
Pikiran dosen Victor berkelana tidak menentu, dia sungguh gelisah mendengar kabar Farah dari salah seorang yang mengatas namakan pengurus kediaman besar Kaviandra. "Farah sakit apa sampai harus cuti sepekan?"
Dengan perasaan yang kalut dosen Victor ingin menghubungi Farah segera. Namun, dia kembali urung, dia menatap kelas yang baru dia tinggalkan, dia masih memiliki jadwal mengajar. "Mungkin sore setelah semuanya selesai aku harus menghubungi Farah dan bertanya langsung!"
Dosen Victor kembali memasuki ruang mengajarnya, dengan perasaan yang gelisah. Pasalnya, semalam dia lah yang bersama Farah. Dia sungguh takut anak didiknya mengalami sesuatu yang buruk selama perjalanan pulang. Sedangkan di posisi Axcel, pria itu tengah merutuk kesal. Ponsel Farah tidak bisa di hubungi alias non aktif.
"Shiiit!"
"Lu kenapa?" Ceillyn mendekat dan bertanya dengan raut wajah yang kepo luar biasa. Axcel menggerutu dengan dingin, sangat berbeda jika Farah di samping mereka.
"Lyn, lu bisa tahu Farah sakit dari mana?" tanya Axcel segera dengan raut wajah khawatirnya.
"Owh, sebelum masuk Mei telepon Farah, dia sendiri yang bilang!" Ceillyn menjawab dengan menunjukkan tatapan ke arah Meishya.
"Hm, abis itu keputus. Lowbat palingan!" timpal Meishya datar. 'Cuma, dia berisik banget, kayak ada seseorang di
sampingnya! Hiishh...'
Axcel mengeraskan rahangnya, dia merasa tidak enak perasaan. Hal aneh lainnya yang terjadi hari ini, Axcel sendiri kesiangan. Biasanya dengan sigap dia akan mencarikan kudapan untuk wanitanya.
"Oke anak-anak, kita mulai saja pembelajaran kita. Tapi sebelumnya, teman kita Farah sedang tertimpa kemalangan. Dia sakit dan harus dirawat dengan baik selama sepekan. Jadi kita doakan semoga dia baik-baik saja, syukur-syukur bisa kembali sekolah dalam waktu dekat."
Deg!
Di antara semua murid yang mendengarkan omongan dosennya, hanya tiga orang yang sudah memasang wajah terbelalak dengan penuturan dosen mereka.
"Sepekan? Dia sakit apa woy?!" Ceillyn menatap sanksi pada Meishya.
Meishya menggigit bibirnya cemas, mendadak dia parno dengan keadaan Farah. "Apa mungkin dia?!"
"Da-mn!" Axcel merutuk, selama ini Farah tidak pernah absen, bahkan flu berat saja gadis itu masih memaksakan diri untuk tetap bersekolah.
'Oh, come on Farah! Jangan siksa aku seperti ini!'
[ Ayaaaaang! Kamu sakit? Kamu sakit apa? Aku jenguk ya? Kamu dimana? Please angkat telpon gue!! ]
Axcel mengirim pesan singkat pada gadis pujaannya, sialnya chat miliknya hanya centang satu itu artinya belum terkirim sama sekali. Pikiran Axcel semakin tidak karuan, ingin rasanya dia pergi saat ini juga dan mencari memastikan keadaan Farah. Dia begitu takut akan kondisi wanita yang selalu menggantung perasaannya.
***
Hotel Emperor, 09.30 AM.
"Kak!" Farah terkekeh dan menjerit saat Keenan mengangkat tubuhnya dan sengaja memutarnya. "Turunkan aku! Pusing, hahaha!"
Keenan begitu senang mendengar tawa Farah kembali terdengar di telinganya. Dia berharap tidak akan pernah mendengar lagi suara tangis pilu dari gadis tengilnya. Rasanya seperti sebagian jiwanya dibakar dengan sengaja.
