Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 112 # Good talk with good person


__ADS_3

Kantor KTech Pusat, 08.00 AM.


Keenan masih sempat melakukan inspeksi pekerjaan di perusahaan sebelum dia pergi keluar negara. "Sam, undang rapat dadakan mengenai hasil akhir antisera vaksin xy milik kita!”


“Baik, Tuan!” Sam menunduk dan kembali memutar haluan menuju laboratorium KTech.


Setelah persiapan selesai, Keenan diundang datang mengunjungi laboratorium mereka.


"Bagaimana hasilnya?!" tanya Keenan langsung saat dia sudah duduk di posisinya.


Ben memulai demonstrasi menjelaskan pada tuannya sebagai ketua bidang observasi dan assesment project antisera xy.. "Dari sepuluh orang yang mendapat injeksi vaksin xy. Lima diantaranya tewas, dua dalam gangguan kejiwaan dan yang tiga terakhir lolos sempurna!"


Senyum Keenan mengembang sempurna, raut wajah bangganya jelas terpetakan disana. Bagaimana mungkin dia tidak bangga atas pencapaian anak buah terbaiknya itu. Keenan merogoh kocek yang sangat dalam untuk bisnis jaringan hitam tersebut.


“Aku ingin melihatnya langsung!” tukas Keenan antusias disambut dengan saling tatap anak buahnya.


"Apa maksud anda pergi melihat ke sel bawah?” Ben membuka suaranya dengan hati-hati.


Keenan terdiam sejenak, sudah hampir sepekan dia tidak mengerti akan kondisi tubuhnya yang tidak menyukai bau amis darah saat ini. Dia akan merasa mual hebat jika tercium bau anyir yang menusuk di indra penciumannya itu.


“Ehm, kamera saja sudah cukup!”


“Baik, Tuan!”


Dengan cepat Ken sudah mengaktifkan EYES dan sistem laboratorium. Dia menunjukkan kamera pengawas bagian sel khusus yang menjadi tempat para kelinci percobaan vaksin xy juga antisera yang sedang mereka kembangkan.


Seluruh pencahayaan ruangan meredup memperlihatkan tiga kamera yang berbeda sesuai tempat masing-masing kelinci percobaan mereka.


Ben mengerti saat Keenan menaikan sudut bibirnya pada salah satu mode kamera pengawas yang memang dikenali oleh atasannya itu.


"Orang itu baru dua hari yang lalu kalian vaksin dan sudah keluar hasilnya?" Keena menatap Ben dengan serius.


"Benar Tuan, mari saya jelasnya..." Ben kembali menunjukkan kemampuannya. Dia menunjukan partikel DNA yang berterbangan di sekitarnya. Ben menjelaskan diantara kesepuluh korban mereka, tiga diantaranya memiliki golongan darah yang sama yaitu O. Ajaibnya, dengan jenis golongan darah tersebutlah yang berhasil lolos dari maut.


“Secara garis besar, semua korban yang diinjeksikan merujuk pada antibodi yang ada dalam tubuh masing-masing.”


Ben menunjukkan sebelum dan setelah menggunakan antisera dan apa pengaruhnya. “Waktu kesembuhan yang mereka butuhkan bisa beragam karena hal ini!”


Keenan dan Sam terus memperhatikan penjelasan Ben, mereka tidak ingin melewatkan celah sedikitpun. “Karena korban kita gelandangan, antibodi mereka tidak bisa diandalkan lebih jauh lagi…”


“Lalu, bagaimana dengan korban terakhir itu? Dia yang memiliki waktu paling cepat dalam proses penyembuhannya!” Keenan kembali bertanya untuk hasil akhir yang masih dia ingin ketahui lebih lanjut.


“Anda benar, dia adalah anak buah Tuan Long…” Ben menggeser dan menghilangkan seluruh panel sebelumnya berganti dengan rekam medis khusus korban dengan nomor XI.


“Dalam darahnya mengalir serum yang dipastikan merupakan obat yang bisa meregenerasi sel tubuh. Itu artinya, tingkat kesembuhan mereka bisa lebih cepat dua kali lipat dari orang normal pada umumnya. Jadi, meskipun dia belum diberi antisera sekalipun, tubuhnya sudah mensinyalir vaksin xy sebagai racun, dan melakukan proses detoksifikasi dengan sendirinya.”


“Unbelievable!” seru Keenan lirih takjub dengan apa yang jelaskan anak buahnya. “Apa kamu tahu senyawa apa yang mereka gunakan?”


