Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 179 # Pedekate...


__ADS_3

Kediaman Kaviandra, 08.00 AM.


Keesokan harinya, seluruh anggota keluarga Kaviandra tidak ada yang membahas kejadian semalam. Kesemuanya memakan sarapan pagi dengan hanya bersuarakan dentingan peraduan piring dan sendok mereka. Daniel menelan ludah melihat bagaimana aktivitas Kaviandra sehari-hari yang dirasa menyeramkan. Rasa seolah seperti tercekik, membuat tubuh Daniel bergetar kurang nyaman. Dengan hati-hati dia mencuri pandang dan memperhatikan kakak iparnya yang berada di hadapan kakaknya. Pria itu berwajah datar dan tidak mengatakan apapun menyambut hari mereka. Bahkan untuk sekedar basa-basi membahas apa yang sudah dia lakukan semalam, rasanya Keenan tidak perlu lagi menjelaskannya.


Hal yang tidak diketahui pria kecil itu bahwa, Keenan memang sangat senang membuat semua orang hanya bisa merutuknya dalam hati. Daniel kembali mencuri pandang dan mendapati pria angkuh itu sesekali melengkungkan senyuman hanya pada istri dan anaknya saja. 'Sungguh tertekan jika harus hidup di tengah keluarga seperti ini.' Daniel membatin, dia menelan makanan dengan susah payah dan menormalkan gesture tubuhnya.


Farah mengamati tingkah adiknya, dia mengulum senyum tipis dan di bawah sana, tangan Farah menggenggam tangan Daniel memberikannya kekuatan. Keenan yang sensitif menyadari ada sesuatu pada istri dan adik iparnya.


"Apa ada masalah, Daniel?" tanya Keenan membuyarkan keheningan.


Sekarang seluruh pasang mata menatap ke arah asal suara dan berbalik langsung pada orang yang di tanya oleh Keenan. Daniel kembali menegang, rasanya semua tengah mengulitinya sekarang.


"Ah, tidak ada Kak. Hanya saja, aku─" Daniel kesulitan merangkai kalimat dan menyelesaikannya. Wajahnya telah pucat, berada dekat dengan Keenan seperti sekarang ternyata tidak seindah ekspektasinya.


"Daniel belum terbiasa, Kak." Kakaknya mencoba mengambil alih dan membantunya keluar dari situasi sulit seperti sekarang.


Terlihat berlebihan namun bagi mereka yang tidak pernah mengalaminya tentu ini kejutan yang besar.


"Ehm, bagaimana jika aku memberikan Mansion Beverly untuk Daniel?" Farah meminta izin pada suaminya. Walau rumah itu sudah atas nama dirinya, tetap saja Farah harus meminta izin lebih dahulu.


"Boleh, jika kamu merasa ingin menempati kawasan lain, kamu tinggal mengatakannya. Sam akan mengurus segala keperluan dan kebutuhan kamu Daniel." Tanpa berpikir panjang atau menyela Keenan langsung menyetujui permintaan istrinya.


Daniel tersenyum lebar, akhirnya dia bisa mencoba hidup mandiri seperti yang dia bayangkan selama ini. Dia masih kaku untuk mengucapkan rasa terima kasihnya.


"Tidak perlu tempat baru Kak, lagian tempat itu sangat dekat dengan K-Tech." tukas Farah lugas.


Tidak berakhir disitu, semua orang kini juga terpaku dengan apa yang dilakukan Daniel. Pria kecil itu bangkit dan membungkuk mengucap rasa terima kasih pada Keenan dan seluruh keluarga besar Kaviandra yang sudah menerima dan memberikan yang terbaik baginya.


"Terima kasih banyak, aku berjanji tidak akan mengecewakan kalian. Aku akan berusaha!" tutur Daniel masih terus menundukan tubuh menyalami satu per satu anggota keluarga Kaviandra.


Tuan besar Kaviandra sampai terbahak melihat sikap Daniel yang polos dan berlebihan memperlakukan mereka seolah dewa. "Hahaha, kamu ini tak ubahnya Farah saat dia berada disini pertama kalinya."


"Ribuan kali dia selalu membungkuk dan mengucapkan rasa terima kasih dan syukurnya. Lee Choi dan Marry, benar-benar sudah berhasil mendidik kalian menjadi pribadi yang baik dan sopan." Tuan Kaviandra tersenyum lebar ke arah Daniel, menunjukan betapa dia bangga pada anak angkatnya.


