
Tubuh Farah bergetar hebat, dia benar-benar seperti tidak memiliki tulang. Tenggorokannya tercekat, dia seperti lupa caranya bernafas. "Aaarrghh!"
"Farah!" Dengan segera Keenan berbalik dan menahan tubuh Farah yang lunglai merosot di lantai. "Kalian!"
Emosi Keenan semakin menjadi, ruang eksekusi itu berubah lebih mencekam dengan aura chi negatif yang sudah Keenan keluarkan dalam dirinya. Kelima pria yang naas itu mencoba kembali terjaga, setelah sebelumnya berbagai macam siksaan telah mereka terima. Darah mengalir deras dari masing-masing pelipis korban. Mulut mereka juga tak henti mengeluarkan darah pekat. Bau amis semakin kentara di indra penciuman Farah.
'Farah Lee! Jadi, benar... Kami di bawa oleh putra tetua Klan Kaviandra! Sialan...'
Pria yang bermonolog dalam dirinya adalah salah satu orang yang menyukai Farah sejak dia melihat gadis itu di kampus. Sayangnya, Farah tidak pernah menggubris perasaannya. Farah bahkan berusaha menghindari siapapun yang ingin mendekati dirinya. Hanya ketiga temannya saat ini yang lolos seleksi Farah untuk menjadi sahabat dekatnya.
Kejadian sebenarnya adalah Leo tidak sengaja memperhatikan Arnetha yang sedang menjahili Farah dengan mengunci gadis itu di dalam toilet. Pria itu berpikir sempit, dia yang sudah memendam rasa pada Farah, di tambah dendamnya. Alhasil, pria itu mengajak keempat temannya untuk melecehkan Farah. Setelah sebelumnya bertransaksi dengan Arnetha tentu saja.
"Kapan lagi bisa mencicipi Farah, anak angkat keluarga besar Kaviandra! Jika dia hamil, otomatis aku akan dimintai pertanggung jawaban oleh mereka. Hahaha!"
Angan tak seindah kenyataan, belum apa-apa dia sudah tertawan dan bahkan lebih dari sekedar itu. Nyawanya terancam, siapa yang tidak tahu rumor kekejaman anak sulung Klan Kaviandra?
"Apa kamu ingin pulang sekarang, Baby?" Keenan bertanya lembut mencoba menenangkan gadis kecil kesayangannya. "Kamu jangan khawatir, Kakak akan membuat mereka mengingat jelas, siapa Farah Lee!"
Farah tertegun dengan ucapan Keenan yang tanpa keraguan menghangatkan hatinya. "Hiks..." Farah menangis di hadapan Keenan dengan menunjukan senyuman kebahagiaannya.
"Izinkan aku bertanya satu hal padanya?!" Farah meminta persetujuan kekasihnya. Keenan hanya tersenyum penuh kebanggaan. Gadisnya bukan sosok yang lemah yang selalu dicibir orang-orang yang tidak mengenalnya.
Farah bangkit, dengan sorot mata tajam dia berjalan mendekati salah satu pria yang tak lain ketua kelompok yang sudah berani menyentuh tubuhnya. "Mengapa kamu melakukan hal ini padaku? Apa salahku padamu?" Farah mengepalkan kedua tangannya, bibirnya bergetar saat bertanya, dia kembali ingat bagaimana pria itu memperlakukannya di toilet sebelumnya.
"Heh, jangan sok suci kamu Farah!" pekik pria itu menantang. "Apa perlu aku bocorkan kelakuanmu pada Kakakmu ini? Tubuhmu penuh dengan tanda cinta pria sebelum aku!"
Deg!
Mendidih darah Keenan saat mendengar ucapan hina dari pria yang bernama lengkap Leo Guan, putra dari walikota S. Tentu saja, pria yang diucapkan Leo adalah dirinya sendiri.
Plaaak!
Dengan berani Farah menampar wajah Leo. Pria itu tertawa terbahak, dia memang sudah tidak memiliki harapan. Jadi, untuk apa dia tahan dan bermuka dua. Hanya saja, dia kembali memiliki ide gila di kepalanya.
"Aku tebak pria itu pasti Axcel tercintamu bukan? Jika aku katakan kenyataannya, kamu pasti akan kecewa Farah!" tutur Leo menyeringai puas.
"Diam kamu Leo!" Farah menjerit di depan Leo.
"Aku tidak akan diam Farah, kamu harus tahu... Axcel lah yang membayarku untuk melecehkanmu, dia berencana menjadi seolah pahlawan di matamu, dengan begitu kamu akan semakin simpati padanya!"
"Bohong!"
DOR!
Farah dan Leo terbelalak, sebuah tembakan jelas memekakkan telinga keduanya. Keenan sudah bermuram durja, dengan cepat dia menarik senjata apinya.
