
Condominiums Royal Luxury, 07.00 PM.
"Aku pulaaang!!" Farah memekik sedikit nyaring, hanya saja dia begitu lelah dan mengabaikan pengurus Tang.
"Kamu baru pulang?" Paman Tang menghampiri dengan wajah khawatirnya.
Farah sangat jarang menunjukkan wajah yang kusut. Kali ini gadis itu seperti begitu berantakan, Farah sendiri bahkan sudah berlari menuju kamarnya mengabaikan pertanyaan pengurus kediaman.
"Ada apa dengan dia? Apa ada sesuatu?" Ingin rasanya paman Tang menghampiri gadis kecil kesayangan seluruh keluarga Kaviandra itu. Hanya saja, dia urung dan tetap berpikiran positif. Paman Tang berfikir mungkin saja gadis itu lelah karena kesibukannya.
"Biarkan dia istirahat saja kalau begitu..."
Sedangkan di dalam kamarnya Farah segera menjatuhkan diri di atas ranjang empuknya. Dia kembali terisak pilu jika kembali ingat bagaimana dia menghabiskan sisa penghujung waktu saat bersama Axcel. "Bagaimana jika Kakak sampai mengetahuinya!!"
Farah kembali menangis beberapa saat, hampir lima belas menit Farah menangis. Dia kembali bangkit dan berusaha membersihkan diri. "Aku tidak boleh seperti ini. Jika aku takut maka cepat atau lambat Kakak tentu curiga."
Farah telah selesai membersihkan dirinya, dia bergegas keluar kamar dan kembali dengan wajah cerianya. "Pamaaan, aku lapaaar!"
Farah menuju dapur, berharap ada sesuatu yang bisa memuaskan cacing di perutnya saat ini. Jenny memperhatikan Farah dengan tatapan sinis. Salah satu pelayan Condo itu tidak menyukai keberadaan Farah. Paman Tang keluar dari tempatnya dan membawakan Farah makanan yang sudah disiapkan sebelumnya.
"Apa kamu ada masalah?" Paman Tang segera bertanya pasal keadaan nona kecilnya.
"Ya, tasku ketinggalan... Aku meninggalkan ponsel dan yang lainnya di KTech!" Farah menunjukan raut wajah sedih di hadapan pengurus Tang.
"Aih, Paman kira kamu kenapa!" Paman Tang menarik kursi dan menemani Farah makan malam disana. "Paman akan menyuruh supir untuk mengambilkan semuanya."
"Terima kasih Pamaaan!" Farah kembali menunjukkan wajah cerianya. "Paman yang terbaik!!" Farah semakin lahap memasukkan makan malam ke dalam mulut setelah tujuannya tercapai.
"Tadi sore Tuan Keenan mencarimu... Ternyata ponselmu tertinggal. Kamu pulang sama siapa emangnya?"
Deg!
Perkataan paman Tang membuat wajah Farah pucat dan naf-su makannya hilang sempurna. "Kakak bertanya apa?"
"Kenapa kamu belum pulang sudah jam segini..."
Farah semakin pucat, dia menelan saliva serat membuat paman Tang mengerut keheranan. 'Apa perlu setakut itu?'
Ponsel paman Tang berdering, Farah mendelik dan bisa di ketahui bahwa siapa yang sedang menghubungi pria paruh baya di depannya.
"Farah, Tuan ingin berbicara..." Paman Tang menyerahkan ponsel pada Farah.
"Iya Paman..." Farah sedikit bergetar saat menerima ponsel. "Halo, Kak!"
"Dari mana kamu?" tanya Keenan ketus tanpa basa-basi.
"Aku ikut temanku... Aku lupa membawa tas─"
"Alasan!!"
Keenan menghardik penjelasan Farah yang memang sedang membual padanya. "Dengar Farah Lee, jika sampai aku tahu kebenarannya. Bersiaplah menanggung resikonya... Aku yang akan membawakan peti mati untukmu!"
__ADS_1
Tuutt!
