Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 171 # Maramaramara


__ADS_3

Seluruh keluarga inti keluarga Kaviandra begitu senang dengan keberadaan Farah dan putranya membuat keluarga itu kini lengkap dengan formasi sempurna.


"Kamu boleh bebas memilih kamar yang akan kamu gunakan Keano," terang nyonya Lyn pada Keano yang kini menjadi pusat perhatian seluruh keluarga.


"Ehm..." Keano tampak berpikir.


"Sama Jimmy aja... Jimmy mau satu kamar sama Kakak!" potong Jimmy semangat.


Keano segera berbalik badan dan harus menolak segera. "Aku akan di kamar Papa!"


"Yaah!" Terdengar helaan nafas kecewa dari diri Jimmy.


"Kamu sudah sangat kejam sedari kecil, sungguh Keenan sekali. Hahaha" tawa tuan Kaviandra kembali pecah membuat Karen mencibir dan mendekati Keano.


"Hei, dengar... Walaupun jelas kamu putranya. Namun, bukan hal bagus jika kamu sangat mirip sikapnya dengan Papamu. Dia bukan jadi orang bener juga, gak mesti kamu tiru!" saran Karen membuat nyonya Lyn terbelalak.


"Karen!" pekik nyonya Lyn. "Kamu gak usah dengerin Bibimu ya," timpal nenek Keano lembut. "Jika boleh, Jimmy ikut tidur denganmu bagaimana?" bujuk nyonya Lyn membantu Jimmy.


"Huh!" Keano tersenyum pasrah.


Mereka semua bubar jalan menuju tempat masing-masing untuk beristirahat. Keano dan Jimmy sudah berada di kamar Keenan. Keano segera mengedarkan pandangan dan mencari sesuatu disana.


"Kakak sedang mencari apa?" tanya Jimmy penasaran mengikuti gerak-gerik kakaknya.


"Bukan urusanmu!" hardik Keano tidak memperdulikan Jimmy.


"Selama ini Papa Besar tidak pernah tidur disini, aku juga baru kali ini melihat kamar Papa." Jimmy ikut menyelidik kamar dengan nuansa minimalis dengan dominasi warna gelap.


Walau tidak pernah lagi di tempati oleh si empunya, para pelayan masih membersihkan kamar itu tentu saja.


Keano menghentikan menyelidik, berbalik badan menatap Jimmy dengan sorot mata tajamnya. "Berhenti memanggil Papaku dengan sebutan Papa Besar!"


"Apa kamu tidak punya Papamu sendiri, hah?" pekik Keano merasa tidak terima.


Dengan cepat Jimmy merubah raut wajahnya menjadi sedih, bahkan sudah kembali terisak dengan bunyi berisiknya.


"Hiks... Hiks... Hiks..."


"Ya ampun cengengnya!" rutuk Keano tidak sedikitpun iba pada adik sepupunya.


"Hiks... Aku tidak diperbolehkan bertemu dengan Papaku." Jimmy mengusap air mata dengan baju lengan panjangnya. "Lagi pula, Papaku bukan orang baik. Big uncle sendiri yang menyuruhku memanggilnya Papa Besar."


Keano mengangkat sudut bibirnya perlahan. 'Menarik!'


"Huh, maafkan aku," Keano berujar kembali menelusuri kamar ayahnya dan menemukan apa yang dia inginkan. "Cepat tidur sana!" titah Keano pada Jimmy setelahnya.


"Terus Kakak mau ngapain?" tanya Jimmy masih penasaran dengan tingkah kakaknya yang kini mengotak-atik iPadnya.


"Push rank!" sungut Keano kesal.


"TEACH ME!" jerit Jimmy melompat dan memeluk erat punggung Keano.


"Aargh! Enyahlah..."


***


Markas salah satu kelompok Jaringan Hitam.

__ADS_1


"Lapor Tuan, kita mendapatkan informasi penting." Salah satu informan tengah menunduk di hadapan tuannya.


"Katakan," ucap pria yang masih tergolong begitu muda di balik kursi kebesarannya.


"Informasi mengatakan bahwa, wanita Mr. K masih hidup." tutur si anak buah menjeda kalimatnya. "Bahkan kenyataan putra yang kemarin berusaha kita culik bukan putra asli Mr. K, dia hanya keponakannya."


Si pria membalikkan kursi menatap informannya dengan seringai penuh makna. "Heh, lalu?"


"Wanitanya melahirkan putra Mr. K, mereka adalah sampel XY yang tersisa dan berhasil selamat."


"Hahahaha!"


Semua yang ada di ruangan terkekeh melihat tawa panjang tuannya. Tak lama keadaan kembali sepi dan menunggu titah selanjutnya.


"Lakukan seperti biasanya, bawa mereka ke hadapanku dalam keadaan hidup!"


"Baik Tuan..."


Si pria yang dijuluki tuan oleh anak buahnya kembali menyeringai tipis. Dia sudah meleburkan cerutu diatas meja kerjanya. "Kita kembali bertemu Mr. K, apa yang akan kamu lakukan jika aku menghabisi kelemahanmu sekarang? Hahaha"


Sedangkan di sisi lain di sebuah perjamuan makan malam bersama dengan salah satu perusahaan klien yang bekerja sama dengan KTech, Sam dan Sandra terlihat canggung.


"Mohon maaf, kunjungan kali ini tuan mewakilkan kepadaku." tutur Sam sopan.


"Benar, Tuan kami sedang memiliki urusan penting lainnya. Semua ini tidak mengurangi segala hal yang diperlukan." timpal Sandra membantu.


