
Farah dan Keenan telah bersiap dan menuju keluar ruangan menghampiri putra mereka. Borgol yang tadinya menyiksa tangan Fatah telah terbuka, Keenan segera menyingkirkan benda itu.
"Mengapa kamu melihat Papa seperti itu, hm?" Keenan mendekati putranya dan mengacak rambut lebat Keano dengan suka cita. "Apa kamu berniat membunuh Papa?" goda Keenan mengerling.
"Cih, aku tidak tahu ternyata Mr. K yang merupakan CEO Perusahan teknologi terbesar se-Asia KTech adalah pria cabul!" cibir Keano melengos meninggalkan Keenan.
"Ppfftt!" Farah mengatupkan bibir menahan tawanya.
'Terima lah Kak, kelak kamu akan merasakan apa yang sudah aku rasakan saat bersama Keano!' batin Farah merasa puas.
Keenan terkekeh sejenak kemudian tak berapa lama menarik tangan Farah dan menyusup putranya. Di ikuti oleh kesemua anak buah intinya Keenan dan Farah bersiap meninggalkan gedung KTech.
Triing!
Pintu lift terbuka, kesemua orang disana bersiap keluar. Tiba-tiba, Keenan menggendong tubuh Keano dan meletakkan di bahu bidangnya.
"Aarghh!!" pekik Keano terkejut. "Apa-apaan ini? Turunkan aku Pak Tuaaaa... Aku sudah dewasaa!!" jerit Keano tidak terima diperlakukan seperti anak kecil.
"Haha... Kamu kan memang anak kecil. Bagi Papa kamu masih tetap seorang anak-anak," kekeh Keenan tidak membiarkan Keano turun walau pria kecil itu sudah meronta.
Deg!
Perasaan Farah membuncah melihat pemandangan yang selama ini hanya sebatas angan semata. Farah mengepalkan tangan di dadanya lantas menyeka cepat air mata yang menyeruak dari kedua netranya.
"Papaaaa~" Protes Keano masih tidak terima.
"Hahaha!!" Keenan begitu bahagia sampai dia hanya ingin tertawa.
Farah tidak ingin melewatkan moment langka ini dia bergabung merangkulkan tangan di lengan pria yang selalu di cintai sampai kapanpun.
Cup~
Keenan mencium pipi Farah sekilas dan melengkungkan senyuman kebahagian. "Kalian adalah dunia baruku... Aku tidak membutuhkan apapun lagi!" bisik Keenan menghe tikan langkah sejenak dan mencium bibir Farah sekilas.
Debar jantung Farah seperti baru saja mereka terjerat asmara. Keano sendiri memiliki perasaan sulit dia tebak apa namanya. Walau dia protes ingin diturunkan. Tetapi, sejujurnya dia tidak ingin turun. Perasaan yang hangat itu seolah mencairkan hatinya yang beku selama ini.
Sam dan kedua temannya terpaku, mereka ikut merasakan kebahagian yang dirasakan tuannya saat ini.
'I'm really happy for you both! Cepatlah menikah, hidup bahagia dengan keluarga kalian. Aku selalu mendoakan yang terbaik dan terindah itu cepat menghampiri kalian.' batin Sam mengulas senyum menatap kearah Keenan dan keluarga kecilnya.
Tak hanya Sam, Ben dan Ken juga sama.
__ADS_1
'Akhirnya, setelah lima tahun kamu selalu dalam bayang kegelapan. Senyuman kebahagian itu terbit di raut wajah yang sudah sangat aku rindukan sebelum Farah menghilang. Doaku untuk kebahagian kalian selalu kekal sampai selamanya!' batin Ben tersenyum bangga.
'Walau kalian gak sopan sama kaum jomblo seperti aku. But, seriously... Tidak ada lagi yang aku harapkan tahun ini dari selain pesta pernikahan kalian berdua! Cepatlah menikah, dan berikan aku banyak ponakan ucul... Mungkin salah satunya bisa jadi jodohku... Lumayan perbaikan nasib!' batin Ken diluar prediksi BMKG.
***
Kediaman Luciano.
"Kek, ini sudah lebih dari dua jam tapi mereka belum juga kembali!" tanya Axcel yang terus gelisah dari awal kepergian wanita pujaannya.
"Sebentar lagi," ucap kakek Akeno melihat waktu yang sudah ia prediksi. "Walaupun Keenan mungkin saja tidak membiarkan Farah dan Keano lepas kembali dari genggamannya. Tapi, dia mau tak mau harus membawanya kemari!" Senyum penuh arti tuan Akeno terbit membuat dahi Axcel mengkerut.
"Maksud Kakek?"
