
Sam kembali menuju ruangannya, dia sendiri tidak enak perasaan. Dia mana pernah mau mengikuti jejak sahabat sekaligus tuannya yang cabul dan tidak tahu diri. Kisah Farah dan Keenan cukup memberi pelajaran penting untuk kehidupan percintaannya kelak. Dia juga ingat, dirinya memiliki pengaruh di jaringan hitam sama seperti Keenan, akan sangat berbahaya jika musuhnya tahu siapa kekasihnya.
Sam menyeringai tipis melihat Sandra yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Sandra mendelik kemudian dia menjaga jarak, temannya ini seolah diindikasikan bisa melakukan hal mesum kedepannya. Sandra harus berhati-hati dengan Sam mulai saat ini.
"Katanya kamu ajak anak-anak karaoke? Kenapa belum keluar?" Sam mendekat, Sandra otomatis beringsut menjauh.
"Ya, ini mau pulang!" sahut Sandra segera.
"Gue diundangkan? Ken bilang gue juga harus ikut!"
"Terserah!"
Sandra sibuk membawa barang miliknya dan meninggalkan ruangan secepatnya.
Grep!
"Samuel!" pekik Sandra terkejut saat Sam menarik tangan dan tubuhnya untuk mendekat.
"Kenapa? Kamu kok jaga jarak sekarang?" tanya Sam menekan membuat Sandra menelan saliva berat.
"Suka hati gua!" Sandra kembali merutuk kasar dan membuang wajahnya, dia tidak ingin kembali mengalami insiden seperti sebelumnya.
"Heh, yuk bareng..." Sam mengajak Sandra dengan lembut membuat Sandra kembali berbalik dan terbelalak tidak percaya.
"Tidak perlu, aku bersama Daniel!" Sandra langsung menampik ajakan Sam membuat hati Sam semakin panas.
Sam segera menepis tangan Sandra dan berlalu lebih dulu tanpa kata.
"Dih, kesambet apa tu bocah!" gumam Sandra merinding.
Di dalam lift keduanya tidak lagi saling melontarkan kata. Keduanya dalam mode mengheningkan cipta sampai pintu lift terbuka. Sandra berbalik menatap Sam sebelum dia keluar, Sam memperhatikan datar.
"Dengar ya, aku dan Daniel mulai sekarang adalah pasangan. Jadi jangan sampai kejadian sebelumnya mengganggu hubunganku dengannya."
DEG!
Jantung Sam terasa seperti diremas kencang oleh tangan seseorang. Sandra segera berbalik melangkahkan kakinya. Tubuhnya menghilang setelah pintu lift tertutup rapat. Sam mendongak dan terkekeh tidak percaya.
"Heh, kamu─" Sam tidak memiliki kata-kata untuk merutuk keadaannya sekarang.
Dia merasa ditolak bahkan sebelum menyatakan perasaannya, sedangkan Sandra? Dia merasa tidak percaya mengatakan hal barusan. Kenyataannya dia dan Daniel memang belum terikat apapun. Hanya saja, Sandra tidak ingin perasaannya terbawa suasana. Bukankah mustahil, sebuah pertemanan pria dan wanita yang terjalin cukup lama tidak menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya?
***
Skyline Dome Club, kota S.
Sam dan ketiga temannya sudah lebih dulu berada di klub yang dijanjikan sebelumnya. Mereka menyelidik sekitar dan memindai dengan EYES untuk memastikan keamanan. Sam terlihat murung, membuat kedua rekannya justru berbinar.
"Kenapa? Karena gak bareng ama Sandra lagi sekarang ya?" ejek Ken merangkul tubuh Sam.
Sam tidak menghardik dan tidak menjawab pertanyaan Ken. Rasanya seperti entahlah!
"Lu lupa, Sandra kan sekarang punya brondong!" Ben ikut menimpali semakin memanasi keadaan Sam.
