
"Apa kita akan tinggal di kediaman besar?"
Farah membuka obrolan saat mereka tengah di perjalanan pulang. Keenan menoleh dan mengusap lembut kepala istrinya. "Ya, Keano juga masih disana. Apa kamu berencana tinggal di luar?"
"Aku membawa Daniel, aku takut merepotkan."
Semenjak kepergian Farah, sikap gadis itu sedikit terasa berbeda dalam pandangan Keenan. Istrinya tiba-tiba berubah lebih dewasa dalam bersikap dan juga terasa sedikit dingin dari biasanya.
"Tidak masalah, aku yakin Papa dan Mama lebih menyukai rumah mereka ramai dibanding kita pergi meninggalkan mereka sendirian." Keenan kembali fokus menatap jalanan.
Farah menatap Daniel yang berada di kursi belakang. Pria kecil itu tengah tersenyum kecut, Farah kembali beralih ke posisinya semula, akan ada banyak yang berubah di harinya. Dia berharap semua berjalan baik sampai hari H pesta resepsi pernikahannya. Keheningan kembali mendera membuat Daniel yang menjadi orang ketiga merasa tercekik rasanya.
Tiga puluh menit di perjalanan, akhirnya mereka sampai di kediaman Kaviandra. Daniel begitu tersentuh saat dia mendapat sambutan yang hangat dari keluarga iparnya. Walau sejujurnya dulu mereka juga merupakan keluarga angkat, Daniel sanagt berhutang banyak pada Keenan.
Makan malam berjalan khidmat dengan berbincang hal random memeriahkan suasana, tiba semua orang beristirahat memasuki kamar masing-masing Karen menghadang Farah dan segera menariknya. Keenan mendengus kesal, tapi dia tidak bisa melakukan apapun sekarang. Dia begitu lemah di hadapan duo keong racunnya.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata tengah memperhatikan. 'Akhirnya, ini waktu yang tepat untuk membuat Keenan menjadi milikku.'
Sebelum Farah memasuki wilayah adik iparnya, mereka menikmati pemandangan luar biasa dari bocil penerus yang selalu menunjukan perseliihan tak ubahnya sikap mereka saat seusia Keano dan Jimmy.
"Aku akan tidur dengan paman kecilku." Keano bersedekap tangan menatap tajam Jimmy yang selalu mengekor di belakangnya.
"T-tapi... Jimmy maunya sama Kakaak... Uncle Daniel, boleh kan ya?" rengek Jimmy mencari bala bantuan.
"Hish, syuh... syuuh! Tidak cukupkah kita melakukannya kemarin?" tolak Keano kesal.
"Keano, dia adikmu... Biarkan saja!" Farah mendekat dan berusaha melerai.
"Tapi Ibuuu..."
"Hi ilih, gak anak gak bapak sama aja kelakuannya. Nyebelin!" oceh Karen menggoda Keano dengan mengacak rambutnya gemas.
Keano mencibirkan mulutnya sedangkan Jimmy merasa menang dan tertawa lepas mengangkat kedua tangannya ke atas. Bagi Jimmy, Keano adalah panutannya mulai dari sekarang hingga dewasa kelak. Jimmy telah bersumpah akan berada di samping Keano. Keano harus menjadi gurunya dan role model hidup Jimmy kedepannya.
***
Mansion Skyline 08.00 PM.
Ben tengah menenggak bir kaleng yang langsung dibuang dengan melemparnya.
Traang!
Dddrttt... Dddrttt...
"Hm?"
"Cepat kemari, mereka mengepungku! Aku curiga dia adalah anak buah Tuan Alex!" Terdengar suara pekikan Ken di seberang sana membuat Ben tidak berpikir dua kali lipat kembali keluar dari rumahnya.
__ADS_1
"Ya, otw." Ben berjalan tegas menuju pintu.
"Alah, otw apaan lu masih di rumah coeg!" sungut Ken kesal bisa melihat jelas dari EYES miliknya.
"Ya ini kan lagi jalan kesitu bego!"
Braaak!
Ben segera membanting pintu mematikan sambungan lekas menuju dimana kendaraannya terparkir. Sialnya saat dia berusaha keluar dari lantai unitnya dia bertabrakan dengan seseorang.
Brukk!
"Aah, sorry!" Seorang wanita muda yang menabrak Ben menundukan tubuhnya
Ben menghentikan langkahnya menatap nyalang si gadis. "Jalan tuh pake mata!!"
