
Farah berbalik badan untuk yang terakhir kalinya sebelum dia hengkang dari tempat eksekusi mengerikan itu. Dia menatap Keenan sendu, prianya justru melengkungkan senyuman penuh makna yang tidak dimengerti oleh dirinya. Farah gugup dan bimbang, ingin rasanya dia kembali berlari dan mengatakan pada prianya untuk tidak lagi mengotori tangan besarnya dengan darah orang-orang!
DOOOR!!
DOOOR!!
DOOOR!!
Di dalam lift Farah menutup matanya erat saat mendengar bunyi senapan yang langsung ditembakkan Keenan tanpa menunggu lama.
"Nona..." Sam merasa iba pada adik sepupu tuannya itu.
"Apa Kakak benar-benar membunuh mereka?" Farah mendongak menatap Sam dengan wajah yang sudah basah kembali oleh air mata.
"Huh!" Sam menghela nafasnya perlahan. "Aku tidak memiliki wewenang menjelaskan pada anda apa yang dilakukan oleh Tuan Muda." Sam menatap hangat ke arah Farah yang masih terisak. "Anda tahu dengan jelas siapa dia? Seorang ketua kelompok mengemban beban dan tanggung jawab di pundaknya. Jika dia tidak memiliki keteguhan hati atas ucapannya. Selain terlihat lemah oleh musuh, anak buahnya akan hilang kepercayaan diri mereka."
Farah mengerti, dia menundukan wajahnya menyeka sisa air mata yang sejujurnya tidak ingin berhenti mengalir. Dia kembali ingat masa lalu kelamnya. Ayahnya mati dibunuh, dia tidak ingin kelak Keenan memiliki banyak musuh yang akan membahayakan nyawanya.
Tring!
Farah sudah berada di lantai dimana ruangan kekasihnya berada, dengan sigap Sam segera memberikan titah pada Sandra. Wanita itu mengerti dan mempersilahkan Farah untuk masuk dan diobati segera. Di lain sisi di tempat eksekusi, Keenan sudah melepaskan tembakan kepada keempat teman Leo.
"Kirim mereka kerumah sakit sekarang. Jangan lupa serum hilang ingatannya, berikan catatan kecelakaan kendaraan dalam rekam medis mereka!" Keenan memberi perintah pada Ken, anak buahnya mengerti dan segera menginstruksikan beberapa pion catur mereka untuk membawa keempat cecunguk yang sangat berani menyinggung ketua kelompok paling di takuti di jaringan hitam.
"Kalian sungguh tidak tahu diri, berharap bisa lepas dari pengawasan Raja Iblis, cih... Pulang saja pada Ibu kalian, otak kalian di dengkul semua!" gumam Ken mendorong brankar membawa salah satu korbannya keluar kawasan KTech.
Sisa Leo yang sengaja Keenan lakukan eksekusi di akhir waktu. "Apa kamu takut?"
Leo menelan saliva berat, dia tidak menyangka bisa menyaksikan kejahatan dari seorang pria berpengaruh di negaranya. Dia berpikir ini adalah tindak kriminal yang harus di ketahui oleh aparat negara. "Aku akan mengadukan semua kejahatanmu pada Papa! Lepas itu, semua orang akan mengetahui siapa sebenarnya Keenan Kaviandra. Kamu bukan pebisnis! Kamu penjahat!!" Leo masih memiliki nyali untuk mempertahakan dirinya.
"Papa katamu? Hahahaha!!" Keenan terbahak mengejek di depan wajah Leo yang sudah babak belur.
Plaaak!!
Keenan menampar wajah Leo dengan begitu keras, bisa terlihat ruam merah yang jelas tercetak di wajahnya yang bercampur dengan darah.
"Apa Papamu tidak pernah memberitahukan permainan kotornya?" Keenan mengapit wajah Leo yang sudah lemas. "Tanpa uang dan kekuasaanku, Papamu tidak akan pernah menjadi Walikota S!"
"Hahaha!!"
Leo tidak percaya apa yang baru dia dengar. 'Bagaimana mungkin, tidak... Papa tidak mungkin menggunakan pria jahat ini untuk jabatannya!'
"Terkejut?" Keenan menggerakan tangan mengisyaratkan pada anak buahnya. Ben mengerti, dia segera mempersiapkan apa yang dibutuhkan tuannya. "Dengar pria busuk! Di dunia ini, jika ingin berada di puncak, jangan berpikir bahwa tangan kita bersih!! Heh, hidup di dunia ini keras, walau kita manusia, hukum rimba tetap kita jalankan, yang lemah akan ditindas, yang terkuatlah yang menang. Ada paham?!"