"Bacot kalian!" Sam menepis tangan Ken dan memesan ruangan seperti biasa.
Ya, biasanya mereka memang sesekali melakukan hiburan bersama di tengah kesibukan pekerjaan yang mencekik. Sam terbiasa membawa Sandra, Sam juga terbiasa mendengar celotehan dan cercaan Sandra, Sam bahkan hapal apa yang akan dinyanyikan Sandra, makanan apa yang dipesan satu-satunya gadis diantara ketiga temannya yang lain. Hari ini terasa lain bagi Sam, Sandra memiliki pria lain untuk berbagi kesenangan.
Tak berapa lama Sandra datang bersama dengan Daniel. Pria kecil itu begitu bahagia bisa keluar bersama wanita incarannya. Daniel bahkan melupakan untuk meminta izin pada kakaknya. Apapun akan dia lakukan untuk bisa lebih lama bersama Sandra.
"Hai, dah lama ya?" tanya Sandra mendekat pada kerumunan rekannya.
"Gak kok, yuk!" ajak Ben segera.
"Sorry, aku ikut gabung," sapa Daniel malu-malu.
"Santai aja bro, paling ya, ada salah satu temanku yang butuh pemadam kebakaran!" canda Ken mendekat merangkul bahu Daniel.
Daniel tercengang dia langsung menyelidik dan bisa mengetahui siapa gerangan. Sam mencibir meninggalkan mereka lebih dulu.
__ADS_1
'Owh, pantas saja aku merasa asisten Kakak ini terlalu keras padaku.' Daniel memperhatikan Sam, dia sepertinya sudah memiliki saingan untuk memperjuangkan cintanya.
Sandra hanya bisa mendengus pasrah, dia tidak tahu harus bagaimana lagi. Dia berharap malam ini mereka akan bersenang-senang.
Satu jam sudah mereka bersukacita, Sam hanya ikut meramaikan dengan terus menenggak kaleng birnya. Sandra juga merasa canggung dengan keberadaan Daniel, hanya Ken dan Ben yang sedari tadi terus menyumbang suara.
Braaak!
"Disini kamu rupanya!" Farah memekik kesal setelah membuka pintu kasar.
Semua orang bangkit berdiri dan menunduk menyambut tuannya. Keenan tengah menggendong Keano yang tertidur dalam mode manja tidak ingin diturunkan dari pangkuan Keenan.
"Selamat malam, Tuan dan Nyonya!" Semua orang kompak menghormat dan menyambut kedatangan tuan mereka.
"Hmm," sahut Keenan berdehem memperhatikan Daniel yang mulai mendekat kearah mereka.
"Ma-af Kak, aku lupa mengabari... Mereka semua mengajakku bersenang-senang, dan aku senang aku punya rekan kerja yang begitu perhatian." Daniel menjelaskan pada kakaknya dengan menundukan tubuhnya gelisah.
"Haish, kamu bikin Kakak khawatir! Lain kali, kamu kabarin Kakak." Farah mengacak rambut Daniel lembut.
Semua orang bisa merasakan betapa Farah menyayangi adiknya.
"Sepertinya kalian cukup baik memperlakukan adik iparku, setelah ini kalian boleh meminta bonus semau kalian. Sandra, kamu bisa langsung memprosesnya pada bagian keuangan."
Semua anak buahnya dalam mode berbinar, tidak terkecuali Sam. Sandra menggeleng tidak percaya dia berteman dengan orang-orang yang mata duitan. Daniel tertegun, demi membuatnya nyaman di K-Tech, kakak iparnya bahkan melakukan apapun untuknya.
"Terima kasih, Kakak Ipar!" Daniel menundukan tubuhnya.
"Ayok keluar, kita kan mau fitting baju buat acara akhir pekan ini!" Farah menggandeng tangan Daniel. "Oh iya, Sandra!" Farah kembali berbalik memanggil sekretaris suaminya.
"Iya, Nyonya?" Sandra mendelik keheranan.
