
Sinar mentari mulai menyusup di celah tirai kamar, Farah mengerutkan keningnya yang terganggu dengan silauan cahaya. Dia mulai menggeliat dan terbangun dari tidur malam yang singkat. Siapa menyangka, Keenan akan melahapnya sepanjang malam setelah inisiatifnya di dalam kamar mandi. Kakak sepupunya itu terus menggagahinya hingga beberapa kali episode Farah tidak ingat.
"Uggh! Dia sungguh Raja Ranjang!!" Farah merutuk lirih, tubuhnya terasa ngilu di beberapa tempat.
Dia menyadari, tidak ada pergerakan dan bahkan suara dari Keenan. Itu artinya pria itu tidak ada di kamar mereka saat ini. Farah bangkit terduduk, dia ingat akan rencananya untuk memastikan sesuatu. Gegas Farah segera membersihkan dirinya.
"Pagi Pamaaan!" Farah memekik dan duduk di meja makan dengan wajah yang sudah kembali ceria.
"Kamu sudah bangun? Apa masih terasa sakit?" Paman Tang berbalik menatap nona mudanya dengan tak kalah sumringah. "Kamu jangan terlalu banyak bergerak, biar Paman yang antar sarapanmu. Tuan bilang kamu masih harus beristirahat..."
"Aku sudah baik-baik saja, Paman!" Farah melebarkan senyuman manisnya. "Dimana Kakak?"
"Tuan berpesan untuk menjagamu, beliau ada urusan bisnis mendadak."
"Owh..." Farah bersorak dalam benaknya, ini lah saatnya. "Paman, aku butuh pembalut!"
"Eh?" Paman Tang mengerutkan kening.
"Tenang, aku akan membelinya ke bawah!"
"Jangan! Biarkan pelayan yang melakukannya..."
Paman Tang tentu sangat tahu, jangan sampai Keenan kembali mengetahui kelalaian mereka dalam menjaga nona kecil kesayangan keluarga Kaviandra itu. Semalam, nyonya besar bahkan sudah mewanti paman Tang agar memastikan Farah dalam keadaan terbaik meskipun harus melawan tuan muda mereka. Sungguh berat menjadi pengurus kediaman yang tidak bisa memihak satu kubu saja.
"Aku bilang tidak perlu Paman! Aku juga butuh udara segar, aku janji hanya sebentar... Bye!"
Tanpa menghiraukan panggilan paman Tang, Farah melesat keluar. Gadis itu bahkan melupakan sarapan pagi yang baru dihidangkan para pelayan. "Hiisssh, dia memang tengil!"
Tidak perlu memakan waktu yang lama Farah sudah berada di apotik terdekat dengan mansion tempat dia tinggal. Farah langsung menuju salah satu toilet disana, dia tidak mungkin melakukannya di dalam kediaman, yang ada dia sedang mencari mati.
Traaak!
Farah menjatuhkan alat test kehamilannya, pandangannya nanar. Mulutnya kelu, kerongkongannya seketika kering. Air mata yang tidak tahu bagaimana mulanya mulai jatuh setetes dari pelupuk mata. "Why..."
Sudah bisa dipastikan, hasil yang didapatkan Farah tidak sesuai ekspektasinya. Alat itu menunjukkan dua garis merah walau masih terlihat samar. Farah kembali memastikan dengan alat lainnya. "Ini pasti salah!"
Farah tertegun lemas, semua hasilnya sama, bahkan beberapa diantaranya bertuliskan pregnant!
"Kau bodoh Farah!" rutuknya menangis tergugu, dia menutup wajah dengan kedua tangan. "Kakak akan membunuhku!"
Seketika Farah kembali tersadar, gegas dia merapikan keseluruhan alat yang digunakan dan membuangnya di tempat aman. Farah berlari sekencangnya, selain ingin cepat sampai, rasanya gadis itu benar-benar ingin berlari dari kenyataan hidup yang tidak berada dipihaknya sekarang.
"Kamu baik-baik saja?" Paman Tang merasa curiga dengan tingkah Farah, gadis itu terengah seolah baru saja mengikuti perlombaan lari jarak jauh.
"Aku baik-baik saja," ucap Farah kembali meninggalkan paman Tang menuju kamarnya.
Gadis itu menenteng barang yang sebelumnya dia ucapkan. Di dalam kamarnya, Farah kembali menangis dalam diam. Dia tidak percaya bahwa dia berbadan dua saat ini, lebih tidak menyangka lagi dia hamil dari benih pria yang paling dicintainya di dunia ini. "Maafkan Ibu... Kamu hadir di saat tidak tepat, Nak!"
