
"Oh my goodness, kita hampir lupa...," Nyonya Lyn mengurai pelukan keempatnya. Dia menatap kearah Keano dengan wajah haru jelas terpetakan di wajahnya yang sudah menua tapi masih terlihat awet muda.
"Kita kedatangan anggota baru," Nyonya Lyn mendekat, di susul tuan Kaviandra yang sama tidak sabarnya.
"Ommaaa, Kakak lah yang membantu aku menghindari para penjahat itu!" tutur Jimmy antusias menjelaskan.
Keano menelan saliva serat. 'Selain cengeng, dia juga tipe ember bocor ternyata!' batin Keano masih tidak menyukai kepribadian Jimmy yang mulai saat ini akan menjadi penggemar beratnya.
"Oh ya?" Kedua kakek dan nenek mereka terperenjat dengan segera. Begitu pula Keenan dan yang lainnya, Keano hanya bisa mendengus pasrah pada keadaannya.
"Benar Opa, Kakak menghajar semua penjahat hanya dengan jam tangannya. Syuut... Syuut... Syuut!" Jimmy tengah memperagakan apa yang dia lihat sebelumnya.
Semua orang menyaksikan dengan seksama, Keenan sendiri sudah mulai menunjukan kebanggaannya. Sudut bibirnya terangkat, tangan besarnya mengusap lembut mengacak rambut putranya. "Tentu saja Sayang, dia Putra Papa Besar. Mulai sekarang kalian kakak beradik." Keenan bersimpuh menjelaskan pada keponakan kecilnya.
"YEAAAAY!!" pekik Jimmy mengangkat kedua tangan girang. "Finally I have Big Brother!" Jimmy berlarian kesana-kemari membuat semarak rumah yang sebelumnya terasa dingin menjadi menghangat mulai saat ini.
'Oh, tabahkan dirimu Keano...,' Keano hanya bisa meratapi nasib, kedepan gerak-geriknya akan semakin terbatas dengan adanya Jimmy yang dia anggap seperti beban.
"Wah, kamu terlihan seperti copy paste system dengan Papamu, hahaha" Tuan Kaviandra berkelakar membuat Karen mendelik tidak suka.
"Hey bocil, Onty harap kedepannya kamu tidak memiliki sifat seperti Papamu!" ejek Karen menggona keponakannya.
"Absolutely no, I'm the next level!" tukas Keano dingin dan datar.
"Uuuuuw! I like it," Karen menjulurkan tangan untuk adu jotos pada Keano, pria kecil itu perlahan membalas dan keduanya saling melempar senyuman.
"Dia putraku, tentu harus memiliki paras dan sifatku. Aku tampan dan aku kaya..." sombong Keenan percaya diri.
Farah dan Karen langsung bersikap bak anak kembar yang tengah sehati sejiwa menunjukan ingin muntah di hadapan Keenan langsung.
"Hahaha...," Tuan Kaviandra dan nyonya Lyn tertawa lepas.
"Sini Sayang, peluk Oma," Nyonya Lyn menjulurkan tangan mendekat meminta pelukan.
"Eitss, dimana-mana Opa dulu baru Oma!" Tuan Kaviandra mencegah istrinya.
"Apa? Mana boleh Oma dulu..."
Keduanya beradu mulut memperebutkan kasta tertinggi di keluarga Kaviandra.
"Ssstt, Kak... Nanti kita main bersama... Kakak tidur denganku ya?" bisik Jimmy diam-diam menarik tangan Keano menjauh dari area tengah ruangan.
"Hei, Jimmy... Keano... Kemarii..." Nyonya Lyn dan suaminya kembali berebut memenangkan hati Keano.
Cup~
Keenan mendekat merangkul pinggang ramping calon istrinya dan mancium keningnya mesra.
"Pamer teroooosss!" ejek Karen menggoda. "Anda mau buka puasa ya? Kasian selama lima tahun jadi suami karatan." sungut Karen menusuk jantung Keenan.
Farah tengah terbahak, mulut Karen memang sepedas mie instan samyang level maksimal. Karen mengerti dan undur diri menyusul keberadaan kedua orang tuanya, sedangkan Carol merasa tidak dianggap disana. Dia mengepalkan tangan erat di kedua ujung terusan bajunya. Dia bahkan ditinggalkan begitu saja oleh keluarga Kaviandra yang mulai beraktivitas masing-masing.
Keenan segera menarik Farah menuju tempat biasa mereka melakukan hubungan terlarang.
