
Makan nasi pake samyang... Selamat pagi menjelang sayaaang reader tersayang aku gak 🥰
Yeaaay... Finally, S2 tetep aja di taro di Noveltoon 🤭
Sayang, permulaannya sudah di simpen di paijo, jadi yang di share disini kelanjutannya. Tapi, othor usahain buat di sounding lagi... Karena, di paijo dah keiket kontrak gak bisa lagi di pindah 🙈
Di paijo sepiii banget, gak ada yg ajak ngobrol... Auto balik lagi ke asal... Kuy ramekan... yang penasaran ama Daniel Lee cuuuss... Jangan lupa siapkan tissue 🥰
Baru Up 3 Bab, semoga bisa terus up bahkan crazy up soalnya buku on going othor ada banyak nih after hiatus... Ngadi-ngadi emang othor satu ini... 🤭
Nih, Idol ciptaan Fellycia yang menggemparkan Negara S... Di buku baru S2 ini bakalan beda dari buku lainnya punya othor, ada bagian drama musikal sama komentar netizen ala-ala... semoga menghibur 🤗
Gas dukung kisah generasi ketiga, yuk mangat yuk!! Adegan baku hantamnya tetep di pegang Keenan CS kok, apalagi pas Daniel di bunuh! Aaahh gak sabar ngasih panggung lagi buat trio ubur2...
Klan kesayangan banget sih ini 🥰
Di CS udah sampe nyeritain Greicillia, nah... Nanti gabung Greicillia bakalan satu buku di S2 ini dia ada skandal juga ama sepupu yang tak lain Jade Adamson, putranya Karennina 😅
Tenang, Bapack Keenan ini ogah kalah saing ama anaknya. Anaknya lahirin anak kembar dia juga hamilin biniknya lagi... Kiyoshi Kaviandra juga udah toddler di CS bareng ama anak Keano 🤭
Jangan lupa langsung Subs, biar gak ketinggalan update terbarunya. Dan jangan lupa juga apresiasinya biar othor semangat terus update... 🥰
Selain S2 dari cerita Keenan... Ada cerita baru update juga, lumayan udah 13 Episode bisa gaspol!!
Naluna Maharanni comeback gaes!!
Yang bosan cerita tegang apa menguras air mata... silahkan kemari bisa ngocok perut, I guess... 😅
Di novel ini Keenan ama Sam bakal ikut di episode akhir-akhir...
Pernah dibahas kan, sebelum othor ciptain Klan Kaviandra. Ada Klan Emperor dan Long yang menghiasi hari othor wkwkwk
Setting cerita di dua negara, S ama +62 dibikin fiktif aja biar gak musingin. lagian cerita ini fiktif juga sih, hehe...
Yang suka kisah after merried, kontrak pernikahan, nih cucok... Tetep ada CEO dingin bla bla bla, tapi di bawah kaki Hyuna alias Luna dia mleyot bahkan yang ada disiksa, cowok diperkosa sama cewek wkwkwk
Cuplikan beberapa Bab :
Disclaimer : Banyak umpatan kasar loh ya, jadi harap maklum...
-----
"Weiiits, itu mata apa kacang walnut... Wakwakwak..." Rekan kerja sekaligus satu-satunya sahabat yang Luna punya langsung mencerca setelah kedatangannya. Luna mencoba abai dengan menarik kursi kerja tidak peduli pada hinaan rekan kerja satu langkahnya itu.
"Cieee... Habis nangis ya? Iya! Habis berantem ya? Iya! Habis putus ya? Iyaaa!!" Mulut Sandra memang tidak ramah lingkungan. Luna kembali berbalik menatap jengkel sahabatnya dan mencubit bahunya dengan keras.
"Aaarrkkk! Sakit Nyet!!" umpat Sandra kesal menggosok lengannya.
"Tau rasa!!" rutuk Luna kembali ke alamnya dengan wajah yang bringas.
"Makan nasi perut ampe begah, selamat pagi ayo kita ghibah!!" Sandra kembali usil mendekati Luna. Mereka berdua memang tidak memiliki kata kapok dalam hidup.
