Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 155 # Penculikan


__ADS_3

Keano telah menyelesaikan hajatnya, dia mendengus lega. Saat dia keluar dari area toilet umum dia tersentak─


"Kaaak!" pekik Jimmy antusias.


"DA MN IT!!" sungut Keano terkejut dengan tingkah Jimmy yang sengaja mengikuti Keano dan mengagetkannya di luar toilet.


'Bocah sialan ini kenapa mengikutiku sampai kemari?' batin Keano menyelidik tampilan Jimmy yang sudah dia pastikan bahwa anak ini begitu dimanja.


"Ck.," Keano mendengus sebal jika kembali ingat bagaimana Keenan begitu lembut memperlakukannya.


"Ngapain kamu di sini?! Dimana orang tuamu, hah?!" cerca Keano sedikit kasar di depan Jimmy.


Wajah Jimmy berubah seketika, dia akan menangis sebentar lagi. Keano merubah raut wajahnya takjub. 'Inikah anak haram ayahku? Lembek sekali!!'


"Dasar lemah!!" pekik Keano bukannya iba malah semakin menjadi merutuki Jimmy. "Kamu laki-laki atau bukan? Di bentak sedikit aja nangis!!"


"DASAR ANAK CENGENG!!" maki Keano semakin kasar saat dirinya merasa tidak layak dibandingkan dengan anak lemah di sampingnya yang dia berpikir mereka satu ayah.


"Huaaaaa..." pecah tangis Jimmy membuat Keano mencibir kesal. Padahal Jimmy tengah berpura-pura saja untuk mendapatkan perhatian Keano.


"Aku tidak ada urusan denganmu, udah cengeng ilang lagi!" rutuk Keano menyingkirkan tubuh Jimmy dan berlalu pergi tak berperasan.


Jimmy menghentikan tangisnya, dia berlari mengimbangi langkah kaki seseorang yang membuatnya ingin berteman dekat. Selama ini Jimmy kesepian, dia tidak memiliki teman sebaya atau seusia Keano untuk menemaninya bermain. Walau Keano sangat kasar pada Jimmy, tapi pria kecil itu sungguh begitu tertarik pada Keano. Mungkin benar ungkapan darah lebih kental dari air. Jimmy merasa Keano cocok menjadi kakaknya.


"Kakaaaak!" pekik Jimmy berlari menyusul Keano. "Kaaak tunggu aku!!"


Keano mendengus menghentikan langkah kakinya dan berbalik badan kesal. "Ada apa, hah?!"


"Aku─" Jimmy terengah. Ini pertama kalinya dia mengejar seseorang dan begitu seru yang dirasakan olehnya. "Aku mau berteman dengan Kakak..." ujar Jimmy memelas.


Keano mengerutkan keningnya. "Bagaimana bisa kamu ingin berteman dengan orang asing sepertiku?"


"Apa orang tuamu tidak mengajarimu arti mawas diri, hah?" cerca Keano di depan wajah Jimmy yang tengah membulatkan kedua bola matanya terkejut dengan bentakan Keano yang tidak pernah usai itu.


Pria kecil itu menggeleng menjawab pertanyaan Keano. Keano berubah kembali takjub. Tak berapa lama datang beberapa orang berjas hitam yang menghampiri mereka.


"Tuan Muda, di sini anda ternyata," kata salah satu dari keempat pria yang Keano pastikan seorang pengawal.


Jimmy berbalik badan menatap kesemua pria yang menghampiri mereka. Jimmy merengut merasa tidak kenal. Lagi pula selama ini pengawal yang disiapkan Papa Besarnya tidak pernah berani menampakan dirinya.


Jimmy bergegas bersembunyi di balik tubuh Keano. "Kakak... Aku takuut,"


"Dasar BEBAN!" umpat Keano lirih di depan wajah Jimmy.

__ADS_1


"Kalian siapa?" tanya Keano dengan tatapan tajamnya.


'Sialan, mengapa ada anak lain yang menghalangi misi kami!'


