Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 88 # Kelebihan dan Kekurangan


__ADS_3

Kantor pusat KTech, 08.00 AM.


Keesokan harinya, Farah merengek kembali meminta masuk bekerja. Akhirnya Keenan pasrah dan membawa kembali gadis tengilnya. Sebenarnya, ada dan tidaknya Farah di kantor tidak memiliki pengaruh sama sekali. Justru jika gadis itu di samping Keenan, bisa dipastikan pria itu tidak akan bisa bekerja dengan cepat.


Kedatangan Keenan dan Farah kembali membuat para pegawai berhenti sejenak dan menundukan tubuh mereka memberi hormat. Farah sempat merasa risih, dia berjalan di belakang tubuh kekasihnya yang sudah lebih dulu berjalan dengan cepat diikuti pengawal dan asisten pribadinya.


Tring!


Lift sudah berhenti dan membukakan pintunya, Keenan bergegas keluar dan langsung memberi perintah pada sekretarisnya yang selalu sudah siap sedia. Farah sampai pernah berpikir, mungkin manusia pertama yang ada di gedungnya adalah Sandra. Wanita itu selalu tidak terlihat kesiangan sama sekali.


“Selamat pagi, Tuan!”


Sandra menunduk menyambut tuannya. Keenan tidak merespon apapun, sedangkan Farah, dia menghela nafas panjang, Keenan berbalik badan dan menyeringai. “Baby, ikut denganku!”


Farah berjalan gontai diikuti Sam di belakangnya. Keenan duduk di kursi kebesarannya segera, dia menatap Sam dan bersiap memberikan perintah.


“Siapkan meja khusus untuk digunakan Farah disini!”


“Sekarang?” Sam terlihat tertular virus annoying Farah.


“Tahun depan!!”


“Ppfftt!”


Farah menahan diri tidak tertawa melihat kekasihnya membentak asisten pribadinya itu.


“Ya, siapa tahu…” Sam tidak kapok menggoda tuannya.


“Keluar!!”


“Siap Tuanku!”


Tanpa memerlukan waktu yang lama, Sam sudah merelokasi ruangan tuannya, menambah satu meja khusus yang akan digunakan Farah tak jauh dari meja Keenan. Sedangkan Tuannya, jangan ditanya lagi bagaimana dua sejoli yang dilanda mabuk asmara itu. Keenan membawa Farah di ruang entertainnya. Sebentar-sebentar Keenan memekik memerintahkan asistennya membawakan semua yang diinginkan Farah. Ingin rasanya Sam menculik Farah dan menyembunyikannya dari pandangan Keenan. Rumus hidup tenangnya adalah menghilangkan virus cinta tuannya.


“Sungguh bucin yang haqiqi… Aku ingin tobat rasanya!” pekik Sam kesal merebahkan dirinya di kursi.


Sandra terkekeh lirih tanpa melirik pada rekan dua langkahnya itu. Dia juga sama sibuknya dengan Sam. Wanita karir itu harus menjadwalkan ulang seluruh pekerjaan tuannya. Selama Farah sakit, Keenan tidak menerima pekerjaan apapun.


“Kerja kau merutuk di belakang? Mana pateeen~” cicit Sandra memprovokasi.


Sam menaruh kepalanya di atas meja kerja. “Ku pekerja bawahan, ngenes bawaanku~ Banyak orang mengira enak kerjaku~ Gajiku memang besar, tuanku banyak mau~ Namun, aku bisa apa, ini jalan ninjaku~ Hey!"


Sam tiba-tiba bersenandung menyanyikan lagu yang cukup viral kala itu dengan judul Pekerja Kreasi milik Willy Winarko hanya saja sebagian liriknya dia ganti sesuai dengan realita dirinya. Sanda sampai terbahak melihat betapa konyol rekan kerjanya saat ini.


Farah tengah duduk di meja kerjanya. Walau sudah memiliki tempatnya sendiri. Sejujurnya gadis itu tidak diberikan pekerjaan sama sekali. Dia kembali mencebik sebal, dia mengamati sekitar. Farah sempat tertegun dengan cara kerja bawahan kekasihnya itu. Mereka bagai makhluk astral yang bisa mengerjakan semua perintah tuannya seperti membangun candi dalam satu malam.


“Farah Lee!”


“Ya?”


Farah terlonjak dengan bentakan Keenan yang secara tiba-tiba itu. Dia menatap Keenan dengan wajah annoyingnya. Keenan menaikan sudut bibirnya. “Sini…”


Farah bangkit dari kursi dan mendekati kekasihnya yang sudah menggodanya. “Ya, apa ada yang bisa saya banting, Tuan?”


Keenan terkekeh dan menarik cepat tubuh Farah dalam pangkuannya.


“Aarrghh!”


Farah menjerit sejenak kemudian bibirnya disumpal oleh bibir penuh kekasihnya. Farah menyeringai, dia merangkulkan kedua tangannya kebelakang tubuh prianya.


