
────────────────────────
Bandara Internasional Negara S, VVIP Area.
"Bibi!" Farah memekik saat orang tua angkatnya sudah terlihat dari pandangannya.
Wanita paruh baya itu sudah sepenuhnya turun dari jet pribadi keluarga besar. Dia melengkungkan senyuman lebarnya. Dia sendiri begitu rindu dengan anak angkatnya yang begitu berisik, seperti sekarang ini.
"Faraaah Sayaaang!"
Bruk!
Keduanya saling berpelukan langsung, Farah begitu senang akhirnya dia tidak akan lagi merasa kesepian di kediaman. Terlebih, dia ingin sejenak menghindar dari kemesuman kakak sepupunya. Setelahnya terlihat pria paruh baya yang keluar memancarkan aura yang berkharisma kuat. Di usianya yang akan menginjak kepala lima, pria paruh baya itu masih terlihat tampan dan awet muda.
"Paman!" Farah melepaskan pelukan dengan bibinya dan menyambut paman atau tuan besar Kaviandra.
"Kamu tidak kuliah, Sayang?" sahut pamannya membuat Farah mengerucutkan bibirnya. "Hahaha!" Tuan Kaviandra memang senang mengusili anak sahabatnya.
"Syebal! Kalian honeymoon terus aku di tinggal mulu!" Farah merutuk manja membuat kedua orang tua angkatnya kembali tertawa bersama.
"Makanya buruan nikah!" olok tuan Kaviandra membuat perasaan Farah mencelos.
"Hussh, Papa ini! Farah masih kecil... Kakaknya saja setua ini belum bawa calonnya!!" Nyonya Lyn menghardik ucapan suaminya yang di sambut kembali kekehan. "Kamu sendirian?"
"Bibi berharap aku dengan siapa?" cibir Farah kesal.
Terlihat seluruh anak buah tuan besar menunduk menyambut kedatangannya. Salah satu asisten pribadinya membukakan pintu limosin yang akan mereka gunakan untuk segera bertolak dari bandara ke kediaman mereka di pulau H.
"Kakakmu itu kan disini juga, Sayang!"
Mereka telah duduk di tempatnya masing-masing, kemudian melanjutkan percakapan yang tertunda. "Bibi dengar dari Paman Chen, sudah beberapa hari ini kamu tidak tinggal di kediaman. Dia bilang kamu ada di mansion Kakakmu!"
Deg!
Jantung Farah seolah terlepas dari tempatnya. Di saat Farah ingin menghindari tentang hubungan terlarangnya, bibinya sudah selangkah di depan.
"Iya, Bi..." Farah mengatupkan bibirnya. Dia berpikir memutar otaknya untuk beralasan yang tepat. "Karen sempat pulang kemarin pas kalian masih di Eropa. Abis itu dia balik lagi... Aku kesepian makanya pas Kakak ke rumah aku minta ikut!" Farah menjelaskan dengan nada manja membuat siapapun yang mendengar tidak tega dengannya.
"Haaish, terus mana Kakakmu itu!"
__ADS_1
"Sibuk! Kakak bilang ada pekerjaan ke SF, Kakak juga bilang mau jenguk Karen..."
"Anak itu pulang gak ngabarin!" rutuk tuan Kaviandra kesal, dia sama rindunya dengan anak bungsunya. Tapi, Karen sendiri begitu sulit untuk pulang ke kediaman.
Keduanya tidak mengetahui alasan Karen jarang pulang satu tahun terakhir ini. Semua karena waktunya dia habiskan bersama kekasihnya. Dia sedang dimabuk asmara, dia semakin melupakan keluarganya. Bahkan Farah yang posisinya lebih tinggi dari Keenan sendiri selalu dia baikan.
"Terus, mana oleh-oleh untukku?" Farah segera mengalihkan pembicaraan dan kembali pada settingan awal dirinya.