Farah bergegas membersihkan kekacauan yang ia perbuat, dia kembali keluar dan meminta makanan pada paman Tang. Disela menyantap sarapan paginya, Farah membuka ponselnya. Dia menerima begitu banyak notifikasi pesan dari teman-temannya.
Tring!
[ Keenan Kaviandra : Apa yang kamu lakukan? ]
Farah menarik otot pipinya melengkungkan senyuman di wajah yang sempat acak-acakan itu.
"Ini minuman anda, Nona!" Jenny yang merupakan salah satu pelayan di kediaman menyodorkan segelas jus pada Farah.
Farah merespon dengan senyuman dan kembali hanyut membalas pesan dari kekasih hatinya.
__ADS_1
[ Farah_Lee : Makan! ]
Dalam hitungan detik Keenan menghubungi gadisnya, Farah terlihat semakin girang. "Halo..."
"Bersiaplah, kamu sudah baikan bukan? Aku akan menjemputmu..."
Tuuutt!
Farah melongo, prianya memang tidak bisa ditebak, baru mengucapkan sapaannya gadis itu harus menerima kenyataan bahwa Keenan sudah menutup kembali sambungannya.
"Pria aneh!"
Farah segera bangkit setelah meminum teh yang dihidangkan Jenny barusan. Gadis itu bersiul riang, dia menuju kamar kakaknya dan bersiap mengganti pakaian. "Apa Kakak akan mengajakku kencan?"
Farah memekik malu menutup wajahnya dan berjingkrak. Dia bahkan lupa bahwa sebelumnya dia sudah menangis dan merasa tidak memiliki harapan hidup. Farah memilih mengenakan dress manis tanpa lengan di atas lutut dengan model A Line. Dia juga menggerai rambut panjang bergelombangnya, memoles wajah dengan make up natural semakin memancarkan kecantikannya.
"Aku tidak percaya jika Kakak tidak jatuh hati padaku!" Farah memuji dirinya di depan cermin sampai dia mendengar pekikan pria yang paling ditunggu sedari tadi.
"Baby!!"
Keenan sungguh berani memanggil Farah dengan panggilan sayangnya di saat para pelayan kediaman masih berada di tempatnya. Farah segera keluar kamar dan dengan riang gembira dia turun merosot menggunakan pembatas tangga.
Bruk!
Keenan terbelalak sejenak, untung saja gadisnya tidak mengalami insiden apapun. "Apa kamu tidak punya otak?!"
Farah mencebik dengan respon Keenan yang berlebihan padanya. "Bagaimana jika kamu tadi terjatuh, hah?!"
"Ada Kakak, aku pasti baik-baik saja!"
Keenan bersiap melayangkan tangan di udara, Farah menghindar dengan cengengesannya. "Kakak gak asik!"
"Kamu mau kemana?"
"Kencan, bukan? Kakak kan yang bilang mau ajak aku keluar?" Farah sedikit menonjolkan kedua bola matanya.
"Pppfftt!" Keenan menahan tawanya sejenak, dia menarik tangan Farah dan kembali membawanya keluar dari kediaman.
Tanpa disadari keduanya, ada empat pasang mata berlainan posisi memperhatikan mereka. Diantaranya adalah paman Tang, melihat perlakuan tuan muda mereka akhir-akhir ini. Pria paruh baya itu tentu saja merasa curiga dengan hubungan keduanya. "Tuan bahkan sudah berani satu kamar dengannya, apa ini akan berakhir bahagia?"
***
Gedung latihan menembak, kota S.
Dooorr!!
Dooorr!!
Farah terbelalak setelah berada di lokasi yang menjadi tujuan kekasihnya. "Apa-apaan ini?"
"Pppfftt!!" Keenan kembali menahan tawanya, dia tahu Farah pasti akan kecewa dengan asumsinya.
"Kenapa kita kesini?!" Farah bersedekap tangan mengerucutkan bibirnya sebal.
"Kencan! Hahaha..." Keenan begitu puas menjahili gadis tengilnya.
"Ada kencan di tempat latihan menembak?" Farah mengikuti langkah kaki Keenan yang bergerak masuk ke dalam. "Orang normal kencan di restoran, makan malam romantis. Pergi ke theater, taman bermain, museum, bukan menembak!!" sungut Farah masih merutuk tidak terima dengan keadaan mereka saat ini.
"Aku tidak berkata kita akan pergi kencan, bukan?"