"Memohonlah!" pekik Keenan terus memutar gadisnya, dari bawah Keenan melemparkan senyuman lebar membuat jantung Farah seperti terkena panah asmara tepat saat dia berdetak kencang.
"Aaaah, turunkan aku Sayaaang!" pekik Farah sekenanya.
__ADS_1
Keenan menghentikan gerakan tangannya, dia kembali melengkungkan senyuman kebahagiaan, apalagi saat Farah sengaja memanggilnya dengan sebutan sayang. Rasanya, jantungnya berdenyut kencang, berdebar tidak karuan. 'Apa mungkin aku jatuh cinta lebih awal, Baby?'
"Jangan lagi mencoba memancing emosiku, hm?" Keenan mencium bibir Farah setelah menurunkan gadisnya.
Tubuh Farah bergetar hebat, rasanya jutaan kupu-kupu berterbangan di sekujur tubuhnya. "Aku sangat mencintaimu Keenan Kaviandra!"
"Benarkah? Bagaimana jika aku menginginkan bukti kamu mencintaiku sekali lagi?" Keenan menyeringai dengan wajah penuh maknanya.
"Heh!" Farah terkekeh. "Kakak butuh bukti apalagi? Aku telah menyerahkan segalanya! Bahkan aku tidak bisa membenci kelakuan bejat Kakak!"
DEG!
Keenan terdiam sejenak dan tiba-tiba menggendong Farah setelahnya. Farah menjerit, sepertinya ada kemungkinan tenggorokannya meradang setelah ini. Dia hanya tahu menjerit, menangis, dan merengek setelahnya.
"Semalam adalah kecelakan!" Keenan menatap tajam wajah Farah. "Bagaimana jika sekarang kita kembali merasakan terbang menuju puncak nirwana?" Keenan tidak menyangka bisa secabul ini pada adik sepupunya.
"Apa Kakak bercanda?!" Farah merutuk, dia menutup tubuh bagian depan dengan tangannya.
"Untuk apa kamu tutupi Sayang?" Keenan bangkit melempar kemejanya.
Farah semakin beringsut mundur, dia masih waras, dia tidak mungkin menyerahkan dirinya kembali. Terlebih, tubuhnya masih sakit seolah terkena hantaman asteroid besar.
"Aku tidak menyangka bisa mendapatkan yang pertama darimu!" Keenan berbisik di telinga Farah. Tubuh gadisnya sudah meremang sempurna.
"Jadi? Sudah cukup membuktikan bukan?" cicit Farah lirih tetap berjaga.
Ingin rasanya Farah menggali lubang, tapi kemudian dia merasa mabuk kepayang. Kapan lagi Keenan si manusia bongkahan gletser abadi secabul ini!
"Aku penasaran bagaimana jadinya jika Karen tahu Kakaknya secabul ini!" rutuk Farah memutar otak menghentikan gerakan Keenan yang sudah mulai menggoda Farah.
Sorot mata gairah berubah emosi seketika, Farah memang seperti bom waktu bagi Keenan. Setiap kali gadis itu tahu kapan merubah perasaan Keenan. "Kamu berani?" Keenan kembali mencekik adik sepupunya.
"Aaarrkkk!" Farah menahan tangan besar kakak sepupu dengan kedua tangannya. Dia menyeringai, tidak ada raut wajah ketakutan seperti sebelumnya. Namun, tetap saja air mata Farah begitu mudah lolos jatuh begitu saja.
"Shiiit!" Perlahan Keenan membuka tangannya. "Kamu adalah definisi bahaya untukku Farah Lee!" rutuk Keenan mendekati wajah Farah.
Farah menutup matanya, tanpa ingin menggubris setiap perkataan Keenan, gadis itu sungguh lelah rasanya. Farah kembali membuka mata perlahan, Keenan tengah mencium lembut lehernya, dia juga mengusap perlahan memar yang dia berikan sebelumnya. "Maafkan aku, bisakah kamu rasional sedikit? Apa susahnya menurutiku, hah?"