"Ya elah! Cuma oleh-oleh aja di kepalamu ini!" Nyonya Lyn mengacak rambut Farah gemas. Dia juga terus memeluk tubuh anak angkatnya.
"Kamu mau apa sih? Apa limit kartu hitammu kurang?"
'Ck, gak bapak gak anak sama aja jawabannya!' Farah merasa dejavu akan jawaban yang sama yang Karen ucapkan sebelumnya. Begitu pula tuan Kaviandra, dia memiliki pemikiran yang sama.
"Paman ni!" Farah merutuk kesal. Dia memang sudah tidak segan lagi pada keluarga inti Kaviandra. Dia juga begitu dimanjakan oleh mereka tanpa terkecuali. "Seninya menunggu orang dari liburan itu dipalakin oleh-oleh!"
"Hahaha, siapa yang memberikanmu pemikiran kolot seperti itu!" Tuan Kaviandra mencubit pipi Farah gemas.
"Aawwwhh!" rintih Farah mengusap pipinya.
"Hahaha, kamu bisa belanja di Mall S, sama pun!" ejek nyonya Lyn mencubit pipi Farah lainnya.
"Kamu kan memang masih bayi!" Nyonya Lyn memeluk erat anak angkatnya. Tidak bisa disembunyikan lagi, bagaimana rasa sayangnya pada Farah. Hampir sama seperti menyayangi kedua anaknya yang lain. "Kedua kakakmu itu tidak ada lagi yang mau di manja sama Bibi. Sisa kamu lah! Hehe..."
Farah begitu miris, sekuat tenaga dia tidak menjatuhkan air matanya. 'Bi, bagaimana perasaanmu seandainya tahu. Anak kebanggaanmu menodaiku dengan paksa. Aku sekarang menjadi mainan ranjangnya!'
Nyonya Lyn melepaskan pelukan, mereka kembali mengobrol hal random lainnya. Farah membuang wajahnya keluar jendela. Dia kembali merasakan perasaan tidak nyaman menguar di tubuhnya. Kedepannya semua tidak akan pernah sama seperti sebelumnya.
"Jangan mengeluh Farah! Jangan menyerah..." Farah menatap cermin di kamarnya.
"Ingat mimpimu, kamu ingin menjadi Nyonya Muda Kaviandra berikutnya... Dengan begitu, aku harus kerja keras mewujudkannya!" Farah menyeringai menatap pantulan dirinya.
Dia membuka pakaiannya, dadanya bergemuruh hebat. Banyak sekali noda merah yang disematkan Keenan di setiap bagian permukaan tubuhnya. "Apa Kakak sudah merindukanku?"
Sedangkan di jet pribadi milik Keenan, pria itu sudah bertolak dari negara S dan sedang berada di ketinggian tiga puluh lima ribu kaki. Walau sedang melakukan perjalanan di pesawat pribadinya, Keenan masih sibuk berkutat dengan berkas pekerjaannya.
Keenan menghentikan sejenak proses verifikasi, sudut bibirnya terangkat sejenak. 'Baby, bagaimana bisa aku sudah merindukanmu sekarang?'
Keenan mengulumkan senyuman saat mengingat bagaimana berisiknya Farah yang bagai bebek saat bersamanya. Namun, suara lenguhannya mampu membangkitkan gelora hasratnya. Keenan menggelengkan kepala sekilas. Dia kembali disibukkan dengan pekerjaannya sebelum landing di tempat tujuan.
Sikap Keenan barusan membuat seluruh anak buah intinya saling tatap. Mereka seolah melihat orang lain di diri tuannya. "Ssst," bisik Ken menatap Sam. "Emang bener ya? Kalau kena fall in love semua rasa menjadi seperti cupcakes and rainbow?" tuturnya lirih mencoba menggosip.
__ADS_1
"Gak usah nyari perkara! Mulut lo kadang meresahkan..." sahut Sam tak kalah lirih.