__ADS_1
Ingin rasanya Farah memukul kakak sepupunya sekeras dan sebanyak yang diinginkan. Keenan terkekeh melihat respon Farah. "Sana, ganti pakaianmu!"
"Tiydak!" Farah bersikukuh tidak bergeming dari tempatnya.
"Baiklah, aku hitung sampai sepuluh, jika tidak maka kamu adalah targetku!" Keenan mengeluarkan revolver miliknya dan bersiap membidik Farah.
"Aaarrghh!" Farah berteriak antara terkejut dan takut, dia segera berlari menuju ruang ganti yang sudah dipersiapkan oleh beberapa anak buah Keenan.
Keenan terkekeh menggelengkan kepalanya, dia berbalik dan memberikan perintah pada anak buahnya untuk menyiapkan keperluan yang dibutuhkan. Tak perlu waktu lama, Farah sudah mengganti pakaian manisnya dengan pakaian kasual skinny jeans dan crop top yang sangat cocok dengannya. Keenan menyunggingkan senyuman, kedua netranya tidak lepas menatap Farah takjub. 'Kamu rubah kecil, aku sungguh tidak ingin kehilanganmu...'
"Come here!" Keenan menjulurkan salah satu tangannya menyambut si tengil kesayangan keluarga.
"Syebal!" gumam Farah lirih, Keenan mendengarnya dan terkekeh.
Keenan memposisikan diri menembak dengan glock yang akan digunakan oleh kekasihnya.
Dor!
Dengan sangat cepat peluru itu menembus titik pusat lingkaran. Farah tertegun sejenak, antara mengagumi pria tampan di hadapannya, atau dia sedang meredam emosinya. Keenan berbalik menatap Farah dengan senyuman manis jelas terpetakan disana. Tak lama Keenan memakaikan peredam telinga beserta kacamata pelindung di tubuh Farah. Gadis itu masih tidak bergeming atau merespon.
"Tidak ada salahnya, kamu mempelajari hal yang bisa melindungi dirimu sendiri seperti ini!"
"I can't..." ujar Farah begitu lirih, kedua netranya sudah mengembun. Namun, dia segera menepisnya agar Keenan tidak menyadari perubahan sikap Farah saat ini. "Wanita tidak wajib militer bukan?"
"Hehe..." Keenan mengusap kepala Farah perlahan. "Aku sudah bilang, ada banyak manfaat yang bisa kamu dapatkan dari kegiatan menembak. Beberapa di antaranya meredakan stress, meningkatkan fokus penglihatan, dan sebagai bentuk dari perlindungan diri dari ancaman!" Keenan mendekatkan dirinya dan memposisikan di belakang tubuh Farah memberikan instruksi pada wanitanya.
"Rileks saja, jika kamu tegang kamu bisa membunuh orang karena salah sasaran!"
Degup jantung Farah semakin bertalu tidak karuan, perasaan senang juga sedih membaur menjadi satu.
"Hal yang paling penting saat menembak adalah bidik targetmu dengan mata dominan. Sangat mustahil jika kamu menggunakan kedua matamu!" Keenan mulai melakukan edukasi pada gadisnya. "Kenali senjata yang kamu gunakan, dan sejajarkan posisinya antara bagian depan dan belakang. Fokuskan matamu pada senapan sebelum membidik targetmu." Keenan juga membantu Farah memegang senjata apinya.
"Kamu perlu konsentrasi penuh saat membidik target!" Keenan membantu Farah menekan pelatuk glock dan─
Dor!
Kedua mata Farah terbelalak, semburat kejadian masa lalu kembali menunjukan dirinya. Jatuhnya bunyi selongsong yang nyaring membuat pikiran Farah kembali ke masa lalu. "Papa..."
Flashback...
Braaak!
"Tuan!"
Salah satu anak buah tuan Lee mengabarkan pada tuannya mereka kedatangan tamu. Tuan Lee mengerti, hanya saja saat ini putrinya sedang berada di sampingnya. "Farah Sayang, Papa kedatangan rekan kerja. Kamu bersembunyi dulu di bawah meja ini ya." titah tuan Lee Choi atau ayah Farah lembut pada putrinya yang baru pulang dari sekolah dan menyempatkan diri mengunjungi kantor ayahnya.
"Mengapa harus sembunyi, Papa?" tanya Farah kecil bingung.
"Karena," Tuan Lee bingung harus menjelaskan seperti apa. "Seharusnya, di jam kerja Papa tidak membawa anak kecil."
"Hanya sebentar, Papa janji setelah ini kita akan pergi ke─"
Dor!
"Papaaa!!"
Flashback off...
--- To be continue ---
__ADS_1