
Farah sudah berada di kamarnya, makan malam barusan cukup membuat energinya tiba-tiba merosot. Farah mencuci wajahnya yang pucat dan kusut. Dia juga mengatur pernafasan yang sempat membuat dirinya sesak dan terengah.
"Huh, jadi... Kakak benar-benar berulah di kampus? Aku harus bertanya pada Lyn dan Mei..." Farah bergegas mengganti pakaian dengan piyama tidurnya. Dia sudah tidak sabar ingin mengghibah bersama kawanannya.
Ceklek!
Keenan tersenyum, setelah terjerat hasrat terlarang dengan adik sepupunya, ruang istirahatnya berubah tidak lagi di kamar besarnya. Keenan bisa melihat siluet tubuh gadisnya di area wardrobe. Dengan perlahan Keenan berencana mengagetkan gadis tengil kesayangannya itu.
"Aarrghh!! Kaaak!!" Benar saja, Farah memekik tertahan saat kedua tangan Keenan merangkul mesra tubuhnya dari belakang.
"Mmmh, kamu harum sekali Sayang!" Keenan membenamkan wajahnya di ceruk leher sang gadis. Farah mendongak dan menggigit bibirnya erat.
"Aarsshh! Kak..." Lenguh Farah tak tertahankan. Tangannya ikut merangkul wajah sang kekasih.
"Jika saja kamu tidak sakit, aku tidak akan memberikanmu waktu untuk berhenti!" Keenan menggesekkan hidungnya di hidung Farah.
"Hehe... Salah sendiri, tiap maen lupa diri..." Farah cekikikan berbalik badan dan mendorong tubuh Keenan. "Apa Kakak pindah kamar?"
"Ya!" Keenan menyeringai gemas, dia mencubit hidung Farah sampai gadis itu meronta tidak bisa bernafas.
"Kakak ingin aku mati, ya?!" Farah menjerit kesal. Tanpa aba-aba Keenan menggendong kekasihnya.
Diletakkannya Farah perlahan di atas ranjang lembut dengan nuansa warna khas seorang gadis. Keenan melemparkan jas sembarang, begitu pula dasinya.
"Perlu aku bantu? Hihi..." Farah menggoda Keenan di bawah sana.
"Jangan menggodaku, Baby! Kamu tahu sendiri, disaat hasratku meledak, kamu yang akan menyesal!"
"Wleee! Kang mesum..."
"Aaarrghh... Haha..."
Keenan segera menerjang tubuh mungil gadisnya. Farah terbahak karena pria itu menggelitik dengan kepalanya. "Cukuuup... Hahaa..."
"Love you!"
Deg!
Farah terdiam, tidak biasanya prianya tiba-tiba mengatakan cinta di saat mereka tidak sedang dalam penyatuan. "Kakak demam?" Farah meletakkan tangan di dahi kekasihnya.
"Ya!" Keenan terkekeh dan menjatuhkan dirinya dalam posisi menindih Farah. "Aku lelah..." Keenan menutup mata, dia memeluk gadisnya tanpa menyakiti tubuhnya.
Farah mengulumkan senyum bahagia. 'Inikah rasanya dicintai? Atau jangan-jangan... Kakak hanya memberikanku harapan palsu." Farah berubah sendu.
"Mmm..." Keenan kembali tertarik dengan harum tubuh kekasihnya. Dia menciumi leher Farah berkali-kali.
"Katanya lelah! Bukannya tidur, cium-cium mulu!!" sungut Farah lirih. "Kalau aku pengen kan bahaya!"
Keenan terkekeh, dia membuka mata dan kembali mencubit hidung Farah. Gadis itu menjerit dan menyingkirkan tangan Keenan.
"Kamu pakai parfum apa?" Keenan bertanya sebelum kantuk benar-benar menguasai dirinya.
"Aku hanya menggunakan cologne baby doang!" Farah menyahut dengan menggeser tangannya perlahan agar keduanya nyaman berpelukan.
"Really? Apa kamu kekurangan uang untuk membeli parfum mahal?!"
"Ck!"
Keenan mengejek kekasihnya, Farah berdecak sebal. "Aku pake cologne aja, Kakak nempel kek hansaplast. Gimana kalau pake Victoria Secret atau Cyeneel? Auto kembar siam!"
Keenan menoyor kepala Farah kesal. "Terkadang omonganmu ini terlalu mengcopy Karen!"
