
Di sebuah kantin universitas S, terlihat Farah tengah merutuk kesal atas kebodohannya saat di dalam kelas. Sebisanya dia meminta maaf atas kerusuhan yang ia ciptakan. Namun, dosennya justru terlihat senang dan membelanya. Farah kembali meletakkan kepala di atas meja, jiwanya sedang melakukan teleportasi ke Mars.
"Lagian, lu bisa-bisanya bengong abis itu manggil Pak Victor pake panggilan Sayang pula! Lu mikir apa coba? Jangan-jangan lu suka ama dia?" Ceillyn membuyarkan lamunan Farah.
"Mana mungkin gue suka ama Dosen satu itu, bisa digebukin Meishya, ogah gua!" sahut Farah lemas.
"Ih, apa sih lu!" sahut Meishya salting.
"Hi ilih, pura-pura nolak padahal kan padahal!" rutuk Ceillyn mengejek sahabatnya.
"Ayaaang!"
Ketiganya mendengus pasrah bersama, rasanya telinga mereka harus di sumpal tak sekedar kapas! Axcel mendekati Farah dengan sikap jadi-jadiannya. "Kesal, kenapa aku di tinggalin sih Yang!"
Saat Ceillyn ingin merutuk Farah mengangkat tangannya. "Cel, lapaaar~"
Mata Axcel berbinar seterang lampu LED atas sikap manja wanita pujaannya. "Ayang mau makan apaaa?"
Ceillyn dan Meishya membuka mulut mereka lebar, tidak ada lagi orang yang lebih tega dari Farah yang memperlakukan Axcel bak budak. Namun, perasaan pria itu tertolak. Keduanya menggelengkan kepala dengan kelakuan Farah yang terlihat selalu memanfaatkan rasa suka Axcel. Axcel begitu patuh segera melesat menuju stand makanan setelah mengatakan pesanannya.
"Lu apa gak pernah ngerasa berdosa?" tanya Meishya dengan wajah setengah serius menatap Farah.
Farah menyadari kedua temannya tidak suka atas sikapnya yang memanfaatkan rasa suka Axcel padanya. "Tentu saja, Hanya saja─"
"Lu beneran gak bisa suka ama Si Axcel? Dia itu cuma pura-pura melambai doang, aslinya sih... Horor!" timpal Ceillyn membantu rekannya.
"Enggak Lyn," tutur Farah menundukan pandangan. "Apa aku pernah bilang? Aku sudah mencintai pria lain... Bukan berasal dari kampus ini, bukan Axcel, apalagi Dosen Victor! Pria yang aku cintai melebihi mereka berdua."
Kedua teman Farah saling tatap dengan raut wajah yang super duper syok mendengar kejujuran sahabatnya., mereka juga menelan ludah bersamaan.
"Aku melakukan hal ini memang atas dasar kesengajaan. Aku harap Axcel menyadari bahwa aku memanfaatkan kebaikannya, dengan begitu dia akan membenciku. Secepatnya Axcel bisa melupakan perasaannya padaku, syukur-syukur dia menyingkir dari hadapanku segera!"
Melihat keseriusan Farah membuat suasana menjadi canggung, selama ini mereka tidak pernah membahas masalah percintaan. Selain karena ketiganya jomblo, ya... Apa yang bisa di harapkan dari percintaan monyet di usia mereka saat ini?
"Gue kepo to the max!" sahut Meishya cepat. "Siapa cowok yang bisa geser posisi Axcel sama Dosen Victor? Makhluk bumi terpopuler di kampus ini?" Meishya menantang Farah, temannya itu terkekeh.
"Aku tidak mungkin mengatakannya!" Farah menggoda kedua temannya.
"Aaargh, curang! Jangan-jangan lu kibul kan... Ngadi-ngadi!" sahut Ceillyn tak mau kalah.
Raut wajah Farah kembali berubah serius. "Aku tidak pernah ingin membual pasal perasaan. Aku hanya mencintai satu pria di dunia ini. Namanya, jelas terukir di hatiku tak bisa terhapus seperti tatoo abadi!"
__ADS_1
Semua temannya membuka mulut lebar, keduanya kembali menggelengkan kepala tidak ingin mudah percaya. "Gue tahu, pasti lu lagi mimpi punya laki kek di Manhua favorit you kan?"
