
Farah mengerjapkan matanya perlahan, dia mulai terjaga saat sinar mentari menembus tirai ruangan dan menusuk indra penglihatannya.
"Aaarrghh!" Farah merintih saat merasakan tubuhnya nyeri di berbagai tempat.
Dia sungguh tidak memiliki tenaga, Farah kembali mengingat kejadian semalam, tanpa menunggu lama air matanya kembali menyeruak. Dunianya telah hancur, dirusak oleh pria yang paling dia cintai.
"Huhuhu... Aku kotor!" Farah terisak pilu, membayangkan kemungkinan terburuk yang akan menimpa dirinya kelak.
"Keenan brengsek!" jerit Farah tidak peduli. Hatinya semakin nyeri, pria bejat itu meninggalkannya seorang diri setelah apa yang dia lakukan. "You're jerk! a selfish bastard... Huhu!"
Farah terus merutuk dan menangis pilu bersamaan. Tanpa dia ketahui, bahwasanya Keenan masih berada satu ruangan dengannya. Mendengar tangisan Farah, kedua tangan Keenan mengepal erat. Berkali-kali dia menelan ludah, dia menyesali apa yang sudah diperbuat semalam.
"Aaarrghh, sakit!" Farah merintih saat mencoba bangkit. Ingin rasanya Keenan segera berlari dan memeriksa keadaan gadisnya saat ini. Namun, dia urung melakukannya. Biarlah Farah semakin membencinya, Keenan merasa itu jalan yang terbaik bagi mereka berdua.
Farah mengedarkan pandangannya, tubuh polosnya hanya ditutupi selimut tipis, Farah semakin mencengkram erat menutupi tubuh kotornya. "Kamu pecundang Keenan, sekedar meminta maaf saja kamu tidak ingin!"
Farah menyeka air matanya segera, dia perlahan menurunkan kedua kakinya. Rasa ngilu mendominasi pusat tubuhnya. Hal seperti itu memang wajar, Farah tengah kehilangan keperawanannya. Apalagi monster berwujud manusia itu menggagahinya tak berbelas kasih. Jangankan kelembutan, pria itu terus menerus melakukan aksi bejatnya dengan kasar walau Farah sudah dalam keadaan pingsan, Keenan masih terus menikmatinya tanpa ingin berhenti.
Dengan langkah terseok Farah akhirnya bisa memasuki kamar mandi. Tanpa Farah ketahui, Keenan juga dalam keadaan tidak baik-baik saja. Dia menatap nanar ke arah tubuh ringkih adik sepupunya. 'Maafkan aku Farah, aku sudah memberikanmu pilihan untuk pergi saat itu!'
Di dalam kamar mandi, gadis kecil itu kembali tersungkur dan menangisi keadaan dirinya. Luka memar dimana-mana, terlebih di area lehernya. Kedua sudut bibirnya pecah, pipinya membengkak. Dia sudah tidak bisa lagi mendeskripsikan bagaimana keadaan tubuhnya yang mengenaskan. Pergelangan tangannya terasa perih akibat cengkraman erat ikat pinggang Keenan, darah kering keperawanannya terlihat jelas di area pangkal pahanya. Sungguh tragis nasib Farah saat ini, berharap cintanya bersambut, dia justru tengah berkabung dengan kehilangan harga diri dan mahkota yang ia jaga selama dua puluh tahun ia hidup di dunia.
Farah telah selesai membersihkan diri, dia masih menatap pantulan dirinya di cermin. "Kamu sudah kotor Farah! Bagaimana kamu pertanggungjawabankan semua ini di hadapan Bibi, Paman, Karen dan Ibu? Hiks..." Farah kembali merasakan kesedihan yang teramat dalam.
"Fighting Farah!!" Namun, baginya tidak ada yang bisa dia lakukan selain menjalani dengan pasrah. Mungkin benar dia akan kehilangan kesempatan mendapatkan cintanya. Tidak mengapa, setidaknya dia sudah berjuang sebelumnya. "Mungkin benar, sampai kapanpun aku tidak berjodoh dengan Si Brengsek Keenan!"
Farah membuang nafas sejenak sebelum keluar kamar mandinya. Dengan perlahan dia menuju dimana pakaiannya yang masih berserakan di lantai. "Aku lupa jika pria itu merobeknya!"
"Terus ngana pulang macam mana?!" Farah mengerucutkan bibirnya, dia juga bersedekap tangan. Tidak mungkin dia nekat hanya menggunakan coat panjangnya. "Apa yang akan dipikirkan Paman Chen jika aku pulang macam wanita ja-lang?!"
Bruuuk!!
"Aaarrghh!!"
Farah terkejut setengah mampus, satu paper bag yang berukuran sedang melayang dan jatuh tepat di hadapannya. "Demi penguasa Bumi dan seisinya!" pekik Farah takjub.