"Tentu saja kami adalah pengawal khusus Tuan Muda Kaviandra." ungkap salah satu pria yang Keano tebak adalah ketua komplotan.


Keano menyelidik sejenak, setiap klan memiliki ciri atau tanda khusus di setiap tubuh bahkan pakaian mereka. Keano bisa melihat simbol BS kecil di belakang area telinga kesemua orang.


'Heh, jadi Black Swan mengincar putra Mr. K? Sebelum kalian, tentu saja dia sudah menjadi targetku lebih dulu!' Keano menyunggingkan bibir tipisnya.


"Hanya orang bodoh yang mempercayai ungkapan bodoh barusan!" cibir Keano menarik tangan Jimmy berlari menjauh dari keempat pria yang akan menculik putra Mr. K.


"AAARRGHH KAAAK!" Jimmy menjerit saat dia dipaksa berlari kencang mengimbangi langkah kaki Keano.


Beberapa kali langkah kaki Jimmy tidak seimbang membuatnya terjatuh. Keano dengan cepat menopang dan membuatnya kembali berdiri seimbang segera menjauh dari sana.


'Aku memang berniat melakukan hal ini, tapi tidak di saat Ibu dan Papa Kecil di sini juga!! Aaarrghh sialaaan...'


Keano sudah membawa Jimmy ke sebuah tempat yang lumayan jauh dari jangkauan orang sekitar. Keano sengaja mengarah ke tempat yang sepi. Semua dimaksudkan agar dia leluasa menggunakan peralatan mempertahankan diri dari musuhnya dengan bebas tanpa ada yang mengetahuinya.


"Kakaaak... Aku takut... Mereka pasti mengejar kita. Hiks" rengek Jimmy sungguh membuat Keano kesal.


'Bagaimana bisa putra Si Mafia Berdarah Dingin selemah ini, bukankah ini terlalu memalukan?!' olok Keano dalam hatinya.


Tap... Tap... Tap...


"Dengar bocah sialan kamu mau lari kemana lagi, hah?" seru orang yang sama yang memperkenalkan diri mereka sebelumnya.


Keano berbalik badan menatap Jimmy bersiap memperingatinya. "Dengar ya, jangan pernah keluar dari sini. Jangan melakukan hal lebih bodoh lagi dari ini!" Keano menunjuk wajah Jimmy, dengan cepat Jimmy menjawab menganggukan kepalanya tanda dia mengerti apa yang di perintahkan pria yang dia perkirakan hanya berbeda dua tahun saja darinya.


Keano keluar dari dinding persembunyian mereka, dia bersiap melawan seorang diri.


"Heh!" Kekeh si pria yang mengolok keberania Keano. "Kau bocah sialan, tiba-tiba datang merusah rencana kami. Siapa kamu sebenarnya, hah?"


"Kamu tidak perlu tahu identitasku, kalian tidak pantas." angkuh Keano di hadapan keempat orang dewasa yang mulai meremehkannya. "Cukup aku yang tahu siapa kalian. Aku pikir Tuan Alex tidak pernah ingin berurusan dengan komplotan Mr. K, apa yang kalian incar?"


Tiba-tiba keempat pria dewasa itu saling pandang takjub dengan perkataan Keano. 'Siapa bocah sialan ini, sepertinya dia bukan anak biasa? Bisa mengetahui bos kami tentu saja dia bagian dari Jaringan Hitam.'


"Heh, walau bagaimanapun kamu hanya anak kecil. Bisa apa kamu dengan kami yang berjumlah empat ini?" cibir si ketua kelompok.


"Heh, aku memang kalah jumlah dan kekuatan. Tapi dengan kepintaranku, aku hanya butuh empat detik untuk melumpuhkan kalian." tukas Keano lantang tidak bergeming dari tempatnya.