Farah memutar bola matanya, entah bagaimana pola pikir kedua sahabatnya itu. "Ck, meskipun aku pecinta pria 2D, masalah cinta gue milih manusia asli lah, bego!"
"Clue, siapa clue nya!" Meishya sangat berantusias ingin tahu siapa sebenarnya pria tambatan hati sahabatnya. "Tidak ada lagi calon menantu yang sebanding dengan keluarga besar Luciano!" sambungnya memanasi Farah.
"Hehe, sejauh ini, Kaviandra lebih jauh lagi!" sanggah Farah cepat.
"Whats?!" pekik Meishya dan Ceillyn berbarengan.
"Ehm, maksudku..."
Farah hampir keceplosan, untung kedua temannya sedikit loading lama. Farah juga terselamatkan oleh pekikan Axcel yang sudah siap membawakan pesanan mereka. "Ayaaang! Makanan dataaang..."
Farah berbalik menatap Axcel dengan senyuman manisnya. "Aaarkk, thank you sekebon Bestieee~"
Seketiga lautan kebahagiaan Axcel sirna menyisakan sesak di dadanya. sekeras apapun usahanya, Farah selalu menganggap sebelah mata. Ceillyn dan Meishya tidak banyak bertingkah kali ini. Mereka bisa merasakan jika mereka menjadi Axcel sekarang. Sakit tak ber-blood!
Farah memang harus melakukan hal ini walau hatinya ikut nyeri, sebisanya dia tidak ingin menyakiti siapapun. Tapi, apa dayanya. 'Demi kebaikanmu Cel, sebisa mungkin kamu harus menghindar dariku...'
Farah memakan makan siangnya dengan suka cita, bahkan terkesan buru-buru seperti baru menemukan makanan setelah sekian lama.
"Pelan-pelan Yang, nanti kamu keselek!" ujar Axcel memperhatikan gadisnya dengan senyuman tampannya.
"Cel─" ujar Farah lirih.
"Far!" Axcel menghardik cepat. "Anggap saja aku bestie-mu... Seperti biasa!" Gemuruh dada Axcel semakin menghimpit dirinya. Dia sungguh merasakan patah hati untuk kesekian kalinya, tapi dia tidak ingin menyerah.
Farah mengatupkan bibirnya erat, sudut matanya telah berembun. Ceillyn dan Meishya tidak menyukai keadaan mereka seperti ini. "Oi, kita hang out abis ini yuk?!"
"Bener, ada felem baru!" sambung Meishya memeriahkan suasana.
"Sorry, next time aja... Hari ini gue di suruh submit magang ke KTech!" Wajah Farah kembali datar dan segera menghabiskan minumannya.
Ceillyn dan Meishya saling tatap dan memekik bersamaan. "Ikuuut!"
"Cih, kenapa magang kesana sih! Sekali-kali ke Luciano Group kan sama besarnya..." rutuk Axcel tidak menerima.
"Astaga, ya mikir dong Bambang!" sungut Meishya kembali ke asal. "Lu sebut nama KTech, orang auto berbinar!"
"Bener! Ini kesempatan langkaaa... Lu gak tau, seketat apa masuk kesana... Sekarang kita punya kunci orang dalam tentu saja jangan disia-siakan!" Ceillyn mengepalkan tangan bersemangat di hadapan semuanya.
__ADS_1
Farah terkekeh, dia menggelengkan kepala dan bersiap beranjak dari tempatnya.
"Faraah, pleaaase yaaa..." Kedua temannya memohon pada sahabatnya. "Ingat, sahabat itu selamanya!" Pokoknya keduanya dalam mode apa adanya mix dengan menjilat.
"Ya, mau gimana lagi~"
"Aaarkk, ikan hiu makan wafer! Love you foreveeeer!" Ceilly beranjak memeluk sahabatnya.
Meishya tersenyum dan ikut serta merangkul keduanya. "Susah senang sama-sama, tadi udah susah. Ayo kita senang-senang!"
"Asyem~" Farah menoyor kedua temannya dengan suka cita.
Axcel hanya mampu memperhatikan gadisnya, melihat senyuman Farah sungguh menjadi kebahagiaan terbesar dirinya. 'Farah, apapun akan aku lakukan hanya untukmu... Aku sudah tidak bisa menyerah, aku tidak tahu apa itu menyerah... Kamu adalah kebahagiaanku, walau selalu menyakitiku!'