"Berisik Farah Lee, cepat pakai pakaianmu dan kemari sekarang juga!" Keenan memekik lantang kembali tidak berperasaan. Farah yang terlonjak berubah mencibir sinis.
'Eh, tunggu!! Kakak masih disini? Dia tidak pergi?' Farah sempat tersentak membatu di tempat. Namun, dalam hitungan detik gadis itu kembali berbalik 'Ya sudah lah, lebih baik aku tulis surat wasiat segera!' Farah menjerit dalam dirinya, sebelumnya dengan lantang gadis itu merutuki Keenan. Itu artinya, kakak sepupunya mendengar semua sumpah serapahnya. Farah berlari secepat kilat, dia melupakan rasa sakit disekujur tubuhnya. Bergegas mematuhi perintah yang mulia Keenan dan menjauhi larangannya adalah kunci bertahan hidup bagi Farah.
__ADS_1
Sejenak Keenan mengulumkan senyuman, adik sepupunya memang tidak bisa ditebak. Sebelumnya dengan lantang merutuk, sekarang dia juga menunjukan tingkah menggemaskannya. "Aargh!" Keenan kembali mendongakkan kepalanya, dia memijat keningnya, dia masih merasakan kepalanya terasa berat.
Suara ketukan pintu kamar membuat Keenan cepat kembali ke posisinya. "Masuk!"
"Selamat pagi Tuan, saya membawakan kembali apa yang anda minta sebelumnya." Sam menyerahkan beberapa lembar dokumen.
Keenan segera menerimanya, terlihat dia membuang nafasnya berat. "Apa kamu sudah membawakan ramuan kontrasepsinya?"
"Ini Tuan!" Sam menaruh kembali satu botol ramuan yang diyakini bisa menjadi obat kontrasepsi agar Farah tidak hamil.
Sam menundukan wajahnya, dia kembali mundur dan berdiri di belakang tubuh tuannya. Dia bukan tidak tahu dan tidak ingin membantu. Semalam, dia datang semua telah terlambat, Keenan sudah melakukan penyatuan keduanya. Kedatangan Sam membuat Keenan terkejut, dan mengusirnya segera dengan arogan. Sam mengerti, tuannya sudah dalam kendali pengaruh obat. Hal yang tidak ia mengerti justru datang dari si gadis yang ada di bawah tubuh tuannya yang tengah merintih kesakitan karena dirudapaksa.
'Mengapa ada Farah disana?!' batin Sam saat tak sengaja melirik ke arah Farah yang mulai terlihat tidak sadarkan diri. Sam bisa mendengar rintihan Farah yang meminta untuk dilepaskan, Keenan memukulnya kasar dan kembali melakukan aksi bejatnya. Sam berbalik badan, hati kecilnya kembali membuat ia ingin menolong keduanya, hanya saja secepat kilat Keenan menodongkan senjata apinya di hadapan Sam dengan mode iblisnya. Tuannya kembali mengancam Sam dan melarang keras mencampuri urusannya. Sam hanya bisa iba pada gadis kecil yang sudah separuh usianya dia habiskan di kediaman Kaviandra menjadi sasaran Keenan dalam menyalurkan hasrat terlarangnya.
Farah telah selesai mengenakan terusan manis yang sangat cocok dengannya. Hanya saja, Sam tidak mengetahui bahwa tubuh Farah telah penuh luka baik lebam maupun tanda kepemilikan yang ditinggalkan Keenan semalam, sehingga bagian itu terlihat jelas pada penglihatan siapapun yang menatap Farah sekarang.
"Kemari!" Keenan kembali bertindak impulsif, dia menyembunyikan kegelisahannya dengan memaki.
Farah mengepalkan kedua tangannya, terlihat raut kekecewaan terpancar di wajah dan matanya. Keenan menaikan sudut bibirnya, dia sendiri tengah kecewa atas tindakannya yang tidak bisa menahan diri dan menggunakan adik sepupunya meredam gairah.
Hal yang menarik dari pergumulannya semalam adalah racun yang berada dalam tubuhnya ternetralisir dengan baik tanpa meninggalkan bekas. Sudah berkali-kali Keenan dan Sam pastikan dengan sistem EYES mereka racun itu hilang di dalam tubuh Keenan.
Keenan memang berubah seperti hewan buas semalam. Semua jelas terekam di ingatannya, dia ingat, setelah tak sengaja menyesap sedikit darah Farah, rasa segar dan kesadarannya semakin dia rasakan. Tanpa pikir panjang Keenan menggigit dada Farah dan menghisap cairan merah pekat itu tanpa bisa dihentikan. Sangat wajah gadisnya langsung pingsan tanpa menunggu lama.
