
"Karen!"
Farah memekik dan mendekati Karen yang terlihat tengah mencari-cari keberadaan adik sepupu tengilnya.
“Lama!!” Karen berkacak pinggang dengan raut wajah kesalnya, Farah hanya bisa cengengesan.
“Kamu pergi sama siapa?” Karen menelisik sekitar, dia tidak menemukan kendaraan apapun disana.
Farah sempat termangu menelan salivanya, dia begitu takut aksinya tertangkap basah oleh Karen yang memiliki kemampuan seperti detektif rasanya.
Farah menggelayut manja dan menjawab dengan membual, keduanya berjalan dan bersiap mencari pertokoan yang cocok untuk perusahaan Karen.
Tidak berapa lama dari keduanya berada di gedung pemasaran, salah seorang tim marketing menghampiri mereka. Keduanya dibawa menuju ruangan yang lebih tertutup untuk membahas secara serius mengenai pembelian ataupun sewa.
Farah merasa bosan melihat betapa seriusnya Karen dengan beberapa orang tim marketing pertokoan. Dia menyelisik setiap sudut bangunan, tak sengaja Farah berhenti pada sesuatu yang membuatnya merasa curiga. Ada sepasang mata yang seolah memperhatikan keberadaan mereka saat ini. Farah menelan saliva, pemilik tatapan itu beralih dan menghilang dari pandangan Farah.
‘Apa mungkin itu orang suruhan Kakak?’ Farah membatin merasakan ada perasaan aneh hinggap di dadanya. ‘Jika benar, apa mereka juga membuntutiku saat menuju klinik?’ Farah mendadak pucat saat ini. Bagaimana jika anak buah Keenan itu melaporkan pada tuannya atas perjalanan benarinya saat ini.
“Ok deal!”
Seruan dari salah satu tim marketing membuyarkan lamunan Farah. Gadis itu kembali menoleh memperhatikan jalannya diskusi.
“Semua persiapan dan renovasi akan segera dilakukan dalam waktu dekat. Nona tinggal tunggu kabar baiknya."
Kesemuanya bangkit dan saling berjabat tangan tanda persetujuan, Farah ikut serta melengkungkan senyuman manisnya.
“Hey, aku mau bertemu Erick!” Karen menyenggol bahu Farah dengan senyuman smirknya.
“Ck!” Farah mendengus sebal, akhirnya dia mengetahui alasan pasti mengapa Karen tidak memiliki waktu untuknya selama setahun kebelakang ini.
“Kita cuma mau ke klub seperti kemarin, kamu mau ikut?” Karen merengkuh bahu tubuh mungil Farah.
“No, thanks!” Farah segera menolak, dia masih waras jika harus menjadi obat nyamuk bakar di depan pasangan yang sedang di mabuk asmara itu. “Kakak bilang aku harus segera pulang!”
“Tumben lu patuh!” rutuk Karen masih merasa sebal dengan kakak kandungnya itu. “Ngomong-ngomong, banyak banget sebenernya hal yang ingin aku tanyakan mengenai hubungan kalian!” Karen memberondongi pertanyaan horor di telinga Farah.
Farah sempat tersentak, secepatnya dia berusaha mengendalikan keadaan mereka. “Itu karena aku terlalu menggemaskan untuk Kakak!”
Karen gemas dan mencubit pipi chubby adik kesayangannya. “Sungguh percaya diri sekali anda! Aku pikir kamu hamil!”
“Uhhuk!” Farah tersedak ludah sendiri saat Karen dengan santai mengatakan dirinya hamil.
Seketika kecurigaannya kembali menguasai seluruh sistem saraf tubuhnya dan ingin kembali mencerca Farah sampai gadis itu mengakui keadaan yang sebenarnya.
“Honey!”
__ADS_1
Ketegangan sesaat memudar saat suara pria berat seorang pria terdengar di indra pendengaran kedua gadis cantik itu. Karen merubah raut wajahnya yang dingin dan menekan menjadi manis dan hangat. Farah sempat membuka mulutnya sejenak.