"Tuan!" Sam menahan dan membelokkan arah tembakan.
__ADS_1
"Samuel Park!" Berang Keenan berbalik bersiap menghajar anak buahnya.
"Tuan Muda, dia anak Walikota!" Sam mengingatkan Keenan, dia tidak mungkin membuat tuannya dalam masalah besar kedepannya.
"Lantas kenapa, hah?! Aku tidak peduli!! Minggir Farah Lee... Aku akan menyeretnya ke depan pintu Neraka saat ini juga!"
Deg!
Tidak hanya Leo yang memiliki perasaan gamang, jiwanya seolah telah lepas dari raganya. Keempat temannya sama pucatnya. Farah merasa lemas saat mendengar ancaman prianya. Dia baru mengetahui, Keenan adalah seorang pembunuh. Farah tidak menyangka, bagi Keenan membunuh seseorang semudah membalikkan kedua telapak tangannya.
"Setelah nyawa pria kecil tidak berguna ini, seret Axcel Luciano di hadapanku sekarang juga!" titah Keenan menatap nyalang anak buahnya.
Farah semakin terhenyak, dia segera meluruskan apa yang terjadi sekarang. Leo menyeringai senang, akhirnya apa yang dia inginkan terwujud juga. Baginya, memang paling mudah memprovokasi seseorang tanpa perlu mengetahui kebenarannya. Jika bukan karena Axcel, mungkin perbuatan Leo tidak akan pernah diketahui oleh Keenan. 'Mata dibalas dengan mata, terimalah karmamu Axcel!'
"Tunggu Kak! Aku sangat mengenal Axcel, dia tidak mungkin─"
"Diam Farah Lee! Kamu membelanya, hah?!" Dengan kekuatan magnetik di tangan Keenan, pria itu dengan mudah menarik Farah kedalam gengaman tangannya.
Semua mata terbelalak dengan apa yang mereka lihat. Termasuk Sam, dia hampir tidak bergerak dari tempatnya.
"Tuan! Nona akan mati jika anda terus mencekiknya seperti itu!"
"Aarrkk!"
Bruuuk!
"Aku mohon Kak, percaya padaku... Axcel tidak seperti itu... Dia temanku, dia yang menolongku... Jika memang dia berniat mencelakaiku... Aku yakin, dia tidak perlu menunggu waktu selama ini dan meminta tolong pada rivalnya. Leo membenci Axcel karena dia tidak bisa mencelakaiku... Leo menyukaiku, satu tahun yang lalu, Leo menyatakan perasaannya padaku, tapi aku tidak menerimanya! Dia pasti sangat membenciku, dia juga pasti membenci Axcel, karena pria itu bisa bersahabat denganku!" Dengan panjang lebar Farah segera menjelaskan tanpa ingin dia putus setiap katanya. Dia paling tahu perangai Keenan, tidak boleh ada jeda yang membuat dia kembali salah paham!
Degub jantung Leo kembali dipaksa berpacu dua kali lipat dari sebelumnya. 'Farah Lee sialan!'
"Aku juga tahu, sebelum aku memasuki kamar mandi, aku melihat tunangan Axcel. Tanpa ada kecurigaan apapun aku mengabaikannya. Aku tidak sengaja mempermalukan Arnetha kemarin." Farah menatap Keenan dengan wajah sayunya, air matanya semakin deras mengalir membuat hati Keenan seperti tercabik-cabik saat ini.
"Aku harap, kamu tidak membohongiku, Honey!" Keenan mengusap lembut wajah Farah yang basah, di hadapan seluruh orang yang ada di ruangan Keenan berlaku manis pada adik sepupunya.
'Honey? Apa ada skandal diantara keduanya? Menarik! Hahaha...' Leo baru tersadar, sedari tadi Keenan memanggil Farah dengan sebutan tidak wajar. Tidak mungkin seorang kakak sepupu memanggil adiknya dengan panggilan Baby dan Honey!
"Apa aku pernah membohongi Kakak selama ini?" Farah tak gentar menatap wajah Keenan tanpa ingin mengalihkan pandangannya.
"Ya, kamu tentu tahu dengan jelas... Kamu milikku seorang!" Keenan menarik wajah Farah.
Tanpa ada angin, hujan, badai, dan segala iklim tropis lainnya. Keenan memagut bibir kecil gadisnya. Semakin syok lah keseluruh peserta harap-harap cemas di ruang eksekusi. Sam membuka mulut paling lebar, diikuti Ben dan Ken yang serupa setelahnya. Seluruh anak buah Keenan saling tatap dengan menelan ludah. Leo sendiri baru mengira ada sesuatu diantara keduanya. Jelas sudah mereka memang memiliki hubungan setelah melihat keduanya berciuman mesra saat ini.
