
“Lee!”
Tuan Wei kembali mencari asisten khususnya. “Berikan berkas wanita ini padaku sekarang!”
Farah menelan salivanya, dia tahu tidak berguna menipu dengan identitasnya. Tapi, dia tidak ingin menyerah, dia berusaha memutar otaknya yang kecil agar bisa bebas atau setidaknya tidak terlalu menyusahkan Keenan kedepannya.
Asisten Lee mengerti dan berjalan mendekati tuannya dengan beberapa dokumen di tangannya. “Ini, Tuan!”
“Bagaimana status pemeriksaan darahnya?” Tuan Wei kembali mengingatkan asistennya akan tujuan utama mereka.
“Sebentar lagi hasilnya keluar, Tuan!”
Tuan Wei mengerti, dia mengangguk dan membaca dokumen di tangannya. “Farah Lee”
Pria separuh baya itu kembali menyelisik ke arah Farah berada. Dia memang seperti mengenali gadis itu sekilas dari wajahnya. “Kamu anak angkat keluarga Kaviandra? Kamu menyukai Kakak angkatmu sendiri? Haha…”
“Aku sungguh terganggu dengan wajahmu!” Akhirnya tuan Wei menyerukan suara hatinya yang tidak nyaman sedari tadi. Semua orang sontak terkejut, bahkan Farah sendiri tidak menyangka mendengar sesuatu yang membuatnya ikut berpikir jauh. ‘Aku pun demikian, aku seperti pernah melihat wajah ini!’
"Apa dia satu Klan denganmu Lee?" Tuan Wei menatap tajam asistennya. Asistennya hanya merespon dengan senyuman.
"Tentu saja tidak, ada jutaan keluarga Lee di dunia ini!" hardik asisten Lee cepat. "Tapi, gadis ini─" Asisten Lee menatap lekat wajah Farah. “Kita sudah pernah membahasnya, dia adalah putri sulung Lee Choi." sambungnya membuat mata Farah terbelalak.
Deg!
'Dari mana dia tahu nama Papa?!' batin Farah semakin gelisah tidak karuan. Bukan pasal nyawanya namun ada hal lain mengenai kematian ayahnya yang masih mengganjal dirinya.
“Ah, iya! Hahaha…” Tuan Wei kembali tertawa keras menertawakan kebodohannya dalam mengingat. "Heh, sungguh ironis!" pekiknya menghentikan tawa besarnya.
"Lee Choi, ya?” Tuan Wei menangkap kegelisahan di wajah cantik Farah. “Apa kamu tidak penasaran? Siapa sebenarnya yang membunuh ayahmu? Hm?!”
Deg!
Lagi dan lagi, jantung Farah seperti lepas dari tempatnya saat ini. Kedua matanya membulat sempurna. Bagaimana mungkin mereka mengetahui pasal kejadian delapan tahun yang lalu itu? Kejadian yang bagai mimpi buruk bagi keluarga besar Lee.
“Aku ingat, kasus pembunuhan yang terjadi pada keluarga Lee di Negara B, ditutup begitu saja. Benar?” Tuan Wei sungguh sangat bersemangat kali ini.
Farah tidak bergeming dari posisinya, dia semakin mengatupkan bibirnya, air matanya masih terus berderai tak ingin menyudahinya.
“Aku ingat dengan jelas, pria itu menembak ayahmu tepat di jantungnya!” Tuan Wei kembali membangkitkan kembali mimpi buruk Farah selama ini yang selalu dia simpan rapat di alam bawah sadarnya.
#Flashback Farah kecil,
Di sebuah gedung salah satu perusahaan besar bernama Leeshan, seorang gadis kecil tengah memekik menggaungkan nama besar ayahnya dan mencari keberadaannya. “Papaaa!!”
“Nona Muda, jangan berlarian!” Sang sekretaris ayahnya mendekat dengan senyuman yang mengembang di wajahnya. “Tuan sedang melakukan rapat… Mari, kita menunggu di ruangannya!”
"Pft!" Farah merenggut kesal dan mengerucutkan bibirnya menggemaskan. "Aku hanya ingin menunjukkan nilai ujianku!" sambungnya berdecak sebal. "Aku dapat nilai A+, apa mungkin Papa akan mengajakku bermain sepuasnya di taman bermain?" Farah mendongak bertanya pada sekretaris ayahnya yang selalu menyambutnya dengan hangat.
