Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 148 # I'd Rather


__ADS_3

Farah sudah berada di kamarnya di temani Axcel. Pria itu menggandeng wanitanya memasuki kamar yang cukup luas yang mengarah langsung ke taman belakang.


"Kalian memiliki banyak kediaman ternyata..." celoteh Farah berjalan menuju balkon menatap pekarangan hijau dengan banyak bunga menghiasi sebagian besar memanjakan matanya.


"Ini milik tetua Klan Naga, alias Kakekku... Dahulu Kakek dan Papa tidak akur, bahkan Kakek mengusirnya dari sini." terang Axcel mendekat memeluk Farah dari belakang. "Setelah aku lahir baru Kakek mau sedikit berbaikan padanya. Makanya ada istilah Luciano dan Lucifer. Lucifer milik Papa, aku mendapatkan nama Luciano karena Kakek menginginkan aku menjadi penerus Klannya." sambungnya sendu.


"Owh... Maaf aku mengingatkanmu lagi."


"It's okay..."


Keduanya saling tatap sekarang, debar jantung mereka berpacu dengan cuitan beberapa burung yang menemani mereka. Wajah mereka bersemu seketika, terkadang Axcel merasa heran dengan wanitanya. Dia sudah melakukan segala cara menyerang mental Farah dengan kebucinan tapi wanita itu seolah tidak bergeming sama sekali. Dia tidak percaya jika selama lima tahun kebersamaannya dia tidak mendapatkan tempat khusus di hati Farah.


"Kau jahat padaku!" protes Axcel bernada manja.


Farah menundukan wajahnya dan terkekeh lirih. "Aku sudah jutaan kali bilang sorry bukan?" elak Farah tetap panda pendiriannya.


"Apa bagusnya dia?" Axcel kembali membandingkan dia dan pria yang di gilai wanitanya. "Lihat apa yang sudah dia lakukan untukmu?" Axcel mencengkram kedua bahu Farah. "Aku takut, jika kamu bersamanya. Kamu dan Keano akan kembali mendapatkan masalah."


Farah meringis sejenak, Axcel menelan salivanya dan mencengkram lebih erat di bahu Farah. "Selama lima tahun kita hidup damai bukan? Tidak ada yang berani mencelakai kalian. Aku juga akan pastikan bersamaku kalian akan jauh lebih aman. Aku akan membuktikan aku jauh lebih baik darinya Farah!"


"Berikan aku kesempatan ya?"


Axcel terus membombardir Farah dengan rentetan kalimat yang mungkin saja bisa mencuci otak Farah secepatnya.


"Aku minta maaf Cel, terkadang─" Farah menjeda kalimatnya dan menatap nanar pria yang sudah beraut frustasi di hadapannya. Bagi Farah dia justru lebih memilih hidup di tengah bahaya asal bersama pria yang paling di cintainya.


[ Giliran Farah ah pake Audio musical wkwkkw... Lama-lama othor bakalan di timpuk bata nih sama reader. Maafkaaaan... Biar berasa nonton drakor gitu kaaan... Search di Spotify I'd Rather by Luther Vandross ]


I thought sometime alone was what we really needed


You said this time would hurt more than it helps, but I couldn't see that


I thought it was the end of a beautiful story


And so I left the one I loved at home to be alone (alone)


Aku pikir kadang-kadang sendirian itulah yang benar-benar kami butuhkan


Kamu mengatakan kali ini akan lebih menyakitkan daripada membantu


Tapi aku tidak bisa melihatnya...


Aku pikir itu akhirnya, kisah yang indah


Jadi aku meninggalkan orang yang aku cintai di rumah untuk menyendiri (sendirian)


And I tried to find out if this one thing is true


That I'm nothing without you


I know better now and I've had a change of heart


Dan aku mencoba mencari tahu apakah hal yang satu ini benar adanya

__ADS_1


Bahwa aku bukan apa-apa tanpamu


Aku lebih tahu sekarang dan aku telah mengalami perubahan hati.