"Jadi? Beneran lu berantem ama Kang Mas lu?" Sandra kembali normal dan bertanya dengan nada serius menarik kursi bersiap memakan kuaci mendengar penuturan sahabatnya.
"Huh!" Terdengar helaan nafas panjang dari mulut Luna, dia berbalik dan menatap sendu sahabatnya. "Gue putus huampp!!"
__ADS_1
"Ini kantor bangsat, ngapain lu mo nangis jerit kek anak setan!!" Sandra lekas menutup mulut sahabatnya yang bertingkah sebelum mereka terlihat memalukan di hadapan para pegawai lainnya. Beruntung Luna segera menghentikan aksinya, dia mengangguk mengerti atas sikap Sandra. Dia kembali bersiap mengatakan kesedihannya. "Semalam gue putus... Hiks..."
"Dih, ga percaya gua… Gue jamin besok lusa lu pasti comeback with epic moment as always!" cibir Sandra mengejek dengan raut wajah kesalnya.
"But, this is really ending for us... Huhu!"
"Berisik nyet gak pake nangis!! Gak sayang make up lu, luntur noh!!"
"Eh iya bener, make up gue mehong cin..." Luna menarik tissue di hadapannya dan segera menyeka air matanya yang begitu mudah keluar.
"Alasannya apa sekarang? Hah? Jangan-jangan ada cewek lebih seksi, lebih gemoy, atau ada yang lebih gak tau diri dari elu ye?!"
"Anjg!!" Luna segera memukul bahu sahabatnya. "Pengen banget dari tadi gue sumpal mulut lu itu pake bon cabe level lima puluh!!"
"Hi ilih... Buruan karena apa, bentar lagi meeting coeg!"
"Tar... Tar... Gue minum dulu, haus!" Luna menarik botol air mineral dan menenggaknya. Sandra membuka mulut tidak percaya, bisa-bisanya Luna menjeda ghibah mereka.
"Gue mau nyanyi deh, biar lu tau apa masalahnya." Luna kembali menyambung kalimatnya.
Sandra melongo tidak percaya dengan kelakuan sahabat limited edisongnya itu. "Lu saraf anjir!"
"Namun ternyata, pada akhirnya, tak mungkin bisa kupaksa… Restunya tak berpihak pada kita~”
“Nyesel gue denger cerita lu!” Sandra melengos pergi tidak ingin lagi peduli pada sahabatnya yang gak punya otak itu.
“Ih gue dua rius nyet, dengerin gue…” Luna menarik kembali tangan Sandra menghentikan langkah kaki sahabatnya. “Ortu Mas Dira gak restuin gue! Hiks…”
“Anjay, jijaaay… Seriously? Di zaman Kylie Jenner ini masih ada penganut faham Siti Nurhaliza?”
“Siti Nurbaya, tholol!” Luna menoyor kepala sahabatnya kesal, disaat mereka serius temannya itu malah mengajak bercanda!
***
“Sorry, aku lupa mengatakan nama asliku!” Pria itu mendekat menjadi penengah diantara Luna dan pelayan restoran. “Nama panjangku memang Mahessa Adhyatama, tapi… Ibuku selalu memanggilku dengan panggilan kecil Essa…”
Luna masih dalam keadaan syoknya, untung dia menggunakan seperangkat alat penyamaran yang menutupi ekspresi noraknya saat ini, sehingga si pria tidak akan bisa melihat kondisinya. Mahessa menundukkan wajah dengan kekehan lirih namun terasa renyah di telinga Luna.
‘Oh Tuhan, dia ketawa gitu rahimku bergetar…’ seloroh Luna tidak tahu diri.
“Mahessa…” Pria tampan itu menjulurkan tangannya begitu saja dan mengajak Luna berkenalan.
“A-luna… Atau panggil saja Luna…” Luna menjabat tangan Mahessa dengan ragu, gadis itu masih sibuk bermonolog dalam dirinya. ‘Demi langit dan bumi, demi apapun yang ada di dunia ini, gemetar aku…’
Mahessa tertegun, matanya membeliak menatap jabat tangannya. ‘Demi Tuhan, dia adalah wanita pertama yang bisa aku sentuh selama aku hidup, selain Ibuku tentu saja!’
