
──────────────────────────────────────
"Maafkan aku!" Keenan kembali tersadar atas kelakuannya. Dia begitu serba salah, lagi pula selama ini dia tidak pernah mengalami kejadian seperti ini. Sedangkan, Farah tidak peduli lagi, dia tidak ingin menjawab permintaan maaf kakak sepupunya. Dia hanya ingin segera pergi dari tempat terkutuk itu secepatnya.
"Aku hanya ingin pulang Kak, aku pastikan tidak akan ada yang tahu."
"Oh ya? Bagaimana caranya orang tidak akan tahu? Pengurus kediaman tentu akan menyadarinya!" pekik Keenan pusing setengah mati dengan kelakuan bebal adik sepupunya. Seandainya Farah bisa menuruti semua kemauannya, mungkin dia tidak perlu berbuat kasar.
"Sam! Lekas bawakan obat memar!" titah Keenan menatap tajam asistennya.
Sam meluruskan tubuhnya segera, akhirnya yang ia tunggu datang juga. Keluar dari situasi sulit, kedua tuannya memang sudah terlihat seperti sepasang kekasih yang tengah berselisih dan saling beradu mulut. "Siap Tuan!"
Dengan cepat Sam keluar dari ruangan, dia lekas mencari obat luka yang memang tersedia di kotak P3K setiap anak buah Keenan.
"Apa ini sakit?" Keenan mendekati Farah tanpa di sadari gadisnya, Farah kembali beringsut mundur. Dia begitu trauma dengan keberadaan kakak sepupunya.
'Apa aku boleh meniru jawabannya? Tentu saja sakit idiot!' batin Farah mencerca Keenan.
"Tunggu Sam, dia akan membawa obatnya." Keenan mengurungkan diri menyentuh tubuh Farah, kemudian keduanya merasa canggung. "Pakailah ini untuk membeli mansionmu sendiri, obati lukamu disana." Jelas terlihat Keenan begitu mengkhawatirkan gadis kecilnya.
"Heh, tidak perlu Kak!" Farah kembali menolak kartu yang disodorkan Keenan. "Anggap saja semua ini adalah balas budi keluarga Lee pada keluarga Kaviandra, selama ini kalian juga tidak pernah perhitungan membantu kami!" Farah kembali menolak dengan tegas.
Keenan mengepalkan erat kedua tangannya, tanpa Farah ketahui bahwa dadanya seperti tertusuk benda tajam. "Heh, kamu benar-benar berani melawanku, hm?" Keenan mendekat menekan dagu Farah. "Kamu tidak pernah belajar dari kesalahan ya? Kamu tidak tahu kapok, hah?"
Farah meneteskan air matanya tanpa ingin menjawab kalimat menyakitkan kakaknya. Biarlah Keenan mencacinya dengan puas. 'Aku tidak tahu kapok? Aku bahkan sudah menyerah Keenan!'
"Kemarilah, aku akan mengobatimu." Keenan berubah sendu dan menarik tubuh Farah dengan lembut.
"Aaargh!" Farah merintih, tubuhnya masih terasa perih bahkan untuk sekedar berjalan perlahan.
"Kaaak!"
"Diamlah!"
Keenan menggendong Farah, dia menaruh gadisnya perlahan dipangkuannya. Dengan perlahan Keenan mengamati semua luka yang dia berikan pada gadisnya. Ingin rasanya dia membunuh seseorang sekarang juga, melampiaskan emosi yang terpendam. 'Maafkan aku Farah, bukan maksudku... Aku hanya─'
Tak berapa lama Sam sudah berada kembali bersama mereka, menaruh beberapa obat luka memar juga pereda sakit. 'Sejak kapan Tuan mau menggendong seorang wanita?'
"Kak, turunkan aku... Aku bisa duduk sendiri!" Farah menunduk malu, setelah sebelumnya dia begitu nakal menggoda Keenan. Saat ini sifat Farah berubah total, entah mengapa Keenan justru tidak menyukai Farah yang berubah murung seperti sekarang.
"Menurutlah Farah!" Keenan menautkan rambut panjang gadisnya yang menutupi sebagian luka leher Farah.
"Apa ada perintah lainnya, Tuan?"
Pertanyaan Sam membuyarkan tatapan Keenan pada gadisnya. "Ya, hubungi pihak kampus, katakan Farah izin selama sepekan. Mereka tidak perlu bertanya kenapa!"
__ADS_1
"Baik Tuan, apa ada hal lainnya?"
"Aku juga tidak ingin diganggu seminggu ke depan, kamu tahu jelas apa yang harus kamu lakukan!"
"Ehm!" Sam menelan ludah, jika tuannya tidak masuk itu artinya beban pekerjaan Sam bertambah seribu kali lipat. 'Oh, nasib!'
"Kau menolak?" Keenan beralih menatap Sam tajam, seolah mengetahui isi hati asisten lucknutnya.
"T-tentu saja tidak, Tuan!"
"Good... Lakukan pembelian penthouse di Beverly atas nama Farah, hari ini juga dia akan menempatinya!"
"Noted!"
"Enyahlah sekarang! Ingat..." Keenan memenggal kalimatnya menatap Sam kembali nyalang. "Mulutmu adalah nyawamu, kamu sudah sangat mengenal aku!"
"Tentu saja Tuan, tidak ada yang mengenal anda lebih baik dari saya!" Sam merasa bangga menjawab segera ancaman Keenan.
"Heh! Sana..." Keenan mengusir Sam dengan instruksi tangan menyuruh keluar ruangan.
