
Farah tersentak dengan pertanyaan yang beruntun memojokkan dirinya. Dia tidak tahu bisa berbohong sejauh mana. Dia tidak ingin menipu orang yang sangat disayanginya seperti nyonya Lyn yang segenap hati menyayanginya.
'Maafkan aku, Bi... Pria itu putramu, aku mana mungkin menggantikan posisi pria sempurna seperti Keenan Kaviandra.'
"Farah?"
"Eh..."
Farah tersentak dan tersadar dari lamunannya. "Itu, Bibi kenapa mikir kesitu, hehe..."
"Ini apa?"
Jantung Farah kembali seperti melompat dari tempatnya, dengan cepat nyonya Lyn menunjukan jemari tangannya yang tersemat cincin pasangan dengan putranya.
"Jangan pikir Bibi bodoh cincin apa ini? Apa kamu tidak ingin kalah saing dengan Kakakmu? Dia juga tiba-tiba menggunakan cincin pasangan setelah dua puluh delapan tahun melajang. Sungguh bikin penasaran!" Nyonya Lyn menerawang kedepan kembali mengingat jemari Keenan yang masih bertahan menggunakan cincinnya sampai hari ini.
Farah merasakan sesak dalam dadanya, dia ekstra berpikir cepat untuk menghardiknya. "Oh iya, kenapa juga Kakak ikut-ikutan trend kayak gini!"
"Eh?"
Nyonya Lyn berbalik memandangi wajah Farah yang cengengesan, sedangkan wanita paruh baya itu tengah mengerutkan kening kebingungan.
"Ehm... Belum saatnya, Farah sedang meyakinkan hati... Sambil menunggu, Farah mencoba membuka hati..." Dengan gagap Farah menjawab asal, dia sendiri tidak tahu maksud ucapannya mengarah kemana dan pada siapa. Sialnya, bayangan Axcel tiba-tiba muncul, dia mendadak berpikir menggunakan sahabatnya untuk mengkambing-hitamkannya.
"Owh, apa dia penerus Lucifer?"
DEG!
Mata Farah hampir keluar saat ini juga, debar jantungnya lebih cepat dari sebelumnya. 'Bagaimana bisa Bibi mengetahui pasal Axcel. Apa mungkin?"
"Hehe... Wajahmu menggemaskan begitu!" Nyonya Lyn mencubit gemas pipi Farah, dia juga terkekeh dengan respon Farah sama seperti dibayangkannya. "Baiklah, jika sudah merasa cukup yakin. Segerakan, Bibi tidak ingin ada rumor yang tidak penting yang akan merusak nama baikmu..."
Farah berubah sendu, jelas sekali hal ini karena rumor sebelumnya. Farah tersenyum getir, tidak mengapa jika bibinya salah mengira. Setidaknya, skandalnya dengan Keenan saat ini tidak akan pernah mencuat ke permukaan.
"Kamu istirahat ya, jika dirasa tidak nyaman tinggal disini, kamu tinggal bilang Paman Tang, dia akan mengantarkanmu ke kediaman."
"Iya Bi, maafkan Farah membuat Bibi khawatir..."
Nyonya Lyn tersenyum lebar, dia mengecup mesra kening putri angkatnya dan berlalu keluar dari kamar. Farah memainkan cincinya. Dia menelan saliva, setelahnya Farah pura-pura tidur. 'Aku ingin tahu, apa respon Kakak saat Bibi mengira aku memiliki hubungan dengan Axcel...'
Sedangkan di ruang tengah Condo, nyonya Lyn sudah bisa melihat putra kebanggaannya tertidur di sofa. Nyonya Lyn menelusuri anak tangga perlahan agar tidak membangunkan Keenan yang sensitif. Perlahan wanita paruh baya itu duduk di samping putranya dan mengusap kepala Keenan lembut. "Maafkan Mama, untuk pertama kalinya Mama menamparmu..."