“Sayang… Kok cepet banget jemputnya?” Karen menyambut kedatangan kekasihnya dengan menggelayut manja di tubuh kekasihnya.
“Tcih, pamer terooos, balas dendam nich ceritanya!” rutuk Farah cemburu bersedekap tangan di hadapan dua sejoli yang sedang kasmaran.
Dua orang yang tengah disindir Farah cekikikan bahkan Farah melihat semburat rona merah di wajah keduanya. Hati Farah menghangat. ‘Semoga kamu tidak salah memilih, Karen.’
“Jadi, beneran kamu gak mau gabung nih?” Karen kembali bertanya pada Farah.
“No, aku masih sayang nyawa…” Farah menjawab ketus. “Lagian ya, mentang-mentang Kakak lagi di luar kota, kalian harus ingat, mata Mr. K memang dua, tapi… Duplikatnya bisa ribuan!” Farah menatap tajam keduanya untuk memberi peringatan. Rasanya, dia sudah terkontaminasi dengan sifat kekasihnya.
“Kamu berani mengancam sekarang yaaa!!” Karen mendekat memeluk erat Farah dan mengerucutkan bibirnya.
“Aaarrkk!!” Farah cekikikan berusaha keluar dari pelukan kakak sepupu kesayangannya.
“Kuy, aku anterin kamu pulang dulu…” Karen menarik tangan Farah menuju mobilnya.
Farah menghentikan tindakan Karen. “No!”
Kening Karen mengerut dengan tindakan Farah yang semakin kesini semakin kesana. “Why?”
“Masa pacaran bawa mobil masing-masing!” Farah berusaha mencari celah. “Sana kamu satu mobil dengan kekasihmu. Aku yang akan membawa mobilmu!”
“Ck, tenang… Aku paling ahli menghindari polisi.” Farah menunjukan senyuman yang memperlihatkan sederet gigi putih rapinya.
“Dah, sanaaa!” Farah mendorong tubuh Karen mendekat pada Erick. “Buruan, keburu nasi mateng!” Farah mengerling menggoda Karen.
Kakak sepupu Farah mengulumkan senyuman, sudah tidak bisa dipungkiri bagaimana pedulinya Farah padanya. Pada kenyataannya, Farah sedang memuluskan rencananya saja.
“Ya udah deh, tapi inga!” Karen mulai mengangkat jari telunjuknya ke udara. “Jangan ngebut! Jangan pecicilan! Jangan di belakang–”
“Jangan main klarinet. Jangan pernah melambaikan lampu senter ke depan dan ke belakang terlalu cepat, itu dianggap undangan. Jangan pernah berhenti menatap sekitar. Jangan makan keju, kecuali yang kotak. Jangan pakai topi sombrero!” Farah memotong kalimat panjang Karen.
“Hahaha!!” Keduanya terbahak bersama. “Kamu pikir ini arena perkemahan di bikini bottom?” Karen kembali mencubit gemas pipi Farah.
“Aaarhh, sakiiit!!” protes Farah segera melepaskan diri dari pelukan kakak kesayangannya.
“Love you, Degil! Be careful!” Karen menyerahkan kunci mobil M4 merah menterengnya pada Farah.
“Love you too, silahkan, semoga hari kalian menyenangkan!!” Farah memekik girang dan memuji kakak sepupunya, Karen hanya mengacak poni Farah gemas. Erick bisa melihat bagaimana kedua terlihat saling menyayangi satu sama lain dan begitu kompak.
–
Farah melakukan pernafasan agar dirinya rileks saat ini. Dia sudah berada di mobil kesayangan milik Karen. "Kapan lagi gue punya waktu free kayak gini!"
__ADS_1
Farah berdoa sebelum dia menjalankan mobilnya, dia segera keluar dan diikuti oleh mobil Erick di belakangnya. Setelah sekitar seratus meter berlalu keduanya memilih jalur yang berbeda. Farah berpura-pura mengambil jalur kembali ke Condo Royal, sedangkan Karen entah kemana Farah tidak peduli saat ini.
