Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 56 # Mulai Curiga


__ADS_3

Keenan sudah menginstruksikan seluruh anak buahnya untuk kembali ke KTech. Sedangkan dia kembali menuju mansion Beverly dimana kekasihnya berada saat ini.


Ada berjuta rasa yang bercampur di dalam tubuhnya. Dia begitu lega sudah menyalurkan hasrat ingin membunuhnya. Meskipun tidak benar-benar membunuh seseorang, hal itu cukup meredam emosinya.


"Farah Lee, selama ini aku tidak pernah ingin tampil di depan publik! Kamu merubah segalanya..." Keenan mengulum senyum manis di wajahnya. Dia sudah semakin merindukan gadis kecilnya.


Banyak hal yang berubah setelah dia terjerat dengan adik sepupu tengilnya. Selain potensi kejahatannya yang bisa saja terekspos di publik. Tanpa sadar, pria itu sudah menunjukkan kepeduliannya. Selama ini mana pernah mau Keenan mengurusi hal remeh seperti ini. Hanya karena pria itu ingin melindungi Farah dalam jangka panjang, dia rela menunjukkan dirinya di publik bahkan menyiksa mereka terang-terangan. Jika sampai musuhnya mengetahui hal ini, alangkah berbahaya keselamatan Farah saat ini.


Braak!


Farah terlonjak saat mendengar pintu mansion miliknya terbuka kasar. "Kakak!"


"Pintar sekali kamu!!" Keenan segera mendekati kekasihnya yang sedang memegang cup mie seduh instans. "Apa enaknya makanan sampah ini!" Dengan cepat Keenan merebut makan Farah dan menyantapnya segera.


"Hei, katanya itu sampah! Kok dimakan! Itu milikku!!" Farah tidak rela berbagi makanan di saat dia sedang kelaparan.


Sruuup!


Keenan memakan makanan sampah itu dengan suka cita. "Bukankag Sam sudah menyiapkan makanan sehat untukmu?!"


"Namanya juga pengen!" Farah bersedekap tangan mengerucutkan bibirnya.


"Tante Vero bilang kamu kurang nutrisi! Sudah tahu sakit, ngeyel pula!! Tengil dasar..."


Keenan menjentikkan jemari besarnya di kening gadis kecilnya.


"Aaaww!!" Farah segera mengusap kening dengan mencibir lirih.


Farah mengendus tubuh kekasihnya. "Kok agak lain?"


Keenan menggelengkan kepalanya. "Kenapa? Kamu ingin aku layani ya?!"


"Mana ada!" Farah segera beringsut mundur menutup tubuhnya. "Apa yang Kakak lakukan sebelumnya?"


"Membersihkan hama!"


Farah termangu, dia mengerti maksud hama yang dikatakan kakak sepupunya. 'Aku sudah menduga, aku harap kampus masih berdiri kokoh sekarang!'


"Aku lapaar~" Farah segera merubah sikapnya, dia merengek manja menautkan kedua tangan di bahu kekasihnya.


"Kamu lapar ya makan, bukan merengek!"


"Isssh, aku kan lagi pengen di manja~ pengen berduaan dengan dirimu sajaaa~" Farah berkidung koplo di depan kekasihnya yang sudah bergidik ngeri.


"Emang agak lain kamu ini!" rutuk Keeno kesal.


Farah cekikikan, dia membuka perlahan jas kekasihnya dan menaruh di samping sofa. Tangan lentik Farah juga membuka dasi prianya. Jakun Keenan naik dan turun dengan berat. Farah melakukan hal itu saja sudah membangkitkan gairahnya.


"Sayaaang!"


Bruk!


Keenan menjatuhkan tubuh gadisnya di sofa, bibir mereka bertemu, saling bertautan mesra perlahan. Farah menekan kepala Keenan mengusap lembut rambut tebal kekasihnya. Keenan sungguh tidak tahan, gairahnya ingin segera menyelesaikan gadisnya. Namun, akal sehatnya masih berfungsi normal.


"Tante Vero bilang kamu belum boleh aku gagahi!" Keenan melepaskan pagutan liat mereka.

__ADS_1


Farah tersipu malu. "Kak, apa Tante Vero benar-benar tidak akan mengadu?"


"Tidak Sayang!" Keenan mencium mesra pipi Farah. "Aku sungguh lelah, aku ingin berendam. Jangan ganggu aku!"


"Ehm!" Farah mengangguk mengerti.


"Malam ini kita pulang, bersiaplah..."


"Iya Sayangku~" Farah kembali berulah, tubuhnya sudah bersiap di punggung kakaknya.


"Kamu mau ngapain?" Keenan menatap wajah gadisnya.


"Gendong~"


"Kemana?"


"Katanya disuruh makaaan!"


"Manja!"


"Emang lagi manja, lagi pengen dimanja~" Farah kembali bersenandung membuat Keenan semakin gemas dengan gadis kecilnya.


***


Kediaman besar Kaviandra, 07.00 PM.


Tuan Kaviandra mengajak asisten khususnya untuk berdiskusi masalah serius yang cukup menggelitiknya.


"Ada masalah apa di kampus Farah? Keenan sampai harus turun tangan sendiri?"


"Farah?"


"Berita itu hanya bertahan lima jam setelah rilis. Saya menduga, Tuan Muda sudah menghapusnya."


