
[ Othor Speaking ]
Aaaaarghh... Mohon maaf baru bisa on.. Huhu
Ternyata awal bulan yang othor pikir akan indah dengan update tanpa bolong, nyatanya ini udah 5 hari olong dan lenyap sudah mood othor wkwkwk
BTW... Part ini ada drama musikal ecek-ecek sejenak ya... hihi
Kalian langsung open Spotify apa Joox, cari Seungri - Alone.
Seperti biasa nanti bakalan ada irik dan terjemahannya, alurnya juga seperti biasa. Di skip juga gapa ya... Ini sih buat pelengkap aja. Othor klo pake backsound yang harusnya bisa nahan gak mewek jadi mewek hehehe
Apalagi klo tau maknanya...
Cuss ah jangan kebanyakan intro tar kalian ninggalin othor... Gak update 5 hari view anjloooook se anjloook anjloknyaaa wkwkwk
⊶⊷⊶⊷⊶⊷⋆⊶⊷⊶⊷⊶
Keesokan harinya di hotel xxx, kota S.
Neujeossjiman kkeutnassjiman
da jiwonaego sipeunde nae mamdaero andwae
geuraessjiman tteonassjiman
ijen jal hal su issneunde, neol jikyeojuneun geol...
Meskipun akhir pemikirannya pun sudah berakhir
Aku ingin menghapus semuanya tetapi aku tidak bisa melakukan apa yang aku inginkan
Meskipun seperti itu dan kamu pergi
Aku bisa melakukannya dengan baik sekarang, melindungimu...
Hari ini Axcel mengantarkan Keano kembali pada keluarganya. Sedari semalam hatinya tidak tenang dan tidak rela. Hanya saja, demi Keano tidak mencurigainya atau ikut terus larut dalam kesedihan yang sama. Keduanya menghabiskan malam dengan memainkan game kesukaan mereka dengan suka cita.
DEG!
Axcel menghentikan langkahnya saat kedua netranya sudah bisa merefleksikan jelas tampilan wanita pujaan hatinya. Hatinya kembali berkecamuk hebat, sekuat tenaga dia tetap tegar seperti biasanya.
'Farah... Kedepannya mungkin aku akan mati rasa. Aku sungguh terbisa terluka hanya untuk bertahan mencintaimu...,' batin Axcel pedih.
Jibe issneun chimdaega iri neolpeosseossneunji
bamsae hollo dwicheogyeo neoreul neukkil su eopseo
ttatteushaessdeon ondoga chagapge nal gamssawa
eojekkajiman haedo hanayeossneunde...
Apakah tempat tidur di rumahku selalu selebar ini?
Tidak peduli bagaimana aku membalikkan tidurku di malam hari, aku tidak bisa merasakanmu
Suhu hangat itu membungkusku dengan dingin.
Keano ikut terdiam, dia tidak langsung menghambur memeluk keluarganya. Dia justru mencengkram erat genggaman tangan papa kecilnya. Dia seolah tidak rela bahwa kedepannya tidak akan ada lagi teman yang menemani memainkan game kesayangannya.
Keenan mengepalkan kedua tangannya, rasa cemburu menyeruak ke dalam dadanya dengan cepat. Padahal sebelumnya dia sudah mencoba untuk bersikap dingin seperti biasanya. Melihat Farah menatap nanar kearah pria di hadapan mereka, rasanya seperti di tusuk tak terlihat.
Axcel mengerti, dia bersimpuh menatap Keano dan melakukan perpisahan dengan senormal mungkin.
"Pergilah...," tutur Axcel pilu.
"Papa!" Tanpa di duga Keano memeluk erat Axcel, bulir beningnya sudah tidak bisa lagi dia tahan. "Ingat janji kita, Pah!" tutur Keano lirih terbata.
"Papa janji. Kapanpun kamu menginginkan Papa, kamu bisa langsung mencariku. Rumahku terbuka lebar untuk kalian," bisik Axcel mencium lekat tubuh pria kecil kesayangannya.
Dengan cepat Farah menyeka air mata yang jatuh dengan cukup deras. Dia juga membuang wajahnya menahan untuk tidak bersikap berlebihan melihat pemandangan menyesakan di depan matanya. Untuk pertama kalinya Keenan tidak tahu harus bersikap seperti apa saat ini.
Keano melepaskan pelukannya, mengusap perlahan wajah basah papa kecilnya. "I love you Papa...,"
Hati Keenan terasa semakin sesak, putra kebanggaannya menyatakan cinta yang lain pada pria lainnya. Hal yang menyakitkan lainnya bahwa, Keano sendiri sampai saat ini belum mengatakan sepatah kata dia mencintai ayah kandungnya. 'Inikah rasanya sakit tak berdarah?'
Axcel mengangguk cepat, rasanya setiap kata tertahan tak mampu ia ucapkan. Keano kembali berbalik menuju tempat kedua orang tuanya yang masih berdiri kaku tak bersuara sedari mereka saling jumpa.
"Ibuu..," Keano memeluk erat ibunya.
Axcel menatap Farah sendu, dia melepas senyuman terakhir di wajahnya. "Aku pamit Farah,"
Nega eopsneun nan honja issneun beobeul molla
meokgo janeun geosdo meot burineun geosjochado
meorissogeun ontong hayan mulgameuro dwideopyeo
jugeul geosman gata
Cuz I don’t want to be alone
Neon nugungawa yeah
nan nunmuri na
Cuz I don’t want to be alone...