Ken lupa, dia segera menggerakkan tangan menutup mulutnya seolah seperti mengunci jaketnya. Keenan menyadari tingkah anak buahnya dan menatap segara ke tempat keduanya. Ken menunduk segera dengan wajah yang mulai terlihat pucat. Begitu pula Sam dan Ben, mereka memilih diam seribu bahasa. Mereka pura-pura berubah menjadi transparan.
"Huh!" Keenan mendengus lirih dan kembali menyelesaikan pekerjaannya.
'Puja kerang ajaib!' Ketiganya memekik berjamaah dengan kalimat serupa.
Beberapa jam kemudian rombongan Keenan telah berada di negeri Paman Sam, sesuai jadwal yang sudah diurus Sandra untuk bisnisnya dia akan menemui beberapa perusahaan yang mau mengadakan kerja sama dengan KTech. Di samping itu, Keenan juga akan melakukan pekerjaan jaringan hitamnya.
"Sam, suruh Kai memeriksa tempat Karen!"
"Noted!"
"Kita akan menemui Mr. Alex lebih dulu setelahnya mampir ke tempat Karen. Pastikan protokol disana sudah kamu siapkan keamanan ekstra. Aku tidak ingin ada orang lain yang tahu bahwa adikku tinggal disana."
"Noted!"
Dengan langkah panjang Keenan memberikan perintah, seluruh anak buah yang sudah berada di sana menunduk menyambut kedatangannya. Salah satunya tengah membukakan pintu limousin yang akan membawanya pergi dari landasan udara menuju dimana rekan bisnisnya berada. Semua pasukan terbagi dengan rapi tanpa perlu diberitahu lebih lanjut. Keenan menemui tempat pertemuan pertama yang akan dilanjutkan dengan kunjungan menemui adik semata wayangnya.
***
Penthouse Manhattan Triplex, 05.00 PM.
Di dalam sebuah penthouse ternama, terdapat dua sejoli yang sedang bercumbu mesra. Mereka adalah Karennina Kaviandra beserta kekasihnya Erick Shin. Sepanjang hari mereka akan berduaan merajut cinta keduanya. Pasangan yang sudah menjalani hubungan selama satu tahun lamanya itu masih merahasiakan hubungan dari keluarga besar Kaviandra. Karen masih tidak bisa mengutarakan niatnya, dia tidak masalah dengan kedua orang tuanya. Namun, seperti yang sudah bisa di tebak. Karen begitu takut akan tanggapan kakak tertuanya.
"Kapan kamu mengenalkanku pada keluarga besarmu, Honey?" Erick kembali bertanya untuk kesekian kalinya.
"Ehm!" Karen kembali terlihat gelisah. "Sabar ya Honey, kamu tahu sendiri bagaimana mereka─" Karen meringis di depan kekasihnya.
Erick membuang wajahnya, sudah selama beberapa bulan ini dia mendesak Karen untuk mengenalkan pada keluarga besar. Alasan klasik yang pria itu pakai tentu saja untuk keseriusan hubungan mereka. Erick sendiri telah mengenalkan Karen pada keluarga besarnya. Sedangkan Karen, terlihat tidak begitu serius dengan hubungan mereka.
"Honey!" Erick melepaskan tubuh Karen, dia bangkit dengan perasaan kesal. "Kamu secara tidak langsung mengatakan kita tidak mendapatkan restu! Benar demikian?"
Deg!
Karen hanya bisa terdiam, dia tidak bisa memastikan. Dia hanya takut seandainya benar-benar tidak mendapatkan restu. "Honey, dengarkan aku... Kami memiliki aturan sendiri, sampai saat ini Kakak tetua aku belum juga menunjukkan hilal memiliki pasangan. Akan terlihat tidak sopan jika aku mendahuluinya..."
Erick mendengus pasrah bercampur emosi yang bergemuruh di dalam dadanya. "Sampai kapan Karen! Aku ingin memilikimu seutuhnya! Aku takut tidak bisa menahannya dan kita─"
--- To be continue ---
__ADS_1