Daniel menunduk terkekeh, dia tidak tahu harus mengatakan apalagi. Semuanya akhirnya tertawa dan kembali menghangatkan suasana dengan mulai saling berbincang masalah dan hal random lain. Mereka juga mulai aktif bertukar pikiran dengan masing-masing anggota keluarga.


***


Kantor Pusat K-Tech, 11.30 AM.


Di ruang sekretaris dan asisten khusus presdir K-Tech, terlihat dua manusia yang sangat sibuk di banding staf lain di K-Tech. Mereka adalah sekretaris dan asisten khusus CEO, mendekati jam makan siang saja pekerjaan mereka tidak pernah usai rasanya.


"Oh, lelahnya!" Sandra merebahkan dirinya di batas akhir kursi kebesarannya. Terlihat Sam mendelik sekilas pada rekan dua langkahnya, sesaat kemudian kembali sibuk memeriksa berkas dari mulai bisnis yang baru mengajukan kerja sama atau juga penyelesaian proyek yang akan selesai dikerjakan.


"Aku harap Si Bos ciptain robot buat bantu aku memeriksa berkas hanya dalam sekali kedip!" Sandra mengeluh menatap nanar pada tumpukan dokumen yang menggunung di meja kerjanya.


"Kalau iya, ngapain lu masih jadi Sekretarisnya. Si Bos bakalah milih make robot, selain gak perlu di gaji, kinerjanya akan jauh lebih efektif dibanding lu, kang ngeluh aja bisanya!" rutuk Sam menimpali pernyataan Sandra sebelumnya.


"Dih, PMS!"


"Lah, ngapain gue PMS?"

__ADS_1


"Ya, lu mah dikit-dikit nyolot kek bebek! Bukannya bantuin gue kek..." Sandra merutuk tak kalah mengerucutkan bibirnya membuat Sam menaikan sudut bibirnya.


"Mana sini," ucap Sam merentangkan tangan menerima berkas milik Sandra.


Sandra langsung bersemangat, dia bangkit dari kursi dan menyerahkan setengah tumpukan berkas menuju meja kerja Sam. Pekerjaan mereka adalah menyortir dokumen yang membutuhkan verifikasi Keenan. Sandra harus benar-benar memastikan kelengkapan data dan nominal yang diajukan sesuai. Mereka juga mempunyai wewenang mengembalikan dan menuntut departemen terkait untuk melakukan perbaikan.


"Permisi,"


Kedua manusia penghuni lantai atas menoleh berbarengan ke arah asal suara. Terlihat Daniel yang polos di ambang pintu gelisah ingin mengatakan sesuatu.


"Ya?" Raut wajah Sandra berubah seketika langsung tersipu memperhatikan pria kecil yang cukup menyita perhatiannya. "Ada yang bisa kami bantu?" tanya Sandra lembut membuat Sam terbelalak dengan sikap manis Sandra saat ini.


DEG!


Kembali Daniel membatu, degup jantungnya berdebar cepat, dia sungguh terpesona pada sosok wanita yang cantik dan terlihat mandiri serta dewasa di hadapannya.


"Ehm, maaf... Sejujurnya, aku ingin mengajak Nona manis makan siang bersama. Apa boleh?" Dengan hati-hati dan gugup Daniel mengajak Sandra untuk makan bersama. "Ehm, Kakak mengatakan bahwa Nona Sandra boleh diminta bantuan, karena selain cantik, baik hati, gemar menabung, suka menolong, tidak pilih kasih, supple, humble dan yang terpenting─" celoteh Daniel panjang namun dia jeda sekilas.


Sandra terbelalak dengan wajah yang berseri dengan apa yang diucapkan Daniel barusan padanya. Daniel memang membawa nama kakaknya agar memuluskan jalannya. Dia juga bersiap meneruskan kalimatnya, Sandra tengah mengerutkan keningnya menunggu pernyataan Daniel selengkapnya.


"Kamu bisa aja!" Wajah Sandra merona dan mulai salah tingkah.


"Iya, sepertinya berada disampingmu mengajarkanku apa artinya kenyamanan, kesempurnaan, keprimanusiaan yang adil dan beradab." Daniel menyelesaikan kalimat buayanya, dari setengah bernyanyi disambung jadi pembaca pancasila negeri +62.