“Tentu saja, Nona!” Sang sekretaris begitu gemas pada tingkah laku nona kecil mereka. Dia mengacak poni Farah yang membuat wajah gadis kecil itu terlihat begitu imut.
Tak lama sekretaris tuan Lee membawa Farah menuju ruangan Presdir, disana Farah menunggu ayahnya dengan patuh tanpa banyak tingkah.
"Hai, Sweetie Pie!" pekik tuan Lee setelah melihat keberadaan putrinya. "Apa ada yang bisa saya bantu, Nona?" imbuh tuan Lee membuat dirinya terlihat seperti pelayan di depan putrinya.
“Papaaa!” Farah menoleh dan memekik seketika. Dia melompat turun dari kursinya segera memeluk ayah yang paling disayanginya. Konon katanya, seorang ayah adalah cinta pertama anak perempuannya.
Tuan Lee sudah merentangkan kedua tangan dengan membungkukkan tubuhnya. Farah meloncat memeluk ayah kebanggaannya. "Lihat nilaiku, Papa!" Farah menunjukan kertas ujiannya yang bertuliskan A+ besar membuat tuan Lee tersenyum lebar ke arah putrinya.
"Wuah! Kamu hebat, Sweetie!" pekik tuan Lee senang. "Setelah ini kamu akan menggantikan Papa menjadi Direktur Leeshan!" Tuan Lee gemas mencubit hidung mungil putrinya tanpa melukainya.
“Benarkah?!” Farah tak kalah antusias dengan pernyataan ayahnya.
"Tentu saja! Kelak perusahaan ini akan menjadi milikmu, Sayang."
"Hmmm..."
Farah terlihat seolah tengah berpikir keras, tuan Lee sempat bertanya dan saat Farah menjawab dengan kritis membuat pria paruh baya itu semakin bangga dengan putrinya. Dengan lantang Farah mengatakan jika dia menjadi direktur saat ini maka dia akan meliburkan seluruh karyawan karena dia akan membawa ayahnya pergi ke taman bermain sekarang juga. Tuan Lee terkekeh atas antusias Farah untuk meminta hadiahnya dengan tergesa.
"Baiklah Nona manis, tapi ijinkan hamba mengerjakan sedikit pekerjaan sebagai bawahan anda ya?" pinta tuan Lee berakting memelas di depan putrinya.
Keduanya terkekeh, tanpa waktu lama tuan Lee kembali menuju kursi kebesarannya dan menyelesaikan tugasnya. Sedangkan Farah bermain-main di samping meja kerja ayahnya ditemani asisten khusus tuan Lee.
__ADS_1
"Mr. K?" gumam tuan Lee saat menerima surel atau surat elektronik dari seseorang yang berinisial Mr. K.
Dalam suratnya mengatakan bahwa bisnis jaringan hitamnya dalam pengawasan orang itu. Tanpa diketahui oleh keluarga besarnya, tuan Lee memiliki bisnis di pasar gelap yang membuat perusahaannya bisa sebesar sekarang ini. Tuan Lee adalah pemasok persenjataan bagi beberapa pelaku bisnis lain di jaringan hitam termasuk didalamnya kerjasama dengan Huateng Group atau Black Shadow.
Dor!
"Aargghh!" Farah menjerit kencang dan berlari secepatnya ke arah dimana ayahnya berada.
"Sweetie, kemari!!"
Farah berlari memeluk tubuh ayahnya dalam ketakutannya. Tuan Lee mengusap dan menenangkan putrinya dalam pelukannya.
“Ada apa ini?” tanya tuan Lee pada asisten khususnya.
“M-maaf, Tuan… Di luar–” Asistennya memberikan kode pada tuannya, pasalnya ada anak kecil di antara mereka.
Tuan Lee mengerti maksud dari asistennya, dia menatap Farah lembut seolah tidak terjadi apapun saat ini. Dengan segera tuan Lee kembali menurunkan tubuh Farah.
"Papaa, apa itu? Seperti suara petasan besar!" cicit Farah ketakutan tak ingin melepaskan pelukannya.