Kamar Farah, kediaman Kaviandra.
Ada rasa haru yang langsung menyelusup dalam dada Farah saat kembali memasuki kamarnya. Semua masih sama seperti saat dia tinggalkan sebelumnya. Tanpa basa-basi Keenan memeluk erat wanitanya dari belakang.
"Aku sangat bahagia, akhirnya kamu pulang!" Keenan masih terus memeluk erat sampai Farah meronta karena merasa sesak.
"Mengapa kamarku tercium bau Kakak?" tanya Farah mengalihkan kesenduan.
"Tentu saja aku yang menempati kamarmu selama ini." Keenan membalikkan tubuh Farah, mengangkat dagu wanitanya. "Disini aku merasakan adanya daya kehidupan." Keenan menyesap bibir Farah lembut.
Farah merona dengan perhatian luar biasa Keenan. Calon suaminya itu berubah cepat dari terakhir yang bisa dia ingat. Tautan keduanya lembut namun menuntut, Keenan menuntun tubuh Farah menuju ranjang besarnya. Keduanya kembali dalam kabut gairah yang ingin mereka tuntaskan saat ini juga.
"Aku sudah tidak sabar disini ada adik Keano, dia sudah sangat cukup umur untuk memiliki adik," bisik Keenan di cuping telinga Farah.
"Dunia sudah kebalik, ya? Dulu setengah horor Kakak tidak menyukai aku hamil. Sekarang?" cibir Farah menggoda Keenan.
"Itu dulu Sayang, saat aku menjadi seorang pecundang. Tapi sekarang, aku sudah sah menjadi seorang ayah dari pria kecil multi talenta!"
"Sepertinya akan bagus jika adiknya seorang perempuan," Keenan turun menciumi setiap inci kulit tubuh Farah.
"Aaarghh, ssshh... Bagaimana jika dia bukan perempuan?"
Keenan menyeringai dengan otak cabulnya. "Kita akan berusaha sampai dia menjadi perempuan!"
"Kakak pikir aku peternakan ayam!" sungut Farah kesal, Keenan merespon dengan terbahak bahagia. Baginya tidak masalah anaknya berjenis perempuan atau kembali dengan seorang anak laki-laki. Bagian terpenting baginya adalah anaknya harus terlahir dari permaisurinya.
***
[ Part ini berisi flashback yang sudah di alami keseluruhan perjalanan Farah dan Keenan. ]
Hingga Tua Bersama - Rizky Febian
Inikah kisah cinta
Yang aku sesali
__ADS_1
Kini kau tinggalkan diriku
Ku tahu ini semua kesalahanku
Yang selalu membuatmu terluka
Maafkanlah sayangku
Dengarkan janjiku...
***
Bruuk!
"Arrh, maaf Kak!" Farah menunduk gelisah.
"Makanya matanya dipake!" sungut Keenan merutuk dan berlalu tanpa peduli.
"Hih! Aku sumpahin gak akan ada cewek yang mau sama dia!" rutuk Farah lirih mengusap lengannya yang tak sengaja membentur dinding saat bertubrukan dengan Keenan. "Iya lah, kan aku yang jadi ceweknya entar. Hihihi...,"
Farah berlalu menuju kamarnya, tanpa Farah ketahui Keenan mengamati gadis itu. Ingin rasanya dia bertanya tentang Farah. "Huh, semakin lama rasa ini tidak enak. Bagusnya aku tinggal di Condo aja, semakin kesini dia membuat aku tidak tenang hidup!"
Keenan memukul angin, menatap punggung wanita yang sudah lama dia incar namun sulit mengungkapkannya.
***
Selama jantung ini berdetak
Ku akan selalu menjagamu
Hingga akhir waktu...
Selama nafas ini berhembus
Tak akan ada cinta yang lain
Hingga Tua Bersama...
"Apa aku terlihat cantik dengan gaun ini?" Farah memutar badannya, memperlihatkan tampilannya saat ini pada prianya.
"Sure..." Keenan segera menarik tubuh Farah dan memeluknya dari belakang. "Jika kamu tidak cantik, tentu aku tidak menginginkanmu," goda Keenan menciumi ceruk eher Farah.
"Aaahh, YOU JERK!" maki Farah kesal.
***
Ku mohon kembalilah dalam pelukanku
Lihatlah diriku tanpamu
Maafkanlah sayangku
Dengarkan janjiku...
Selama jantung ini berdetak
Ku akan selalu menjagamu
Hingga akhir waktu...