Sandra terbahak dengan apa yang di suguhkan Daniel saat ini, tanpa pikir panjang Sandra langsung menarik sling bagnya dan menyetujui ajakan makan siang adik ipar kesayangan bosnya.


"Yuks, aku hampir lupa kalau ini sudah jam makan siang!" Sandra merangkul lengan Daniel. Pria kecil itu terbelalak tidak percaya Sandra mau memperlakukannya seperti itu.


"Kamu meninggalkanku?" rutuk Sam tidak terima.


"Ya, aku makan siang duluan ya. Bye!" Sandra berbalik menatap Sam sumringah sebelum keluar dari kantornya.


"Ck, di kasih berondong langsung dah jelalatan!" Sam merutuk sebal, dia bangkit dan tidak ingin kalah dengan Sandra.


***


Resto Chinese Food.


Sandra mengajak Daniel yang masih awam di kota S menuju salah satu resto yang cukup terkenal dan tak jauh dari lokasi kantor mereka. Daniel begitu bahagia, ini pertama kalinya dia membawa wanita pergi selain kakak dan ibunya. Saking bahagianya, Daniel gelisah dan gemetaran membuat Sandra sedikit khawatir pada adik ipar tuannya.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Sandra menyelidik keadaan Daniel.


"Oh sorry, I'm okay... But─" Daniel menatap lekat Sandra sebelum mencari tempat yang akan mereka tempati.


"What's up?" Sandra menjawab dengan pertanyaan juga.


"Huh, ikan hiu makan tomat, with you I'm skakmat!" Daniel menunjukan sisi lain yang tidak diduga Sandra.


"Hahahaha!" Sandra terbahak segera. "Kamu murid Jarjit Tadika Mesra ya?" Sandra menepuk bahu Daniel menjelaskan mereka sudah begitu dekat.


"Ish, siapa Jarjit?" cicit Daniel melebarkan senyuman membuat Sandra terpana sejenak.

__ADS_1


Sandra membuang muka segera dan seolah menjari dimana tempat duduk mereka. Akhirnya mereka memilih tempat yang sedikit menjauh dari lalu lalang orang. Kedua manik mata Daniel tidak lepas terus memperhatikan gerak-gerik wanita idamannya.


-


Coming for you in the fast lane


Got me all fired up, full gas tank


Put the pedal to the floor when I hit the door


Give me everything you got like the bank is owed, yeah


You pull up in the Lambo'


With that drip that **** like candles


And I lose my grip, where the handle?


And I'd choose you over the band doe


You keep my engine on purr, you could never get swerved


How you move 'round the curves make me, ooh


You got that thing that I want, know your love hit the spot


And you never should stop, baby, shoong


[ Shoong! Taeyang ft Lisa Blackpink ]


Di dalam resto tengah di putar lagu yang cukup membuat keduanya saling melempar tatapan dengan wajah yang merona. Sandra mengatupkan bibirnya erat, sesekali menunduk gelisah.


"Ini pertama kalinya aku makan berduaan dengan seorang pria." Sandra menatap sendu tepat di netra Daniel yang menatapnya takjub.


"Me too," sahut Daniel cepat. "Biasanya aku hanya keluar dengan Kakak atau Ibuku." Daniel kembali memberikan senyuman tampannya melempar jutaan panah asmara pada wanita yang berbeda tujuh tahun diatasnya.


Tanpa mereka sadari, bahwa ada orang lain yang membuntuti mereka. Sam mencari tempat tersendiri agar keduanya tidak menyadari keberadaannya. Sam merasa perasaan yang aneh yang tidak pernah terjadi sebelumnya.


Dia terus memperhatikan keduanya yang tengah bersenda gurau yang sesekali terdengar tawa Sandra yang renyah. Sam mengeratkan genggaman tangannya di buku menu.


"Anda mau memesan apa Tuan?" tanya pramusaji membuyarkan penglihatan Sam.


Sam bangkit dan berlalu, dia merasa konyol berada disana. Namun, tanpa dia sadari justru kali ini Sandra mengetahui keberadaannya.


"Sam?" gumam Sandra lirih memperhatikan kepergian rekannya.


"Ada sesuatu?" tanya Daniel membuyarkan Sandra.


"Ah tidak," sahut Sandra memetakan senyuman manisnya.


--- To be continued ---

__ADS_1


__ADS_2