Keduanya masih berjabatan tangan, mereka masih sibuk dengan pikiran masing-masing sampai pada akhirnya pelayan membuyarkan lamunan keduanya.
“Jika begitu, mari Tuan… Kami akan mempersiapkan hidangan anda…”
“Oh, i-iya…” Mahessa menarik tangannya perlahan, begitu pula Luna. Dia membuang wajah dengan tubuh yang sudah salah tingkah.
‘Tarik nafas perlahan Luna, gak lucu kalo kamu sekarang pingsan terus di bawa ke UGD. Sirna sudah delapan puluh jeti itu…’ monolog Luna kembali mencuri pandang pada Mahessa.
‘Ini sungguh rekor barumu, Mahessa. Aku tidak hanya tidak mual, aku bahkan menjabat tangannya. Superb!’ Mahessa mempersilahkan Luna jalan lebih dulu mengikuti pelayan ke ruangan yang sebelumnya dipesan olehnya.
“Ehm, Mahessa… Aku minta maaf, sepertinya aku pamit tidak bisa menemanimu lebih lanjut!”
Duaaar!
Setelah merasa di angkasa, perkataan Luna sukses membuat Mahessa jatuh dari ketinggian. “Why?” Mahessa langsung mencerca dengan aura dingin dan tidak sukanya.
“Ehm… Itu karena–” Luna bertingkah gelisah, dia menatap kiri dan kanan kemudian menatap nanar tepat di depannya.
“Apa aku bukan pria yang masuk kriteriamu?” tanya Mahessa terus mendesak Luna.
“Bukan!” Dengan cepat Luna menjawab dan kembali menatap Mahessa dengan gelisah. “Itu karena— Kamu… Kamu terlalu masyaallah buat aku yang astagfirullah!”
__ADS_1
“Pppffftt!” Mahessa menahan diri untuk tidak terbahak, tapi sial… Ini terlalu lucu untuknya. “Hahahaha…”
***
“Hah?”
Mahessa mengernyitkan keningnya, dia juga menatap wajah Luna dengan tatapan kebingungannya. “Memuaskanku? Memuaskanku dalam hal apa?” Dengan hati-hati Mahessa bertanya pada Luna.
Suasana malam yang semakin sepi membuat keadaan mereka semakin syahdu. Berbicara perlahan saja mereka bisa dengan jelas mendengarnya. Luna terdiam, dia menatap tak kalah penuh tanya pada Mahessa.
“Kamu bayar aku buat Open BO bukan?!” tanya Luna sengit.
“Tunggu!” Mahessa terlihat berpikir keras. “Apa itu Open BO? Business Operation?” Mahessa bertanya dengan mimik wajah tidak tahunya.
“Apa?” Luna terbelalak. “Hahahaha!!” Secepatnya Luna tertawa seperti orang gila. “Jangan bilang kalau kamu gak tau apa Open BO?”
Mahessa menggeleng perlahan dengan wajah polosnya. Luna menganga, super menganga. “Ini tidak mungkin!” lirihnya.
“Jadi, mengapa kamu mau membayarku delapan puluh juta? Uang itu untuk membeli tubuhku bukan? Kamu membayarku untuk menghangatkan ranjangmu? Seperti para pebisnis muda lain yang punya kuasa!”
Sekarang giliran mulut Mahessa yang terbuka lebar dengan pernyataan Luna yang blak-blakan. “Lalat noh masuk!” Luna menutup mulut menganga Mahessa dengan cepat.
***
“Ya Tuhan!” Luna memekik membuat Mahessa terkejut saat dia melucuti pakaiannya.
“Kenapa Sayang?” Mahessa menghentikan gerakan mendekati Luna dengan wajah khawatirnya.
“Punya kamu gede banget!” Luna tiba-tiba menelan ludah serat membuat Mahessa tersipu malu dengan pujian Luna.
“Apa kamu tidak suka yang besar?” goda Mahessa melanjutkan langkanya mendekati Luna.
Tubuh Luna refleks beringsut mundur, degup jantungnya kembali berpacu dengan adrenalin yang sudah terpancing keluar.