"Emang kenapa? Bukankah dia adik kesayangan Kakak? Aku meniru mungkin aku akan lebih disayangi darinya..." Farah menggoda berucap dekat dan menekan dagu kekasihnya.
"Tidak perlu!" Keenan memagut bibir Farah yang menggoda. Mereka bertautan mesra, merasakan tiap inci permukaan kulit masing-masing yang sudah basah oleh saliva.
Farah terengah, Keenan melepaskan pagutan liar mereka yang jika diteruskan akan berakibat penyatuan. "Kedepannya KGroup akan membuat pabrik baru." Keenan menyentuh hidung Farah lembut dengan jari telunjuknya.
"Oh ya? Mau bikin apalagi? Kalian sudah memonopoli seluruh sektor usaha di Negara ini!"
__ADS_1
"Heh, aku akan membuka pabrik parfume dengan varian harum tubuhmu!"
Farah membuka mulutnya lebar saat Keenan mengatakan gagasannya. Keenan memagut bibir gadis itu agar menutup. "Makin banyak cewek wanginya kayak aku dong!"
Keenan tertawa dan menggosok rambut Farah penuh sayang. "Apa kamu belum tahu?"
"Tahu apa?"
"Tiap manusia memiliki bau tubuh yang unik. Tidak semua orang memiliki harum serupa saat bau alami tubuh menyatu dengan wangi parfum yang sama!"
"Ah bodo, terserah Kakak saja... Apa aku bisa mendapatkan royaltiku?"
Keenan menyeringai dia kembali menerjang tubuh gadisnya. Keenan tidak pernah merasakan kebahagian seperti ini.
"Apa yang Kakak lakukan di kampus? Paman sampai bertanya begitu..."
"Heh, apa kamu peduli?"
"Tentu saja!"
Keenan menangkup wajah Farah, keduanya saling menatap tajam. Pria itu menelan salivanya. "Aku hanya menyingkirkan hama!"
"Kak, aku takut..." Farah memeluk tubuh Keenan erat. Keenan membalasnya erat. "Setiap kali aku mendengar bunyi senapan, aku teringat akan Papa... Bisakah Kakak tidak lagi membahayakan nyawa Kakak... Aku tidak ingin kehilangan Kakak!!" Farah tidak kuasa meneteskan air matanya.
Keenan terdiam sejenak, dia menutup matanya erat. "Kamu tenang saja, aku tidak sebodoh dirimu!"
Keenan mencium kening kekasihnya lekat. "Aku bersumpah, aku akan selalu melindungimu. Jangan pernah takut lagi dengan gertakan orang lagi! "
Farah menutup mata erat dengan linangan air mata. "Aku hanya tidak ingin Kakak memiliki banyak musuh!"
"Berjanjilah padaku!!" Farah bangkit dan menatap sendu pada Keenan. "Kakak tidak akan lagi menggunakan senjata apapun lagi!"
Hati Keenan menghangat, selama ini tidak akan ada orang yang peduli padanya. 'Maaf Farah... Tanganku sudah berlumur darah... Bau amis ini, selamanya akan melekat di tubuhku!'
Keenan memeluk Farah, menenangkannya hingga gadisnya tertidur. "Masalahku saja sudah banyak, musuhku juga sudah tak terhitung. Sekarang, aku mengurusi masalahmu, sudah jelas menambahi musuhku. Sungguh seperti bukan diriku lagi, Baby!"
Keenan tersenyum mencium kening Farah dan ikut terlelap setelahnya.
Keesokan harinya, Farah terbangun dengan perasaan gelisah. Kekasihnya sudah tidak ada disana. "Seandainya kita bisa bersama dalam ikatan pernikahan. Aku tentu tidak akan merasa kesepian seperti ini."
Farah menyentuh ranjang yang semalam ditempati Keenan. "Aku tidak sabar merasakan sebelum dan setelah aku tidur Kakak lah orang yang ada saat mataku terbuka dan tertutup."
Farah bangkit bersiap membersihkan dirinya. Hari ini dia memiliki jadwal perkuliahan. Setelah selesai Farah menuju ruang makan. Senyumnya mengembang saat prianya telah lebih dulu berada disana.
"Pagi Bibi, Paman, Kakaaak!"
"Pagi Sayaaang! Gimana tidur kamu?"
"Sangat nyenyak!" Farah memeluk bibinya, tak lupa mengecup pipinya mesra. Dia juga beralih memeluk pamannya. Rasanya tidak mungkin seorang Farah Lee tidak menyebarkan positif vibes saat memulai hari.
