
Keesokan harinya...
Farah terbangun dari tidur malamnya yang melelahkan. Semalaman gadis itu menangis membayangkan apa yang akan dilakukan kakak sepupunya saat dia tertidur. "Kakak tidak tidur disini kah?"
Farah menyapu ranjang besarnya, ada sedikit sesal menyeruak dalam dadanya. Dia tahu, untuk mendekati Keenan maka harus berkorban banyak hal. Namun, perkara tentang harga diri dan kesucian pantang hukumnya memberikan sebelum waktunya. "Apa selanjutnya Kakak akan kembali menjaga jarak denganku?"
Farah mengatupkan bibirnya, dia bergegas bangkit untuk membersihkan dirinya. Hari ini sebenarnya dia memiliki jadwal perkuliahan di waktu sore, itu pun hanya dua mata kuliah saja. Farah tidak berpikir untuk keluar kediaman. Seperti sebelumnya, biasanya dia hanya akan berada di rumah sepanjang hari.
Farah menatap pantulan dirinya di cermin, dia melengkungkan senyuman lebarnya. Dia mencium kaos kebesaran milik kakak sepupunya. Selama di Condo, dia hanya mengenakan kaos oversize Keenan yang di padukan dengan hotpants mini yang seolah tidak mengenakan celana jika dia berdiri seperti sekarang ini. Kali ini Farah menggerai rambut panjangnya, memberi kesan feminim pada tampilannya.
"Kakaaak!" Farah memekik tidak tahu malu sedari dia masih di lantai atas, memindai keberadaan kakak sepupunya.
Keenan menghentikan aktivitas sarapan paginya, dia terkekeh lirih dengan tingkah absurd Farah sekarang. Farah tersenyum senang, ternyata kakaknya masih berada di kediaman. Padahal, Farah mengira kakaknya akan pergi lebih pagi seperti biasanya.
"Pagi Kakakku Zheyeeeng~"
"Farah Lee!"
Farah mendekat merangkul tubuh Keenan dari belakang dan mencium pipinya. Keenan sungguh sakit kepala dengan kelakuan adiknya ini. Setiap kali dia meminta lebih, adiknya hanya tahu menangis. Keenan mendeskripsikan Farah seperti burung merpati. Selalu datang menggoda untuk disentuh, tapi saat di hampiri burung itu melesat pergi menjauh.
"Kesopananmu sudah luntur kah?!" sungut Keenan dingin menatap tajam ke arah sepupu tengilnya.
"Wle!" Farah menjulurkan lidah di hadapan Keenan, pria itu mengusap rahang tegasnya.
Paman Tang beserta Sam hanya menunjukan wajah datar mereka, seolah sudah sangat terbiasa dengan pemandangan barusan. Seperti ini saja sungguh bagus, mereka baru mengetahui bahwa Keenan tidak pernah terlambat, demi menunggu kedatangan Farah dia mengulur waktu sarapannya.
"Kakak jahat tinggalin aku tidur sendiri!" celoteh Farah kembali menggeser kursinya mendekati dimana Keenan berada. "Aaa~" Farah membuka mulutnya meminta suapan daging panggang yang tengah Keenan potong.
"Hish! Tanganmu patah?" Keenan memasukkan potongan daging berukuran kecil ke dalam mulut terbuka Farah.
Farah terpaku sejenak, hatinya meledak penuh dengan berjuta kepingan kelopak bunga berwarna-warni sekarang. Begitu pula paman Tang dan Sam yang terbelalak tidak percaya. Keenan Kaviandra, si pria dingin dan arogan. Dia sedang menyuapi gadis kecil yang bukan adik kandungnya.
Keenan menegaskan rahangnya, lagi-lagi tangannya justru merespon apa yang di inginkan Farah. Farah mengembangkan senyumnya saat mulutnya sudah penuh dengan daging panggang kesukaan kakak sepupunya.
"Enak bingiiit! Aku mau makan dari suapan Kakak saja kalau begitu!" Farah semakin tidak tahu diri.
Keenan menatap tajam Farah dengan raut wajahnya yang menunjukan kekesalan. Tapi, tidak dengan hatinya yang ikut senang melihat adiknya baik-baik saja setelah semalam mereka melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan. Keenan masih mengingat suara tangis Farah, semalam penuh Keenan terjaga di ruang kerjanya memikirkan kondisi Farah.