"Mereka tidak mengatakan apapun!" Tuan Kaviandra mulai merasa curiga dengan gelagat kedua putra putrinya. Tidak pernah selama ini keduanya menyembunyikan masalah seperti ini. "Apa kamu tidak bisa melacaknya lagi?"


"Maaf Tuan, seperti yang anda ketahui, dengan kemampuan Tuan Muda, kita tidak bisa melakukan apapun..."


"Haisshh!! Tidak enak juga punya anak terlampau genius!"


Asisten tuan besar menahan tawanya, sudah bukan rahasia lagi bahwa kemampuan Keenan jauh melebihi tetua Klannya.


Tak berselang lama Farah dan Keenan sudah berada di kediaman. Keenan masih sempat mencumbu adiknya didalam mobil sebelum mereka memasuki kawasan dengan zona tidak amannya.


"Bibi!"


Seperti biasa dengan suara melengkingnya Farah menghambur memeluk bibinya. "Pulang juga!"


"Maaf, semalam aku ketiduran di rumah teman. Tugas kampus sedikit tidak manusiawi!" Farah mendadak lihai membual, beberapa kali dia merutuki dirinya sudah berani membohongi orang tua angkatnya.


"Bibi sudah bilang, kalau kamu cape tinggal minta mansion sama Kakakmu itu!"


"Ma!" Keenan mencium pipi ibunya kemudian melewati Farah begitu saja.


"Keenan, tadi kamu bareng Farah?"

__ADS_1


"Hm, tidak sengaja!"


Farah mengerucutkan bibirnya, ada yang jauh lebih pro dalam membual selain dirinya.


"Kamu kok pucat begini? Cape ya? Ayo kita segera makan malam!" Nyonya Lyn menyadari putri angkatnya terlihat tidak fit. Dengan cepat dia menyuruh seluruh pelayan menyiapkan makan malam dan menjemput tuan besar.


Semua pelayan sibuk mempersiapkan hidangan, tuan Kaviandra menatap Keenan dan Farah bergantian tanpa membuat keduanya curiga. "Keenan, barusan Papa membaca berita, kamu menarik sejumlah investasi bisnis. Salah satunya Universitas S!"


Keenan menghentikan memotong daging wagyunya. "Hm!"


Farah ikut terdiam, dia mendadak gelisah. Pasalnya, tentu saja ada hubungannya dengan rumor dirinya. 'Bagaimana ini, jika diteruskan maka aku dan Kakak...'


Keenan begitu pandai menyembunyikan kegelisahan hatinya. Dia harus bisa dengan jelas membaca arah pembicaraan ayahnya.


"Apa ada masalah sampai harus menghentikannya?" Tuan besar terus memancing Keenan.


Sorot mata keduanya cukup membuat debaran jantung Farah tidak karuan. Gadis itu merasa tekanan udara di ruang makan menurun drastis, dia merasa kesulitan bernafas.


"Ya, sejujurnya tidak ada rencana menariknya. Hanya saja, aku tidak sengaja melihat Si Degil ini menangis di pinggir jalan seperti anak anj-ing menyedihkan... Sungguh memalukan!"


Semua mata yang lainnya terbelalak dengan ucapan Keenan. Apalagi Farah, sebelumnya tidak ada pembahasan seperti ini.


"Keenan!! Jaga ucapanmu... Farah bukan anak anj-ing! Minta maaf padanya!!" Nyonya Lyn segera tersadar atas ucapan tidak pantas yang dilontarkan putranya.


"Farah, apa yang terjadi?!" Tuan besar menatap Farah tajam.


"Kamu kenapa Sayang, kok gak ada bilang sama Bibi?!"


Semuanya berubah mencemaskan keadaan gadis kecil mereka. Farah menelan ludahnya, kedua tangannya berpindah mencengkram erat ujung dressnya. "Aku─"


"Dia di bully oleh sekelompok sampah! Aku sudah membereskannya..." Keenan menyela dan membantu kekasihnya.


"Apaaa?! Siapa yang berani melakukanya... Apa kamu terluka?!" Nyonya Lyn bergegas mendekati Farah.


Saat itu juga Farah meneteskan air matanya. "Aku bersyukur Kakak datang tepat waktu!"


"Oh Sayaaang!" Nyonya Lyn memeluk erat Farah.


Keenan dan tuan Kaviandra terdiam, keduanya merasa tidak nyaman. 'Pantas Keenan mengamuk disana!'


"Siapa yang berani melakukannya?" Tuan Kaviandra kembali ingin tahu lebih. "Apa motifnya?"


"Cinta monyet!" Umpat Keenan kesal.


"Hah?" Tuan dan nyonya besar tertegun sejenak, kemudian mereka terkekeh dan mengerti kemana maksud dan tujuan Keenan.


"Kamu bisa tahu sampai seperti ini?!" Nyonya Lyn kembali berujar menatap Keenan dengan kecurigaan penuh.


"Jika aku tidak memaksa para pelaku mengatakannya, bagaimana aku bisa menghukumnya?!!"


Glek...


Semua orang mengheningkan cipta dan menelan ludah, sedikit pun Keenan tidak terlihat seperti bercanda.


'Keenan, semakin lama kepedulianmu semakin aneh! Haissh... Papa tidak tahu, apa yang ada dipikiranmu sekarang... Sikapmu pada Farah sedikit berubah!'

__ADS_1


--- to be continue ---


__ADS_2