Di sisi lain kantin, tiga pasang mata memperhatikan meja yang digunakan Farah dan temannya. Arneth begitu kesal melihat bagaimana Axcel bertingkah di depan Farah. Ingin rasanya Arneth mengadu pada tetua Luciano atas prilaku tuan muda mereka yang sudah mencoreng nama baik keluarganya. 'Hanya demi wanita tidak tahu diri itu, kamu berubah seperti ini Cel, kamu bahkan merendahkan diri seperti ini!'
Arneth dan kedua temannya bangkit meninggalkan area kantin yang membuat mata dan perasaannya sakit. Dia membenci kedekatan Axcel dan Farah yang sekilas memang terlihat seperti sepasang kekasih yang begitu serasi. Selama ini Arneth tidak pernah tahu bahwa senyuman Axcel begitu memabukkan. Setiap kali Axcel bersama dengan gadisnya, senyumnya selalu mengembang. Semakin lama Arneth semakin ingin mendapatkan prianya. 'Kita lihat, siapa yang akan memenangkan permainan ini!'
Farah dan dua temannya beserta Axcel meninggalkan kantin. Mereka mempunyai sisa satu kelas lagi sebelum akhirnya pulang, sepanjang jalan tatapan orang-orang masih tidak berubah menatap Farah dengan ketakutan dan langsung menyingkirkan diri mereka.
"Haiishh," dengus Farah berat, meskitpun dia bersikap bodo amat, tetap saja rasanya tidak nyaman.
"Semalam adalah hari paling suram you know! Kakak kamu datang dan menghukum biang kerok si penyebar fitnah! Mmmm..." Meishya menyumpal mulut Ceillyn yang tidak bisa berhenti berbicara dengan tangannya.
Farah menghentikan langkah kakinya, kedua temannya mendadak pucat pasi. Dia tidak boleh menyinggung Farah, jika ingin selamat dari cengkraman kakaknya yang bak iblis itu. Axcel kembali mendekat dan menggenggam tangan Farah. "Kamu tenang aja, kedepannya... Tidak hanya Kakakmu, aku akan menjagamu dari orang-orang yang mencoba mencelakaimu!"
Farah kembali termangu dengan sikap Axcel, Farah tahu perasaan Axcel begitu tulus saat mengucapkan tiap kata yang keluar dari mulutnya. "Cel," Farah melepaskan genggaman tangan pria di hadapannya.
"Thank you!" Farah mengulumkan senyuman tulus, hanya itu yang bisa dia berikan pada sahabatnya. "Kedepannya, aku harap tidak akan ada lagi yang berani padaku. Aku juga berterima kasih pada Kakakku, masalahku benar-benar telah sampai di telinga tetua. Aku benar-benar mencoreng nama baik mereka..."
"Far, itu kan kecelakaan. Kakakmu datang merusuh kesini, kami juga ikut merasakaan betapa keluarga angkatmu menjaga dan menyayangimu sampai seperti itu!"
Farah meneteskan air matanya, kedua temannya kembali memeluk Farah. "Kamu tidak sendirian, orang-orang yang takut padamu adalah orang yang memang memiliki hati yang busuk!" tutur Meishya membesarkan hati Farah.
Farah begitu tersentuh pada perhatian kedua temannya, terlebih Meishya. Meskipun gadis itu ceplas-ceplos dengan kata kasarnya. Tapi, Meishya adalah teman yang paling peduli bersama dengan Ceillyn. Keduanya tidak pernah memanfaatkan persahabatan mereka.
"Terima kasih, aku begitu beruntung memiliki kalian!" Farah menyeka air matanya. "Kamu juga Cel, jika bukan karena kamu... Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padaku!"
Axcel melebarkan senyumannya. "Anything for you, Ayang!"
Keempatnya kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju kelas berikutnya. Axcel terus memperhatikan gerak gerik Farah yang tertawa mendengar lelucon yang di sampaikan Ceillyn. 'Tidak mengapa Farah... Seperti ini saja, aku menyukainya! Selama kamu bahagia... Aku adalah orang pertama yang akan mengusahakannya...'
__ADS_1
--- To be continue ---