"Heh! Menuruti hasrat liar Kakak? Lalu aku bisa mendapatkan apa? Kakak sendiri tidak ingin mengakui keberadaanku. Apa Kakak memang terbiasa dengan love at night and forget for tomorrow?"
"Aku sudah bilang Kak, aku tidak sanggup bermain. Lepaskan aku, maka aku tidak akan meminta apapun lagi pada Kakak!"
Keenan seolah tengah di lucuti oleh musuh, Farah benar-benar berhasil meruntuhkan benteng pertahanannya. Sialnya, gengsi Keenan sungguh di atas rata-rata.
"Bukankah sebelumnya ada seseorang yang dengan lantang bertaruh padaku?" Keenan tidak habis akal, dia harus terus membuat Farah tetap di sampingnya tanpa perlu mengakui perasaannya.
"Jika kamu patuh, mungkin saja aku berubah pikiran dan memberikanmu gelar selir kedepannya!"
Deg!
__ADS_1
Sungguh tega Keenan berbicara enteng seperti barusan. Farah hanya menguji Keenan, tapi nyatanya, Farah salah besar. Pria itu memang cukup sulit ditaklukan. "Heh, jadi Kakak setuju bertaruh denganku?"
Farah kembali melakukan operasi jinak-jinak merpati. Dia melingkarkan kedua tangan di belakang kepala prianya, sesekali jemari lentiknya menyentuh rambut tebal Keenan. Pria besar itu sampai menelan ludah dan terus menghirup ceruk leher gadisnya.
"Hm!" Keenan menyahut singkat atas pertanyaan Farah, dia tidak tahu bahwa itu adalah jebakan yang disiapkan adik sepupunya.
"Baiklah, aku akan patuh. Tapi, saat Kakak mengakui jatuh hati padaku, Kakak harus berjanji!"
Keenan menatap lekat Farah, dia mengangkat dagu wanitanya dan memagut bibir mungilnya. "Apapun yang kamu inginkan, Baby!"
Farah menyeringai puas. "Kamu hanya boleh jadi milikku seorang, jangan harap ada permaisuri yang melewati posisiku!"
"Terlebih, Kakak sudah menandatangani kontrak denganku seumur hidup!"
"Seumur hidupmu, Kakak hanya boleh mencintaiku!"
Deg!
Keenan tertegun dengan penuturan Farah yang sedikit pun tidak ada keraguan dalam setiap kata yang terlontar dari mulut mungilnya. "Aku bersedia Sayang!"
Farah terpana dengan jawaban prianya, dia menyeringai dan berinisiatif mencium bibir Keenan lebih dahulu. "Apa Kakak tidak berpikir ini merugikan?"
"Aku tidak peduli, selama hakku kamu penuhi, apapun akan aku berikan selama dalam batas wajar!"
'Tunggu! Harusnya tidak secepat ini, aku pikir ini trik yang Kakak gunakan untuk menjadikanku penghangat kasurnya saja! Haaiiisshh!'
"Aarghh! Kaaak!"
Keenan sudah beraksi di saat Farah tengah berpikir, pria itu mulai melucuti satu persatu kancing terusan gadisnya. "Sudah cukup aku memberikan waktu padamu, sekarang giliran waktuku!"
Keenan kembali menjatuhkan tubuh Farah dan menindihnya, di saat memanas salah satu ponsel mereka berdering kembali.
Ddddrrrtt... Ddddrrrtt...
"Aku pastikan itu bukan milikku!" hardik Farah mengatupkan bibir menahan tawanya.
"Hish, abaikan saja!" Keenan kembali mencumbu tubuh adik sepupunya.
Ddddrrrtt... Ddddrrrtt...
Ddddrrrtt... Ddddrrrtt...
Semakin dibiarkan dering ponsel itu semakin membuyarkan konsentrasi Keenan.
"Aaarghh, bangsat!"
"Hahahaha!"
--- To be continued ---
__ADS_1