"Apa kamu mau menjadi salah satu bridesmaid bersama kedua temanku?" Farah bertanya dan meminta Sandra menjadi salah satu bridesmaidnya.
"Oh, saya merasa terhormat bisa melakukannya untuk anda." Sandra menunduk menyetujuinya.
"Oke, kalau begitu kalian semua ikut kami ya!"
***
Seluruh keluarga besar baik dari Kaviandra maupun Lee sudah menunggu kedatangan mempelai, mereka sudah berada di butik lebih dulu. Tak berapa lama, Keenan dan rombongannya sudah memenuhi butik yang hanya ada mereka semua. Keano terbangun dia langsung disambut oleh Jimmy dan kembali mendengus sebal. Tuan Kaviandra dan istrinya terlihat begitu berbahagia, begitu pula dengan nyonya Marry yang sudah berada di negara S ikut merasakan kebahagian putrinya.
"Akhirnya, Mama bisa merasakan juga kebahagian menyambut hari pernikahan!" seru nyonya Lyn merangkul erat lengan suaminya.
"Papa juga tidak menyangka putra sulung Papa menikah juga, Papa pikir kamu kelainan dan memiliki perasaan pada Sam!"
Keenan dan Sam beradu pandang dengan membulatkan kedua netranya. Semua tertawa dengan candaan tuan Kaviandra. Farah terkekeh dalam dekapan Keenan, pria itu mencium istrinya dimana saja membuat semua orang langsung menyoraki keduanya.
Beberapa saat kemudian, Farah sudah mengenakan gaunnya, dia mendatangi Keenan. "Apa aku cantik?"
Farah memutar tubuhnya, memperlihatkan bagaimana gaun indahnya menempel di tubuh moleknya yang membuat Keenan segera merangkul mesra istrinya. "Kamu lebih dari sekedar cantik, Baby!"
Keenan mencium erat ceruk leher Farah yang harumnya masih sama dari awal mereka memiliki kedekatan sampai saat ini mereka sudah dikaruniai seorang putra.
"Dasar gombel!" canda Farah berbalik menjentik hidung mancung Keenan.
"Gombal, Honey!" Keenan tak kalah mengendus dan menggerakan hidungnya di leher Farah.
"Geli ich!" Farah terkekeh menghindar.
"Mesra terooos!" pekik Karen membuyarkan keduanya yang selalu terlihat menempel bak hansaplast.
"Syirik ya anda?" olok Farah menjulurkan lidahnya.
"Iwh, sorry... Gue udah pernah!" Karen merutuk kesal menanggapi candaan adiknya.
"Kalian masih saja bertingkah seperti bocah!" lirih Keenan melepaskan pelukan.
"Kakak pikir aku terlalu tua untuk bercanda seperti barusan?"
__ADS_1
"Uhuuuy, pecahkan saja gelasnya biar ramai!" Karen semakin gencar membuat kerusuhan.
"Kau pikir aku tidak bisa mengaduh sampai gaduh? Aku sudah berlari ke hutan kemudian balik lagi, aku lupa bawa sandal!" Farah membalas ocehan Karen membuat kesemuanya tertawa dengan atmosfer yang mereka ciptakan.
Semua orang telah mencoba bagian masing-masing, tanpa perlu menunggu lama kesemuanya pulang menuju rumah masing-masing. Daniel menghampiri Sandra dan meminta maaf karena dia tidak bisa mengantarkan gadisnya. Terlihat tatapan Sam menunjukan ketidaksukaan, tanpa dia ketahui Keenan mendelik memperhatikan nya.
"Bareng gue aja!" Sam mendekat menawarkan diri.
Sandra berbalik menatap Sam dengan perasaan gundah. "Kamu anterin aku ke kantor aja, mobil aku masih disana."
"Gak usah, nanti aku suruh seseorang mengantarkannya ke mansionmu!"
