
Kantor KTech Pusat, 11.00 AM.
Keenan merasa frustasi saat ini, emosinya sudah melebihi ambang batas dan ingin dikeluarkan segera. Keenan memaki seluruh jajaran staf tanpa terkecuali. Sandra ikut terseret di dalamnya, dia sendiri sudah sangat paham akan sifat tuannya. Wanita tangguh itu menganggap ocehan Keenan masuk telinga kanan keluar beli ice coffee!
“Aku ingin membunuh seseorang!!” pekik Keenan membuat anak buahnya tersentak.
Tidak ada yang berani menyela bahkan menghentikan kegilaan Keenan. Kecuali…
“Ada apa ini?” Sam akhirnya mengetahui kekacauan yang dilakukan tuannya dari Sandra. Dengan cepat pria yang sedang menangani kasus perdagangan KTech kembali menuju kantor.
Keenan berhenti, seluruh anak buahnya tidak tahu harus seperti apa. Dua-duanya terlalu mengerikan jika tidak dipatuhi titahnya.
Keenan mengepalkan tangan, pria itu sudah menjatuhkan air matanya. Bayangan Farah yang hampir mati di tangannya, bayangan ketakutannya saat membaca alat tes kehamilan, semua berterbangan di kepala Keenan. Hal itu lah yang membuat pria tak terkalahkan di Jaringan Hitam bisa menjatuhkan air mata di hadapan seluruh anak buahnya.
“Huh,” Sam menghela nafasnya panjang. Dia mengerti apa yang sedang terjadi pada tuannya, bisa apalagi? “Bagaimana jika berbincang di ruanganmu? Sandra akan membuatkanmu teh chamomile…”
Keenan tidak bergeming tidak juga mengucapkan sepatah kata. Perlahan dia berbalik dan mengikuti perintah Sam. Inilah uniknya hubungan kedua pria yang paling disegani di KTech. Hanya Samuel Park yang bisa mengatasi emosi Keenan Kaviandra. Bukan tanpa alasan, keduanya tumbuh bersama sedari mereka duduk di bangku sekolah dasar. Memiliki mimpi yang sama dan selalu berada di jenjang pendidikan yang sama. Sam sangat mengenali Keenan, pria itu jauh lebih mengerti watak, sifat dan karakter Keenan. Jika keluarga besar Kaviandra mengalami kesulitan menasehati Keenan, maka mereka akan memanggil Sam untuk melakukannya.
“Sekarang kamu tahu alasan mengapa Sam menjadi asisten khusus Tuan Muda?” Ben berbalik menatap Ken yang tertegun menatap kepergian tuannya.
“Ya… Kita sebenarnya sangat mengetahuinya jika sudah seperti ini.” lirih Ken sendu.
Keenan, Samuel, Benny dan Kenny. Mereka empat serangkai yang memiliki cita-cita yang berbeda. Namun, disatukan dalam sebuah perusahaan KTechnology. Jangan ditanya bagaimana solidaritas keempatnya. Mereka sudah seperti saudara, Keenan terlihat keras di luarnya saja. Keenan adalah pemimpin yang paling mengerti kebutuhan anak buahnya. Tidak ada satupun dari mereka yang kecewa akan apresiasi Keenan atas kerja keras mereka.
Keenan dan Sam sudah berada di ruang presdir KTech. Sandra mengerti setelah sebelumnya Sam menginstruksikan apa yang harus disiapkan olehnya. Sandra menaruh dua teh penenang di masing-masing meja. Keenan tetap terlihat diam seribu bahasa. Dia bahkan melihat pantulan wajah Farah di permukaan teh miliknya.
“Farah sangat mencintaimu Keena, kita semua sangat mengetahuinya bukan?” Sam memulai obrolan serius mereka.
Keenan merebahkan diri, memijat keningnya yang terasa begitu berat.
“Sekarang aku tanya, apa kamu juga mencintainya?”
Keenan tetap diam, dia tidak merespon ucapan sahabatnya.
“Huh…” Sam membuang nafas perlahan. “Aku yakin, kamu sendiri menyadari bahwa kamu sudah begitu keterlaluan padanya!” Sam bangkit, dia berjalan beralih menatap pemandangan kota dari jendela besar. “Kamu lupa, kamu berjanji membuatnya bahagia saat kamu membawanya ke kediaman Kaviandra delapan tahun yang lalu!”
Keenan kembali menjatuhkan air matanya, di depan Sam dia tidak bisa berdebat panjang jika berkenaan dengan urusan kehidupan.
“Kamu berjanji pada Tuan Lee akan melindunginya, bukan?”
Keenan membiarkan dirinya terpuruk saat ini, dia juga membiarkan Sam mengoloknya saat ini.
__ADS_1
“Aku tidak tahu, apa nasehat ini akan kamu ikuti atau tidak. Semua tentu atas kendali dan tanggung jawabmu!” Sam berbalik menatap sahabatnya yang sudah diyakini dalam kondisi terlemahnya. "Jika kamu tidak mampu membuat dia bahagia, apalagi menyakitinya, lepaskan dia!”
Keenan membuka matanya, kedua bola matanya membulat sempurna. Kata apapun akan dia terima, kecuali melepaskan!
“Kamu lupa, alasan kamu berada di Condo Royal adalah menjauhkannya dari ancaman bukan?”
Keenan menatap tajam Sam, asistennya itu tersenyum menanggapi. “Aku bisa lakukan apapun, merendahkan diriku, mencelakai diriku sendiri, aku bisa melakukannya!”
Sam terdiam, dia menatap iba pada sahabatnya.
