sakit beberapa waktu kebelakang. Bahkan benaknya kembali memutar bagaimana pria itu menjaganya setiap malam saat Farah kecil mengalami demam karena terkena hujan saat menunggunya pulang dari perjalanan bisnis bersama Karen dia demam berjamaah.


"Kak... Aku bukan meninggalkanmu untuk selamanya... Aku hanya sedang membiarkan waktu memperbaiki kerusakan ekosistem kita. Hehe..." ujar Farah konyol di suping telinga Keenan.


"Bayi kita selamat... Aku berjanji padamu akan menjaganya segenap jiwa ragaku. Aku juga akan menceritakan padanya betapa heroik ayahnya. Dia akan bangga memiliki papa terbaik seperti Kakak." Air mata Farah menetes di pipi putih pucat Keenan.


"Aku pastikan dia akan bangga memiliki ayah paling hebat bernama Keenan Kaviandra, dia akan menjadi penerusmu kelak."


Farah menempelkan bibirnya pada bibir Keenan perlahan, Farah menutup matanya perlahan. Membuka mulut Keenan seolah tengah mentransferkan energinya pada tubuh Keenan. Farah menyesap lembut permukaan bibir Keenan yang terasa seperti ice cube dingin dan hambar.


Tanpa di sadari Farah, grafik layar detak jantung Keenan berubah cepat. Seluruh sistem syaraf Keenan juga mengalami perubahan cukup cepat. Jemari Keenan kembali seolah bisa di gerakkan, hanyasaja pria itu masih terdiam kaku di tempatnya.


Farah tidak menyangka ini akan menjadi ciuman terakhirnya. "Aku sangat mencintaimu Keenan Kaviandra. Sampai kapanpun... Percayalah... Dan cepatlah bangun... Cari aku sampai dapat... Aku tidak akan pernah membiarkanmu mati seperti ini!"


Farah bangkit, dia melihat Axcel yang sudah melototinya karena waktu yang di berikan di langgar Farah. Farah kembali menatap kekasihnya.


"See you when I see ya... Love you." Farah mengecup pipi Keenan untuk terakhir kalinya.


Dia bersiap beranjak sampai─


Grep!!


Mata Farah terbelalak saat tangan Keenan tiba-tiba menggenggam tangan Farah. Farah menelan salivanya, dia kembali terisak. Melepaskan perlahan genggaman tangan Keenan yang terasa jelas menghangat di tubuhnya.


"Maafkan aku Kak... Aku melakukan hal ini karena aku mencintaimu... Percayalah..."


Farah menaruh kembali tangan Keenan di tempatnya. Dia segera berlalu saat Axcel kembali memberikan tanda bahwa ada seseorang yang akan datang kearah mereka.


Ceklek...


Tuutt... Tuutt... Tuutt... Tuutt... Tuutt... Tuutt...


Petugas medis merasa bingung dengan kecepatan detak jantung Keenan, dia segera mendekat dan betapa terkejutnya dia saat mata Keenan terbuka lebar sekarang.


Tuuut!!


"Panggil Dokter James kemari, pasien ICU Tuan Muda Keenan merespon!!"


Petugas medis segera menghubungi team di area luar untuk menyusulnya segera. Keenan membuka matanya dan mengalirkan air matanya. Bibirnya mengatakan lirih sangat lirih. "farah lee..."

__ADS_1


--- To be continued ---


__ADS_2