Farah hanya mampu terdiam dengan ucapan Keenan padanya. Gadis itu segera menyerahkan ponsel pada paman Tang dan berencana kembali menuju kamarnya.
"Ada apa Farah? Apa Tuan Muda marah?" Paman Tang menyadari perubahan sikap anak asuh Kaviandra itu.
Farah menghentikan langkah kakinya, dia tersadar bahwa masih ada orang lain yang mungkin membahayakan posisinya saat Keenan datang. "Tidak, Kakak hanya menyuruhku istirahat! Oh iya Paman, jika tasku sudah datang tolong taruh di kamarku langsung ya... Aku juga benar-benar lelah dan ingin istirahat sekarang!"
Farah mengulumkan senyuman dan kembali berbalik meninggalkan paman Tang. Pengurus kediaman itu tahu bahwa Farah tengah membual. Sebelumnya, nyonya Lyn berpesan agar bisa menjaga Farah, sekalipun dari ancaman Keenan. Paman Tang merasa kebingungan untuk mengambil sikap saat ini, dia paling tahu perangai tuan mudanya. "Huh, mengapa sekarang aku berada di posisi yang serba sulit!"
Farah menatap lantai atas, hatinya menuntun dia untuk kesana. Setelah beberapa saat dia menaiki anak tangga, tepat di depan pintu kamar kakak sepupunya Farah tersenyum pedih. Dia mencoba membuka pintu, sialnya pintu terkunci. Padahal sebelumnya Farah bisa membukanya begitu saja. "Huh!"
"Apa yang sedang anda lakukan Nona?" Tiba-tiba suara seorang pelayan membuyarkan lamunan Farah.
Farah berbalik dan mengamati si pelayan yang bersikap dingin dan sangat jelas terasa bahwa pelayan yang bernama Jenny itu tidak menyukainya. "Asal anda tahu, area pribadi Tuan Muda tidak bisa sembarang orang bisa membukanya!"
"Oh ya?" Farah menatap handle pintu yang dipasang menggunakan smart lock door yang bisa dibuka dengan menggunakan tiga cara.
"Ya, jadi anda jangan mencoba peruntungan bisa memasukinya. Hanya Tuan Muda dan Pengurus Tang saja yang diijinkan memasuki kawasan Tuan Muda!" Jenny seolah tengah mengusir Farah dari sana. Bahkan sikapnya jauh lebih berani dengan bersedekap tangan di hadapan Farah.
"Heh," kekeh Farah tidak percaya ada pelayan yang berani mengomentarinya. "Aku tidak bisa masuk, ya?" Farah mendadak kesal, dia benar-benar mencoba peruntungannya. Farah mencoba membuka pintu menggunakan akses sidik jarinya, dan─
[ Access Granted! ]
Jenny terlonjak tidak menyangka, giliran Farah yang menyeringai puas. Ternyata dia benar, selama ini Farah memang bisa memasuki area pribadi kakak sepupunya. "Ups, ternyata Kakak membiarkan aku bisa membukanya!"
Farah mengejek kearah Jenny dan berlalu masuk kamar tidak ingin berlama-lama membuang waktunya bersama pelayan yang Farah yakini tengah iri padanya. Sebagai catatan, Farah dan Karen sangat tahu, baik di kediaman besar Kaviandra maupun di Condo. Beberapa pelayan mereka adalah wanita yang mengincar Keenan. Tak jarang mereka juga berasal dari keluarga yang mumpuni. Namun, memilih jalan menjadi pelayan demi bisa menggoda putra sulung Kaviandra tersebut.
Farah berjalan perlahan menuju ranjang milik kekasihnya. Senyum Farah mengembang dan kembali ingat bagaimana keduanya tiba-tiba bisa berhubungan dekat, Farah salah memasuki kamar dan sejauh ini, ini yang paling jauh. Dia sudah satu ranjang dan satu selimut dalam jarak yang sangat dekat bahkan tanpa jarak saling menyatu.
