Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 75 # Lantas?


__ADS_3

Lima hari sudah ku rindu, tak bisa ku menghubungimu... Kau sedang dengan dirinya, sedang kita rahasia, kapankah kau ada waktu, sembunyi untuk bertemu...


Farah dan kedua temannya sudah berada di area lobby KTech, tak lama Aston Martin merah berhenti tepat di samping ketiganya. Axcel segera keluar dan membukakan pintu untuk gadis pujaannya. "Ayaaang!"


"Thank's Cel!"


Farah tersenyum menggelengkan kepalanya, sedangkan kedua teman yang lain saling melempar ejekan. Axcel sendiri menatap sendu dengan semburat merah di wajahnya saat melihat Farah menyambutnya dengan senyuman yang sangat memabukkan baginya.


Baru kau sapa kutersipu, kau puji lupa amarahku... Karena kau paling tahu, cara lemahkan hatiku, walau tak ada yang pasti, yang kau beri hanya mimpi...


"Nyenye..."


"Sebenernya nih ya... Malesin sih ikut lu berdua... Kita kek obat nyamuk bakar anjg!"


Ceillyn dan Meishya sahut menyahut mengumpat mengejek hubungan keduanya. Mei dan Lyn juga selalu tidak habis pikir pada Farah yang senang memanfaatkan pria sebaik Axcel.


"Lu pada kalo males bagus banget sih, sana gak usah ikut!" umpat Axcel kesal.


"Cel, lu kan udah sepakat..." Farah bersedekap tangan menunjukkan raut wajah tidak senang.


"Iya, Ayang!"


"Wekaweka... Dipegang Ayangnya auto meleyot anjay!!" Ceillyn dan Meishya memang tak kapok mengolok keduanya sedari dulu. Beruntungnya tidak akan ada yang menyimpan luka dalam benak mereka.


Lantas mengapa ku masih menaruh hati, padahal kutahu kau t'lah terikat janji, keliru ataukah bukan tak tahu, lupakanmu tapi aku tak mau...


Axcel terus menatap nanar ke arah Farah, dari semenjak mereka berada di sebuah resto ternama. Dia juga menyadari, ternyata benar jari manis Farah sudah bertengger cincin manis yang sesuai untuk dirinya. Hati Axcel semakin nyeri melihatnya, tanpa disadari siapun, Axcel juga tidak banyak berbicara kali ini. Sebenarnya ajakan ini sudah terhitung gagal saat Farah mengikutsertakan kedua temannya yang lain.


Axcel sudah membawa kembali Farah dan kedua teman yang lain menuju KTech, setelah temannya keluar tangan Farah ditahan oleh Axcel cepat.


"Ay!"


"Cel!!"


Farah menatap berang meminta dilepaskan. Dia tidak ingin anak buah Keenan menyadari apa yang mereka lakukan. Axcel mendengus kesal, sebegitu tidak bebasnya mereka saat ini.


"Aku ingin berbincang serius denganmu... Sore ini aku jemput ya!"


"Cel, aku tidak bisa!"


"Kenapa? Kamu masih takut dengan Kakak sepupumu?"


"Cel... Sakiiit..."


"Sorry Ay..."


Axcel melepaskan genggaman tangannya dengan raut wajah sendunya. Dia begitu emosi, tapi dia juga tidak ingin menyakiti Farah. Farah begitu iba melihat kondisi Axcel saat ini. 'Kakak masih di HK, mungkin tidak begitu berbahaya jika aku... Oh Farah Lee!!'


"Baiklah... Jangan sampai terlambat!"


Axcel berbalik menatap Farah dengan wajah yang tidak percaya. "Beneran Ay? Ashiap... Aku akan datang lima belas menit sebelum bel pulang!"

__ADS_1


Farah terkekeh membuat angan Axcel melayang saat melihat betapa cantik wanita pujaannya. 'Sangat wajar jika Kakakmu memang jatuh hati padamu. Kamu seperti bidadari yang turun dari langit Farah Lee!'


