
Ruang kerja tuan Kaviandra.
Farah di temani calon suaminya yang tak lain putra sulung Kaviandra tengah kembali berbincang serius dengan kepala keluarga Kaviandra.
"Leeshan Group adalah perusahaan yang di bangun Lee berbarengan saat Papa membangun K-Built saat itu. Kami saling melengkapi satu sama lain, perusahaanku bergerak di bidang property dan kontraktor sedangkan Lee mengusung perusahaan pengadaan bahan material yang akan digunakan perusahaanku."
"Setahuku, perusahaan Papa sudah bangkrut setelah Papa meninggal." Farah menghardik cepat, sejujurnya dia tidak ingin lagi membahas masa lalu yang sudah berlalu.
"Heh..." Tuan Kaviandra mengulum senyumnya. "Satu hal yang tidak kamu ketahui bahwa, Keenan selama ini mati-matian membuat perusahaan yang akan jatuh padamu tetap kokoh berdiri sampai detik ini."
DEG!
Debar jantung Farah berdetak jauh lebih cepat dari sebelumnya. Dia memang sudah mengetahui pengorbanan Keenan dari semenjak kecelakaan yang diakibatkan dari salah tembak yang mengenai ayahnya hingga tewas ditempat. Hanya saja dia sepertinya melewatkan bagian ini.
"Kami minta maaf Farah, selama ini semua hal mengenai aktivitas bisnis keluarga Lee─" Tuan Kaviandra menjeda kalimatnya.
"Sejujurnya, perusahaan Papamu sudah tidak bisa diharapkan. Tapi, Keenan bersikeras bahwa itu milikmu."
Farah menatap kekasihnya nanar, satu bulir air matanya kembali menetes begitu saja.
"Hal lainnya adalah Lee memiliki sejumlah saham yang dibeli di KGroup."
"Kami tidak pernah melakukan apapun pada semua aset bergerak dan yang tidaknya sebelum waktunya. Semua akan jadi milikmu seutuhnya saat kamu berusia 23 tahun dan kamu harus telah menikah. And it's time..."
Keenan menunjukan senyum tulusnya menganggukkan kepala perlahan.
"Saat ini usiamu sudah lebih dari 23 tahun, pengacara akan menghubungimu dan membuka surat wasiat Papamu."
Tubuh Farah bergetar hebat, Keenan lantas bangkit memeluk istrinya yang masih dalam pengaruh penyakit mentalnya. Tuan Kaviandra begitu tersentuh dengan cinta keduanya.
"Farah, apa kamu benar-benar menerima Keenan menjadi suamimu kelak"
DEG!
Farah merasa hari ini berlebihan rasanya, walau jelas seluruh dunia harusnya mengetahui jelas jawaban Farah. Mengapa pamannya masih bertanya?
"Kalian harus segera memberlakukan akta pernikahan, dengan begitu kamu bisa membaca apa yang diwasiatkan padamu selama ini."
"Kami akan memberlakukannya hari ini." tukas Keenan menjawab seluruh pertanyaan ayahnya.
"Maksud kami adalah berlakukan akta lebih dulu, masalah resepsi akan kita bahas lagi tentu saja beserta keluarga besarmu." Tuan Kaviandra begitu tenang namun tegas dalam menyampaikan setiap kalimatnya.
"Bagaimana Farah?" tanya tuan Kaviandra meyakinkan. "Karena, Papa tidak ingin memaksakan─"
"I do..." Dengan cepat Farah menjawab sebelum pamannya menyelesaikan kalimatnya.
Tuan Kaviandra terkekeh melihat keduanya. "Kau tahu Farah, rahasia kecil suamimu."
"Papaa!" Keenan segera menghardik perkataan ayahnya yang mungkin menjatuhkan dirinya.
"Hahaha... Keenan sudah mencintai kamu, sedari kamu masih selalu menggelayut di kakinya."
"Papaa, ada ayah yang mempermalukan anaknya!" Keenan mendengus sebal aibnya terbongkar.
"Hahaha!!" Tuan Kaviandra begitu bahagia menjahili Keenan yang selama lima tahun sudah menekannya sedemikian rupa.
__ADS_1
Raut wajah Farah memerah langsung dan terkekeh saat melihat reaksi calon suaminya yang malu-malu meong saat ini. Tak ada yang perlu dibahas lebih lanjut lagi, keduanya mengerti dan langsung menuju catatan sipil untuk memberlakukan akta pernikahan mereka sekarang juga.
***
Catatan Sipil setempat.
"Hei, Mrs. Keenan..." Keenan menggoda Farah yang tengah menatap tidak percaya pada buku akta nikahnya.
"I can't believe it!" lirihnya takjub.
Keenan terkekeh sejenak dengan mengacak rambut Farah. Tak lama dia mencium kening istrinya mesra.
"Aaarrkkk..."
Terdengar pekikan iri dari para staff wanita pemuja Mr. K menggema. Mereka tengah berderai air mata buaya melihat keromantisan dihadapan mereka semua.
"Huhu, aku sudah tidak punya harapan lagi..." pekik salah satu staff wanita yang masih tergolong muda terdengar di telinga Farah.
"Tolong kamu sadar diri sedikit, mana mau juga Mr. K sama wanita biasa kayak kamu!" ejek salah satu staff lain membuat Farah cekikikan malu saat ini.
"I love you my wife..." Kali ini Keenan lebih berani mencium bibir Farah di muka umum membuat satu gedung utama catatan sipil gaduh atas tindakan mesumnya.
Keduanya kembali menuju mobil mereka, jadwal mereka padat saat ini.