Semua berjalan dengan lancar sampai pada akhir acara, Sam dan Sandra akhirnya bisa keluar dengan lega.


"Gue lapaaar~" rengek Sandra di samping Sam.


"Terus?" Sam mendelik bingung. "Bukannya barusan kita makan malam?" tanya Sam kembali mengernyit.


"Ppfftt!" Sam menahan tawa mengejeknya.


"Kuy lah," Sandra mengajak Sam pergi.


"Kemana?" tanya Sam polos.


"Ke rumah makan lah!" sungut Sandra kesal.


"Oh, gue pikir ke rumah duka!" canda Sam terkekeh.


"Lu kenapa sih ke gue gitu banget!" rutuk Sandra tidak terima. " Ada dendam apa lu ama gue?" Sandra menghentikan langkah kaki bersedekap tangan kesal.


"Kagak ada dendam sih, cuma lu kan orangnya rese." jawab Sam santai. "Mana bonus tahun ini lu paling gede, menang penghargaan karyawan teladan pula. Padahal kan gue yang babak belur!" Sam mulai mengoceh membeberkan aibnya.


"Lah, lu iri ama gue nih?" balas Sandra. "Makanya kerja tuh yang bener, sibuk candain bos lu ya wajar lah!" imbuh Sandra tidak mau disalahkan atas pencapaiannya.


Sam dan Sandra saling melempar tatapan tidak suka mereka, bahkan kilatan petir di kedua netra mereka terpancarkan sekarang.


[ Tiba-tiba ada ide ini, wkwk ]


"Ape loh!" Sam mendekat berkacak pinggang.


"Ape loh!" Sandra gak mau kalah, dia bersedekap tangan di depan badannya dengan mata yang hampir keluar semua.


"Napa mesti nyolot melotot nge nge nge eh biasa aja dong. Ga usah pake otot!" Sam tiba-tiba membaca lirik.

__ADS_1


"Napa mesti nyolot melotot wee wee wee biasa aja tahu. Ga usah pake otot!" Sandra gak mau kalah.


Mereka saling sikut, pokoknya tidak ada yang mau kalah!


"Salah mu!" timpal Sam masih tidak mau menyerah.


"Enak aja, salahmu!" berang Sandra.


Keduanya saling berselisih di pinggir jalan, beberapa pasang mata mulai memperhatikan keduanya.


"Sushi Tei!" pinta Sandra mengancam.


"Dih, lu yang berulah gue yang kena palak. Sehat Nek?" ejek Sam dia ogah rugi orangnya.


Sandra tersadar tingkah mereka kini menjadi pusat perhatian. Otaknya tiba-tiba memberikan sebuah ide brilian untuk membuat Sam kapok mengerjainya.


"Kau jahaaat Alvonsooo!" pekik Sandra tiba-tiba membuat Sam terbelalak.


"Alvoso? Siapa Alvonso?" tanya Sam polos dengan masih melongo.


Otomatis semua orang semakin tertarik pada keduanya dan mencoba menonton pertunjukan yang akan di suguhkan Sandra.


"Kamu, kamu tega... Kamu yang selingkuh, kamu yang marah, kamu juga gak mau minta maaf. Huhu!" Sandra mulai berakting menangis buaya.


Sam membuka mulut lebar gelisah, orang-orang mengerumuninya. "Kau gila..." lirih Sam.


Sandra mengerling sejenak kemudian tetap pada tingkah konyolnya. Mulai deh para netizen berbisik-bisik tetangga dengan apa yang mereka lihat sekarang ini.


"Kasian ya, padahal ceweknya cantik masih aja di selingkuhin!" Salah satu ibu-ibu komplek memulai perjulidan.


"Emang, cowok itu makhluk serakah! Udah di kasih spek dewi minta spek obralan..." sahut ibu sebelahnya tak ingin kalah heboh dan sok tahu.


Sekuat tenaga Sandra tidak terbahak sekarang. "Padahal aku cuma minta kamu bujuk pake Sushi Tei, kamu malah bilang aku gendutaaan! Huhu... Kau jahat Alvonsooo..."


Sam makin mati gaya tidak bisa berbalik menyerang Sandra, karena dia sudah di serang mulut netizen sekarang.


"Ya Tuhaaan, dasar kurang diuntung! Udh tahu selingkuh, di maafin dan cuma minta Sushi Tei aja gak mau. Cih, cowok macam apa dia?" cibir ibu sebelumnya menyalakan sumbu kompor.


"Heiii!" Sam berusaha membela dirinya.


"Pppfftt!!" Sandra tidak tahan untuk tidak tertawa. "Jadi gimana?" tanya Sandra menaikan kedua matanya mengejek Sam.


"Haish, Nek lampir..." gerutu Sam kesal. "Buruan!" Sam menarik tangan Sandra menjauh dari sana.


"Hei Bang, kalau marah sama ceweknya, sini buat aku aja!" Salah satu pria yang ikut dalam barisan penonton angkat bicara.


Sam menghentikan langkah kakinya, dia berbalik badan dengan sorot mata tajamnya. "Kamu berani?"


"Punya apa kamu bisa sampai menggeser posisiku di depan wanita ini, hah?!"


DEEEG!


Tubuh Sandra seperti tengah tersengat jutaan listrik bervoltase tinggi, dia menatap Sam sejenak dengan salah satu pertanyaan yang mengganggu benaknya saat ini.


'Apa maksud perkataan Si Ba bi ini?'


Sandra terjaga dan kembali mengimbangi langkah kakinya dengan langkah kaki Sam menuju sebuah restoran yang sebelumnya disepakati bersama.

__ADS_1


---To be continued---


__ADS_2