Waktu bergulir dengan sangat cepat, seperti yang Farah duga, dia tidak melakukan apapun hari ini. Dia bergegas meminta ijin pulang lebih awal. Farah tidak ingin berbohong pada sekretaris kekasihnya, dia tidak mengatakan apapun, hanya pergi begitu saja tanpa diganggu oleh Sandra dan kedua temannya.


Baru kau sapa kutersipu... tersipu... Kau puji lupa amarahku, karena kau paling tahu... paling tahu... Cara lemahkan hatiku... hatiku... Walau tak ada yang pasti, yang kau beri hanya mimpi...


"Aku tinggal di Condo sekarang..." Farah mengatakan tujuan mereka sebelum Axcel menghidupkan mobil dan melesat dari pelataran parkiran KTech.


"Oh ya?" Seperti sudah bisa mengira Axcel berpura-pura tidak terjadi perang dalam batinnya. "Ko tiba-tiba disana?"


"Bukan urusanmu!"


Lantas mengapa ku masih menaruh hati, padahal kutahu kau t'lah terikat janji. Keliru ataukah bukan tak tahu, lupakanmu tapi aku tak mau...


Pantaskah aku menyimpan rasa cemburu, padahal bukan aku yang memilikimu... Sanggup sampai kapankah ku tak tahu, akankah akal sehat menyadarkanku...


"Sikapmu sungguh kejam sekali Ayang!" rutuk Axcel membuang wajahnya dan melaju memejah jalanan ibu kota S.


"Sudah tahu kejam, kamu masih ingin bertahan!" Farah merasa perkataannya tengah menyindir dirinya. Farah sendiri membuang wajah menatap pemandangan sekitar.


"Sudah lama kita tidak memandang langit senja!"


"Cel..."


"Kenapa Far?" Axcel sudah tidak tahan, dia menghardik Farah dengan begitu kesal. "Kamu jangan tiba-tiba lupa, kita sering melakukannya dulu!"


"Cel... Itu dulu saat..." Farah menahan kalimatnya, tapi tidak dengan air matanya yang sudah menyeruak.


"Cel!" Farah kembali menolak menatap tajam pria di sampingnya. "Kamu harusnya tahu, semenjak kasus pelecehan itu. Kakak selalu..."


"Kakakmu? Mengapa hanya Kakakmu yang terlihat seperti mengontrol apa yang harus dan yang tidak boleh kamu lakukan? Kenapa Farah?!!" Axcel sungguh sakit hati, selama dua tahun dia bersabar dan berharap ketulusan hatinya membuka jalan untuk dia mendapatkan gadisnya. Nyatanya, dia ditikung kakak sepupu pujaan hatinya sendiri.


"Ini bukan urusanmu!!"


"Hah!"


"Turunkan aku, Cel!!"


"Kali ini saja Farah, aku tidak pernah meminta sebelumnya bukan? Aku bahkan selalu menerima apapun yang  ingin kamu lakukan padaku, terlepas aku suka atau tidak. Aku tidak peduli selama kamu senang, aku tidak pernah memikirkan rasa sakit yang diterima hatiku!"


Farah mengeratkan genggaman tangan di ujung dressnya. Dia menatap nanar pria disampingnya yang sudah mengeratkan juga kemudinya.


"Apa aku sudah boleh meminta imbalanku sekarang?" Axcel berbalik menatap wajah sayu gadisnya.


"Beruntung Kakakku sedang dalam perjalanan bisnis keluar. Jika tidak, aku pastikan kita tidak akan pernah bisa melakukan hal ini sekalipun kamu mengajak Mei dan Lyn!!"


"Heh..." Axcel terkekeh mengejek, setidaknya Farah bisa dia bawa pergi saat ini. Sudah beberapa bulan keduanya melewatkan pergi bersama berdua. Axcel mendadak kesal, seandainya dia tahu ada hari sesulit seperti ini membawa Farah keluar. Niscaya, dia akan selalu membawa Farah keluar bersamanya.


"Dia Kakakmu, bukan pacarmu yang posesif atas dirimu!"


Farah terbelalak dengan jantung yang seolah lepas dari tempatnya. Axcel berucap tenang, tapi mampu membuat Farah gelisah luar biasa. Axcel tidak percaya saat melihat respon Farah, dia masih tidak ingin percaya atas kemungkinan yang akan membuat hatinya semakin kecewa berat.