"Iya, Sayang sepertinya ada orang iseng yang melempar petasan kemari!" sahut tuan Lee membual. "Sweetie, papa ada tamu penting. Sayangnya dia tidak suka anak kecil, kamu bersembunyi lebih dulu disini ya." Tuan Lee bersimpuh di depan putri kesayangannya. Pandangannya kabur menahan laju air matanya. Entah alasan apa hati tuan Lee terasa sesak seolah akan pergi jauh meninggalkan keluarga yang teramat di sayanginya, terlebih Farah.
"Sweetie, maafkan Papa belum bisa mengabulkan keinginanmu. Papa janji akan membayarnya lain kali, okey?" Tuan Lee menunjukkan jari kelingking sebagai tanda perjanjian antara ayah dan anak itu.
Farah sudah menangis dengan raut wajah takutnya, dia membalas menautkan kelingking kecilnya. Tuan Lee memeluk putrinya sebelum memasukkannya di bawah kolong meja kerjanya.
"Kamu adalah putri kebanggaan Papa, putri kesayangan Papa, kamu segalanya! Kamu akan jadi penerus keluarga Lee, jaga Adik dan Ibumu..." terang Tuan Lee panjang seolah tengah berpamitan.
"Mengapa Papa berkata begitu? Papa mau kemana?!" cicit Farah sendu menghapus air mata dengan tangannya.
"Papa─"
Brak!
"Lee Choi!!" pekik seorang pria lantang membuat keduanya terbelalak bersamaan.
Dengan terpaksa tuan Lee menghentikan ucapan sebelumnya dan segera menyuruh Farah berlindung di bawah meja saat ini juga. Tak lama, tuan Lee bangkit dari bawah mejanya menyambut tamu tidak di undangnya.
Tuan Wei berjalan dengan angkuh dan duduk di hadapan meja kerja tuan Lee. Di temani oleh eksekutornya Azlan mereka tengah mengintimidasi tuan Lee atas kesalahannya.
"Seminggu sudah berlalu!!" ujar tuan Wei tanpa basa-basi. "Dimana senjataku?!" pekiknya kemudian membuat Farah semakin mengeratkan pelukan pada kedua kakinya di bawah meja.
"Maaf Tuan Wei, kami kehabisan bahan baku... Diperkirakan akan kembali beroperasi di pertengahan minggu ini." sahut Tuan Lee berhati-hati.
"Ck!!" decak kesal tuan Wei menunjukan wajah tidak sukanya pada rekan bisnis mereka selama lebih dari satu tahun berjalan ini.
Syuut....
Prang!
Ketiganya terperanjat saat seseorang menembak salah satu dekorasi di ruangan itu hingga pecah.
"Well... Well... Well... "
Seorang pria yang diperkirakan masih begitu muda tiba-tiba menunjukan diri dengan topeng untuk menutupi identitasnya. Dia adalah Keenan muda yang baru terjun di jaringan hitam.
“Siapa kamu? Lancang sekali menyela urusan kami!!” Azlan sudah bersiap dengan senjatanya menargetkan musuh mereka saat ini.
"Kalian tidak perlu mengetahui siapa aku!” ucap Mr. K yang masih baru kencur itu dingin. “Hal yang perlu kalian ketahui adalah– Aku akan mencabut nyawa kalian sekarang sesuai pesanan klienku!"
Krak!
Deg!
Seluruh orang disana terutama tuan Lee semakin gelisah. Apalagi Farah masih berada di ruangannya. Glock yang di perlihatkan Keenan membuat tuan Lee terus memastikan Farah tidak keluar dari tempatnya.
'Sweetie, papa harap kamu tidak akan pernah menampakkan dirimu dari sana! Aku sungguh menyesal tidak membawamu pergi cepat sebelumnya.' batin tuan Lee terus memikirkan putrinya.
“Heh, menginginkan nyawa kami? Kamu sungguh lucu!” tukas tuan Wei mengolok balik Keenan muda.
Dor!
__ADS_1
Baku tembakan tidak terelakkan lagi, tuan Wei dengan cepat menarik pelatuk revolver miliknya menyerang Keenan. Begitu pula Azlan yang sudah menargetkan Keenan dengan glock miliknya.
Dor!
Farah kecil sudah sangat ingin menjerit di bawah meja, tapi dia begitu takut. Farah kecil semakin meringkuk dengan berusaha menutupi suara isak tangis di bawah sana.