“Suka…” lirih Luna menjawab, dia segera merubah mimik wajahnya menggoda Mahessa. Dia juga nekat melakukan tindakan tidak tahu dirinya. Dia tidak peduli jika Mahessa akan menghina dengan mengatakan dirinya bak ja-lang. Toh, niat awal dirinya mengenal Mahessa untuk memberikan pelayanan padanya.
“Kamu mau ngapain, Sayang?” Mahessa menunduk mengusap kepala Luna yang sudah berada tepat di sampingnya.
Pada dasarnya, Mahessa sama sekali tidak tahu menahu aktivitas ranjang yang panas. Selain tidak berminat, dia berpikir bahwa kemungkinan dirinya mengidap penyakit impoten. Berbanding terbalik dengan Luna yang sudah sangat mahir. Hasil berpacaran dengan Adira membuat Luna bisa seliar saat ini. Dia melakukan pemanasan dengan aksi seperti memakan es krim pribadi milik Mahessa, setelahnya Mahessa tak kuasa menahan gelora gairahnya.
“Kamu bisa gak sih!” Luna merutuk kesal pada Mahessa yang sudah dua menit tapi tidak terjadi apapun dengannya.
“Maaf Sayang, ini susah masuk!” Dengan polosnya Mahessa berujar apa adanya. Benda itu memang terlalu besar di hole Luna yang terlihat begitu sempit.
Tiba-tiba saja gairah Luna menurun drastis dengan kekonyolan Mahessa. ‘Apa aku sudah menyelamatkan galaksi antariksa sampai harus menemukan pria seperti Mahessa? Sekelas Adira Bajingan aja dia tahu harus bagaimana melakukan unboxing!’
Dengan kesal Luna kembali bangkit, wajah Mahessa berubah pucat pasi seketika. “Apa kamu marah? Ini pengalaman pertamaku, jadi mohon maaf aku benar-benar amatiran!” cicit Mahessa lemah dan terasa memalukan.
Bayangkan saja, seandainya Luna tahu sifat asli Mahessa saat bersama lawan jenis lain, bahkan di depan para kolega serta pegawainya. Pria itu adalah pria dingin, diktator, dan angkuh. Tapi, di hadapan Luna pria itu seperti pria cengeng yang tidak berdaya.
Dengan wajah kesalnya Luna mencebik. “It’s okay… Sekarang, mari aku perlihatkan padamu… Cara bersenang-senang!”
“Arrgh!” Mahessa memekik terkejut saat wanitanya beraksi. “Apa kamu akan memperkosaku?” imbuhnya konyol.
“What?!” Luna semakin sakit kepala, dia berhenti bertindak. Dia merasakan semua naskahnya salah kali ini. Harusnya, dia yang berkata seperti itu. Sekarang, Luna merasa dirinya yang haus akan sentuhan dan memaksakan kliennya, sungguh di luar Nurul!
Luna sempat menatap tajam Mahessa, pria itu tersentak sejenak. ‘Mata itu! Aku seperti pernah melihatnya…’
“Gini ya Oppa Sayang, kita sedang transaksi esek-esek. Jangan pula kau bilang aku perkosa kau!” Luna merubah intonasi suaranya seperti teman Medannya. “Ini namanya suka-sama-suka, apa kamu berubah pikiran, sekarang?!”
“Tidak!” Dengan cepat Mahessa menjawab, wanita memang makhluk yang tidak bisa dicari jawabannya oleh logika. “Lakukan apa yang ingin kamu lakukan padaku, Sayang!” tuturnya menggoda dan menarik wajah Luna meminta sebuah ciuman.
“Sudah sampai, Mba!” Suara tenor si supir membuyarkan lamunan Luna yang sedang memutar kembali rekaman aksi bejatnya menghilangkan keperjakaan anak lelaki orang.
“Oh, iya… Ini!” Luna memberikan uang berwarna merah sebanyak tiga lembar.
“Wah, Mba… Kelebihan ini mah!” tukas si supir merasa girang namun tertahan.
To be continued...
__ADS_1
Seruuu gak? Cus langsung buka bukunya buat baca selengkapnya. See you and thank you 🥰