"Sebagian besar berasal dari Opium dan beberapa kombinasi narkotika golongan II. Seperti anda ketahui Tuan Wei Long adalah Alkemis terbaik di negeri ini, dalam hal meracik obat-obatan dia ahlinya." Ben menutup penjelasannya dengan baik.


Keenan mengulumkan senyuman, melayangkan tatapan bangga pada Ben. Keenan berdiam sejenak, dia memainkan pena di tangan memutarnya dan terakhir melemparnya pada Ben. Dengan cepat tanggap Ben menerimanya tanpa melukainya.


"Good job!" puji Keenan bangkit dan melakukan standing applause pada seluruh jajaran yang sudah bersikeras mewujudkan keinginannya.


“Tidak sia-sia aku membayarmu hampir setara dengan Samuel Park yang akhir-akhir ini sibuk mengeluh tidak jelas!”


Merasa di roasting tuannya sendiri, Sam merenggut dalam hati. Bukan iri atas pencapaian rekan kerjanya Ben, dia hanya sebal saat melihat tatapan mata Keenan yang seolah tengah mengejeknya. 'Definisi sakit tak ber-blood!'


“Baiklah, Sam akan memastikan kalian mendapatkan ekstra tambahan bonus dan juga keamanan dari KTech!”


Semua orang menunduk berterima kasih pada tuannya. Salah satu alasan banyak karyawan menyukai bertahan bekerja di KTech walau mereka under pressure hingga tekanan paling tinggi sekalipun. Tapi, Keenan tidak pernah main-main saat memberikan apresiasi atas kerja kerasa mereka selama ini.


“Next… Samuel, pastikan kita juga memproduksi injeksi regenerasi seperti milik Black Shadow!” Keenan kembali memberi perintah pada asisten khususnya.


“Apa?” Sam memekik sejenak. “Darimana kita mendapatkan opium yang tidak sedikit itu?” Sam langsung melayangkan protesnya.

__ADS_1


“Apa aku juga yang harus mencari tahunya?” tanya Keenan dengan raut wajah kesalnya.


‘Ya nasiiib, belum cukup puaskah engkau menaruhku di sisi paling gelap saat ini… Teganya, dirimu padaku!’ batin Sam berteriak, tapi apa daya titah tuannya lebih penting dibanding titah presiden sekalipun!


“Ben,” Keenan kembali berbalik menatap anak buahnya. “Apa vaksin antisera kita sudah siap digunakan?”


“Em… Sudah Tuan, semua sudah dalam proses pengemasan. Total jumlah antisera yang siap jual ada seratus butir.”


“Produksi lima kali lipatnya, kita akan mengeluarkannya saat HG mengeluarkan vaksin mereka di pasar!”


“Baik, Tuan!”


“Berikan padaku dua tube… Aku dan Sam memiliki darah yang sama, yaitu O!”


Rasanya seperti terkena petir di siang bolong, Sam dan Ben menganga serentak. Hal ini tidak terpikirkan oleh mereka sama sekali.


"Mengapa raut wajahmu seperti itu?!" tanya Keenan pada Sam semakin kesal. Satu hal lagi yang aneh dari tubuh Keenan, dia begitu kesal dengan asisten khususnya itu. Pokoknya melihat wajah Sam, rasanya di ingin mengejeknya terus menerus!


“Apa Tuan berencana menggunakannya?” Sam memang sudah menerima satu tube antisera buatan pabrik KTech. Dia menunjukkannya di hadapan Keenan.


“Ya, Ben!”


“Ini Tuan…” Dengan sigap Ben memberikan satu set lainnya.


“Kalian mundurlah… Aku dan Sam yang akan menanganinya sendiri!”


Ben mengerti, dia dan seluruh alkemis serta bagian lainnya menunduk dan keluar dari laboratorium menyisakan dua sahabat yang menciptakan KTech delapan tahun yang lalu.


“Apa kamu yakin?” tanya Sam ragu.


“Heh… Kamu takut?” Keenan mengaktifkan kendali penuh ruangan, dia menyingkirkan apapun yang tidak berguna disekitarnya. “Jangan-jangan obat ini tidak layak jual!”


“Tentu saja layak! Tapi, ini kamu!”


“Memang kenapa jika aku yang gunakan? Ben mengatakan antisera ini lebih cocok digunakan pada orang yang memiliki golongan darah O.”


“Kamu tinggal bilang ini kesalahanmu!” Keenan mencibir kembali mengejek sahabat kentalnya.


“Ha ha!” Sam tertawa dipaksakan, Keenan terkekeh dengan respon Sam yang kelakuannya sangat mirip dengan gadis tengilnya.


