
"Sekarang giliranmu!" Keenan memberi perintah dan beringsut mundur kebelakang tak jauh dari gadisnya berdiri.
Farah tentu tidak mendengar apa yang diperintahkan, pikirannya masih memutar memory masa lalu kelam yang inginnya dia hapus.
"Baby?" Akhirnya Keenan menyadari, gadisnya dalam keadaan yang mencurigakan.
Farah tersentak kembali ke dunia nyata. Amarah dan dendam menyelimuti tubuhnya. Dengan tanpa berpikir panjang dia menarik pelatuk pistol begitu saja. 'Seandainya aku lebih kuat... Aku mungkin bisa menyelematkan Papa!'
Dor!
Keenan menaikan sudut bibirnya, dia ternyata banyak berpikir barusab. Pria itu kembali mengulas senyum bangga, Farah bisa membidik dengan benar walau baru pertama kali belajar melakukannya.
"Good girl!" puji Keenan mendekati Farah. Namun, seketika raut wajah kegembiraan itu memudar. Keenan bisa melihat cahaya gelap di kedua manik mata Farah. Keenan menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Hari ini cukup, apa kamu ingin mengganti pakaianmu dengan yang barusan?" Keenan mencoba mengambil senjata di tangan Farah.
Kraaak!
Farah berbalik arah dan menodongkan pistol dihadapan Keenan. Tanpa menunggu lama seluruh protokol keselamatan Keenan dalam mode siaga. Para anak buah Keenan ikut serta menodongkan pistol mereka dihadapan Farah.
Keenan menahan tangan mengisyaratkan anak buahnya. Terlebih Sam, dia juga mengisyaratkan agar anak buahnya tidak gegabah.
"Apa mereka akan membunuhku?" ucap Farah dengan tatapan sayu namun menusuk kedua netra Keenan. Gadis itu tidak percaya, walaupun statusnya adalah kekasih gelap, bahkan adik kesayangannya sekalipun. Anak buah Keenan tetap menargetkannya.
Keenan masih terlihat tenang menanggapi pertanyaan Farah. "Mereka tidak akan pernah berani!"
"Lalu?" Farah segera menimpali gelisah.
"Kamu menodongkan pistol padaku, mereka hanya sedang berusaha menyelamatkan Tuan mereka!"
Farah tertegun, tidak terbersit sedikitpun Keenan mengkhawatirkan keadaannya. "Bagaimana jika aku benar menembak Kakak?"
"Heh," Keenan terkekeh lirih, dia menundukkan kepalanya sejenak. "Lakukanlah..."
Deg!!
"Haha, tentu saja mereka akan membunuhku juga!" Terdengar tawa Farah terasa pilu di telinga Keenan.
"Aku sudah bilang, mereka tidak akan berani melakukannya. Tidak masalah aku mati, asalkan kamu tetap hidup!"
Jantung Farah seperti terkena hantaman benda keras, kepalanya seperti berputar-putar tidak karuan. Tubuh Farah terkulai lemas, dengan sigap Keenan menahan tubuh gadisnya. "Faraaah!!"
"Maaf, aku terlalu terkejut... Hehe..." Farah berusaha kembali seperti semula. Keenan memperhatikan lekat gadisnya.
"Maafkan aku, kamu belum sembuh. Kita pulang sekarang..." Keenan bersiap menggendong Farah. Namun, gadis itu menghentikannya.
"Kak, aku mau ke toilet sebentar!"
Keenan mengangguk mengerti, tak lama Farah berlari kecil menuju kamar mandi di ujung lorong.
"Huh!" Farah mengerutkan kedua alisnya kesal. "Bisa-bisanya gue diare!!"
Farah merutuk kesal, dia sudah dua kali membuang hajatnya. Dia keluar dan kembali masuk, terus berulang. Rasanya perutnya melilit tidak karuan.
Di luar Keenan menyadari Farah terlalu lama di toiletnya. Keenan bergegas menyusul Farah. Dia sudah merutuk dan bersiap mengomeli gadis tengilnya yang senang sekali berulah dihadapannya.
Tanpa meminta izin lebih dahulu, Keenan menerobos masuk dan mendobrak pintu kamar mandi. "Faraaah!!"
Keenan segera mendekat dan membenarkan posisi tubuh Farah yang tersungkur dilantai. "Apa yang terjadi!"
"Perutku mules, sakiiit!"
Keenan bergegas menggendong kekasihnya. Sam yang menyadari keributan sebelumnya segera memberikan jalan dan mempersiapkn mobil tuannya.
"Telepon rumah sakit, aku akan tiba dalam sepuluh menit!!" titah Keenan pada Sam.
"Baik, Tuan!"
Keenan menaruh Farah perlahan berusaha tidak menyakiti gadisnya. Farah masih meringis kesakitan memegangi perutnya yang rata. "Sakiiit!!"