“Jangan menggodaku, Sayang!” bisik Keenan melepaskan tautan mereka.


“Aku tidak menggoda Kakak!”


Keenan sungguh gemas, dia mencubit perlahan hidung mancung kekasihnya. “Duduk disini baik-baik, jangan menatapku!”


“Dih, geer!”


Keenan menggelengkan kepalanya, dia merubah posisi duduk Farah membelakangi tubuhnya. Sesekali pria itu menaruh dagunya di pundak Farah. Tak hanya itu, beberapa kali pria itu mencium pipi dan menggigit cuping telinga Farah.


“Apa yang Kakak lakukan?”


“Membuat virus!”

__ADS_1


“Hah? Untuk apa?”


Keenan kembali fokus menggerakkan jemari tangannya lincah di laptop pribadinya. Farah merasa pusing melihat angka dan huruf dalam bahasa pemrograman yang tidak sedikitpun dimengerti olehnya.


Farah tertegun, Keenan pernah berkata bahwa dia sering membuat virus untuk menyerang perusahaannya. Gadis itu tidak mengerti, bagaimana bisa pemilik perusahan menyerang perusahaannya sendiri. Sungguh di luar prediksi Nasa.


“Apa begitu menyenangkan membuat virus?” Farah bertanya memecah kesunyian.


“Heh, ini bukan kesenangan… Ini kebutuhan…” Keenan menjawab dengan masih bergelut di depan laptopnya. “Tidak selamanya virus itu dikonotasikan dengan hal buruk. Bukankah sejenis bakteri saja tidak semuanya jahat. Ada bakteri baik yang bermanfaat untuk tubuhmu…”


“Kenapa harus menyerang perusahaan sendiri?”


Keenan menyeringai, dia cukup menyukai pemikiran kritis gadis kecilnya yang memang senang mencari tahu hal yang baru ditemuinya.


“Dibanding perusahaan lain menyerang perusahaanku?”


Farah terdiam, otak kecilnya tidak mampu mencerna apa yang dijelaskan kekasihnya.


“Begini Gadisku yang bodoh!” Keenan mengejek Farah yang tiba-tiba terdiam. Ingin rasanya Farah menggigit tangan Keenan sekarang juga. “Jika aku saja bisa menembus pertahanan KTech. Apalagi perusahaan lain yang dibawah standar KTech?”


“Ooo…” Farah membulatkan mulutnya, pasti terlihat lucu dimata Keenan.


“Jadi, apa Kakak juga berprofesi seperti mafia?”


Deg!


Keenan menghentikan aktivitasnya, giliran dia yang terdiam dengan pertanyaan candaan Farah.


“Mengapa kamu bertanya seperti itu?”


“Gabut!”


“Aaaarrkk!”


Farah memekik nyaring saat Keenan menggigit bahunya. “Kamu kurang kerjaan!”


“Memang… Aku disini makan gaji buta!”


“Memangnya kamu digaji? Kamu kan gak kerja… Apa blackcardmu tidak cukup?”


“Jadi, benar bukan Kakak juga seorang Mafia? Tidak mungkin seorang seperti Kakak terbiasa dengan senjata api dan darah!”


Farah sudah berbalik menatap nanar prianya. Keenan menghela nafas perlahan. “Ini privasiku…”


“Tapi, Kakak selalu mengorek privasi orang lain!”


Keenan terkekeh dan menjentikkan jari telunjuk di hidung Farah. “Itu lain cerita…”


“Makanya, jadi orang jangan terlalu bodoh agar tidak dibodohi begitu saja!”


Farah mengerucutkan bibirnya kesal. Keenan menatap Farah lekat, dia seolah tengah mendalami kedua netra bening gadisnya.


“Aku pernah gagal, aku menciptakan teknologi ini tujuannya hanya untuk melindungi orang-orang yang aku sayangi. Aku tidak ingin melakukan kesalahan untuk kedua kalinya…” Keenan menatap Farah dengan refleksi yang berbeda. Dia melihat Farah kecil yang dia temukan beberapa tahun kebelakang.


“Semua orang diciptakan memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Aku pun demikian… Oleh karena itu, aku harus bisa menutupi kelemahanku dengan kelebihanku…”


Farah tertegun, dia seperti mendapatkan ilmu dalam menjalani kehidupannya sekarang.


“Kakak benar…” Farah ikut serta menimpali ucapan Keenan. “Contohnya aku, aku hanya memiliki satu kekurangan!”


“Ya, kamu bodoh!”


Plaaak!


Farah menepuk kerah bahu Keenan, pria itu terkekeh melihat respon adiknya. “Apa kamu tidak tahu kamu bodoh?”


“Jika aku bodoh, mungkin aku tidak akan ada di ruangan ini sekarang!” Farah mengumpat kesal, Keenan terkekeh. Dia mencium kening Farah mesra.