"Aku tahu, perasaan Kakak padaku semuanya semu semata." Tubuh Farah merosot di lantai yang beralaskan karpet tebal. Farah menjatuhkan air matanya, dia menutup mata erat dan memeluk tubuhnya. "Tapi, setiap kali Kakak memperlakukanku dengan lembut, disaat itulah hatiku semakin terjatuh!"
Farah kembali menangis, dia menopang kepala di lututnya. Perkataan kasar Keenan selalu menyakiti perasaannya, Farah tidak mengerti, bagaimana bisa Keenan begitu mudah membahas sebuah kematian seolah nyawa manusia itu tidak berharga sama sekali di mata pria hebat itu.
Senyuman itu, hanyalah menunda luka, yang tak pernah ku duga... Dan bila akhirnya kau harus dengannya, mengapa kau dekati aku... Kau membuat semuanya indah, seolah takkan terpisah...
"Papaaa... Ibu... Daniel... Aku merindukan kalian!"
Farah kembali dibawa mengingat kehidupan yang damai dibawah naungan keluarga besar Lee. Sebelum tragedi itu terjadi, Farah tidak pernah berpikir bahwa akan ada hari dimana kebahagiaannya hancur dalam satu malam. Keluarga Lee merupakan salah satu keluarga besar di negara B. Mereka hidup damai dan tentram, tuan Lee Choi begitu mencintai keluarganya. Terlebih Farah, dia menaruh harapan besar pada putrinya untuk kelangsungan bisnis Lee. Farah selalu dibawa kemanapun ayahnya melakukan perjalanan bisnis. Setiap kali Farah kesal, tuan Lee lah yang selalu berusaha membujuk putri degilnya yang ceria. Saking dekatnya ayah dan anak itu, kepergian tuan Lee yang tiba-tiba membuat Farah trauma selama bertahun-tahun lamanya. Kaviandra berusaha keras menyembuhkan luka Farah dengan menghadirkan keluarga yang hangat dan utuh pada gadis kecil yang mereka bawa untuk dirawat. Farah semakin deras menangis, hanya menangis yang bisa dia lakukan sekarang. Beberapa saat, Farah tertidur di lantai saking lelah tubuhnya, dia terjatuh begitu saja.
Ceklek...
Keenan mengetahui dari paman Tang, gadisnya berada di kamarnya. Dengan setenga emosi Keenan bersiap menghukum Farah karena sudah berani membuat pria itu mengetahui bahwa ponsel dan seluruh gadget pintar Farah tertinggal di KTech.
Keenan terdiam sejenak, menatap tubuh ringkih Farah yang meringkuk di lantai. Hatinya kembali nyeri, ternyata dia kembali keterlaluan kali ini. "Huh, aku sungguh lemah di hadapanmu..."
Keenan mendekat dan menggendong Farah memindahkan posisinya. Perlahan Keenan menaruh tubuh gadisnya yang dingin di atas ranjang empuk dan hangat miliknya. Keenan menarik selimut dan menutupi tubuh Farah. Tangan besarnya menyeka lembut air mata Farah yang tertahan di pelupuk matanya.
"Papaaa!!"
Deg!
__ADS_1
Keenan membeku, gadisnya tengah mengigau memanggil anggota keluarganya.
"Papaaa, jangan tinggalkan Farah sendiri... Papaaa... Papaaa..."
Keenan beringsut mundur, pandangan matanya kabur. Dia dibawa mengingat kejadian delapan tahun silam. Tubuhnya gamang, dia melihat Farah dalam pandangan delapan tahun yang lalu.
"Papaaa... Papaaa... Bangun Papaaa!! Tolooong... Kaaak, tolong Papaku... Dia berdarah!!"
Keenan menekan jantungnya, tak terasa air matanya jatuh tanpa ia minta. "Farah..."
Bila memang hatimu untuk aku, salahkah ku berharap, berharap kau memilih diriku... Cinta...
Keenan bergegas keluar dari kamarnya yang membuatnya sesak tidak bisa bernafas. Di ruang tengah Sam dan paman Tang setia menunggu titah tuannya.