Sam membungkuk, dia juga pamit pada Farah. Farah hanya bisa menunduk, dia menggenggam erat ujung dressnya, semakin kesini, dia semakin takut. Apa yang mungkin bisa Keenan lakukan padanya setelah ini?
"Baby!" Keenan menaikan dagu Farah, dia tersenyum sekilas membuat debar jantung Farah kembali berdenyut begitu kencang. 'Apa yang ingin Kakak lakukan?'
"Patuhlah, aku akan mengobatimu dengan perlahan." Keenan membuka salah satu obat salep luar.
"Apa ini menyakitimu?" Keenan tersadar, dia segera menyeka air mata adik sepupunya merasa kembali bersalah atas perlakuannya.
"Semua luka ini tidak sebanding dengan sakitnya hati ini," cicit Farah lirih di hadapan Keenan.
Keenan terdiam, dia membuang wajahnya segera. "Aku tahu, maafkan aku... Apapun permintaanmu, aku akan berusaha memenuhinya, Baby!"
Duuaarr!
Farah membuka mulut dengan jiwa yang sudah terlepas dari raganya. Dia ingin memastikan apa dia tidak salah mendengar, atau mungkin saja Keenan sedang bergurau. "Maksud Kakak?"
"Kamu sungguh bodoh Farah, apa satu kali perkataanku tidak bisa kamu mengerti, hah?!" berang Keenan mengumpat kasar. Pria itu membuang wajah menyembunyikan rona merah di wajahnya.
Farah kembali tersadar, dia benar-benar salah dengar. Apa yang bisa diharapkan dari kakak sepupunya? Tidak adat tentu saja!
"Aku bersalah, apapun yang kamu inginkan aku akan berusaha memberikannya padamu!"
"Ya?"
Farah kembali berwajah polos tidak percaya, ingin rasanya Keenan menutup bibir tipis adik sepupunya itu. 'Dia paling tahu menggodaku!'
"Kamu sungguh bebal!" Perlahan Keenan memagut bibir Farah lembut. Gadisnya memberontak, rasa takutnya kembali menguar di dalam tubuhnya. Namun, Keenan memeluk erat tubuh mungilnya. Farah tidak bisa keluar, bibir Keenan mengunci bibirnya. Perlakuan yang jauh lebih lembut membuat Farah seolah tidak memiliki pendirian atas ucapan kebencian sebelumnya.
__ADS_1
"Kak!" Farah berhasil mendorong tubuh kakak sepupunya.
"Sudah selesai, setelah Sam mendapatkan unitnya, kamu beristirahat disana!"
Farah mengangguk perlahan dan mencoba bangkit.
Bruk!
"Kak!"
"Siapa yang menyuruhmu turun?!"
"Aku berat Kak!"
"Tidak!"
"Iya!"
"Tidak!"
Farah merengut sebal, Keenan terkekeh dia kembali mengangkat dagu gadisnya. "Kamu membuatku candu, Sayang!"
'Bagus ya... Dia menggodaku di saat aku menyerah pada keadaanku. Oh come on, Goodness... Dia ini benar-benar brengsek!' Farah merutuk dalam dirinya, melihat perubahan di diri Keenan tentu saja perasaan Farah merasa kembali diuji.
"Jika Kakak ingin bermain-main, maka aku dengan tegas menolak! Aku tidak sanggup bermain, lepaskan aku!" Farah berujar sendu di depan Keenan.
"Kamu sungguh menguji batas kesabaranku, Farah!"
"Heh, jadi mau Kakak apa?"
Farah menantang pria arogan yang memiliki sifat kadang seperti hewan kadang seperti malaikat. "Jika Kakak pria sejati, maka Kakak harus bertanggung jawab atas apa yang sudah Kakak lakukan padaku sekarang ini!"
"Shiiit da-mn Farah Lee!" Dengan cepat Keenan menampik apa yang dilontarkan gadisnya. "Jangan merasa besar kepala setelah aku melunak! Ingat statusmu di Kaviandra apa?! Kamu juga harusnya sadar diri jangan menjadi wanita tamak, seolah meminta aku membawakan bulan untukmu!"
"Bangunlah Farah, jangan bermimpi di saat kedua matamu terjaga!"
Sakit rasanya Keenan terus mengolok Farah, wanita itu semakin membenci pria di hadapannya. Tapi dia bisa apa?
"Hahaha," tawa Farah membuat Keenan mengerutkan keningnya. "Dengar Tuan Muda Keenan, anda terlalu sombong sekarang! Bagaimana jika kita bertaruh? Jika kamu tidak berani, maka kamu layak disebut pecundang!"
"Kau lancang!" Keenan mengapit kembali wajah Farah.
"Ya Sayang," seringai miring terbit di wajah Farah mempermainkan emosi Keenan. "Mari kita bertaruh, suatu saat nanti aku yakin kamu akan mengakui perasaanmu padaku. Aku harap, saat kamu menyadarinya, aku masih bersedia bertahan denganmu, jika tidak maka jangan salahkan keadaan jika kamu tidak akan pernah mendapatkan apapun termasuk ragaku!"
Keenan terdiam dengan kata-kata ancaman gadisnya, sorot mata Farah terlalu menusuk di kedua netranya. Kata yang terlontar Farah barusan seolah terdengar seperti mantra. Keenan menjadi gelisah luar biasa, dia tidak ingin mengakuinya. Namun, hati kecilnya meyakini setiap perkataan Farah.
--- To be continue ---
__ADS_1