“Kita memiliki darah yang sama, ini namanya jodoh!” Keenan menatap nanar vaksin yang ada ditangannya.


"Amit-amit jabang babi!” Sam menyela cepat. “Gue kira lu setia ama binik lu!” sambung Sam menutup tubuhnya.


Keenan membeliak dengan penuturan sumbu pendek sahabatnya, tak lama dia menoyor kepala Sam dengan sangat keras.


“Aaarkk!” pekik Sam kesakitan.


“Kamu pikir aku mau main pedang-pedangan! Najis tralala, trilili, Samuel Park!!”


“Oh, syukurlah!”


Plaaak!


“Aaarrrk, kamu jahat Keenan Kaviandra!!”


Mendadak tubuh Keenan merinding mendengar jeritan makhluk jadi-jadian yang merasuki tubuh asisten pribadinya. Dengan segera Keenan menjauh dari posisi sahabatnya. Keduanya terbahak setelah beberapa saat.


Sam begitu senang, akhirnya dia bisa kembali merasakan seperti lima tahun sebelumnya, sebelum Keenan berubah drastis menjadi pria dingin dan kejam. ‘Farah, kamu benar-benar mengubah seluruh kehidupan Keenan. Baik dulu, maupun sekarang… God bless you two!’


“Kamu membuang waktu berhargaku!” pekik Keenan membuyarkan lamunan Sam. “Sini, aku akan menginjeksikan dirimu lebih dulu!”


“Aih, nasib…” Sam berjalan gontai dan duduk di kursi pemeriksaan yang sudah disiapkan Keenan sebelumnya. “Tapi, aku ingin menulis surat wasiat dulu. Siapa tahu kamu salah suntik, aku rugi bandar!”


Plaaak!

__ADS_1


Keenan kembali menoyor kepala Sam kesal, asistennya itu tidak ada habisnya berkelakuan abnormal. “Berhenti bermain-main, Sam!”


“Ish, gak seru! Aku juga harus menulis surat wasiat saat aku meninggal!” cicit Sam.


“Emang siapa yang mau kamu kirim surat wasiat? Kamu sebatang kara, jomblo, ngenes lagi!”


Sam menekan dadanya kuat, tidak ada yang lebih jahat dari Keenan saat mengejeknya. “Sial… Huhu… Aku cuma mau bilang, jika sesuatu terjadi padaku. Tolong ya Bos, lunasi tagihan paylaterku!”


“Babi Samueeel!!” Keenan menekan kepala Sam dengan kuat. Pria itu semakin menjerit kencang membuat Keenan melepaskannya, tanpa pikir panjang Keenan menancapkan jarum suntik yang berisi vaksin antisera miliknya.


“Aaarkk!”


“Kamu semakin kesini semakin idiot!” Maki Keenan masih mempermasalahkan omongan Sam sebelumnya. “Bonus tahunanmu saja senilai setengah seluruh pendapatan karyawan KTech, kamu beli apa pake paylater, hah?” cerca Keenan menganggap serius ucapan konyol sahabatnya. “Paylater aku ciptakan untuk mereka yang kurang beruntung. Kamu kurang beruntung apalagi Samuel Park, pantas aja jomblo!”


Jantung Sam sudah berdarah-darah saat ini dengan celaan Keenan yang seratus persen membuatnya menangis darah.


"Bagaimana rasanya?" Keenan berhenti mencerca saat melihat grafik panel kondisi organ tubuh Sam mengalami perubahan dengan raut wajah yang kini berubah pucat. "Hei, apa kamu dihampiri malaikat pencabut nyawa?" tanya Keenan gelisah memegang bahu sahabatnya.


"Sepertinya begitu..." sahut Sam lirih.


"Seriously?!" pekik Keenan terkejut.


"Ya..." Sam berbalik badan menatap Keenan sendu. "Lu ama malaikat pencabut nyawa apa bedanya!" sambungnya cengengesan.


Ingin rasanya Keenan menggantung kepala Sam di tiang listrik saat ini juga! Dengan cepat Keenan menyiksa kembali sahabatnya itu. Rasanya, sungguh enak menyiksa Sam, entah apa penyebab utamanya.


Sam pasrah akan keadaannya, satu sisi dirinya begitu senang dengan perubahan sikap Keenan. Sam kembali mengingat masa lalu mereka, saat Keenan mengemukakan gagasan menciptakan perusahaan yang berlandaskan teknologi terbarukan demi masa depan!


