
Seperti biasa, Keenan sudah merasa puas dalam menyelesaikan gejolak hasratnya. Dia tersenyum melihat gadisnya yang terlelap di sofa, dia mengecup kening Farah mesra. "Kamu begitu lemah, tiap kali kita bercinta, kamu selalu pingsan!"
Keenan memperbaiki tampilannya dan kembali menuju meja kerjanya. Hari ini tidak biasanya ada satu pesan masuk di jaringan hitam. Keenan menaikan sudut bibirnya saat membaca pesan pelelangan di pasar gelap negara bagian SF. Sudah sangat lama Keenan mengincar lahan yang berada di gold triangle tersebut.
"Kebetulan yang sangat menguntungkan!" Keenan menghubungi asisten pribadinya yang sudah babak belur.
Tuuut!
"Iya Tuanku!" sapa Sam dengan wajah lelah dan nada yang lemah.
"Baru aku perintahkan sebentar mengganti posisiku, sudah merasa lelah? Kamu sungguh lemah, bagaimana kamu bisa menggeser posisiku, hm?" Keenan segera mengejek sahabat sekaligus orang kepercayaannya.
"Ck, kamu kira sendiri!" Sam mengumpat sebal atas perlakuan tuannya yang pilih kasih sekarang.
"Heh, persiapkan jet siang ini. Kita akan terbang ke SF sekaligus memeriksa adikku. Aku akan ke kantor dalam waktu setengah jam lagi!"
"Hah?! Tung─"
Tuuut!
"Aaash, shibaaal!" rutuk Sam ingin rasanya melempar ponselnya. "Haaissh!"
"Dia tidak tahu apa aku belum mandi!"
Keenan menutup ponselnya sepihak, dia terkekeh begitu senang mengusili anak buah terbaik dan paling setia di sampingnya. "Kamu selalu mengutukku di belakang, kini rasakan!"
Keenan beranjak dan berencana membangunkan gadisnya. "Honey, wake up!"
Farah mengulat malas, dia juga melingkarkan kedua tangan di bahu prianya. "Capeee~"
__ADS_1
"Kamu sangat manja sekali!" Keenan menggendong kekasihnya dan berniat membersihkan tubuh Farah yang lengket.
Tak berapa lama keduanya telah bersiap dengan tampilan yang sudah semakin segar dan rapi. Perasaan Keenan semakin di campur aduk selama dia tinggal bersama gadisnya. Farah sudah terlihat seperti pasangan hidupnya. Gadis itu tahu cara melayani dirinya, dari mulai bangun tidur hingga kembali tidur.
Farah mempersiapkan keperluan pakaian bahkan selalu membantu menggunakannya dan memasang dasi serta menyemprotkan parfume kesukaannya. Keenan pun demikian, memandikan adiknya adalah aktivitas baru yang begitu candu. Selain itu, dia juga selalu mengeringkan dan menyisir rambut gadisnya dengan senang hati. Sejauh ini hari mereka terlihat begitu manis. Farah juga ternyata sangat pandai menyiapkan makanan.
Keenan yang picky eater rasanya tidak bisa menolak apa yang disajikan kekasihnya. Seperti saat ini, Farah membuat roti panggang dengan selai yang dia bentuk hati dengan tulisan sayang untuk Keenan seorang. Keenan semakin terjatuh dalam pesona adik sepupunya.
"Aku akan langsung menjemput Paman dan Bibi di bandara ya, Sayang!" Farah memulai pembicaraan keduanya.
"Hm!"
Farah mengerucutkan bibirnya dengan respon dingin Keenan yang sejujurnya sudah terbiasa dia dengar dan lihat. Keenan terkekeh, wanita itu sungguh merepotkan dipikirannya. Mereka tidak tahu bahwa sejujurnya pria itu hanya memiliki perbendaharaan kata yang tidak lebih dari tujuh ribu kata saja dalam sehari. Tentu saja Keenan menghemat tiap katanya untuk dia keluarkan di saat paling penting saja.
"Aku sudah memberikan perintah pada anak buahku untuk menjagamu selama aku pergi!" Keenan sudah menyelesaikan snack break time-nya. Dia menatap teduh pada gadisnya yang masih mengunyah dengan wajah cemberutnya. "Dia bernama Ron, pria itu tidak akan menunjukan dirinya. Namun, saat mendesak dia akan membantumu!"
Farah membuka sedikit mulutnya. "Apa Kakak punya anak buah berkekuatan Ninja?!" Farah terlihat antusias membuat Keenan gemas.
"Emang Kakak mau kemana?" Farah menyelidik dengan menyelesaikan makanannya.
"Kakak ada urusan bisnis di Negeri Paman Sam."
"Wah? Ketemu Karen dong... Jemput dia pulang yaaa... Aku rinduuu!" Farah langsung memekik girang saat mengetahui tujuan pekerjaan kekasihnya. Farah masih merasa kesal pada Karen yang selalu mengacuhkannya sekarang, dia tidak menikmati liburan seminggu kemarin. Karen sudah mulai sibuk dengan kekasihnya, Farah seperti merasa dicampakan.
