Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 108 # Pacar Satu Rumah


__ADS_3

Setelah adegan termehek-mehek kedua sejoli yang masih dilanda kasmaran akhirnya bergerak membersihkan dirinya. Keenan selalu senang memanjakan Farah semenjak dua menjak. Farah semakin merasa berat untuk meninggalkan semuanya.


“Kak… Aku malu!” rengek Farah saat Keenan menjulurkan tangannya untuk mengajak kekasihnya keluar kamar bersama. “Masa iya, baru umumin udah berani sekamar?”


Keenan memaksa menarik tangan Farah dan merengkuh tubuh kekasihnya. “Aku jamin tidak akan ada orang yang berani mempermasalahkan kita sudah tidur bersama atau tidak!”


Farah mengatupkan bibir dengan rona wajah yang memerah seperti kepiting masak. “Aku sungguh tidak percaya, Tuhan mau memberikanku pengalaman hidup seperti ini… Aku seperti sedang bermimpi… Jika iya, aku tidak ingin terbangun!”


Keenan memeluk erat Farah yang tiba-tiba kembali sendu. “Sayang, kamu tidak sedang bermimpi… Bukankah ini yang kamu inginkan selama ini? Jangan pernah mengacaukan hadiah yang sudah Tuhan persiapkan untukmu.”


Farah mengangguk mengerti, dia tersenyum dan keduanya telah siap keluar kamar bergegas menuju ruang makan.


“Cieee… Baru umumin status aja udah langsung auto nempel kek hansaplast!” Karen sudah menyambut kedatangan kakak dan kakak iparnya. “Ah iya, aku punya nyanyian yang cocok buat Kakak Iparku Zheyeeeng~”


Farah mencibir lirih dengan kelakuan sepupunya itu. Keenan sudah menggelengkan kepala dan menarik kursi untuk calon istrinya. Tuan dan nyonya besar ikut menyambut dengan senyuman bahagia mereka.


"Pacarku memang dekat, lima langkah dari kamar... Hasek.. Haseeek!" Karen melantunkan lagu yang cukup populer pada masanya. Farah membuka lebar mulutnya tidak percaya dengan provokasi Karen saat ini.


“Kauuu!” Farah mengumpat kesal, bagi keduanya tidak akan ada lagi kecanggungan di tiap harinya. Berduel dan beradu mulut dengan kasar adalah jalan ninja mereka. Seluruh anggota keluarga sudah sangat mengetahui itu, termasuk Keenan. Pria itu dengan santai menyesap kopi hitamnya, hanya mampu menggelengkan kepalanya.


"Kalau rindu bertemu tinggal nongol depan pintu. Tangan tinggal melambai sambil bilang helo sayaaang~" Karen kembali bersenandung dengan akting mengejeknya. Dengan cepat Farah bangkit dan mencoba menghampiri adik iparnya itu.


“Kareeen!”


"Hahaha..."


Tawa keras pecah satu ruangan melihat kelakuan duo keong racun Kaviandra. Sepagi ini mereka kembali membawa kebahagian sebelum memulai hari mereka.


“Duh aduh memang asiiik, punya pacar serumah! Biaya apel pun irit nggak usah buang duiiit~” Karen menghindar tiap kali Farah mendekatinya, dia terus bersenandung sumbang membuat kepala Farah ingin pecah rasanya.


“Sini kau ya!!” Umpat Farah tidak ingin kalah. “Aku akan membuat kamu menghilang dengan kekuatan infinity thanos!”


Keenan terbahak menutup erat kedua matanya, tidak ada lagi gadis serandom Farah Lee didunia ini.


Karen menjulurkan lidah dan terus menyelesaikan kidungnya. "Gak ada malam mingguan, malam apapun sama... Tiap hari berduaan merenda cinta yang mesra~"


"Tidak usah ditelpon... Kalau kangen, langsung jalan… Nggak pake sms-an... Satu langkah, langsung nempel~" Karen mengerling semakin memuat emosi Farah memuncak.


“Aarrghh! Hahaha…” Keduanya tertawa bersama, Farah memeluk erat kakak sepupu yang kini berubah status menjadi adik iparnya. Karen memeluk erat Farah. “Aku bahagia, jika kamu bahagia!”


Semuanya tertegun, keduanya kembali duduk seperti sedia kala. Karen melengkungkan senyuman tulusnya. “Congratulations Besties… Your dreams come true!”

__ADS_1


Farah menunduk malu dengan ucapan Karen. “Ya… Tidak ada hal lain yang aku inginkan selain bisa hidup selamanya di samping Kak Keenan… Aku sangat-sangat mencintainya!”


Keenan berbalik badan dengan netra yang sudah berkaca. “Farah…”


Semua orang kembali merasakan atmosfer yang membuncah perasaan mereka. Nyonya Lyn sudah mengatupkan bibirnya dan menjatuhkan air matanya. “You’ll deserve it…”


Dengan cepat Keenan menarik tubuh gadisnya dan mencium pucuk kepala Farah penuh cinta. “I love you too, Farah. More than you can see!”


Karen sudah ikut menangis memeluk ibunya. ‘Selalu ada pengorbanan disetiap keinginan… Kamu harus bahagia Farah…’


Semua orang kembali dengan sarapan pagi mereka yang sudah terlambat. Farah mendadak tidak berselera makan, dia bahkan kembali merasakan mual mendera perutnya. Sekuat tenaga gadis itu tidak melakukan gerakan mencurigakan. Hanya saja, siapa yang bisa menyembunyikan sesuatu dari Keenan?


“Apa cream soup itu tidak enak?” tanya Keenan dingin.