Keenan yang pura-pura tertidur melengkungkan senyuman tipisnya. Nyonya Lyn tersenyum dengan kelakuan putranya yang aslinya memang sangat jahil.
__ADS_1
"Apa Si Degil sudah membaik?" tanya Keenan terjaga sepenuhnya dan membenarkan posisi duduknya.
"Heh, tadi sok kasar, sekarang sok peduli!"
"Aaaw... Sakit Ma!"
Keenan memekik saat tangan ibunya menjewer kupingnya. "Sepertinya dia sudah istirahat, bersikap baiklah pada Farah..."
Keenan terdiam setelah helaan nafas panjangnya keluar. Nyonya Lyn kembali menyentuh tubuh putranya dan mengusap bahu bidangnya, memijatnya perlahan. "Apa pekerjaanmu semakin membuatmu lelah?"
"Kamu tidak perlu khawatirkan Farah sampai harus memarahinya, ada Paman Tang yang mengurusnya, biarkan Farah tidur di kamarnya. Orang yang tidak mengerti bisa saja salah menafsirkan..."
Keenan lagi-lagi hanya terdiam, pria angkuh itu tidak bisa menyela setiap perkataan ibunya.
"Jangan karena kamu lelah, menjadikan Farah objek menyalurkan emosimu. Apa kamu lupa? Kamu membawanya ke kediaman untuk kamu jaga?"
Entah bagaimana mulanya Keenan menjatuhkan air matanya, nyonya Lyn sempat tersentak. "Aku tahu Ma, aku bersumpah akan menjaganya dengan lebih baik... Seperti janjiku di depan Tuan Lee..."
Nyonya Lyn mengangguk, menyeka air mata Keenan dari wajah sayunya. "Apa kamu sudah makan?"
Keenan menggeleng perlahan, sedari tadi pagi dia merasa tidak berselera makan. Apalagi melihat kondisi gadis kesayangannya dalam keadaan tidak baik-baik saja, tentu saja dia kehilangan selera.
"Mama akan menyuruh Paman Tang menyiapkannya. Mama minta maaf, tidak bisa menemani Farah... Barusan Papa mengirimkan pesan akan melakukan perjalanan bisnis dadakan ke HK!"
Nyonya Lyn memeluk erat putra kebanggaannya. "Ingat, jaga Farah... Jangan sampai kamu membuatnya menangis... Kamu lupa, tidak mudah kita mengeluarkan dia dari trauma yang panjang saat kematian Ayahnya..."
DEG!!
"Iya Ma..."
Keenan menjawab lirih, tubuhnya terasa tak bertulang, ucapan ibunya yang jelas di telinganya seolah seperti sembilu menikam jantungnya. 'Maafkan Keenan, Ma...'
***
Kamar Keenan, 07.00 PM.
Keenan membuka pintu kamarnya, setelah kepulangan ibunya, pria itu tidak langsung menemui gadisnya. Pria itu berkutat dengan berkas bisnis yang sama sekali tidak bisa masuk dipikirannya saat ini.
Sebenarnya aku ingin dekatmu, namun kusadari, ku tak bisa... Tak boleh ku di sini, bahaya, ku makin cinta...
Keenan mengulumkan senyuman di bibirnya, perlahan dia mendatangi Farah yang tengah terlelap. Perlahan pria itu duduk di samping tubuh gadisnya.
"Maafkan aku..." Keenan mengusap lembut kepala gadisnya. "Aku tidak tahu, aku sungguh pengecut..." lirih Keenan kembali berucap. "Jangan pergi, aku tidak bisa..."
__ADS_1
Ku tak ingin jauh, tak ingin berpisah, mengapa semua selalu indah, saat denganmu? Sayang untuk diakhiri...
Keenan memeluk erat Farah, dia sungguh kehabisan kata-kata untuk menjabarkan apa yang sedang dirasa saat ini. Farah yang pura-pura tertidur tengah bersorak gembira dalam benaknya. Hal kecil seperti itu saja sudah kembali melayangkan asanya.