Keenan menyeringai dengan senyum iblisnya, dia menerima satu tube kecil senjata biologis milinya.
"Apa yang akan kamu lakukan?" Leo mulai gelisah, dia memperhatikan lekat Keenan sudah mempersiapkan jarum suntiknya.
"Diantara yang lainnya, kamu yang terkuat. Aku menyukainya!"
Jleeeb!
"Aaarrrk!!"
Leo menjerit kencang, urat nadi pria muda itu jelas tercetak di sepanjang lehernya. Keenan bersorak diikuti tawa anak buah yang lainnya. Leo pikir kesakitannya usai, dia salah besar. Keenan memutar kursi korbannya cepat hingga berbalik arah 180 derajat. "Sign!!"
Ben kembali menyerahkan tanda kecil berupa angka romawi sebagai penanda kelinci percobaan mereka atas vaksin yang sedang KTech kembangkan. Terlihat besi berwarna orange yang berasap membuat ngilu siapapun yang melihatnya.
"Aaaarrrrrghhh!!"
__ADS_1
Leo kembali menjerit jauh lebih keras dari sebelumnya, besi panas itu menempel di kulit tipis tengkuk lehernya. Pria itu menahan rasa sakit yang bertubi-tubi mendera tubuhnya. Sudah tidak bisa lagi dijabarkan oleh kata, bagaimana kondisinya saat ini. Jika saja mati lebih mudah, maka dia akan memohon untuk dibunuh saat ini juga.
"Nine!" Keenan membaca tanda di tengkuk leher korbannya. "I love it! Sembilan adalah angka keberuntungan, good luck for you, hahaha..."
Keenan mencabut jarum yang sudah kosong, seluruh cairan vaksin sudah berpindah pada tubuh korban. Leo kembali menjerit kesakitan. Kedua tangannya mengepal kencang, tubuhnya berubah merah. Dia sedang merasakan sakit yang tak terkira. Rasa panas menjalar di tiap nadinya. Leo melolong seperti serigala, Keenan dan seluruh anak buahnya justru tertawa puas.
"Karena kamu sudah menyentuh gadisku, aku pastikan, kamu adalah kelinci percobaan kesukaanku!" Keenan kembali mengapit kencang wajah Leo. Pria itu hampir kehilangan kesadarannya. Namun, suara Keenan masih jelas di indra pendengarannya. "Jangan pernah mempermainkan batas kesabaranku, Farah Lee adalah kesabaranku... Paham?!"
Keenan menjatuhkan wajah Leo dengan kasar. "Benny!"
"Saya Tuan!"
"Setelah dia bangun, berikan serum antisera tahap dua!" Keenan membersihkan tangannya dengan sapu tangan yang sudah Ben siapkan sebelumnya. "Buang tubuhna di jalanan distrik, buat dia seperti korban tabrak lari!"
"Noted!" Ben menundukkan tubuhnya mengerti.
Keenan keluar ruangan dengan perasaan lega, seluruh anak buahnya menunduk hormat pada tuannya.
***
Kantor Presdir KTech, 04.00 PM.
Farah sudah selesai diobati oleh sekretaris kekasihnya. Hatinya masih gelisah tidak karuan, dia berdiri memandangi pemandangan kota S dari tempatnya. Bibirnya mengatup erat, pikirannya tidak karuan. Sampai dia mengulumkan senyuman. Tangan kekar kekasihnya sudah merangkulnya dari belakang.
"Kak!" Farah berbalik menatap wajah lelah kekasihnya.
"Aku sudah membereskan orang yang berani melecehkanmu, apa kamu tidak berniat memberikanku hadiah?"
Farah terpaku, apa membunuh pembully juga butuh kompensasi?
"Sssfft!" Farah mengendus bau anyir ditubuh kekasihnya. "Kakak bau!" Dengan cepat Farah mendorong tubuh Keenan.
"Aku meminta kompensasiku sekarang juga!"
"Aaarrrgghhh!"
Farah menjerit kencang, kekasihnya menggendongnya bak karung beras. Keenan segera membawa gadis berisiknya ke ruang istirahat yang tersedia disana. Keenan memasukkan Farah dan memaksa gadis itu melayaninya dan bahkan memandikan prianya.
"Udah gede masa minta dimandiin, malu ih!" rutuk Farah menaruh sabun mandi di bathtub.
"Kamu juga sering aku mandiin, Tengil!"
"Aku kan memang masih kecil, wlee!" Farah menjulurkan lidahnya mengejek Keenan.
"Awas kamu ya!!"
"Aarrghh! Hahaha..."
Farah menyiram air shower ketubuh Keenan, keduanya malah bermain air seperti bocil. Namun, setelahnya kamar mandi di dominasi suara lenguhan keduanya berpadu dengan bunyi decit dari peraduaan kedua kulit mereka.