Jimmy tidak tahan untuk mengetahui apa yang tengah terjadi. Jadi, dia mengendap dan mencuri lihat dan dengar kearah dimana Keano tengah berhadapan dengan empat orang bertubuh dewasa. "Wah, Kakak itu sungguh hebat... Dia bahkan tidak seperti anak kecil normal seusianya. Jika dipikir-pikir, kakak ini sangat mirip dengan Papa Besar, tingkahnya pun sama!" gumam Jimmy menyelidik dan berusaha mencari tempat yang pas untuk memperhatikan mereka bertanding.

__ADS_1


"ANAK KURANG AJAR, LANGSUNG SAJA BUNUH DIA!" titah si ketua pada ketiga rekannya.


Ketiganya mendekat bersiap melumpuhkan Keano. Namun, mereka kalah cepat dengan gerakan tangan Keano yang sudah mengunci posisi mereka dan melesatkan jarum akupuntur yang terselip di jam tangan pintarnya.


Bruk!


Bruk!


Bruk!


Keano membidik tepat dititik vital tubuh mereka dan membuat keempat dari mereka tak sadarkan diri sekaligus saat ini. Jimmy semakin takjub dibuatnya, dia membuka mulut dan matanya lebar.


"Aku harus berguru padanya, dia adalah role mode hidupku mulai sekarang!" pekik Jimmy tertahan agar tidak terdengar oleh siapapun. Setelah semuanya terkapar tidak berdaya Jimmy keluar dari tempatnya bersiap berlari menemui Keano dengan riang.


"WAAAHH KAKAAAK HEMMPPP!"


DEG!


Tanpa di duga ternyata komplotan mereka tidak hanya berjumlah empat orang, melainkan ada beberapa orang yang masih menunggu waktu yang tepat untuk melakukan serangan dadakan.


"SHIIIITTT!" pekik Keano merasa dicurangi.


"Heh! Kau terlalu sombong, aku malah sempat berpikir bahwa tindakanmu bahkan wajahmu justru lebih mirik Mr. K di banding bocah ini." Si pria menahan langkah kaki Keano.


Pria itu tengah menodongkan senjata tajam di kepala Jimmy. "Sayangnya, yang serumah dengan Mr. K adalah pria kecil ini. Aku ampuni nyawamu kali ini, tapi lain kali tidak ada kata ampun."


Pria itu bergegas pergi membawa Jimmy keluar Zoo dengan mobil Van yang baru saja berhenti tepat di samping pria berjas serba hitam yang merengkuh dan membekap mulut Jimmy.


"AAHH SIALAAAN!!" Keano segera membidik pelacak menempel pada bamper mobil si penculik.


"Ahh... Shiiit!!" Keano memukul angin berang. "Mengapa juga aku harus peduli padanya, bagus dia di culik orang. Aku tidak perlu susah payah melakukannya sendiri." Keano menatap kepergian mobil Van yang membawa Jimmy.


"Ohh sshiiitt!" Keano mengubah sepatu biasanya menjadi sepatu roda ciptaannya yang di sempurnakan oleh bagian teknologi Klan Naga. "Maafkan aku Ibu, aku janji ini yang terakhir kalinya." Keano melesat dengan sepatunya mengejar para penculik adik kecilnya. Sekilas sepatu Keano terlihat seperti sepatu roda bisa, tapi jangan salah. Kecepatannya setara dengan mengendarai sepeda motor.


Di sisi lain di dalam Zoo, Farah dan Axcel sudah menungu Keano di depan toilet umum.


"Mengapa dia sangat lama!!" keluh Farah mendadak hatinya begitu gelisah.


"Keanoo!!" pekik Farah kemudian tidak sabar mencoba menerobos memasuki area toilet pria.


"Sayaaang!" Axcel buru-buru mencegah wanitanya. "Biar aku saja, kamu tidak mungkin memasuki toilet pria."


Di sisi lain nyonya Lyn sama gelisahnya, cucunya sudah hampir setengah jam tidak dia temukan.

__ADS_1


"Haloo... KEEENAAAN, JIMMYYY HILANG!!"


---To be continued---


__ADS_2