"Can I call you baby? Can you be my friend? Can you be my lover up until the very end?"
Farah memutar salah satu lagu yang tengah cukup menyita perhatian semua orang.
[ Bolehkah aku memanggilmu sayang? Bisakah kamu menjadi temanku? Bisakah kamu menjadi kekasihku sampai akhir? ]
[ Biarkan aku menunjukkan cinta, oh, aku tidak berpura-pura. Tetap di sisiku bahkan saat dunia menyerah. ]
"Oh, oh, oh, don't... Don't you worry, I'll be there, whenever you want me!" Farah menatap menggoda liriknya cukup sesuai untuk prianya.
[ Oh, oh, oh, jangan... Jangan khawatir, aku akan ada di sana, kapan pun kau menginginkanku. ]
"I need somebody who can love me at my worst, No, I'm not perfect, but I hope you see my worth..." Keenan tidak mau kalah dia ikut bersenandung. Dengan teknologinya dia bisa menghafal lirik dengan cepat.
[ Aku butuh seseorang yang bisa mencintaiku dalam keadaan terburukku. Tidak, aku tidak sempurna, tapi aku harap kamu melihat nilaiku. ]
Farah membuka mulut lebar membuat Keenan gemas.
"Cause it's only you, nobody new, I put you first... And for you, girl, I swear I'll do the worst." Keenan menyelesaikan dengan baik membuat perasaan bahagia keduanya bertambah beberapa kali lipat.
[ Karena hanya kamu, tidak ada yang tahu, aku mengutamakanmu san untukmu, nona, aku bersumpah akan melakukan yang terburuk. ]
Keduanya bersenandung bersama sampai kembali ke kediaman Kaviandra. Tak lama mereka semua menuju bandara dan segera bertolak ke negara B untuk meminta restu pada tetua Lee.
Kediaman Lee, negara B.
"Neneeek!" Keano segera menghambur saat pintu besar terbuka lebar oleh pelayan kediaman.
"Keano..." Nyonya Marry tentu begitu senang, dia kembali bertemu cucunya.
Tak berapa lama semua keluarga Kaviandra menyusul Keano kecuali Karen dan Carol yang mendadak memiliki pekerjaan mendesak di Suho absen tidak bisa ikut menuju kediaman Lee.
__ADS_1
"Loh, ternyata ada tamu kehormatan." Nyonya Marry tersadar beliau tampak canggung menyambut keluarga besar Kaviandra.
"Marry!" Nyonya Lyn segera menghambur dan keduanya saling memeluk melepas kerinduan.
"Nyonya Lyn─"
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi okay..." hardik nyonya Lyn membuat semua orang tersenyum memperhatikan.
"Tante," Keenan menyela dan bermaksud bersalaman namun ibu Farah justru menunduk hormat.
"Tuan Keenan."
"Tante," Keenan segera merengkuh dan menghentikan nyonya Lyn yang ingin menunduk sembilan puluh derajat kepadanya. "Jangan panggil aku Tuan, karena─" Keenan mulai gusar, dia gugup.
'Hoho, pria Kang nyiksa ini bisa gugup juga!' batin Farah mengolok suaminya.
"Bolehkah aku memanggil anda dengan sebutan Mama mulai sekarang?" Wajah Keenan pucat, dia tidak tahu harus berkata seperti apa sebagai pembukaan.
"M-maksud an-da?" Nyonya Marry terkejut dengan wajah linglungnya.
Farah tengah mengatupkan bibirnya menahan tawa yang ingin keluar, begitu pula tuan Kaviandra ikut terkekeh, dia segera bersiap mengambil alih.
"Begini, kami ada hal yang serius yang ingin diutarakan," ucap tuan Kaviandra membuat ibu Farah tersadar dari keterkejutannya.
"Oh, maafkan saya lancang. Mari, silahkan duduk lebih dulu!"
Nyonya Marry segera memberikan perintah pada para pelayan untuk menjamu tamu kehormatan mereka, kediaman Lee menjadi sibuk sekarang. Tak berapa lama semua telah di duduk di ruang tengah. Mendengar keributan, tentu saja Daniel Lee segera turun dari lantai dua menuju asal suara.
"Ibuu, apa ada tamu?" pekik Daniel mencari keberadaan ibunya.
"Aarghh, hantu tower bridge!" pekik Daniel menggoda kakaknya.
"Adik kurang ajar!" umpat Farah membuat kesemuanya kembali tertawa melihat kedekatan duo penerus Lee.
Daniel segera mendekat, kemudian dia kembali memekik. "Aargh, maafkan aku."
"Aku pikir Kakak sendirian, ternyata bawa rombongan hajatan. Eh... Maksud aku─" Daniel memang tak ubahnya Farah Lee yang ceplas-ceplos.
"Pppfftt!" Keenan menahan tawanya.
"Hiish, bikin malu aja." Farah menjewer telinga Daniel.
"Aarhh ampuun Kaak, sakiit tauu!" pekik Daniel memegang telinganya.
"Daniel, bagaimana sekolahmu?" tanya nyonya Lyn ramah.
"Aman terkendali Tante, aku kan pintar tidak seperti Kakakku yang ya begitulah─"
Pletaak!
"Aargh!" Daniel mengusap cepat kepalanya setelah Farah menjitaknya cukup keras.
"Danieel, Farah!" Nyonya Marry sungguh pusing sebenarnya dengan anaknya yang tidak bisa diam.
'Oh, Ibu... Aku sungguh tidak memiliki muka lagi." Keano mendengus pasrah, dan Keenan tertawa bahagia.
__ADS_1
---To be continued---