"Faraah!!" Tuan Lee menunduk menghindari tembakan dan memastikan putrinya baik-baik saja.
Tuan Lee tidak pernah berpikir akan mengalami insiden seperti ini. 'Apa dia Mr. K? Dia bilang menargetkan kami?!'
"Faraah..."
"Papa... Farah takuut!!"
Dor!
"Aarkk!"
Farah menjerit kencang menutupi kedua telinga dengan tangannya. Tuan Lee kembali memastikan keadaan di sekitarnya, dia ingin menyelamatkan putrinya membawanya keluar dari dalam sana.
Tuan Lee takjub pada pria muda yang menyulutkan perselisihan, dia di serang dua orang sekaligus tapi masih bisa bertahan justru tuan Wei dan Azlan semakin terpojok.
"Farah sayang, maafkan Papa... Kamu janji ya, jangan pernah keluar dari sini sebelum Papa menjemputmu!"
"Pa… Pa… Hikss" cicit Farah dengan isak tangisnya. Walau masih kecil Farah sendiri tidak bodoh pada situasi mereka saat ini, Farah hanya terlalu takut.
Tuan Lee menahan sekuat tenaga laju air matanya. Keluarganya adalah kelemahan terbesarnya. "Papa janji setelah ini papa membawamu ke taman bermain ya... Patuh ya sweetie!"
Baku tembakan terus terdengar dengan jarak interval yang berdekatan. Beberapa barang sudah berjatuhan, kondisi ruangan sudah tidak bisa dijelaskan.
“Azlan! Kita akan kehabisan peluru sia-sia… Dia bukan lawan biasa, kita hanya bisa mundur!”
Tuan Wei kembali melakukan diskusi dengan anak buahnya, dia terus menatap ke arah Keenan yang sedang bersembunyi di balik pilar. ‘Apa mungkin dia adalah Mr. K? Pemain baru yang sedang marak diperbincangkan di jaringan hitam sebagai mesin pembunuh?’
"Azlan!" Tuan Wei memberikan instruksi dengan tangannya untuk keluar dari sana sebelum nyawa mereka melayang cuma-cuma saat ini. Azlan mengerti dia bersiap menjatuhkan gas air mata untuk membantu mereka keluar dari sana.
"Shiit!" Mr. K mengumpat kesal dengan tindakan mangsanya yang mencoba melarikan diri.
Tuan Lee merasa memiliki kesempatan membawa kabur Farah di tengah kepulan asap, suasana hening sejenak, dia pikir mereka tidak melakukan pergerakan. Tuan Lee bangkit namun sial, gerakan itu terbaca Keenan dan dia pikir tuan Lee adalah kelompok yang sama dengan target incarannya.
Dor!
"Aarrghh!!"
Bruk!
Sebelum tuan Wei melarikan diri bersama anak buahnya, dia bisa melihat dengan jelas. Musuhnya melayangkan tembakan yang ditujukan pada tuan Lee yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali.
"Fa... raah..."
“Papaaa!!”
Keenan muda terpaku mereset ulang sistem saraf tubuhnya saat mendengar teriakan seorang anak kecil di dalam ruangan.
"Mengapa ada anak kecil disini?" gumam Keenan menurunkan tangan memasukkan glock miliknya dengan perasaan campur aduk.
"Papaaa... Papaaa bangun... Papaaa!!"
Farah terus menjerit memanggil ayahnya di sela isak tangis yang masih terus keluar dari mulutnya. “Tolooong, seseorang tolong Papaku!”
"Fa.. rah..." Tuan Lee mengusap lembut wajah Farah dengan senyuman terakhirnya.
Keenan masih teramat lemas mendengarnya, baru kali ini misinya gagal di tambah dengan keberadaan seorang anak kecil, dia tidak tahu harus melakukan apa. Ingatannya berputar memikirkan adik kecil kesayangannya. Keenan berjalan perlahan mendekati meja kerja tuan Lee. Tuan Lee menyadari derap langkah Keenan, dengan sisa tenaganya dia berujar pada Keenan.
"Tu-an... To-looong... Ba-wa put-ri-ku… Per-gi─"
“Papaaa!!”
#Flashback off…
--- To be continue ---
__ADS_1