__ADS_1


Keduanya telah berada di tempat dimana hanya mereka yang tahu selama ini. Sebuah area taman kecil di perbatasan kota. Selama ini Farah tidak sengaja menemukan tempat yang cocok tiap kali dia ingin menyendiri dan menghindari hiruk pikuk kota besar.


Axcel membukakan kembali pintu menjulurkan tangannya pada gadis terkasih. Farah menyambut dengan perasaan merasa bersalah. Axcel mengembangkan senyuman, dia sudah membuka atap mobilnya. Namun, Farah berjalan menjauh mendekati anak sungai di depan matanya.


Farah kembali di bawa mengingat awal mula dia bisa bertemu dan dekat dengan Axcel. Pria itu memberikan tumpangan saat bis yang biasa Farah gunakan mogok di tengah perjalanan. Setelahnya, keduanya sering keluar bersama untuk sekedar menikmati momen matahari terbenam.


"Kamu suka bukan?" Axcel berbisik tepat di belakang tubuh Farah.


"Cel!" Farah segera berbalik dan mencoba mendorong tubuh pria lain.


"Wajah cantikmu, semburat matahari tenggelam, laut lepas... Semua keindahan ini, selalu terpatri di dalam benakku, Farah Lee..."


Farah berkaca-kaca, dia akui Axcel tidak pernah mencoba menjebak atau mencelakainya. Pria itu terlampau baik hati untuk Farah.


"Aku haus," ucap Farah lirih membuang wajahnya.


"Aku sudah siapkan semuanya, Sayang! Seperti yang kamu suka..." Axcel menunjukkan belakang mobilnya yang sudah penuh dengan makanan, snack, dan minuman favorit Farah.


"Cel, aku..."


"Kita nikmati saja momentnya, bukankah Kakakmu sedang tidak disini?"


Axcel menggenggam tangan Farah erat dan membawanya kembali duduk di atas mobilnya.


Cekleeek!


Axcel menyerahkan satu kaleng softdrink, Farah menerimanya ragu. Dia menenggaknya segera, dia percaya Axcel tidak akan membuatnya kecewa. Pria itu melahap habis tampilan manis wanita yang selalu jadi pujaan hatinya.


"Aku mencintaimu Farah!"


Deg!


Farah berbalik menatap sendu ke     arah Axcel. Dia terdiam, tidak ingin bereaksi berlebihan, walau sejujurnya hatinya sudah kacau balau.


"Aku tahu, jawabanmu akan tetap sama seperti dulu... Entah kembali menolakku seperti disini satu tahun yang lalu atau saat kita di Dubai enam bulan yang lalu..." Axcel menundukkan pandangannya. Hatinya bergemuruh hebat, dia kembali menatap nanar ke arah Farah.


"Kamu sudah mencintai orang lain... Benar?" Axcel kembali mengintimidasi Farah. "Aku tebak, pria itu adalah Keenan Kaviandra... Pria yang tak lain Kakak Sepupumu sendiri!!"


DEEEG!!


Jantung Farah benar-benar seperti terlepas dari tempatnya, bahkan dia lupa caranya bernafas. Perkataan Axcel menghujam jantungnya tepat saat ia berdetak tidak karuan. "Apa yang kamu bicarakan Axcel!"


"Farah, tidak perlu mengelak... Aku tahu segalanya sekarang... Termasuk cincin yang kamu kenakan, kamu membelinya kemarin dengan Kakakmu di La Palace bukan?"


Farah sudah membeku sepenuhnya, setiap kata Axcel benar adanya. Axcel semakin terlihat menahan emosi yang sudah ingin ia luapkan. Sayangnya, dia tidak ingin menyakiti Farah. Wanita yang sangat dia cintai, namun tidak mencintanya.


"Kenapa Farah... Dia Kakak sepupumu... Mengapa?!!"


"Kenapa Farah Lee!!"


--- to be continued ---

__ADS_1


Credit of Song : Lantas by Juicy Luicy.


__ADS_2