"Manja!" rutuk Farah kembali memotong daging dan menjulurkannya di hadapan Farah.
'Sumpah demi apapun juga, ini sebuah keberkahan yang akan terjadi satu kali dalam satu tahun kabisat!'
__ADS_1
"Kak!" Farah kembali berulang menggelayut manja di tangan Keenan.
Keenan menoleh menatap Farah dengan mengerutkan keningnya. "Apa yang kamu inginkan lagi, hm?"
"Ke mall yuk!"
"Hah!" Keenan terkekeh mengejek. "Mimpi!"
Farah mengerucutkan bibirnya, Keenan begitu gemas, setengah mampus dia menahan hasratnya untuk tidak meminta sebuah ciuman kembali. "Kakak jahaaat! Jahaat... Jahaaat!" Farah terus merutuk dengan rengekan yang membuat kepala Keenan berdenyut menyebalkan.
"Aku hanya meminta kompensasiku atas semalam!" Farah menyeringai penuh makna. "Apa Kakak ingin lepas tanggung jawab setelah Kakak membuat aku merintih kesakitan! Semalaman aku tidak bisa tidur!"
Duaaar!
Tidak hanya Keenan yang dalam mode pecah kepalanya, tapi paman Tang juga Sam. Ketiganya tidak percaya apa yang baru saja dikatakan oleh Farah. Mereka tidak bodoh dengan kalimat Farah yang mengisyaratkan kenistaan. Paman Tang dan Sam menyeka keringat dinginnya, mereka seperti ingin melarikan diri saja, tapi kejadian ini sungguh di luar prediksi BMKG, tidak masuk Haikal, dan tidak habis Fikri!
"Hahaha!" Keenan tertawa mengerikan membuat bulu tengkuk Farah berdiri. "Kamu mencoba menjejal batas kesabaranku, Baby?" Keenan merengkuh pinggang Farah dan memeluknya erat.
"A-aku, aku kan hanya minta ditemani ke mall saja, kalau Kakak tidak bisa kan bilang aja gak usah ngancem segala!" cicit Farah mencari pengalihan.
Keenan kembali menyeringai, dia tidak menyangka dia sudah kalah secepat ini. "Kamu mau ke mall mana, Baby? Kakak akan menemanimu bermain..."
Farah tersentak, rasanya barusan tubuhnya terkena arus pendek listrik. Keenan berbisik di telinganya, tidak hanya itu. Pria itu menggigit kecil cuping telinganya, rasanya seperti tidak bisa bernafas sesaat! "Bagaimana jika aku ingin ke hatimu, Keenan Kaviandra!" Farah semakin mendekat membalas berbisik di tubuh Keenan agar yang lain tidak mendengar ucapannya.
'Sialan Farah Lee!'
Awalnya Keenan hanay sedang mempermainkan Farah, dia mengetahui Farah sedang mengusilinya dengan berkata yang tidak-tidak. Kali ini dia ingin membalasnya, siapa sangka bahwa Farah selalu memiliki jutaan taktik lainnya.
"Kamu sungguh menyebalkan, Sayang!" Keenan mencium perlahan bibir Farah yang segar seperti buah kesukaannya.
Pengurus Tang dan Sam terbelalak, sepertinya jika semua drama itu diteruskan, bisa dipastikan keduanya akan berakhir di UGD saat ini juga. Seperti biasa, tuannya yang berulah mereka yang salting parah!!
Farah tersipu malu dengan tindakan kakak sepupunya, dia mendadak tidak berkutik. Seperti kucing liar yang bertemu pemilik yang tepat, sekali kepalanya disentuh lembut maka taringnya lenyap berubah menjadi manja tidak karuan.
"Come on Baby!" Keenan bangkit, dia menarik Farah untuk keluar kediaman saat ini juga. "Sam undur semua pekerjaanku, sampai Si Degil ini puas menggesek kartu hitamku!" titah Keenan sebelum dia keluar menatap nyalang asistennya.
Sam belum bisa menjawab dia hanya mampu menganggukkan kepalanya. Setelah kepergian tuan mereka Sam dan pengurus Tang saling tatap. "Apa mungkin mereka?!" cicit Sam menduga dengan wajah annoying-nya.