I'd rather have bad times with you, than good times with someone else


I'd rather be beside you in a storm, than safe and warm by myself


I'd rather have hard times together, than to have it easy apart


I'd rather have the one who holds my heart


Aku lebih suka mengalami saat-saat buruk bersamamu, daripada saat-saat menyenangkan dengan orang lain...


Aku lebih suka berada di sampingmu dalam badai, daripada aman dan hangat sendirian


Aku lebih suka mengalami masa-masa sulit bersama, daripada mudah berpisah


Aku lebih suka memiliki orang yang memegang hatiku.


───


"Aku hanya akan menyakitimu Cel." imbuh Farah tidak ingin menyelesaikan kalimat sebelumnya.


"Aku sudah terbiasa bukan? Lima tahun lebih aku terbiasa kamu sakiti." Secepatnya Axcel bisa menghardik segala penolakan Farah. "Semua karena aku sangat mencintaimu." lirihnya mengangkat dagu Farah.


Wajah Axcel semakin mendekat dan kembali mencoba peruntungan mencuri sebuah ciuman dari wanita pujaannya. Selama ini, saat melakukan proses penyembuhan bipolar Farah, Axcel selalu memeluk menenangkan Farah walau dia harus terluka oleh serangan brutal yang di tujukan Farah padanya.


Dalam menjalani terapinya Farah selalu di temani Axcel. Pria itu yang akan jadi sasaran amukan Farah yang seperti orang gila. Farah bisa mencakar, berteriak, memukul dan hal berbahaya lainya seperti Axcel hampir di larikan kerumah sakit saat Farah mencoba menusuk perutnya dengan pisau. Axcel dengan sabar menemani Farah, merangkul dan menenangkannya. Tidak hanya sebatas pemberian obat penenang, Axcel membiasakan Farah keluar dari obat-obatan yang bisa memiliki efek jangka panjang.


Axcel memeluk erat Farah yang sudah tertidur pulas di dalam dekapannya. Di dalam dekapan Axcel Farah akan tertidur pulas dan bisa melewati mimpi buruk yang terkadang menghampirinya. Axcel membuang nafas kasar, dia tidak dapat tidur. Esok akan jadi hari yang berat, dimana dia dengan lapang dada mengijinkan wanita dan putra sambungnya mengunjungi pria paling berbahaya yang bisa merebut posisinya.


[ BTW disini othor rada emosional, kalian tidak akan merasakan sakitnya yang di sebabkan depresi. Penyakitnya tidak terlihat, tidak berdarah, tapi mampu melayangkan sebuah nyawa. Jadi semisal kalian bilang cuma gitu doang kok kek lebay, othor cuma bisa tersenyum :))


Tips : Jika kalian merasa lelah, uring-uringan tanpa sebab dan merasa begitu sesak dan menangis tanpa alasan jelas segera cari support system terbaik dan serahkan semua pada yang maha kuasa. Jika di rasa kalian sendirian banyak lembaga dan layanan yang mau mendengarkan keluh kesah kita dan menganalisis apa yang terjadi. Othor pernah mengalaminya soalnya :) ]


***


KTech Pusat, Negara S.


BRAAAAK!!


"BEN, CEPAT CARI IP PENGUNDUH GAMBAR ISTRIKU!" titah Keenan cepat setelah dia membuka pintu markasnya.


"Siap Tuan!" Dengan segera Ben bangkit dan menundukan tubuhnya.


"KEN, LUNCURKAN ROBOT PL DAN SEBARKAN DI SEGALA PENJURU NEGARA B!!" Keenan menatap tajam Ken.


"Baik Tuan..." Ken menunduk bersiap keluar melaksanakan perintah.


Keenan berlalu menuju ruang pribadinya, dia akan mengontrol seluruh sistem kamera pengawas Negara S. Sam mengerutkan dahinya. "Aku apa?" tanya Sam menunjuk dirinya sendiri dengan konyol.


Keenan menghentikan langkah kakinya. "TERSERAH!"

__ADS_1


Keenan kembali melanjutkan langkah kakinya menuju ruang kerjanya. Terdengar Ken menahan tawanya dan berhenti sejenak sebelum ketiganya keluar bersama.