Tuk!
Keenan mendekat menunjuk berkas yang ada di meja, segera pria itu mengetuk meja mengisyaratkan pada Farah. "Tanda tangan!"
Farah mengernyit, dia menunduk turun dan memeriksa dokumen yang ditunjukkan Keenan. Farah menyeringai tidak percaya. Dia sempat berpikir berkas itu mungkin berkas pernikahan tersembunyi seperti kebanyakan reaksi di novel romansa yang sering dibaca.
"Aku tidak akan bertanggung jawab!" ucap Keenan dingin mencoba menjelaskan. "Kau tahu sendiri semalam aku diracuni, aku sudah memperingatkanmu agar tidak keluar dari lemari sebelum aku menyuruhmu bukan?!" Keenan menatap tajam ke arah Farah yang sama tengah melirik ke arah Keenan dengan tatapan nanarnya.
"Tidak hanya itu, aku juga sudah menyuruhmu lekas pergi dan mencari Sam! Lalu apa? Kamu menggoda dengan pakaian minim!" Keenan terus menyanggah, jelas dia tidak ingin disalahkan.
"Heh!" Farah terkekeh pedih, dia tidak ingin menatap Keenan kembali.
Keenan gelisah, dia membuang wajahnya. "Minum cepat!"
Farah mendongak, dia kembali tersenyum getir. Sudah bisa dipastikan, Keenan tidak ingin bertanggung jawab, berarti minuman di hadapannya adalah ramuan kontrasepsi. Dengan segera Farah meminum dalam satu kali tegukan hingga tandas. Selain rasanya yang tidak enak, dia ingin segera pergi dari sana.
__ADS_1
"Jangan harap kamu memiliki keberanian mengadu pada keluargaku!" Keenan benar-benar tidak memiliki perasaan. Tidak cukup dia melukai Farah sekali dua kali, tapi bertubi-tubi. "Jika sampai mereka mengetahui aku menodaimu, aku pastikan tidak akan ada lagi pengobatan bagi Daniel Lee!"
Deg!
Farah mengatupkan bibirnya, dia menyeka air matanya segera. Dengan cepat Farah menandatangani dokumen pernyataan hitam di atas putih yang merugikannya tentu saja. Farah kembali bangkit dalam kesunyian, dia mengepalkan tangan erat, dadanya bergemuruh hebat. Tapi, dia tidak bisa melakukan apapun!
"Bagus!" Keenan mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya. "Ini kompensasi atas apa yang sudah aku lakukan semalam." Keenan meletakkan kartu hitam tak terbatasnya.
Farah tersenyum mengolok, ternyata Keenan yang dia puja tidak lebih dari pria tidak beradab. Farah berjalan perlahan, dia menyeringai ke arah Keenan. Degup jantung pria itu tak beraturan, entah bagaimana rasanya kali ini Keenan merasa ditekan oleh tatapan Farah.
"Anggap saja semalam adalah harga yang keluarga Lee berikan atas kebaikan Kaviandra selama ini!" Farah mengambil kartu dan kembali melemparkannya di hadapan Keenan.
DEG!
Keenan bahkan Sam tidak menyangka bahwa Farah bisa memiliki keberanian seperti barusan. Farah kembali menjatuhkan air matanya di kedua netra Keenan. "Aku pamit!"
"Mau kemana kamu?!" bentak Keenan menghentikan langkah kaki Farah.
"Pulang tentu saja!" Tanpa ingin menatap ke arah kakak sepupunya Farah kembali meneruskan langkah kakinya.
Greep!
"Aarrghh!" Farah kembali menjerit, tubuhnya bergetar hebat saat itu juga.
"M-maaf!" Keenan melepaskan cengkraman tangannya. Dia serba salah sekarang, terlihat Sam sendiri tidak tahu harus seperti apa, dia memilih untuk melarikan diri jika bisa. "Apa kamu ingin mempermalukan nama baikku?"
Farah mengernyit dengan menggenggam pergelangan tangannya. "Maksud Kakak?"
"Lihat penampilanmu!"
"Owh, haha..." Farah terkekeh mengerti maksud dari kakak sepupunya. "Heh, Tuan tenang saja, disini tidak ada yang mengetahui siapa aku, aku juga berani bertaruh, tidak ada yang tahu siapa yang berbuat asusila terhadapku! Biarlah mereka menganggap aku seperti ja-lang"
Plaaak!
"Jaga ucapanmu Farah Lee!" Emosi Keenan begitu cepat meledak dan kembali menampar gadis kecilnya.
Farah menangis dan tertawa bersama, Sam sungguh merasa iba. 'Jika saja kamu tidak nekat menggoda Tuan beberapa hari terakhir, mungkin saja...'
--- To be continue ---
__ADS_1