"Entahlah, bukankah kamu asisten khusus yang selalu menempel padanya?! Masa hubungan mereka saja kamu gak tahu?!" sanggah pengurus Tang dengan menaikan bahunya menegaskan seolah dia pria tua yang tidak tahu apa-apa.
'Bagaimana jika kediaman besar tahu pasal keakraban mereka sejauh ini?!' Paman Tang sedikit khawatir akan kemungkinan yang bisa saja terjadi jika sampai kediaman besar tahu kelakuan Farah yang selalu menggoda Keenan.
__ADS_1
Keenan dan Farah sudah berada di kendaraan yang paling di sayangi Keenan, apalagi jika bukan bugatti hitam pekatnya. Bukan hanya karena merupakan salah satu mobil termahal, melainkan mobilnya sudah dimodifikasi sedemikian rupa dengan teknologi canggih milik perusahaan besarnya.
Bunyi decapan tautan keduanya terdengar sangat nyaring, Keenan menggeser tempat duduk Farah hingga ke belakang dan menurunkan sandarannya membuat dia leluasa menggerayangi Farah. Farah terbuai akan pagutan kakak sepupunya yang semakin lama semakin membuat dia mabuk kepayang. Kedua tangannya telah dia rangkulkan di belakang kepala prianya dan mengusap lembut tengkuk leher Keenan. Gerakan lembut jemari lentik Farah tersebut tentu saja membuat gairah Keenan meledak-ledak. 'Gadis sialan ini, dia selalu menggodaku tanpa kenal waktu. Tapi saat gairahku meledak dia akan mencampakanku!'
Tangan Keenan menyelusup kedalam kaos kebesaran miliknya yang dikenakan Farah. Gadis itu tidak menolak, mereka telah tenggelam dalam kabut gairah sampai akhirnya ketukan kaca jendela meruntuhkan gairah liar mereka.
Tok... Tok... Tok...
"Shiiit!" umpat Keenan kesal kembali ke posisinya.
Farah terkekeh dan ikut bangkit memperbaiki tampilan serta deru nafasnya yang sedikit tersenggal.
"Jika kamu tidak punya alasan bagus mengganggu kesenanganku, maka enyahlah sekarang!" Keenan memaki Sam setelah membuka kaca jendela. Terlihat Sam meringis canggung, dia menunjukan benda pipih yang dihafal oleh semua orang.
"Maaf Tuan, ponsel anda tertinggal di meja. Untung saja saya lari dan membawakannya segera sebelum anda benar-benar pergi!" sahut Sam santai dia sudah menduga apa yang tengah dilakukan bosnya di dalam mobil yang tak kunjung pergi. "Nanti saya tidak bisa menghubungi anda jika ada urusan mendadak dan penting!" Sam kembali menambahkan dengan wajah polos tanpa dosanya.
"Dasar idiot!" maki Keenan segera. "Kamu bisa mengakses via EYES!" sungut Keenan kembali berapi-api memaki bawahannya.
"Eh iya juga ya?!" Sam mengernyit bodoh. "Eh tapi Tuan, hanya saran saja, lebih baik anda mencari hotel atau kembali lagi ke atas. Di sini sempit, I guess!!" Sam kembali berulah menggoda tuan pemarahnya dengan wajah tanpa dosa.
"Sialan Samuel Park! Enyah kamu ke Bermuda!!" Keenan tambah berang dengan kelakuan orang kepercayaannya.
Sam sudah menghindar dengan kekehan, dia kembali berbalik menatap tuannya. "Jangan Tuan, ke Afrika saja aku terima!"
"Bangsat, sini kamu!"
Keenan keluar dari mobilnya berencana menghajar Samuel Park yang tidak hanya sekedar asisten dan orang kepercayaan Mr. K, dia adalah sahabat sejati Keenan.
Braaak!
Keenan membanting pintu dengan keras setelah mendapati sahabatnya kabur dengan sangat cepat.
"Buahahahaha!" Farah terbahak dengan senang melihat kelakuan dua pria tampan yang seronok berkelakar.
"Kamu senan, hm?" Keenan mendekat menekan dagu gadisnya.
"Absolutely!"
Keduanya kembali saling tatap dengan mesra, tanpa mereka sadari mereka kembali melakukan ciuman sebelum keduanya menuju salah satu mall terbesar di kota S.
--- To be continue ---
__ADS_1