
Keenan tak percaya, akhirnya dia benar-benar bisa merasakan kembali tubuh istrinya setelah lima tahun yang lalu terpisah. Pria itu tak peduli lagi pada keadaan sekitar, tubuhnya bergetar hebat. Penantiannya selama lima tahun terbayar juga sekarang.
Keenan terus melesakkan lidahnya menggapai setiap inci rongga mulut Farah. Awalnya, Farah terbuai dengan apa yang tengah dilakukan Keenan, sebelum ia tersadar bahwa mereka masih berada di lobby kantor KTech.
"Aarrghh!" Farah mendorong dada Keenan dengan sekuat tenaganya. "Kak!" ujarnya sambil menolak dengan wajah sendu.
Keenan menjatuhkan air matanya, Farah tertegun sejenak melihat bagaimana prianya saat ini. "Aku benar, selama ini aku benar."
"Kamu tidak mungkin meninggalkanku sendirian!" tutur Keenan parau. "Kamu hanya sedang menghukumku, kan? Aku benar-benar gila tanpamu Sayang!" Keenan memeluk Farah erat.
"Kaaak! Keano melihat─" belum sempat Farah menyelesaikan kalimatnya, Keenan kembali menarik tubuh Farah dan memagut bibirnya dengan lembut namun terus menuntut.
'Aargghh Si Cabul iniiii!! Baru berapa detik ketemu langsung mesum...,' batin Farah takjub pada kekasihnya yang tidak pernah berubah.
"Haish..." terdengar Keano mendengus lirih dan mundur dari tempatnya.
"Apa kalian begitu senggang, sampai harus memperhatikan mereka sebegitunya?" Keano mendekati ketiga anak buah Keenan yang menelan ludah saat menonton live kiss di depan mata mereka.
"Eh... Ehmm─" Sam tersadar dan menatap ke arah Keano yang saat ini berdiri di sampingnya.
"Aku lapaaar!" rengek Keano manja ke arah Sam. "Apa kalian tidak berniat untuk melayaniku? Mengingat kalian akan mendapatkan hukuman bukan atas perlakuan kalian sebelumnya?"
"Tentu saja, kami akan melayani anda dengan baik." Ben segera menyela dan menggenggam tangan Keano mengajaknya menuju kantin kantor.
Sam segera membubarkan seluruh karyawan dan menghentikan beberapa aktivitas di kantor mereka karena sebelumnya terjadi kegaduhan atas kedatangan Farah Lee. Keenan sendiri tak bergeming, terus mencium bibir istrinya dengan buas. Tangan Farah dicengkram begitu erat, tubuhnya ditarik mendekat tanpa jarak.
'Duh bos gua nih kalau ada ceweknya, cabulnya gak nahan!' batin Sam sambil melengos mengabaikan bosnya, dan beralih menghardik beberapa staf yang kepo pada situasi kantor mereka saat ini.
"Duh para penjilat Tuannya langsung gercep!" cibir Ken mundur membantu Sam sejenak dan berbaur menuju ke tempat dimana Ben sedang melayani tuan muda mereka.
"Aaah.." Farah terengah, dia kehabisan oksigen.
Keenan menyeringai, tangan besarnya menangkup wajah Farah. Pria itu menatap wanitanya penuh cinta dan kelembutan. "Kau tahu, nafasmu adalah denyut nadiku."
DEG!
"Selama kamu masih bernafas, aku masih bisa bertahan hidup sampai saat ini." Keenan menyapu perlahan wajah istrinya yang semakin cantik dari sebelumnya. "Maafkan aku... Aku kurang berusaha mencarimu, aku sangat takut... Aku begitu mencintaimu, Sayang. Percayalah padaku." Keenan melayangkan kecupan ringan di kening istrinya.
"Kita lanjutkan di ruanganku ya," bisik Keenan sambil menyeringai.
"APA?" Sontak Farah merubah raut wajahnya seketika. "Kak! Keano masih─" Farah mencari-cari sekitar, tapi tak ada siapa-siapa.
__ADS_1
"Hilang lagi?!" Farah teramat kesal, putranya terlihat seperti belut sekarang ini.
"Jadi nama putra kita Keano?" Senyum Keenan semakin memabukkan Farah saat ini.
"Tenang Sayang, dia bersama Sam dan yang lainnya." Tanpa aba-aba, Keenan menggendong tubuh Farah ala bridal menuju ruangannya.
"Aaarrghhh, lepaskan akuuuu!!" pekik Farah tidak terima.
Farah juga berusaha berontak dengan memukul dada bidang prianya. Keenan begitu senang bukan kepalang, dia mengulumkan senyuman bahagianya. Dia bisa melihat kembali sepupu tengilnya berulah seperti saat pertama kali mereka terlibat skandal hubungan terlarang.
"Mmmphh... Aarrghh..." Keenan melepaskan pagutan bibirnya setelah lift membuka pintu menuju ruangannya.
Sandra terpaku sulit percaya apa yang dia lihat. "Selamat malam Tuan, Ny-nyonya..."
"Kamu pulanglah," titah Keenan pada Sandra yang masih terlihat syok.
Farah mengatupkan bibirnya erat, dia juga membenamkan wajahnya di dalam dekapan Keenan. Rasa rindu yang selama ini tertahan menguap setelah menghirup harum parfum dan bau tubuh Keenan. Dengan perlahan, Keenan membaringkan Farah di sofa.
"Kak..." lirih Farah mencoba memelas pada kakak sepupunya untuk melepaskannya.