Farah tersentak, ucapan Keenan membuyarkan lamunannya. “Tidak…”


“Lalu, apa kamu ingin menggantinya dengan yang lain?”


Pertanyaan Keenan sungguh membuat suasana hangat kembali mencekam. Inilah hal yang tidak disukai Karen dari kakaknya. “Kak!”


“Aku akan makan!” sahut Farah segera menyendokkan cream ke dalam mulutnya segera.


“Tidak perlu dilanjutkan jika tidak senang!” Keenan bangkit dan segera menarik tangan Farah.


“Kak, jangan terlalu keras padanya!!” Karen bangkit kembali mencerca kakaknya.


“Apa kamu lihat Kakak kasar padanya? Kakak iparmu ini hanya terus mengaduk soupnya. Itu artinya dia tidak suka. Aku akan membelikannya sarapan lain!”


Setelah mengutarakan maksud hatinya, Keenan bergegas menarik Farah sedikit kasar keluar dari kediaman. Ingin rasanya Karen melerai dan tidak membiarkan Farah ikut serta dengan kemauan sepihak kakaknya. Hanya saja nyonya Lyn menahan tangan putrinya.


“Maaa!!”


“Biarkan saja, mereka sudah besar tidak perlu juga kita khawatir berlebihan!” jawab nyonya Lyn mengulumkan senyuman.


“Tapi, Ma… Entah mengapa aku merasakan firasat tidak enak! Mereka saja sudah sekamar bersama… Apa Mama tidak melihat kondisi tubuh Farah sekarang?” Karen terus mencerca orang tuannya. Sungguh, perasaannya semakin tidak nyaman saat ini.


“Haish… Kita semua sudah tahu, jika pun terjadi sesuatu, bukankah Keenan sudah bertanggung jawab akan menikahi Farah!” Tuan Kaviandra ikut menenangkan putrinya. Dia sendiri mengerti kekhawatiran putrinya, bagi Karen, Farah adalah sahabat serta adik kesayangan yang selalu bersama selama hampir separuh usia mereka.


“Lagipula, jika Farah hamil, Mama senang tidak perlu menunggu lama menjadi Oma!” timpal nyonya Lyn berkelakar.


“Mamaaa!!” Karen menghentakkan kaki kesal di hadapan orang tuanya. Keduanya hanya merespon dengan kekehan dan gelengan kepala mereka.

__ADS_1


“Karen, hari ini kita akan melakukan pemindahan kantor Suho milikmu…” Tuan Kaviandra kembali mengingatkan putri mereka.


Karen mengangguk mengerti, dia kembali duduk di tempatnya. Semalam, mereka mendapatkan titik terang atas hubungan Karen dan Erick. Mereka sepakat untuk melakukan masa percobaan sebelum menjadi menantu Kaviandra. Karen harus menerima kenyataan namanya dicopot dari hak waris Kaviandra, hal itu bertujuan untuk melihat kesungguhan hati calon menantu mereka. Karen setuju dan akan mengatakan secepatnya pada Erick, dia yakin prianya mencintainya apa adanya.


***


“Kak…” lirih Farah saat Keenan mencium dan menji-lat jemari tangannya. Keenan juga memainkan cincin yang dikenakan Farah.


“Apa yang kamu inginkan?” tanya Keenan langsung pada gadisnya. “Tumben kamu tidak menyukai makanan di kediaman. Kamu sakit?”


Farah menggeleng, sedari tadi dia memutar otak untuk mencari alasan yang tepat. “Aku cuma kepikiran burger… Rasanya kediaman terus memberikanku cream soup aku bosan!”


Keenan terkekeh dengan jawaban Farah yang manja. “Kamu begitu senang dengan makanan sampah seperti itu, hm?”


“Itu bukan sampah, itu mood booster!” rutuk Farah lirih mengerucutkan bibirnya.


Keenan membanting kembali kemudinya, dia menuju salah satu resto cepat saji yang buka dua puluh empat jam. Tak menunggu lama mereka sudah sampai di bagian drive-thru. Dengan riang gembira Farah menginstruksikan menu makanan yang dinginkan. Tak perlu waktu lama keduanya sudah menerima makanan mereka. Keenan menatap lekat gadisnya yang tengah berbinar dengan Egg and Cheese Muffin miliknya.


"Kakak mau?" Farah menyodorkan makanan di hadapan Keenan.


Keenan tidak menjawab dia hanya fokus pada jalanan. Farah merasa diacuhkan, setelah merutuk lirih gadis itu tidak peduli. Dia memakan sarapan kesiangannya dengan riang. Keenan menatap sejenak saat mereka berada di lampu merah.


“Mmmph!” Farah terbelalak, Keenan mencuri makanan langsung dari mulutnya.


“Aaark, Kak… Itu kan bekas kunyahanku!!” rutuk Farah tidak terima.


“Aku tidak masalah dengan itu!” jawab Keenan acuh.


Farah membuka mulutnya takjub. Keenan tersenyum, tiba-tiba saja dia memiliki ide gila saat ini. "Suapi aku lagi!"


"Tadi di tawarin gak mau, sekarang min─"


“Cepat!”


Belum selesai kalimat yang Farah lontarkan, Keenan sudah menginterupsinya. Dengan cepat dan terpaksa Farah menyodorkan burger kesukaannya.


“Aku mau dari mulutmu!”


Wajah Farah berubah merah padam, Keenan merasa puas sudah mengusili kekasihnya. “Cepat!!”


Dengan patuh dan terpaksa Farah menyodorkan bibirnya. Keenan memakannya dengan riang gembira. ‘Tidak pernah hariku sebahagia ini, Sayang! Mengusilimu juga salah satu mood boosterku!’

__ADS_1


--- To be continue ---


__ADS_2