"Kita akan ke rumah sakit sekarang!" Keenan menancapkan pedal gas segera. Pandangannya sesekali menatap gadisnya yang tak hentinya mengeluhkan rasa sakitnya.
__ADS_1
"Apa kamu melupakan obatmu?"
"Tidak, aku sudah meminumnya. Aku tidak tahu, mengapa aku tiba-tiba diare barusan!" Farah mencoba menjelaskan disisa kesadarnnya.
Keenan semakin pucat, dia begitu khawatir dengan kondisi Farah. "Bertahanlah, kita sudah sampai!"
***
Ruang inap VVIP RS. KGroup. 01.00 PM.
Farah mengerjapkan kedua mata, bau desinfektan menguar di indra penciumannya. "Ugh!"
"Kamu sudah bangun?" Keenan mendekat dan duduk disamping tubuh Farah yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"Huh, diinfus lagi!" Farah mendengus tidak suka. "Aku ingin pulaaang... Pulaaang ya Kaaak!! Aku sudah sembuuuh... Kenapa juga akhir-akhir ini aku sangat lemah!!"
Deg!
Ucapan Farah sedikit menggelitik hati Keenan. Memang benar apa yang diucapkan Farah. Mengapa gadis itu semakin lama daya tahan tubuhnya semakin menurun semenjak mereka melakukan hubungan badan.
"Baby... Kamu tenang lah," sahut Keenan mengusap lembut kepala gadisnya. "Dokter sudah membacakan hasil observasinya. Kamu mengalami dehidrasi parah disebabkan keracunan makanan."
"Eh?"
Farah mengerutkan keningnya, begitu pula Keenan. Keduanya seolah sehati dengan kondisi mereka saat ini yang dilanda kebingungan.
"Apa saja yang kamu makan selama di rumah?"
"Aku makan sarapan seperti biasa, aku bahkan disuguhkan teh chamomile."
Keenan tidak berkata apapun lagi, dia yakin ada yang berani menyentuh batas kesabarannya.
"Baiklah, kamu hanya butuh istirahat... Aku sengaja tidak mengatakan pada Mama. Bukankah kemarin cukup membuat ibuku khawatir?"
"Iya, Kak. Aku mengerti..."
"Aku ada urusan, kamu tidur ya..."
"Tiydak!"
Keenan melengkungkan senyuman tampannya. "Dasar manja!"
Farah merintih saat hidung mancungnya dicubit oleh kekasih hatinya. "Apa salahnya aku manja sama kekasih sendiri? Yang salah kalau manja sama kekasih tetangga!"
"Kamu berani?" Keenan menunjukan raut wajah merahnya.
"Berani itu urusan gampang, yang sulit adalah... Tidak ada yang sebanding dengan priaku!" Farah melingkarkan kedua tangan di bahu kekasihnya.
"Semakin lama, mulutmu semakin berbisa like Medusa!"
"Demi mendapatkanmu, tentu saja aku akan melakukan segala cara, Keenan Kaviandra!"
Keenan menarik tengkuk leher gadisnya, kedua bibir mereka sudah bertautan mesra. Sebelumnya Farah menggoda berujar di depan bibir penuh pria yang gampang sekali tersulutkan hasratnya itu.
Semakin lama tautan mereka semakin panas dan liar. Farah melenguh saat Keenan menyesap leher gadisnya. "Aaarrhh..."
"Berhenti menggodaku, Baby!" Keenan tersadar dan menghentikan aktivitas mereka sebelum bablas. "Kamu sedang sakit, aku manusia beradab, tidak mungkin menggagahi seorang pasien!"
Mulut Farah menganga sempurna, dia sedang mencoba mencari gelar pada kekasihnya yang hyper tidak ada obatnya itu. Jika pria itu benar beradab niscaya mereka tidak akan pernah terjebak dalam pusara gairah terlarang yang membuat Farah kini membawa benih prianya.
Keduanya menghentikan aktivitas saat dokter kembali berkunjung memeriksa kondisi Farah, karena pasien mereka merupakan pasien prioritas.
"Nona harus makan makanan tawar dan minum air putih yang banyak. Semoga lekas membaik!" tukas Sang Dokter memberikan nasehat.
"Aku mau pulang, aku tidak mau dirawat..."
Farah terus merengek, dia tidak ingin berada di rumah sakit. Rumah sakit adalah tempat yang tidak ingin Farah datangi seumur hidupnya setelah kematian ayah dan sakit adiknya yang terus menerus harus di larikan ke rumah sakit karena gagal jantungnya. Hal itu membuat dia membenci sesuatu berkenaan dengan pelayanan kesehatan. Farah begitu trauma dengan segala hal berbau rumah sakit!
Dokter tidak bisa memutuskan, dia menatap kearah tuannya yang masih terdiam memperhatikan anak kesayangan keluarga Kaviandra.
"Aku mohooon... Aku mohooon!!" Farah terus merengek di depan Keenan.