"Capeee~" rengek Farah tidak terima pada kekasihnya yang justru sedang stay cool melakukan verifikasi dokumen di atas meja kerjanya.
"Heh..." Keenan terkekeh memperhatikan Farah yang tertidur di sofa.
Mereka menghabiskan satu jam di kamar mandi, tubuh Farah terasa semakin ngilu di beberapa tempat. Namun, berbanding terbalik dengan prianya yang justru terlihat semakin fit. "Sebentar lagi ya Sayang, setelah itu kita kembali pulang ke Beverly!"
"Loh? Nanti Bibi tanya aku jawab apa?"
"Kamu tidak perlu khawatir, Sandra sudah memberi tahu ke kediaman, kamu ada tugas kelompok!"
__ADS_1
"Cih!" Farah mencibik sebal, jika harus diusili kembali di rumahnya, dia sepertinya tidak sanggup saat ini.
Setelah berada di Beverly Farah ternyata bisa istirahat dengan tenang. Keenan mencium kening gadisnya perlahan. "Setiap detik rasanya sungguh menyiksa..."
Keenan menatap nanar wajah polos gadisnya yang sudah terlelap. "Aku mencintaimu, tapi kamu tahu... Menjadi wanitaku tidak seindah yang kamu bayangkan. Bahaya akan selalu mengintaimu... Maafkan aku!"
Keenan bangkit dan keluar kamar, dia merasa begitu emosional. Dia tidak percaya, baru beberapa hari saja kutukan Farah bekerja sempurna padanya.
"Selamat malam, Tuan!" Sam sudah berada di mansion atas perintah Keenan sebelumnya.
Keenan menenggak satu kaleng bir segera, dia berbalik menatap asistennya. "Apa yang kamu dapatkan?"
Keenan menghidupkan rokoknya, dia membuang kepulan asap dengan membuang nafas berat.
"Nona Farah benar, yang menguncinya di kamar mandi adalah putri Lanchester."
Keenan terkekeh sinis, ternyata gadisnya memang tidak berbohong. "Apa ini perselisihan antar wanita?!"
"Maksud Tuan?" Sam mengerut tidak mengerti.
Keenan mendengus sebal, dia tidak mungkin mengatakan persepsinya. Keenan mengira Farah terlibat denan putri Lanchester karena saling memperebutkan pria yang tak lain Axcel Luciano.
"Aku ingin kamu membuat Putri Lanchester menyesal sudah berurusan dengan Klan kita." Keenan kembali menyesap rokoknya.
"Ehm, aku punya ide..." Sam menunjukan senyum smirknya di hadapan tuannya.
"Hm!"
"Kemarin, Lanchester Group mengirimkan proposal kerja sama pengadaan bahan baku chip kita."
Keenan menyeringai mengerti arah pembicaraan anak buahnya. Walau bagaimanapun sengkleknya Sam, pria itu paling mengetahui keinginan Keenan. "Lakukan semaumu! Tapi ingat, jangan pernah kaitkan dengan kualitas dan pemasaran produk kita."
"Dimengerti Tuan!" Sam sudah menyimpan agenda titah tuannya dalam gadget pintarnya.
"Siapkan pengganti mereka, aku tidak ingin masalah kecil ini menjadi besar!"
"Tentu saja, bukankah kita memang akan menerima pengadaan dari kelompok Alister?"
Keenan tertawa dengan wajah iblisnya, keberuntungan selalu berada dipihaknya sekarang.
"Permainkan saham Lucifer!" titah Keenan selanjutnya membuat Sam menahan diri untuk tidak mengejek tuannya.
"Sampai tahap apa Tuan?"
"Sampai mereka menyadari, bahwa putranya membahayakan bisnis mereka!" Keenan kembali menyeringai dan menyesap sisa rokoknya.
"Pppuuuffh!" Keenan bangkit setelah mematikan rokoknya. "Aku tidak ingin di ganggu lagi sampai besok siang!"
"Baik Tuan, selamat bersenang-senang!" Sam menunduk hormat.
Pletaaak!
"Aargh, mengapa anda tega menjitak kepala saya yang berharga ini!"
"Aku ingin, lantas kamu berhak menolaknya, hah?" Keenan menoyor kembali kepala Sam dan terkekeh meninggalkan asisten koclaknya dia balkon.
"Lakukanlah~ Semaumu... Sampai kau lelah menyakitiku~" Sam bersenandung sumbang membuat Keenan melempar bantal sofa ke arah keberadaan Sam.
"Enyahlah!!"
__ADS_1
--- To be continue ---