Farah sedikit gelisah, dia menatap sekitar. Pasalnya, dia sedang mencoba kembali melarikan dirinya. Di dalam tas kecilnya, dia sudah membawa paspor untuk keluar dari negara S. “I’m sorry…”
Genangan air mana menyeruak tidak bisa menahan lebih lama lagi. Mungkin ini waktu yang tepat bagi Farah untuk melarikan diri dari kekasih yang kini menjadi calon suaminya. “Dia tidak menginginkan bayi ini. Tidak mengapa, aku yang menginginkannya!” Farah menyeka cepat air matanya. "Kamu adalah anugerah yang dikirimkan Tuhan untukku, kamu adalah hadiah sebagian dari darah milik pria yang sangat aku cintai di dunia ini. Bagaimana mungkin aku kehilanganmu... Ibu akan mempertahankanmu Sayang, kamu adalah Tuan Muda ketiga Kaviandra!" Senyum Farah mengembang saat dia tengah bermonolog dan mengusap lembut perutnya yang sudah mulai terlihat menonjol.
Farah sudah berjalan beberapa mil, hal yang membuat Farah merasa ganjal adalah keberadaan tiga mobil yang seolah terus berusaha mengapit dirinya. “Apa mereka juga anak buah Kakak?”
Farah mencengkram erat kemudinya, dia menaikkan kecepatan M4-nya dan bergerak melepaskan diri mengambil jalur yang sedikit ramai. Benar saja ketiga mobil itu dengan sangat cepat mencoba mengimbangi pergerakannya. Semakin cepat Farah menghindar, semakin terlihat ketiga mobil itu mengejarnya dan lebih tidak masuk akal lagi mencoba menghentikan mobilnya.
Farah mulai gusar, pikirannya blank saat ini “Mengapa mereka terkesan agresif? Apa mungkin mereka bukan anak buah Kakak? Apa aku tekan SOS ini?” Farah masih menggunakan jam tangan pintar yang Keenan berikan untuknya. Farah terus menoleh ke belakang, tak lupa kiri dan kanan menghindari tubrukan yang kini posisinya benar-benar telah diapit oleh ketiga mobil yang mengincarnya. Dengan segera Farah mengaktifkan jam tangan khusus miliknya.
Voice activation required...
"Farah Lee!"
Access granted...
"Berikan aku jalan tercepat menuju Condo Royal!"
Please wait... Loading data...
Brrrukk!
"Aaarrghh!"
Mobil Maybach berwarna hitam pekat di samping kiri Farah beringsut mundur di pertigaan jalan, namun mobil Rubicon di sebelah kanannya sengaja menabrakan diri di samping mobil Farah untuk memindahkan jalur sesuai jalur yang mereka inginkan.
Please wait... Loading data...
"Aaarhhh, aku keluar jalur!" Farah menekan pedal gasnya menghindar.
Dor!
"Aaarrghhh!” Farah kembali menjerit saat mendengar tembakan peringatan yang mengenai bagian belakang mobilnya. “Cobaan apa lagi ini, Tuhaaan!!”
Farah semakin menekan pedal gasnya tidak peduli lagi pada keadaan sekitar. Kekasihnya benar, Keenan pergi baru beberapa jam saja dia sudah kembali bertemu dengan suara peluru dimana-mana. Menjadi kekasih yang memiliki aktivitas di jaringan hitam pastinya akan selalu berhadapan dengan hal seperti ini kedepannya.
Sedangkan di mobil yang tengah mencoba mendapatkan Farah, mereka tengah merasa kesulitan. "Bos, mobilnya anti peluru!"
“Tccuih! Kita bisa mengubah jalurnya, setelah itu kita akan memojokkannya untuk keluar dengan sendirinya.” Seringai menakutkan terbit dari salah satu anak buah musuh Keenan.
Ketiga mobil yang mengincar Farah semakin gencar memojokan target mereka. Mereka sudah sedikit tenang dan leluasa dalam memprovokasi Farah, mereka sudah keluar dari kawasan kota dan mengarah pada pelabuhan kargo barang.
-- To be continued --
__ADS_1