“Aku tidak peduli, kamu bodoh sekalipun… Aku menginginkanmu Farah!”


Deg!


Farah tersanjung dengan kalimat Keenan yang sudah semakin jelas mengisyaratkan sesuatu.

__ADS_1


“Tapi, Kakak harus tahu… Kelemahanku adalah, aku tidak memiliki kelebihan! Hahaha…”


Farah terbahak sendiri, baginya itu lelucon lucu. Namun, tidak untuk kekasihnya.


“Ih, gak seru!” Farah kembali menggerutu sebal.


“Heh, kamu sungguh konyol!”


Farah terpaku, dia menatap sendu ke arah Keenan.


“Kamu bukannya tidak memiliki kelebihan. Kamu hanya tidak menyadarinya…” Keenan membelai perlahan kepala Farah.


“Bagiku, kamu sudah sangat memiliki kelebihan yang hanya bisa kamu sendiri yang melakukannya.” Keenan mulai menunjukkan sisi baiknya didepan Farah. “Bahkan kamu bisa menerima dirimu yang lemah tidak bisa melakukan hal hebat lain. Disatu sisi yang lain, kamu cukup tangguh untuk tetap bertahan dalam keadaan apapun.”


“Kamu adalah orang yang mempercayai kemampuanmu sendiri. Kamu mempertaruhkan segalanya, bahkan membuat orang lain bergerak mengikuti perkataanmu. Itu sudah sebuah kelebihan…”


“Aku yakin, tekad kuatmu, adalah kelebihan utamamu!”


Farah menunduk menyembunyikan semburat rona merah di wajahnya. Gadis itu tersipu malu dengan seluruh pujian Keenan yang membuat jantungnya seperti tengah berdisko saat ini.


“Aku benci, Kakak selalu mengetahui diriku jauh lebih baik dari diriku sendiri!”


Keenan tersenyum, tentu saja… Jika bukan karena tekad Farah yang ngotot membuatnya jatuh cinta. Mungkin, Farah benar… Jika dia bodoh, dia tidak akan ada di ruangan ini sekarang.


***


Kediaman Keluarga Besar Long.


Di kediaman besar lainnya, seorang bawahan sedang menghadap tuannya.


“Jadi, Jenny sudah tewas?” tanya tuan Wei pada si pembawa berita.


“Hal ini masih belum jelas, pasalnya jasadnya tidak ditemukan di kota ini.”


“Ck,” Tuan Wei mengepulkan asap cerutunya. “Pria itu bahkan tidak segan mengeksekusi seorang wanita!”


“Lee, apa kamu sudah mendapatkan sesuatu?” Tuan Wei kembali bertanya pada asisten khususnya.


“Ya, Jenny sudah melakukan tugasnya dengan baik. Dia meletakkan robot pengintai kita di gedung KTech… Besar kemungkinan, Jenny dibunuh disana!”


“Bagus…”


Jenny ternyata memang hanya umpan, tuan Wei mengelabui wanita serakah itu. Akhirnya, apa yang diinginkannya tercapai.


“Gerakkan anak buah untuk kembali mencoba mencuri prototype yang kita inginkan!” titah tuan Wei kembali menggelegar.


“Noted!” Asisten Lee mengerti. “Sebagai informasi tambahan, Jenny tidak hanya berhasil memetakan denah KTech.”


Tuan Wei menatap asistennya lekat, dia mengerti ada sesuatu yang jauh lebih menarik yang akan disampaikan padanya.


“Semalam, adik angkat Mr. K diracuni oleh Jenny menggunakan Vaksin Y yang dia curi dari Lab kita.”


“Lalu?”


“Gadis itu lolos dari maut, bahkan tidak ada bekas dari senyawa yang terdapat di Vaksin Y membekas di tubuhnya. Aku sudah menyalin data rumah sakit barusan. Kita beruntung Samuel lengah saat ini!”


“Imposible?” Tuan Wei bangkit membulatkan kedua bola matanya.


“Anda benar, ada satu wanita lagi yang memiliki imunitas selain Nona Ketiga…” Asisten Lee menjeda kalimatnya.


Tuan Wei seketika berbinar dengan menunjukan senyuman lebar di wajahnya. “Hahaha!!”


“Jadi, mereka membawa putri Lee Choi karena dia memiliki sesuatu… Sungguh hina sekali Keenan menggunakan empati untuk kepentingannya!”


“Apa yang harus kita lakukan, Tuan?”


“Tentu saja aku menginginkan Putri Lee Choi menjadi salah satu kelinci percobaan Vaksin XY tahap akhir!”


“Dimengerti, hanya saja…”


“Tidak perlu menculiknya, buat penjaga gadis itu lengah dan suntikkan vaksin XY jika sudah siap digunakan!”


“Noted!”

__ADS_1


--- To be continue ---


__ADS_2