Andai engkau bisa mengerti, betapa beratnya aku... Harus aku tetap tersenyum, padahal hatiku terluka... Adakah arti cinta ini, bila ku tak jadi denganmu? Jika memang ku harus pergi, yakinlah, hatiku kamu...
"Cepatlah sembuh Sayang, aku sungguh merindukan ocehanmu... Apapun yang kamu inginkan, aku akan mengabulkannya! Aku bersumpah..."
Keenan mencium kening gadisnya, jangan ditanya bagaimana kondisi batin Farah. Dengan sekuat tenaga gadis itu tidak menghancurkan aktingnya. Dia ingin tahu lagi apa yang akan diucapkan prianya.
"I love you..."
Keenan berbisik lirih mengucapkan kalimat cintanya, rasanya Farah benar-benar bisa pingsan saat ini juga. Jutaan kupu-kupu meledak dalam perutnya, sayap mereka yang saling mengepak membuatnya merasakan gelenyar aneh di tubuhnya. Keenan memperbaiki selimut Farah menutupi tubuh mungilnya, pria itu terkekeh lirih dan segera memasuki kamar mandinya.
Setelah mendengar pintu kamar mandi tertutup, Farah membuka mata sempurna dan bangkit dari tidurnya. "Aaarrkk," pekik Farah lirih tertahan. "Apa barusan aku benar-benar mendengarnya? Kakak bilang mencintaiku? Uuuughh, I'm die!!" gumam Farah bersikap abnormal, dia sungguh terlalu senang dengan apa yang dilakukan Keenan barusan padanya.
Bukankah semesta yang pertemukan kita? Haruskah kusampaikan pada bintang? Mengapa bukan kamu, yang memiliki aku?
"Keenan Kaviandra, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini! Bersiaplah menerima seluruh cinta dariku..." Farah bangkit dengan senyum seringai jelas di wajah cantiknya.
Dia membuka pintu kamar mandi perlahan dan mengejutkan prianya yang sedang berendam. "Baby?!"
"Ya..." Farah menjawab lirih dengan menatap tajam prianya.
Keenan tidak bergeming, dia bingung dengan apa yang sedang dilakukan gadis tengilnya. Jakunnya naik dan turun saat Farah mulai melucuti pakaian tidurnya hingga tak bersisa.
"You're so freaking hot Baby!" gumamnya melayangkan senyuman manis yang memabukkan Farah.
"Yes, I'm!" Farah menyeringai menggoda dan memasuki bak mandi.
Keenan menyambut kedatangan Farah, mengusap perlahan tubuh polos kekasihnya. "Kamu sungguh tidak bisa dikasih tahu! Kamu sedang demam!"
"Tidak masalah bukan?" Farah menunduk dan mengangkat dagu prianya dengan jari telunjuknya. "Kamu milikku Keenan Kaviandra," bisik Farah lirih menggoda dan memagut bibir kekasihnya.
Keenan menyeringai, kedua tangannya merengkuh tubuh Farah dan keduanya bertautan mesra. Keenan mendorong tubuh Farah perlahan. "Apa yang membuat kamu berinisiatif seperti ini?"
"Ck," decak Farah sebal. "Aku hanya menginginkannya... Apa Kakak tidak menginginkanku? Baiklah aku pergi!" Farah bersiap bangkit dari sana.
Tidak ada hitungan detik tangan kekasihnya tentu saja menghentikan Farah. "Sorry Baby, aku hanya khawatir... Kamu sedang sakit..."
"Kamu obatku..." Farah kembali mendekat dan memulai penyatuan yang tidak begitu sukar sekarang. Keenan sempat melenguh dan merasakan sensasi yang begitu membuat dia seolah melayang di hamparan awan.
"Bibirmu sungguh manis!" rutuk Keenan kesal, gadisnya sudah mulai paham mendominasi dirinya.
__ADS_1
--- To be continue ---