Sam mendukung gagasan ide Keenan yang mengatakan ingin membuat kehidupan manusia lebih mudah dengan bantuan teknologi. Mimpi besar Keenan adalah membuat robot yang bisa jadi apapun sesuai keinginan user. Keterbatasan modal dan sumber daya membuat mereka memutar otak yang pada akhirnya menemukan ide mengusung pembuatan sistem operasional pintar pada gadget berbasis GUI dinamai KTech+ yang memiliki makna teknologi milik Keenan simbol plus merupakan simbol yang dimaksudkan untuk Sam. Jadi KTech+ adalah teknologi buatan Keenan + Sam = KTechnology.


“Menyingkirlah, cepat lakukan padaku, waktu kita terbatas!”


"Mengapa kamu harus melakukan ini?" tanya Sam mempersiapkan serum injeksi.


"Kamu tahu sendiri, Black Shadow sudah melakukan pemasaran obat xy besar-besaran. Demand pasar sungguh mengejutkanku. Banyak pelaku pasar gelap menginginkannya. Entah untuk digunakan dalam rangka apa? Bagi mereka nyawa manusia tidak ada harganya!" Keenan menatap lurus ke depan seolah tengah menerawang. "Bukankah lebih bagus sedia payung sebelum hujan?" sambungnya kemudian mengulas senyum tipisnya.


"Aku tahu..." sahut Sam menyemangati, dia sudah tahu alasan pasti tuannya, tentu saja demi menjaga gadisnya yang menjadi kelemahannya saat ini.


“Kamu tahu, ternyata tujuan hidup itu bisa berubah setiap saat.”


Sam menghentikan sejenak aktivitasnya. "Memangnya tujuan kamu berubah?"


"Ya,” ucap Keenan sendu. “Aku hanya ingin hidup lebih lama bersama gadisku..." Keenan menatap lekat sahabatnya dengan senyuman. Sam mengangguk mengerti, keduanya mendadak sendu saat ini. Dengan cepat Keenan mengusap air mata yang datang tidak diminta.


“Jika ingin hidup lama dengannya, lepaskanlah… Selama kamu berada di jaringan hitam, selama itu juga kalian akan dalam bayang ketakutan!” Sam menatap nanar sahabatnya.


“Aku tidak tidak tahu Sam… Tubuhku bau amis, sudah berapa banyak darah orang-orang yang menempel di tangan dan tubuhku ini, aku tidak ingat saking banyaknya." Keenan menunduk memperhatikan kedua tangannya. "Sekeras apapun aku menggosok dan membasuhnya, bau amis itu tidak hilang. Jeritan semua korbanku terus terngiang di benakku... Mereka akan berbisik padaku untuk terus melakukannya berulang-ulang."


Sam mengerti, pekerjaan mereka memang diluar nalar manusia normal lainnya.


“Apa mungkin bagi pembunuh sepertiku, bisa mendapatkan kehidupan normal seperti manusia pada umumnya?”


Sam terdiam sejenak dengan pertanyaan temannya. "Semakin tinggi sebuah pohon, maka anginnya semakin kencang."


“Semua orang sudah sangat mengenal siapa Keenan Kaviandra… Kamu tidak akan pernah bisa bersanding dengan kata sederhana… Tapi, hidup itu pilihan… Hanya diri kita sendiri yang paling tahu pilihan mana yang terbaik yang harus kita perjuangkan!”


Keenan mengembangkan senyuman kearah Sam. "Sam..."


"Hm?"


"Apa Farah akan mengampuniku?"


"Heh, tentu saja!" Sam menjawab cepat tanpa berpikir panjang. “Kamu sudah lihat bagaimana perjuangannya mendapatkan pengakuan cintamu? Walau sejujurnya, Farah hanya tidak tahu… Kamu sudah jatuh cinta padanya lebih awal dari yang diketahui olehnya…”


Keenan terkekeh malu, tidak ada yang mengetahui Keenan sebaik asisten khususnya. “Aku selalu merasa tidak pantas untuknya! Terlebih aku merenggut kebahagiaannya sedari kecil...” Keenan kembali merasa sensitif saat ini. “Kelak, saat aku memiliki putra, dia akan menganggapku monster. Dia akan membenciku karena ayahnya adalah seorang pembunuh bayaran!"

__ADS_1


Sam terkejut dengan pemikiran tuannya. "Listen to me, buang pikiran sempitmu itu!" hardik Sam tidak setuju dengan ucapan Keenan. "Inikah alasanmu melarang Farah untuk hamil? Kamu tak lebih dari pecundang Keenan!"


--- To be continue ---


__ADS_2