Farah melewati kakak sepupunya, tentu saja aktingnya harus paripurna. Namun, Keenan tidak menyukainya. "Kamu melewatiku Degil!"
"Nani? Kakak mau aku peluk?" Farah menyeringai menggoda.
"Cih..." Keenan berdecak kesal.
"Haha, sana peluk Kakakmu... Dulu kamu malah yang nempel banget sama Kakakmu!" Nyonya Lyn mengompori keduanya.
Farah terdiam sejenak, dia sungguh tidak ingin lagi membohongi orang tua angkatnya. Farah kembali mendekati Keenan mendekat dan─
Cup~
"Morning Kakakku Zheyeeeng~"
"Hm!"
"Hissh... Tuh Bi, Kakak gak sayang aku!"
Keenan berbalik menatap tajam Farah yang merengek pada ibunya.
__ADS_1
"Keenan..."
"Ogah!"
"Ah tau ah Bi, aku ngambek!"
"Haha... Keenan, kamu itu seneng bener godain adikmu!"
"Ayooo... Aku gak sarapan loh!"
Dengan cepat Keenan menarik tangan Farah, mendekatkan wajah gadisnya dan mencium pipi Farah sekilas. Farah termangu, jika saja paman dan bibinya tahu, barusan Keenan mencium sudut bibirnya.
Keenan membuang wajahnya, dia harus menyembunyikan rona merah yang terlihat di wajah tampannya. Tuan Kaviandra melambatkan kunyahan sarapan paginya. Dia menatap takjub ke arah putranya. 'Keenan... Apa kamu?'
"Tuh, dah! Ayo sarapan... Nanti kamu kesiangan..."
Farah tiba-tiba diam, perasaannya gelisah luar biasa. Keenan menaikan sudut bibirnya dan kembali mengunyah daging wagyu kesukaannya.
Farah menarik kursinya, dia mulai mengambil sarapan paginya. Nyonya Lyn menatap putri angkatnya dengan senyuman mengembang di wajahnya yang sudah tidak muda lagi.
"Apa kamu mau membeli mansion di dekat kampus?"
"Ya?"
Farah mendongak dengan wajah kebingungannya.
"Bibi lihat sepertinya aktivitas perkuliahanmu semakin banyak. Kamu sampai kelelahan seperti itu."
Farah semakin erat menggenggam sendok dan garpunta. "Aku merepotkan..."
"Haha, kamu ini! Keenan, sediakan mansion untuk Farah ya..."
"Manja!"
Farah berbalik menatap Keenan takjub. Kedua orang tua mereka tengah saling melempar tawa.
"Boleh aku pilih tempat dan unitnya?"
"Ngelunjak!"
"Keenaaan... Dia juga adikmu!"
"Hm!"
"Terima kasih Kakakku Zheyeeeng~"
Semua kembali merasa terhibur dengan sikap Farah yang selalu ceria. Tuan Kaviandra menggelengkan kepalanya. Farah terdiam sejenak, dia memiliki ide gila.
"Paman, aku boleh magang di KGroup?"
"Eh? Bukannya kamu udah ngurus di KTech?!"
Farah menelan salivanya. Keenan menatapnya tajam, pria itu tidak percaya gadisnya tidak mematuhi ucapannya.
"Iya, cuma─" Farah gelisah, dia tidak tahu harus mengatakan apa untuk menjelaskan pada paman dan bibinya dia tidak ingin di tempat yang terdapat ruang eksekusi pendosa seperti kejadian sebelumnya.
"Kamu tenang aja, Kakak kamu bukannya langsung membawahimu... Justru, KTech memiliki potensial membuat kamu belajar banyak dari Kakakmu."
"Makanya pintar sedikit!" Keenan menyela dan mengejek Farah.
'Cowok ini!! Ngomongnya irit tapi nyakitin. Huhu~'
"Ta-pi... Ta-pi... Kakak galaaak!!" Farah masih merengek, nyonya Lyn terus terbahak di ikuti suaminya yang ikut terbahak. Keenan berbalik menatap Farah dengan sorot mata tajam, kedua tangannya dia gerakkan mengunci pandangan gadisnya.
"Bibiii, lihat Kakaaak!!"
"Keenaaan~ kalian ini... Haha!"
"Ngerengek aja bisanya!!" keluh Keenan menyesap kopi hitamnya.
__ADS_1
--- to be continue ---