Keenan bergerak cepat menuju meja kerjanya dan mengambil sesuatu yang tidak diketahui Farah. Brak! Keenan menutup laci meja dengan sedikit keras, mata Farah terbelalak saat Keenan membawa borgol di tangannya.
"APA YANG AKAN KAMU LAKUKAN KEENAN?!" jerit Farah tidak terima.
"Kamu tidak akan pernah bisa kabur lagi dariku, Baby!" Keenan memborgol salah satu tangan Farah dengan tangannya dan membuang kuncinya sembarangan. "Jangan harap aku akan melepaskanmu satu jengkalpun!"
"Kau gila..." rintih Farah meneteskan air mata.
"YA, AKU GILA FARAH LEE!!" jerit Keenan dengan wajah frustasi. "Aku gila... Lima tahun aku mencarimu... Lima tahun aku berusaha bertahan hidup tanpamu... Lihat aku Farah!!"
"Hah..." Farah terkekeh dengan ucapan Keenan. "Kau gila? Aku lihat kamu justru tengah berbahagia bukan?" cibir Farah menahan sakit di hatinya.
"Bahagia? Dari mana kamu lihat aku bahagia? Aku baru bisa tersenyum bahagia hari ini, detik tadi!"
"Jangan menipu dirimu sendiri Kak," Farah menatap nanar ke arah Keenan. "Kamu sudah memiliki keluarga baru, aku tidak apa-apa. I'm happy for you!"
Keenan terpaku dengan ucapan Farah, kemudian dia mencerna baik-baik apa yang di katakan wanitanya. "Oh, itu... Pantas Keano sangat membenciku sebelumnya." Keenan terkekeh sejenak.
"Kalian salah paham, sayang. Anak kecil yang aku gendong adalah Jimmy, keponakanku alias putra Karennina," ujar Keenan sambil mencolek hidung mancung istrinya dengan gemas. Farah terpaku sejenak kemudian memalingkan wajahnya.
"Kakak pikir aku hilang ingatan? Tidak bisa membedakan mana Karen mana bukan."
"Wanita di sampingku saat itu memang bukan Karen. Dia sedang sibuk di Jakarta, makanya Carol menggantikan tugasnya mengasuh Jimmy," jelas Keenan sambil mengejek Farah.
__ADS_1
Farah tak tahan dan mengeluarkan *******. "Aaargh... Ssshh..."
"Kamu cemburu, sayang?" tanya Keenan sambil semakin meraba-raba tubuh Farah. "Aku merindukanmu, baby," ucap Keenan sambil mencium leher Farah dan turun ke bukit kembar Farah.
"Kak... Aaarghh... Jangan..." tolak Farah, namun itu malah membuat Keenan semakin berhasrat. "Hanya kamu yang bisa membuatku begitu berubah secabul ini, Baby!"
Sraaaak!!
"AAARRRGHH!!"
Farah menjerit kencang saat tangan Keenan merobek paksa dress yang dikenakannya. Pandangan Keenan sudah menghitam berganti dengan gairah yang membara. Sudah lima tahun dia menahan hasratnya, melihat Farah saat ini tentu saja dia semakin gila.
Kantin KTech.
"Tuan Muda, Anda benar-benar mirip dengan Tuan," cicit Ben memulai pembicaraan. Dia sudah memesan seluruh menu di kantin mereka. Tak lama Sam dan Ken bergabung bersama.
"Perkenalkan, namaku Benny, panggil saja Uncle Ben!" ujar Ben sopan.
Dengan wajah datar dan sikap dingin, Keano, si pria kecil itu sudah meng-set ulang settingan pabrikannya.
"Hmm…" Keano mengunyah roti burger kesukaannya. Dia lapar setelah hampir seharian berada di luar dan terjebak dalam penculikan.
"Kalau aku panggil aja Ken, biar akrab brooo~" saran Ken sambil menepuk bahu Keano santai.
Namun, Keano tampak merasa tidak suka dengan sikap Ken yang terlalu akrab. Keano memicingkan matanya ke arah Ken seolah tidak suka dengan anak buah ayahnya yang paling nyeleneh itu.
"Pfft!" Sam duduk di sebelah Keano dan menatapnya sedikit serius. "Panggil aku Paman Samuel," ucap Sam serius dan menatap haru ke arah anak laki-laki yang telah lama mereka cari.
"Oke, Paman, Uncle, dan Ken... Terima kasih!" ucap Keano dengan terpaksa, lalu kembali menjadi dingin seperti semula.
"Ck, mirip banget ya!" ucap Ken takjub pada Keano. "Kalian bagai pinang di belah samurai. Gak usah test DNA aja yakin 1000% Anda putranya. Benih kekejaman sedari dini, kepintaran sedari dini, wajah dingin sedari dini, bahkan kosa kata yang di pakai sama dengan plek-ketiplek!" pujinya.
Semua orang tertawa dengan ke-absurd-an Ken, tapi tidak dengan Keano. Dia merasa lingkungan sekelilingnya semakin sepi.
"Kemana semua orang?" tanya Keano pada Sam.
"Mereka sudah pulang tentu saja. Mereka kira Anda arwah gentayangan jadi…" Sam cengengesan, tapi tertahan.
"Ini sudah jam pulang kerja jadi mereka semua pulang ke rumah masing-masing," timpal Sam.
Keano menaikan sudut bibirnya, lalu melanjutkan memakan makanannya.
__ADS_1
---To be continued---