"Tuan Muda!" Keduanya kompak menyambut kedatangan tuannya.
"Paman, jaga Farah... Aku akan kembali melakukan perjalanan bisnis." Keenan menautkan jasnya gelisah. "Pastikan dia selalu meminum vitaminnya, cuaca tidak bagus... Suruh Si Degil itu menggunakan sweater hangatnya..."
Paman Tang dan Sam tertegun dengan titah Keenan yang pelan, tapi cukup bisa didengar dan dimengerti tentu saja. "Baik Tuan Muda, saya akan pastikan menjaga Farah dengan baik."
Sam menatap sendu tuannya, lagi-lagi dia hanya berani bermonolog dalam benaknya. 'Saking khawatirnya kamu pada keberadaan Farah, kita kembali kesini. Padahal, tujuan kita adalah NY. Huh, apa kamu benar-benar mencintai adik angkatmu sendiri, Keenan!'
***
Keesokan harinya, Farah terkejut dia tidur di atas ranjang, padahal seingatnya dia terduduk di lantai. "Kakak!!"
Farah berpikir bahwa Keenan yang melakukannya, dia bergegas mencari keberadaan kakak sepupu rasa kekasih di area lain di dalam kamar. Sayangnya, Farah tidak menemukan keberadaan Keenan di dalam kamarnya. Farah membersihkan dirinya terlebih dahulu dengan buru-buru. "Mungkin Kakak menunggu di meja makan!!"
"Kakaaak!!" Farah sudah berteriak sepagi ini dan menghebohkan seisi kediaman. "Kakaaak, where are you~"
Farah berlarian kecil menuruni tangga dan langsung menuju ruang makan. Pencariannya kembali nihil!
"Pagi Farah, kamu sudah bangun?" Pengurus Tang menyambut kedatangan Farah dengan membawa nampan yang berisi sarapan untuk nona kecilnya.
"Kakak mana? Semalam dia pulangkan? Kenapa dia terus meninggalkanku!!" Farah tidak menjawab pertanyaan paman Tang sebelumnya. Dia memilih mencerca pengurus kediaman tentang keberadaan kekasihnya.
"Ckck, Tuan Muda memang pulang semalam... Tapi, dia bilang masih ada pekerjaan lain di luar negara. Jadi, dia sudah tidak ada lagi disini!"
Farah terpaku lemas, dia menunduk dengan kekehan. Ternyata Keenan memang spesies pria yang begitu sulit dijinakkan. 'Heh, aku pikir dia benar-benar akan membunuhku semalam!'
"Paman sudah menyiapkan sarapan yang diperintahkan Tuan. Kamu harus makan, makanan yang sehat dan minum vitaminmu!" Paman Tang menaruh sup asparagus dengan roti panggang kesukaannya.
Farah tersenyum bahagia, ternyata Keenan bisa juga melakukan hal romantis tanpa disadarinya. "Terima kasih Paman..."
Paman Tang membalas senyuman Farah, pria paruh baya itu juga menaruh tas milik Farah di sampingnya. "Tuan juga berpesan, jangan pernah kamu melupakan barang-barang ini!"
"Heh," Farah terkekeh saat melihat ponsel dan jam tangan pintarnya. 'Aku sungguh terlihat seperti burung pipit dalam sangkar.'
"Baik Paman, setelah ini antarkan aku ke KTech ya..."
Paman Tang melebarkan senyuman, walau sejujurnya hatinya bertanya-tanya akan perubahan sikap Keenan yang cukup signifikan. Bahkan, paman Tang merasa perhatian tuannya melebihi perhatian Keenan pada Karen yang merupakan adik kandungnya. 'Apa mungkin Tuan benar-benar jatuh cinta pada Farah. Apa hal ini baik, atau sebaliknya... Apa yang harus aku katakan pada Nyonya Besar... Haisssh...'
__ADS_1
--- To be continue ---
Credit of song : Maafkan Aku Terlanjur Mencinta by Tiara Andini.