Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 183 # First Kiss


__ADS_3

Sandra telah kembali ke ruangannya, perasaannya sungguh tengah di aduk-aduk tidak karuan dengan apa yang Daniel suguhkan padanya. Dia tidak menampik bahwa hadirnya Daniel mampu membuat ruang di hatinya yang kosong kini terisi beberapa kelopak bunga yang mulai bermekaran. Sandra menatap Sam yang sudah berada di tempatnya dengan raut wajah yang ditekuk tidak mengenakan. Dia menghampiri sejenak rekan dua langkahnya itu.


"Kamu sudah makan siang?" tanya Sandra datar.


"Apa pedulimu Nek Lampir!" sungut Sam kesal.


Sandra mengerutkan keningnya, selalu seperti ini. Sam adalah makhluk bumi yang senang berselisih dengannya. "Mulut lu pedes amat kek Samyang! Punya dendam apa sih lu ama gue? Nanya baik-baik jawabannya kek gitu... Ogah gue peduli lagi!" Sandra langsung mencerca pria arogan di sampingnya, setelahnya dia kembali menuju meja kerjanya tidak ingin lagi peduli.


Sam menghentikan pekerjaannya, dia merasa ditampar keras oleh ucapan Sandra. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa dia tidak suka Sandra dekat dengan Daniel, rasanya ada perasaan terbakar dalam dadanya yang membuat dia gelisah dan takut dalam waktu bersamaan.


"Sorry," ucap Sam sendu dan lirih.


Sandra terpaku, dia memang jelas mendengar apa yang diucapkan Sam barusan. Tapi apa benar itu ditujukan untuknya?


"Apa?" Sandra berbalik badan memastikan kembali apa yang dia dengar benar adanya.


"Sorry gue bilang..." Sam menatap sekilas lalu membuang wajahnya.


Sandra menaikan sudut bibirnya, ini adalah pertama kalinya dia mendengar Sam meminta maaf padanya. 'Jika tidak diusili mana seru!'


"Ih apa sih, gue gak denger?!" goda Sandra membuat Sam kembali naik pitam.


"Tadi gue bilang sorry!" pekik Sam membuat Sandra cekikikan.


"Hahaha... Makanya jangan sok-sokan jadi orang. Gih sana makan siang, lu bakalan rese kalau belum diberi asupan makanan. Gue juga kena imbasnya tar!"


"Huh!" Sam hanya mendengus kasar, sikapnya ini justru membuat Sandra mendelik iba.


"Sini mana kerjaan yang belum kelar gue bantuin mumpung gue lagi happy!"


Awalnya Sam berbinar dengan pertolongan Sandra, tapi mendengar dia sedang dalam keadaan senang, dia seolah bisa tahu hal apa yang membuat rekannya bisa bahagia seperti sekarang. Semua hal Itu justru membuat Sam yang tidak senang sekarang.


"Nih!" Sam memberikan beberapa berkas yang harus diperiksa sebelum diajukan pada bos mereka. "Si Bos bilang semua ini salah dan harus direvisi lagi!"


"Lu balikin dan kasih tau semua departemen terkait, format yang mereka pakai sudah kadaluarsa."


"Salah lagi? Kemarin gue udah bilang suruh mereka revisi lagi!" Sandra mendekat dan memeriksa apa masih dengan dokumen yang sama.


"Ye, lu udah tau salah kenapa diterima! Masih mending lu gak kena hukuman Bos you!" rutuk Sam seolah peduli.


"Ye lah, makasi Samueeel~" Sandra menggoda Sam, hal itu membuat Sam terpaku sejenak menatap Sandra lekat.


"Apa liat kayak gitu?" Sandra menutup bagian depan tubuhnya dan kembali berbalik menatap layar laptopnya.


"You mau gue pesenin makanan gak?" Sandra meraih ponselnya dan bersiap membantu Sam jika pria itu malas keluar ruangan.


"Boleh." Sam masih berada di tempatnya terus menyelidik tampilan Sandra.

__ADS_1


"Ok, hold on ye, menunya apa?" Sandra berbalik dan dia terus berceloteh yang sepenuhnya diabaikan Sam.


Sam hanya menganggukkan kepala menyetujui apa yang dikatakan rekannya. Pria itu tengah gelisah, entah bagaimana mulanya dia merasakan ada perasaan yang salah antara dia dan Sandra. 'Mengapa aku baru menyadari Sandra begitu cantik. Dia juga wanita tangguh dan mandiri...'


"Noh dah sampai, ambil di reception!" Sandra mengingatkan Sam yang masih asik memperhatikan rekannya.


"Males, you suruh OB anterin kesini!" titah Sam sekenanya, padahal dia tidak ingin beranjak dari sana.


"Dih, you bukan Bos seenaknya nyuruh orang!" Walaupun mencibir tingkah Sam, tapi Sandra tetap melakukannya dan menyuruh OB membawa pesanan yang ditujukan untuk rekannya.


"Tapi gue setara! Inget, gue co-founder disini!" cicit Sam kembali mengajak Sandra berbincang.


"Nye,nye..."


Sam terkekeh lirih, pikirannya kembali dibawa mengingat bagaimana dia melewati suka dan duka menjadi kaki dan tangan Keenan Kaviandra. Sandra juga wanita special, mentalnya sudah terlatih tahan banting. Jika tidak, bagaimana bisa dia bertahan selama sepuluh tahun di K-Tech menjadi sekretaris khusus Keenan. Pekerjaannya tidak hanya merekap apa kebutuhan tuannya. Pekerjaannya lebih dari itu, Sandra juga sedikitnya ikut terjun dalam verifikasi data jaringan hitam mereka.