Sandra tersenyum tipis dan mengekor menuju dimana kendaraan Sam terparkir. Setelahnya Sam melajukan mobil dengan kecepatan sedang, hanya ada kesunyian membuat mereka seperti baru pertama kali bertemu.
"Nek!" Sam berujar lebih dulu mencairkan suasana.
"Lu pikir gue nenek lu!" rutuk Sandra membuang wajahnya menatap jendela.
"Nah gitu dong ngomong, sepi dari tadi kayak di kuburan!"
Plaak!
Sandra tidak tahan ingin memukul Sam sedari tadi dan ini saatnya.
"Sakit ih Sandra!" rintih Sam mengada-ngada.
"Alah pura-pura, lu kang ribut di geplak gitu ama gue bilang sakit! Aw... Sandra... Aw sakit!" Sandra mengejek dengan nada yang membuat Sam tidak tahan untuk menyumpal mulut wanita di sampingnya.
"Nyetir buruan kek mmm!"
"Aaarhhh!"
Sam benar-benar menyumpal bibir Sandra dengan bibirnya saat mereka sudah berada di depan mansion Sandra.
"Berisik!" bisik Sam di depan wajah Sandra.
"Kamu kurang ajaaar!" pekik Sandra tidak terima.
"Kenapa? Mau lagi?"
Plaaak!
Sandra memukul bahu Sam sekuatnya. "Minta maaf padaku, cepat!"
"Untuk apa? Kamu kan emang tiba-tiba berisik kek Nenek Lampir!"
"Pokoknya minta maaf, cepaaat!!" Sandra tidak terima dia kembali mencengkram tangan Sam dan berusaha menyiksa pria itu.
"Ogah!" Sam justru senang membuat mereka lebih lama tertahan disana.
"Minta maaf! Itu ciuman pertama gue bang-sat!" Sandra menjerit tidak terima.
"Oke, gue balikin sekarang!" Sam menarik kembali tubuh Sandra dan memagut bibirnya.
Sandra melotot, dia berontak berusaha melepaskan dirinya. Hanya saja tenaga Sam bukan tandingannya, Sam yang tidak tahu menahu bagaimana itu berciuman dengan berani bermodalkan insting alaminya. Dengan lembut dia memagut bibir Sandra dan menyesapnya perlahan. Sandra merasa tubuhnya meremang bahkan merespon hal yang serupa, tidak sama dengan hatinya yang justru ingin menolaknya. Sam menyusupkan tangan menuju tengkuk leher Sandra, dia mengusapnya perlahan dan ciumannya semakin lama semakin menuntut. Dia mencoba bermain dengan lidahnya dan membuka celah bibir Sandra. Lagi-lagi tubuh Sandra merespon apa yang dilakukan Sam, mereka resmi bertukar saliva. Keduanya berpagutan cukup lama, Sam melepaskan wanitanya yang mulai terengah yang dirasa kekurangan pasokan oksigen.
"Arrh..." Sandra terengah, sulit dipercaya dia dan Sam melakukan ciuman seliar seperti barusan.
"Aku menyukaimu Sandra."
DEG!
Tidak cukup dengan ciuman, kini Sam mengutarakan perasaannya. Sandra tidak menyangka, sudut matanya justru telah berembun.
"Aku selalu membohongi hatiku, aku selalu menyembunyikan perasaan tidak menyenangkan ini." Sam menatap nanar kedua netra Sandra yang telah basah oleh air matanya.
"Sepuluh tahun kebersamaan kita, aku tidak percaya... Aku baru menyadarinya saat Daniel memperlakukanmu spesial di hari pertama kedatangannya." Sam kembali duduk di tempatnya.
"Apa kamu masih mau menerima perasaanku?"
__ADS_1
Sandra menutup mulut dengan tangannya, dia hanya mampu menggelengkan kepala dengan air mata yang sudah tumpah. Apa ini artinya sebenarnya Sandra juga memendam perasaan yang sama?
--- To be continued ---