'Tunggu, berarti tanda di tubuh Farah? Ah shiiittt!' Leo semakin cemas, dugaan dia membual tentang Axcel akan terbongkar sudah.
Farah mengeratkan kedua matanya, Keenan tidak sedang menciumnya. Pria psikopat itu seperti sedang menyedot habis nafasnya. "Aaargh!" Farah menjerit saat Keenan menggigit sudut bibirnya.
"Ini adalah hukuman paling ringan untuk mulutmu yang membela salah satu teman priamu!" Keenan kembali bangkit. Dia melemaskan otot lehernya, dengan seringai iblisnya dia juga menyapu habis bibirnya. "Aku paling menyukai rasa manis darahmu, Sayang!" Keenan kembali menatap gadisnya dengan senyuman tampannya.
__ADS_1
'Naniii? Apa sekarang Tuanku bertranformasi menjadi Vampire ala-ala?' jerit batin Ken dengan mata yang membulat sempurna.
'Ya Tuhan, Keenan Kaviandra ternyata terkena wabah walking dead, eh salah apa ya?' Sam mendadak berpikir keras salah satu judul film yang terkenal dengan manusia penghisap darahnya.
'I'm cool, I'm okay...' ucap Ben dalam benaknya, dia adalah anak buah anti mainstream satu-satunya.
"Sam!"
"Iye saye..."
Ingin rasanya Keenan ikut serta menyiksa asisten khususnya itu. "Bawa Farah ke ruanganku sekarang!"
"Suruh Sandra mengobati seluruh luka yang ada di tubuhnya. Ingat, jangan sentuh bagian tubuh lainnya. Jika tidak persiapkan surat wasiat untuknya!"
Sudah cukup mereka lelah terus tercengang dengan kenyataan bahwa tuannya selain psycho, beliau juga cemburuan. Bahkan pada wanita sekalipun!
Farah termangu sejenak. 'Priaku, sungguh di luar Nurul!'
Sam mencoba membantu Farah berdiri, dengan sigap Keenan menepis tangan Sam dan sepenuhnya menarik tangan Farah.
'Aih, ngana pula yang salah! Serba salah kalau Presiden psycho udah bucin akut tuh~'
"Kak..." Farah menggenggam erat kedua tangan prianya. "Apa Kakak benar-benar mempercayaiku?"
Keenan terdiam sejenak, sangat sulit bagi pria angkuh itu untuk mempercayai seseorang. Farah mengerti, terlalu dini memang mengharapkan Keenan benar-benar mencintainya.
"Hehe," kekeh Farah lirih membuat seluruh orang termasuk Keenan mengernyit. "Aku tahu, tidak mudah bagimu mempercayai seseorang bukan? Kamu adalah pria besar yang berpengaruh, dipundakmu semua keputusan menjadi tanggung jawabmu."
"Bagaimana mungkin aku bisa mencintai orang lain selain pria hebat di hadapanku? Aku selalu mencintaimu, walau berkali-kali kamu menyiksaku. Aku tidak perduli! Aku mencintaimu, tetap mencintamu... Keenan Kaviandra!"
"Tidak ada pria lain yang mampu menggeser posisimu dalam hatiku!"
Deg!
Tubuh Keenan bergetar hebat, nyali besar dan arogannya barusan menghilang tiba-tiba. Terlihat jakunnya naik dan turun. Dia menatap nanar gadis kecil biang kerok hidupnya. 'Kamu sungguh Tengil!'
"Heh!" Keenan menundukkan kepalanya, dia terkekeh sejenak. Bagi anak buahnya, rumus tingkatan emosi tertinggi tuannya adalah diam itu aman, memaki itu selamat, menatap tajam itu awas, dan yang terakhir terkekeh lirih adalah harakiri bagi mereka.
Seluruh anak buah Keenan sudah berkeringat dingin, mereka tidak ingin menduga hal apa yang akan tuannya lakukan setelah ini.
"Dengar semuanya, mulai saat ini Farah Lee adalah wanita kesayanganku. Jangan sesekali mencoba menyentuhnya. Jika tidak, kalian sudah sangat tahu harus menghadapi siapa?"
Wajah Farah tersipu mendengar suara lantang Keenan yang membuncah hatinya. 'Dia mengakuinya! Aaaarrrk, selangkah lagi Farah... Hwaiting!'
Keenan kembali berbalik menatap Farah lembut. "Tunggu aku sebentar ya. Aku tidak ingin kamu melihat aku membunuh seseorang!"
Tiba-tiba saja Farah merasa mual, ternyata Keenan paling tahu meruntuhkan kebahagiaannya.
__ADS_1
--- To be continue ---