Sebelum tidak peduli lagi, Ben sempat memaki si gadis yang membuang waktu sepersekian detiknya. Si gadis masih meringis memegangi tangannya yang terkena dengan tembok saat bertabrakan barusan. Tak lama terdengar bunyi derap langkah beberapa orang yang tergesa mendekati mereka. Si gadis lekas mengejar langkah kaki Ben dan tanpa meminta izin merangkul tangan dengan ekspresi ketakutan menyembunyikan dirinya di balik tubuh Ben.
Mau tak mau Ben berhenti dan mengernyit dengan tingkah gadis yang dia kenal adalah tetangga mansionnya beberapa bulan sebelumnya.
"Tolong aku, please!" Gadis itu meringis meminta pertolongan pada Ben.
Tap... Tap... Tap...
Derap langkah semakin terdengar mendekat dan gadis itu semakin erat merangkul lengan Ben. Dengan hembusan nafas berat Ben terpaksa menarik si gadis cepat menuju tangga darurat.
Sebelum Ben meninggalkan lantai unitnya, dia memindai apa yang sebenarnya tengah terjadi disana.
"Menurut informasi gadis itu berada di kamar 405." Salah satu pria lain memberikan informasi dengan membaca ponselnya.
"Ini dia kamarnya, dobrak saja! Kita harus menyerahkannya langsung pada bos kita sekarang!"
Ben menatap si gadis nyalang, dia tidak ingin terlibat namun gadis itu menunjukan sikap memelas memohon pertolongan. "Please, bawa aka pergi dari sini. Mereka akan menjualku untuk melunasi hutang keluargaku..."
"Itu urusanmu, bukan urusanku!" Ben menghardik tangan si gadis dan segera turun tidak ingin peduli.
Dddrrtt!
"Lu dimana setan? Apartemen lu pindah ke Dubai?!" pekik Ken kesal.
Dor... Dor...
"Sorry, ada kendala teknis sedikit!" Ben menembakkan tali ke salah satu tiang penyangga, setelahnya dia melompat dan turun melesat lebih cepat seperti tengah menaiki lift.
Si gadis terbelalak dengan yang dia lihat, segera dia keluar dari sana dan bergegas menuju lift.
Ben sudah sampai di pelataran basement bersiap keluar dengan kendaraannya membantu Ken yang sedang ketar-ketir di kepung musuh mereka.
__ADS_1
Brak!
Ben terbelalak, pasalnya tiba-tiba gadis yang menyita waktunya sudah berada di kursi samping tanpa dosa.
"Aku mohon uncle, aku ikut sampai keluar dari perbatasan kota ya..." Gadis itu menangkup kedua tangan di dadanya dengan wajah yang sudah sembab.
"Huh!"
Ben tidak berkata apapun, dia segera mengeluarkan mobilnya dan keluar dari wilayah apartemennya. Setelah keluar dari kawasan, sekitar lima meter dari sana Ben menghentikan mobilnya mendadak membuat si gadis tersentak ke depan dashboard mobil.
Cekiiit!
"Aarrghh!"
Gadis itu menjerit, walau menggunakan seatbelt-nya tapi tubuhnya masih terangkat.
"Turun!"
"Tapi, Uncle aku─"
"TURUN KATAKU!!"
Ben membuka paksa seatbelt yang di gunakan si gadis dan membuka pintu kasar.
"Aku tidak punya uang, apa Uncle mau bersedekah memberiku uang taxi?" Si gadis semakin berulah membuat emosi Ben berada di puncak.
"Aku bukan pria dermawan, jika tidak ingin turun sekarang juga, maka aku akan membawamu pada komplotan barusan." Ben mendekat berbisik menekan di samping tubuh si gadis yang raut wajahnya memucat saat ini juga.
"Cih, ganteng doang hatinya gak ada!" rutuk si gadis kesal dan turun dari mobil dengan perasaan enggan.
Ben tidak peduli, dia kembali menarik pintu segera dan menancap gas meninggalkan wanita itu di pinggir jalan.
Dengan seringai puas wanita itu memperhatikan mobil Ben yang melaju dengan kencang meninggalkannya. Dia merogoh saku celana dan menghubungi seseorang.
"Dia telah pergi, aku juga sudah meletakkan barangnya." tutur si gadis pada seseorang di sambungan telepon.
--- To be continued ---
Cuplikan bab yang akan datang...
DOR!!
Semua orang di kediaman besar terjaga dengan suara tembakan yang diperkirakan berasal dari ruangan dimana kamar Farah berada. Semua bergegas keluar dan memeriksa apa yang sedang terjadi di tengah malam.
"Aaarkkk!!"
"Kau sungguh lancang naik ke ranjangku!"
__ADS_1
────────────────