“Satu hal yang harus kamu ketahui dan ingat… Aku, tidak akan pernah melepaskan Farah Lee… Sekalipun dia sudah menjadi abu!”
Deg!
“Aku mencintainya, sangat mencintainya… Kamu jelas lebih tahu dariku, bukan?”
Keenan bangkit bersiap keluar ruangan dan meninggalkan sahabatnya.
“Jika benar kamu tidak ingin melepaskannya, maka buatlah dia bahagia!” Sam memekik mencoba mengingatkan kembali sahabatnya. Terkadang, Sam juga tidak bisa menebak bagaimana isi kepala tuannya jika berhadapan dengan perasaan cinta.
***
Resto Pizza xxx, Kota S, 12.30 PM.
“Ayaaang!” Axcel bisa melihat kedatangan Farah dan memekik memanggilnya dengan penuh semangat.
Farah melebarkan senyuman dan segera mendatangi sahabatnya. Axcel bangit dan mempersilahkan kursi di depannya untuk digunakan Farah.
“Sorry lama, gue naek taksi soalnya!”
“Dih, tahu gak ada yang anterin lu kenapa gak minta jemput sih, Ay!”
Farah hanya terkekeh merespon kekesalan sahabatnya. Satu sisi Farah merasa berdosa terus saja memanfaatkan pria yang mencintainya tanpa pamrih itu.
“Lu, tahu gak… Gue seneng banget!!” Axcel kembali duduk di tempatnya, seperti biasa dia akan lebih dulu memulai percakapan mereka.
“Padahal gue mau malakin!” cicit Farah berusaha melempar lelucon di saat hatinya porak-poranda saat ini.
Axcel tersenyum, ada perasaan yang sulit dijelaskan kata saat dia memandangi Farah yang sendu. Bahkan, gadis itu seperti terlihat sehabis menangis. Kedua matanya membengkak bagai kacang kenari.
“Kamu ada masalah?” Axcel segera to the point akan perasaannya yang tidak nyaman.”Cerita padaku… Aku akan berusaha membantumu, kamu tahu itu!”
__ADS_1
Tanpa bisa ditahan Farah, air matanya keluar begitu saja.
“Faraaah…” Axcel menggenggam tangan gadis incarannya.
“Gue lapar!”
Axcel terlihat kesal dengan jawaban Farah, dia yakin gadisnya tengah berbohong. “Haaissh!!”
Dengan cepat Axcel memanggil pelayan, Farah kembali terlihat sumringah. Tak sedetikpun Axcel melepaskan pandangannya. ‘Sejak kapan kamu suka pakai jaket hoodie, Ay!’
Farah sudah memesan beberapa menu sekaligus. Axcel menyadarinya, dia kembali menyelidik ke arah gadis incarannya. “Ay, lu gak makan seabad?”
“Bodo!” sahut Farah cepat. “Kamu gak mau bayarin ya?” Farah mendadak kesal.
“Dih, sejak kapan gue perhitungan!” ujar Axcel cepat. “Tapi, gue hapal banget, you biasanya juga cuma order spaghetti, mana pernah You makan pizza dalam jumlah banyak begini. Paling banter lu nyomot punya gue… Bilang, low karbo lah, diet lah, kolesterol lah… Udah pindah keyakinan lu?”
Farah membuka mulutnya lebar, dia tidak menyangka Axcel akan mencercanya dengan mendetail seperti barusan. “Gue lagi pengen gak boleh? Sewot banget sih!!” sungut Farah kembali uring-uringan. “Kalau lu keberatan bayar ya udah gue ngutang! Dompet gue ketinggalan!!”
Deg!
‘Sejak kapan Farah Lee meninggalkan dompetnya?’ Axcel baru menyadari, Farah benar-benar tidak membawa tas apapun. Bahkan dia bisa memastikan Farah tidak membawa ponselnya. Gadis itu terlihat gelisah saat ini, Axcel semakin merubah raut wajahnya menahan emosinya.
“Jujur sama gue Ay, kamu kabur?”
Farah tersentak, dia tahu cepat atau lambat Axcel yang peduli padanya bahkan terlalu mengetahui dirinya, sudah pasti bisa menebak keadaan Farah saat ini.
“Kalau iya? Kenapa?”
Axcel terbelalak tidak percaya, dugaannya benar. Keluarga Kaviandra tidak benar-benar memperlakukan Farah dengan baik seperti rumornya. “Ay…”
Disisi lain di waktu bersamaan, Keenan sudah berada kembali di mansion Beverly. Di menatap pintu rumah ragu. Ada berjuta rasa menggelayut dalam dadanya. Dia begitu rindu walau baru sejenak berpisah. Namun, sisi lainnya dia begitu takut…
“Sayang…” Keenan membuka pintu dengan akses yang dia punya.
“Baby…” Keenan terus memanggil gadis kesayangannya. “Farah Lee!
Keenan terdiam di ambang pintu kamar mereka. Keenan bisa merasakan tidak ada tanda kehidupan disana. Dia menelan saliva sejenak, apa yang dikhawatirkannya akhirnya terjadi. Keenan mengaktifkan EYES dan membuka kamera pengawas dua jam yang lalu saat dia meninggalkan Farah disini sendirian.
“Kamu sungguh berani, Farah!” lirih Keenan tidak percaya. Dia langsung merogoh saku dan menghubungi seseorang.
“Seret Farah Lee kehadapanku sekarang juga, temukan dia dalam waktu satu jam atau aku akan lenyapkan kalian!!”
__ADS_1
--- to be continue ---