"Ck!" Keenan merasa cemburu dengan penuturan gadisnya. "Apa kamu akan merindukanku jika kita tidak bertemu selama beberapa hari kedepan?"
Farah membulatkan matanya dan menghentikan seluruh aktivitas yang sedang dia lakukan. Farah terkekeh lirih, dia menyadari kecemburuan kekasihnya. Farah bangkit dan kembali bertingkah nakal!
"Tentu saja, aku akan sangat merindukan Sayangnya aku!" Farah mencium pipi Keenan mesra dan duduk di pangkuan Keenan.
__ADS_1
"Kamu sungguh tahu bersikap! Aku semakin menyukainya..." Keenan mengangkat wajah Farah, mengamatinya sejenak kemudian bertautan mesra menabung rindu mereka selama beberapa hari kedepan berjauhan.
"Be careful Sayang!" Farah mengusap lembut wajah Keenan, rasanya sulit digambarkan. Satu sisi dia ingin sejenak terlepas dari beruang liarnya yang selalu melahapnya setiap malam. Sisi lainnya, Farah semakin tidak ingin terpisah dengan Keenan yang sudah terlihat berubah. Farah bisa merasakan, Keenan memperlakukannya bak kekasih yang dia sayangi. Berkali-kali Farah merasa jatuh cinta pada pria yang selalu jadi tambatan hatinya.
"You too... Jangan berulah saat jauh dariku!" Keenan menekan dagu kekasihnya. "Ingat, tubuhmu milikku. Segalanya mengenai kamu adalah kepunyaanku!" Keenan memagut sekilas bibir Farah yang sudah membengkak.
"Jangan kira aku tidak tahu apa yang kamu lakukan untuk Dosenmu itu!" Keenan merubah raut wajahnya dalam sekejap. "Kamu sangat beruntung tidak aku hukum seperti sebelumnya!" Sorot matanya yang tajam kembali mengintimidasi Farah. "Dia sungguh sangat berani berurusan dengan keluarga Kaviandra. Aku akan memberikannya hukuman kecil!"
Glek!
Farah menelan saliva berat, dia sedikitnya tahu dari Karen. Tidak ada rahasia yang tidak bisa Keenan bongkar. Itulah alasannya banyak sekali orang-orang yang menjunjung tinggi privasi sangat menghindari berurusan dengan pria nomor satu di jaringan hitam.
"Kamu juga jangan terlalu bodoh mau saja dikendalikan orang kecil seperti dia! Ingat, saat dia kembali mempersulit dan menjebakmu. Aku akan mengurusnya menerima tiket menuju alam baka lebih cepat!"
Deg!
Tubuh Farah kembali bergetar ketakutan, dia tahu kakak sepupunya tidak pernah bermain-main dengan katanya. 'Bagaimana ini? Semoga Dosen Victor bisa selamat tanpa perlu mengalami cedera atas hukuman yang akan Kakak berikan!'
Farah mengerti, dia tidak mungkin meminta pengampunan pada kakaknya. Terlebih, karena permintaan dosennya Farah bisa sekotor sekarang karena ulah kakak sepupunya.
"Satu lagi!" Keenan kembali menggerakkan tangannya di wajah Farah dan mencengkramnya sejenak. "Sekalipun kamu menganggap Axcel memiliki penyimpangan, tapi aku bisa merasakan dan melihat sikapnya padamu. Dia mengharapkanmu menjadi miliknya!"
"Jangan bermimpi! Menjauhlah darinya, jika tidak ingin dia bernasib sama dengan dosenmu, aku juga bisa lebih tidak berbelas kasih!"
Farah kembali menelan ludah susah payah dengan wajah yang pucat. Dia kehilangan kata untuk membantah atau pun mencari pembenaran. Dia sendiri sudah sangat sial, tidak mungkin juga dia mengorbankan keselamatannya untuk orang lain yang dia sendiri ingin menjauhinya. 'Baguslah, mungkin dengan begini Axcel tidak akan lagi menggangguku!'
"Sayang tenang saja, Kakak paling tahu perasaanku bukan? Aku sudah menjadi milikmu seutuhnya... Tidak akan ada orang lain yang bisa memilikiku. Iya kali aku menukar pria sempurna seperti Kakak dengan pria yang tidak ada apa-apanya!"
Keenan menyeringai senang, mereka kembali berpagutan mesra sebelum berpisah dan mengurusi urusan masing-masing. Sesuai dengan perintah Keenan, Farah di antarkan oleh Ron menuju bandara internasional menjemput kedua orang tuanya. Sedangkan Keenan, dia langsung melesat menuju kantor pusat KTech terlebih dahulu memastikan satu dan dua hal sebelum dia bertolak dari negaranya menuju negara bagian.
__ADS_1
--- To be continue ---