"Haiish... Sampai kapan dia mendiamkanku seperti itu." Keluh Sam berwajah masam.


"Ternyata bener ya, semua itu ada masanya. Nah elu udah waktunya dibuang zheyeeeng~" ejek Ken dengan wajah annoyingnya.


"Bacot!" elak Sam bersikap mengabaikan Ken yang memang paling bisa menyulutkan kerusuhan dan huru hara antar sesama.


"Semenjak dua menjak Keenan jahat banget ama gue!" rutuk Sam menggelengkan kepalanya frustasi.


"Ih abang jahat aku tuh cinta berat sini dong dekat-dekat ku pegang erat-erat~" Dengan gaya makhluk jadi-jadian Ken bersenandung mengejek Sam. Dia juga mencolek-colek pinggah rekannya itu.


"KENNY BANGSAAAAT SINI KAU!" pekik Sam menunjuk kepergian Ken yang berlari bagai banci perempatan.


"Aaww toloong~" jerit Ken membuat bulu roma Sam dan Ben bergidig ngeri.


Setelah mengetahui posisi IP pengunduh potret wanita tuannya ketiganya bergegas melakukan tugas selanjutnya. Ben menyetir, Sam duduk di sebelahnya kemudian ada Ken yang ada di kursi paling belakang. Tak berapa lama mobil melaju dengan cepat di ikuti beberapa anak buah yang sudah Sam intruksikan mengikuti mereka.


"Sepi ya Bosque? Musik dulu kita?" celetuk Ken langsung memutar music player dari ponselnya yang di sambungkan dengan audio kendaraan mereka.


Ih abang jahat aku tuh cinta berat


Sini dong dekat-dekat ku pegang erat-erat~


"Mulai deh bocah ababil!" gumam Ben mencari penyumpal telinganya.


Sam memutar badannya ke belakang dan menunjukan jari tengahnya. "Berisik ko Ken!!"


"Ah sok jual mahal deh anda... Joget mah joget aja braaay gak usah di tahaan!" pekik Ken mengeraskan volume.


"Ih abang jahat aku tuh cinta berat, sini dong dekat-dekat ku pegang erat-erat~" Ken kembali bersenandung mengolok Sam sampai emosi adalah jalan ninjanya.


"Lo pikir gue balon main gendong macam gelon, cowok mahal anti diskon jangan tawar leave me alone!!" sambung Sam bersenandung.


Ben menoleh sejenak kemudian membuang nafas pasrah. 'Bangsat emang dua orang ini!!'


"Wahai Intan kamu sekarang bintang, cinta gak boleh instan jangan jadi mainan, mending kita jadi rekan gue tambah kasih ceban. Plis jangan nambahin beban sana balik sama Reyhan~" Ken membalas Sam dengan menusuk-nusukan jari telunjuk di bahu Sam seperti biduan yang tengah menggoda.


"KENNY BANGSAAT... KENNY BANGSAAAT~" pekik Sam gila.


"Ih abang jahat aku tuh cinta berat, sini dong dekat-dekat ku pegang erat-erat~" Ken semakin menjadi membuat kedua telinga temannya berdarah sekarang.


────── Cuplikan Next Episode...


"Maaf Kak, Jimmy bilang dia rindu jadi dia memaksa menemui Kakak sekarang."


"Benar begitu Jimmy?" Keenan bersimpuh menatap Jimmy dengan senyuman dan mengacak rambutnya perlahan.


"Papaaa aku bosan!! Kita ke Kids Station ya..." rengek Jimmy.


"Kak, aku juga bawakan makan siang. Aku juga memanggang kue buat Kakak, semoga Kakak suka." Caroline tersenyum menyerahkan satu box makan siang yang dia buat khusus untuk Keenan.


"Taruh saja di situ." Keenan menatap sekilas pada Caroline.

__ADS_1


"Papa makan dulu ya, abis itu kita pergi bersama ya Pah... Ya... Ya... Ya..." rengek Jimmy memeluk erat Keenan.


---To be continued---


__ADS_2