Selama nafas ini berhembus
Tak akan ada cinta yang lain
Hingga Tua Bersama...
Mansion Beverly.
"Morning Honey," Farah mengecup sekilas pipi Keenan yang mendekatinya.
"Kau meninggalkanku!" rengek Keenan manja, dia kesal saat terbangun wanitanya tidak ada di sampingnya.
"Aku kan lagi siapin sarapan, Sayang!" Farah terkekeh dengan salah satu sifat plin-plan prianya.
Kadang romantis, kadang dingin, kadang kasar, kadang manja seperti saat ini.
"Do you want some coffee or tea?" tawar Farah. " Or me?" goda Farah berbalik dan membalas rangkulan kekasihnya.
"Absolutely you!" Keenan menggendong Farah segera dan memutar tubuh mungil gadisnya sejenak.
"Aaarhhh, hahaha... Turunkan aku!" tawa Farah pecah dan membuncah saat perlahan Keenan menghentikan aksinya.
Dari bawah sana Keenan menatap penuh kelembutan pada Farah yang dia angkat lebih tinggi dari tubuhnya. "Selamanya kamu milikku Farah Lee, I love you so much!"
***
Hati ini tak akan mungkin tanpa cintamu yang begitu tulus mencintaiku...
__ADS_1
Di sebuah caffee pinggir pantai di distrik S.
"Farah Lee, maukah kamu menikah denganku. Menjadi satu-satunya tujuanku untuk pulang setelah lelah dunia aku kejar." Keenan bersimpuh membukakan kotak kecil yang berisi cincin berharga disana.
Farah menutup mulut dengan kedua tangannya, matanya tengah bekaca-kaca. Hatinya membuncah luar biasa, setiap kata tertahan di tenggorokannya.
"Honey...," Keenan memanggil lembut wanitanya menunggu kepastian dari gadis kecil yang selalu menjadi cinta pertama dan terakhirnya.
"I do!" Farah memeluk segera Keenan dengan berderai air mata.
"I love you Honey, My Farah Lee...," bisik Keenan lembut memeluk erat wanitanya.
"Love you too, Mr. K!" timpal Farah bahagia.
Selama jantung ini berdetak
Ku akan selalu menjagamu
Hingga akhir waktu...
Selama nafas ini berhembus
Tak akan ada cinta yang lain
Hingga Tua Bersama
Ku akan selalu menjagamu
Hingga akhir waktu...
Selama nafas ini berhembus
Tak akan ada cinta yang lain
Tak akan ada cinta yang lain
Hingga Tua Bersama...
---To be continue---
Huhuhu... Othor sedih... Actually, ini last part ya...
Cerita inti Gadis Kecil milik Mr. Mafia!! Timit ya gaes... Hiks...
Gimana... Gimanaa... Gimana...
PUAS ENGGAK?
Hehehe...
Yang masih belum bisa move on atau kurang puas, tenaaaang...
Bonus chapter masih ada beberapa ya, hanya untuk menyambungkan dengan season duanya...
Jadi cerita intinya udah tamat.
Terima kasih banyak, atas dukungan kalian semua pada buku ini.
Masih terus pantengin ya, karena next bakal ada??!!
***
Kantor Pusat KTech.
Brak!
"Apa ini?" Sam mendelik kearah Sandra yang tengah menaruh satu undangan dengan bersidekap tangan.
"Undangan penutupan tender," sahut Sandra dingin.
"Terus, apa hubungannya ama gue?" Sam kembali berkutat dengan laptopnya.
"Tuan bilang kita yang handle."
"Dih, enak bener jadi dia!" sungut Sam tidak terima. "Kita setengah mampus mempertahankan stabilitas perusahan, terus dia? Indehoy aja kerjanya, mentang-mentang durennya ketemu. Belah terooos!" rutuk Sam mengejek Keenan yang sudah sepekan mengajak keluarga kecilnya berlibur.
"Ppfftt!" Sandra menahan tawanya. "Tenang Bro, itu masalah lo, bukan masalah gue... Haha!" Sandra mendekat berbisik lirih di telinga Sam dan kemudian tertawa meninggalkan Sam yang sudah bermuram durja.
"Nek lampir, gue sumpahin jadi perawan tua."
"Lu juga, ba bi! Gue sumpahin jadi perjaka karatan!" Sandra mengacungkan jari tengah menuju keluar ruangan.
Sam tidak terima menyusul sekertaris bar-bar itu dan membuat perhitungan.
"Apa lu?"
"Apa?!"
---To be continue---
__ADS_1