__ADS_1
Keenan hanya termangu dengan perubahan sikap impulsif Farah. Keenan tahu mengapa adiknya seperti itu. Hanya saja, sepertinya sikap Farah kali ini berlebihan.
"Baiklah, kita akan pulang! Tapi, kamu akan di rawat di rumah." tukas Keenan mengalah demi kesehatan mental kekasihnya.
"Terima kasih..." lirih Farah tersenyum menang.
Tanpa ada angin dan hujan, gadis itu tiba-tiba terkulai lemas menutup matanya.
"Faraaah!!" Keenan menahan tubuh Farah, matanya berubah merah nyalang. "Periksa dia!!"
"Baik, Tuan... Mohon maaf anda silahkan menunggu diluar..."
Hati Keenan seperti diremas kencang oleh keadaan. Dia mengepalkan erat kedua tangannya. Sam mendekati Keenan, dia sudah membawa hasil identifikasi masalah mereka saat ini.
"Katakan!"
"Anda benar, ada yang sengaja meracuni Nona Muda..."
Bruuug!
Keenan memukul dinding ruangan dengan sangat keras. Sam tahu dengan jelas, tuannya harus menyalurkan emosinya.
"Apa yang mereka masukan?" Keenan terengah, walau tidak dalam keadaan sedang berolahraga. Pria itu benar-benar dalam kondisi emosi yang sudah di ujung tanduk.
"Aku tidak yakin, selama ini tidak ada jenis racun ini!"
Deg!
Wajah Keenan menegang, sudah dipastikan musuh jaringan hitam sudah mulai mengetahui posisi Farah.
"Hasil laboratorium mengatakan, selain racun pencahar dosis tinggi. Ada lonjakan hormon estrogen juga endorfin melebihi ambang batas!" Sam kembali menjabarkan hasil investigasinya. "Aku tidak sengaja mencocokkannya dengan vaksin X, Y, dan yang terbaru XY."
"Lalu?" Keenan tidak bergeming di tempatnya. Kerongkongannya terasa tercekat sulit berucap.
"Cocok!" Sam semakin membuat jantung Keenan seperti terlepas dari tempatnya. "Diantara ketiga vaksin itu, vaksin Y yang paling cocok dengan kandungan dan kadar yang hampir 90% akurat."
"Vaksin Y?" Keenan terduduk lemas di kursi tunggu. Sam mendadak iba dengan tuan mudanya. Dia sudah mengira, saat seluruh dunia tahu apa kelemahan tuannya. Hal ini akan sering terjadi.
"Virus generasi pertama yang dikembangkan Mr. Long... Menurut data yang aku temukan, di pasar gelap Mr. Long sudah tidak memasarkan bahkan memproduksinya."
"Who?"
"Pelayan kediaman!"
Cekrek...
Tepat saat Sam mengabarkan siapa pelakunya, dokter keluar dari ruangan dimana Farah sedang di tangani saat ini.
"Bagaimana keadaannya?" Keenan menghambur melupakan amarahnya barusan.
"Kami sudah memberikan obat penenang. Ini jarang terjadi, saya pikir Nona hanya mengalami dehidrasi karena diare... Barusan Nona tersadar dan seperti bukan dirinya. Maafkan kami melewatkan hal ini sebelumnya..."
Keenan mengepalkan kedua tangan dengan netra yang sudah berembun. Gegas pria itu meninggalkan team medis dan memasuki ruangan dimana Farah terbaring.
"Farah..." Keenan bergumam lirih mendekat di samping tubuh gadisnya. "Maafkan aku... Ini hasil kamu keras kepala terus menjeratku!" Keenan menangkup kedua tangan menggenggam erat jemari tangan Farah.
Keenan menjatuhkan air matanya, tubuhnya bergetar. Dia begitu takut, takut kehilangan kekasih yang sangat dicintainya itu. "Bangun Sayang... Jangan membuatku takut!"
"Huh," Keenan menghela nafas berat, dia terkekeh. "Jika aku melemah sekarang, aku tidak bisa melindungimu!"
Keenan bangkit, dia kembali menegaskan jas di tubuh tegapnya, menatap nanar wajah Farah yang tertidur pulas. "Istirahatlah, aku akan membuat orang yang menyakitimu memasuki pintu neraka sekarang..."
Keenan pamit mencium kening Farah lekat. "I love you, my baby Farah Lee..."
Keenan berbalik keluar kamar, dia sudah memberikan protokol keamanan super ketat di rumah sakit yang dimiliki oleh keluarga besarnya.
Tuutt!
"Kamu sudah membawanya?"
"Sudah, Tuan. Dia di markas kita..."
__ADS_1
Keenan menutup sambungan dan melangkah tegas menuju keluar. Tubuhnya sudah di kelilingi aura hitam membuat siapapun yang berpapasan dengannya merasa merinding tanpa sebab.
--- To be continue ---