Tuan Akeno kembali menyeringai di hadapan cucunya. "Farah telah sepakat, dia akan kembali kesini. Hal yang bisa membuat Keenan harus membawanya kemari tentu saja─"
"No way..." lirih Axcel seolah mengerti kemana arah pembicaraan mereka saat ini. "KAKEEEK!! Mengapa kakek menggunakan kesehatan Farah?!" pekik Axcel tidak terima. "Bagaimana jika terjadi sesuatu hal serius, aku tidak di sampingnya!!"
Axcel beringsut dan mencoba untuk pergi menyusul menemui gadis dan putra sambungnya.
"AXCEL!!" berang tuan Akeno menghentikan langkah kaki cucunya. "Segala sesuatu harus ada hitungan yang jelas." tukas tuan Akeno bangkit.
"Hidup penuh dengan pengorbanan untuk mencapai apa yang kita inginkan." Tuan Akeno mencengkram bahu cucunya. "Jika kamu ingin mendapatkannya, maka bersabarlah... Kamu juga harus berkorban lebih banyak lagi agat Farah bisa menerima keberadaanmu,"
Axcel bimbang, satu sisi tidak ada yang salah dengan pernyataan Kakeknya. Di sisi lainnya, dia begitu mengkhawatirkan wanitanya.
"Kita sudah melatih Keano untuk bisa melakukan pertolongan pertama pada Farah. Jadi, tidak perlu ada lagi hal yang kamu takutkan!" bujuk kakek Akeno menyemangati cucunya.
Axcel hanya bisa mendengus pasrah, dia sendiri tidak ingin gegabah. Asalkan Farah akan terus disisinya, apapun akan ia lakukan.
***
Di perjalanan Keenan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kita mau kemana Kak?" tanya Farah menyelidik.
"Tentu saja ke rumah kita sayang." Keenan berbalik menunjukan senyuman terbaiknya.
Perasaan gelisah menyelimuti diri Farah, dia mulai terlihat mencurigakan. Keano yang kali ini duduk satu kursi dan tengah berada di pangkuan Farah merasakan gelagat aneh ibunya.
"Ibu?" lirih Keano menggenggam jemari tangan Farah yang tengah mengepal sempurna.
__ADS_1
Keenan mengerutkan keningnya, dia sendiri tidak nyaman dengan atmosfer mereka saat ini.
"Kenapa Sayang? Apa kalian tidak ingin tinggal di kediaman?" tanya Keenan kecewa.
"Ehm," Deru nafas Farah tak beraturan, dia seperti akan meledak. "Boleh tidak Kak, jika kita tidak kesana sekarang juga? Aku tidak siap..." pinta Farah terlihat canggung dan juga tertekan.
"why?" Keenan berubah dingin. "Apa kamu lupa sayang? Mereka keluargamu yang sesungguhnya." tutur Keenan terdengar memaksa.
"Pa..." Keano berusaha menyela. "Kami sudah lama dianggap mati. Bukankah akan menjadi hal aneh─"
"Tidak ada satupun keluarga Kaviandra yang menganggap kalian mati!!" tukas Keenan dengan sedikit menggunakan nada tinggi.
"Aaarrrghhh!!" Farah menjerit kencang membuat Keenan dan Keano terkejut bersamaan.
Cekiiiiiittt...
Keenan menghentikan mobilnya, menatap kearah Farah dengan tatapan kebingungan sekaligus cemas terpetakan jelas diraut wajahnya sekarang ini.
"Ada apa sayaang?!" Keenan mendekat dan tengah memindai.
"Aarrghh... Lepaaaskan akuuu!! Aku tidak mau... Tidaaaaak!!" racau Farah semakin menjadi.
Kedua tangan menutup kedua telinganya. Dia menggeleng cepat seolah menolak.
Keano mendengus sejenak, dia tahu ibunya akan seperti ini jika kumat. Keenan di buat tidak ingin berkedip. Apalagi saat apa yang dilakukan Keano setelahnya.
"Ibu... Ibu tenanglah..." Suara lembut Keano mulai terdengar. Tubuh mungil itu bangkit dan berbalik mencoba merengkuh tubuh ringkih ibunya.
"Tidaaaak!! Jangan sentuh aku... Aku akan mati... Pergiii!!" jerit Farah masib terus menggelengkan kepalanya.
Keenan masih syok dia tidak bisa percaya apa yang dilihatnya saat ini.
"Ibu tidak akan mati, kita sudah selamat Ibu..." Keano semakin erat memeluk ibunya. Begitulah yang diajarkan Axcel padanya jika Farah mengalami tingkah impulsif secara tiba-tiba.
Saat serum XY mendominasi tubunya, maka jaringan syaraf di otak Farah hanya akan memutar kejadian paling mwnyedihkan dan paling mematikan.
Farah mulai sedikit tenang, Keano sudah mencoba melakukan pertolongan pertamanya.
"Apa Papa tahu, Ibu memiliki gejada ODGJ. Semua ini di sebabkan oleh Virus XY yang tertanam di tubuh kami berdua."
Deg!
__ADS_1
--- To be continue ---