"Dari tadi gue liat lu merhatiin gue ya?" Sandra berbalik menatap Sam tajam. "Jangan bilang lu suka ama gue?!"


"Emang kenapa?" timpal Sam cepat.


"Ya bahaya lah, dah tuh pesanan lu. Buruan makan, buruan selesaikan tugas!" Sandra mendadak salah tingkah melihat respon Sam yang tengah menatap tajam seolah mengintimidasinya. Dia segera membuang muka dan kembali sibuk dengan pekerjaannya.


DEG!


Sandra terbelalak saat Sam sudah berada di sampingnya dan menarik salah satu tangannya. "Gue tanya, kenapa suka sama lo bahaya?!"


Makin terbelalak Sandra dengan pertanyaan-pertanyaan yang unbelievable di telinganya. 'Bagaimana bisa dia bertanya seperti ini sekarang?'


"Jawab!" bentak Sam membuat Sandra tersentak dari pikirannya.


"Ich! Gue gak suka ama you, gak usah berharap. Lagian lu cowok kang bentak-bentak, arogan, siapa yang suka sama cowok sejenis you!"


"Apa? Gue arogan?" Sam semakin menunduk mendekatkan wajahnya dengan wajah Sandra. "Sebelah mana sikapku yang bikin kamu mikir gue arogan, hm?" Sam semakin mendekat, jarak mereka bahkan hanya sisa satu helaan nafas saja.


DEG!


Mata Sandra terbuka lebar saat bibir penuh Sam menyentuh bibirnya, pria itu juga tak sengaja memagut sedikit bibir mungil Sandra.


"Aaarghh Samueeel!!" Sandra segera mendorong tubuh Sam dengan nafas memburu. "Kau kurang ajar!" Sandra bersiap menampar Sam, tapi pria itu tentu bisa menebak gerakan tangan wanita dihadapannya.


"Hehe, your lips so sweets like honey!" Sam menatap menggoda dan mengusap bibir Sandra dengan jari besarnya.


"Aaarghh!!" Sandra menjerit kesal, Sam sudah bergegas pergi dan membawa pesanannya entah kemana.


"Bang-sat Samueeel!! First kiss gueee, huhuhu!" Sandra menutup wajah dengan kedua tangannya. Debar jantungnya masih begitu kencang terasa, nafasnya masih memburu. Dia tidak mengira akan menyerahkan ciuman pertamanya pada rekan kerja dua langkahnya.


***

__ADS_1


Sam menuju kantin kantor dan memakan makan siang yang jelas sangat kesiangan. Sepanjang jalan dia berpikir tentang apa yang barusan terjadi antara dia dan Sandra. 'Kok, bisa-bisanya gue cium dia! Haiish...'


"Helooo Brow!"


Sam mendadak menunjukan wajah kesalnya, dia diganggu oleh duo ubur-ubur sahabat selamanya.


"Kusut amat muka lu!" Ken mengambil sumpit dan sengaja mengambil pangsit dari mangkok Sam. "You butuh setrikaan, kopi sianida, atau senjata sam-bo?"


Ken memang spesialis perusak suasana, berbanding terbalik dengan rekannya yang terbiasa dalam kesunyian namun sama somplaknya. Ben juga tengah mengambil sumpit dan memakan makan siang Sam yang masih tersisa banyak.


"Wah resto Liang, kamu kok makan disini gak disana?" tanya Ben terus mengunyah makanannya dan kembali mengambil memasukkannya ke mulut.


"Hish, teman lucknut bisakah kalian tahu diri sedikit."


"No!" sahut Ken cepat di sambut adu jotos oleh Ben.


"Sini kalian berdua, gue jejal sianida!" umpat Sam kesal.


"Ich, abang jahat... Aku tuh cinta berat..." Ken kembali menunjukan ke-absurd-an-nya membuat Sam bergidik.


"Kalian berdua sakit jiwa!" Sam berencana bangkit meninggalkan keduanya.


"Kalem atuh coy, tar pulang kerja Neng Sandra ajak kongkow ke Skyline..." seru Ken menghentikan langkah kaki Sam.


Ken dan Ben saling beradu pandang dengan seringai yang mengartikan sesuatu. Mereka berdua seolah tahu bahwa Sam memiliki rasa pada Sandra.


"Cieee, nama ceweknya dicatut auto peduli!" olok Ken segera.


"Suiit suiiw!" timpal Ben ikut menyalakan sumbu kompor. "Lu ikut gak? Kalau enggak, ya kita-kita ama Daniel yang bisa liat Sandra menggila!"


Plaaak!


Sam memukul kepala Ben di sambut gelak tawa Ken. Ketiganya menjadi sumber perhatian sebagian staff K-Tech.


"Mulut lu di jaga, lu pikir Sandra pemandu lagu!"


"Cieee, belain ni yeee... Makanya kuy ikut!" Ken mendekat menepuk bahu Sam.


Sam merespon dengan berdehem dan segera berlalu dari sana.


"Sampai kapan dia membohongi dirinya sendiri, salah-salah keduluan ama adik Nyonya Muda. Sam kalah jauuuh!" Ken bergumam menatap Ben.


"Biarin sih, itu urusan mereka ngapain kita ikut campur?"


"Es campur ini enak brow!"


"Kuy!"

__ADS_1


--- To be continued ---


__ADS_2