__ADS_1
Tanpamu, aku tidak tahu bagaimana caranya sendiri
Makan tidur atau bahkan berdandan
Semuanya dicat dengan cat putih di kepalaku
Aku merasa seperti sekarat
Karena aku tidak ingin sendiri...
Kamu bersama seseorang ya...
Air mataku mengalir turun...
Karena aku tidak ingin sendiri...
Farah semakin deras mengalirkan air matanya, semua potongan memori kebersamaan mereka melayang satu per satu menunjukan diri di dalam benaknya. Bagaimana mereka menghabiskan waktu besama selama lima tahun terakhir. Suka dan duka, canda dan tawa, seua membaur menjadi satu membuatnya enggan berpisah seperti ini.
"Tunggu!" pekik Farah menghentikan langkah kaki Axcel yang mulai pergi membawa kekalahannya.
Farah segera membalikkan badan menghadap pria disampingnya. "Bolehkah aku berbincang sejenak dengannya? Walau bagaimanapun, dia dan keluarganya yang menyelamatkan hidupku..."
Keenan semakin terlihat muram dan emosi menjadi satu, dia hanya bisa semakin mengepalkan erat buku-buku tangannya hingga memutih.
"Kita sudah sepakat sebelumnya, kan?" pinta Farah kembali meyakinkan Keenan.
"Lima menit," jawab Keenan dingin membawa putranya berjalan melewati keduanya.
Farah melengkungkan senyumannya, dia segera menarik tangan Axcel menuju halaman belakang hotel. Axcel tidak percaya Farah memperlakukan dirinya demikian. Senyumnya mengembang, hasrat kehidupannya kembali menghampiri jiwanya yang sempat mati.
Neowa na geotdeon gil hamkkehan chueokdeul da
geuge ije waseo
geu eotteon uimiga issgesseo
kkakji kkyeossdeon son bore ip majchudeon
neon imi yeogi eopsneunde
Jalanan yang biasa aku jalani bersamamu, semua itu sekarang tidak ada artinya...
Tangan itu tergenggam untuk memegang pipi yang biasa aku cium.
Kamu tidak di sini lagi...
Hamkke bodeon tibi sok jeulgyeo bodeon yeonghwado
geu jarie issneunde neoneun yeogi eopseo wae
silheohadeon jansori geugeosmajeo geuriwo
Film yang biasa kita nikmati di TV, itu masih ada tetapi kamu tidak di sini, mengapa?
Aku bahkan merindukanmu mengomel yang dibenci untuk dibenci
Membalikkan kamu kepadaku, mengubah waktu kembali...
Bruuuk!
Tanpa meminta ijin lebih dulu Axcel tidak tahan untuk segera memeluk erat wanita yang paling dia cintai di dunia ini.
"Kamu jahat padaku!" lirih Axcel pedih. "Baru sehari tidak bersamamu, aku sangat merindukanmu Sayang," timpal Axcel menutup matanya erat.
"Maafkan aku..," balas Farah tak kalah lirih.
"Semenjak aku hidup bersamamu, aku tidak tahu apa itu kesepian..." cicit Axcel tidak rela.
Farah mendorong perlahan tubuh pria penolongnya. "Kamu lebay!"
Farah terkekeh menjentik kening Axcel lemah. "Apa kamu berencana tidak ingin menemuiku dan Keano lagi, hm?"
Axcel terdiam, bukan dia tidak ingin. Bagusnya dia menghilang saja demi kesehatan mentalnya. "Heh, apa pria dingin itu akan mengijinkanya?"
"Sure, aku memegang kendali penuh atas dirinya." Farah melebarkan senyuman nakalnya.
Axcel menggeleng kepala takjub dan ikut tertawa. Selemah itu imannya, diberi senyuman Farah rasa sakit sebelumnya entah lenyap kemana.
"Kenapa juga kamu harus balikan sama dia," keluh Axcel menunjukan wajah tidak sukanya.
Farah terdiam, harusnya Axcel sudah tahu akan jawaban atas pertanyaan yang selalu pria itu lontarkan beberapa kali setiap harinya.
"Farah...," seru Axcel serius.
Farah mendongak menatap Axcel tak kalah serius. Namun, seketika dahinya mengerut bingung atas tingkah Axcel sekarang. Axcel tengah bersiap mengungkap kata yang sudah ia racik sebelumnya.
"I love you,"
DEG!
Entah mengapa perasaan Farah gusar saat mendengar kalimat barusan yang jauh lebih menyentuh dari sebelum-sebelumnya.
"Saranghae!"
"Wo ai ni!"
"Je t'aime,"
"Aishiteru,"
__ADS_1
Farah terbahak melihat kelakuan Axcel yang dia pikir tengah melucu, menyebutkan beberapa bahasa dari beberapa negara yang sama artinya.
"Aku cinta kamu Farah Lee!" Axcel menggenggam erat kedua tangan Farah dan menciumnya segera.
"Aku pastikan, bersamaku... Kamu akan selalu tertawa dan bahagia." Axcel menatap penuh harap pada wanita di hadapannya. "Seperti lima tahun kebelakang, tidak akan ada kepedihan yang berani menghampirimu. Hidupmu akan tenang, damai, dan sentosa!"
"Jangan tinggalkan aku sendirian Farah... I can't breathe without you,"
Haru jongil meonghani ne saenggakman
nae mameun feel so sick chiryoga piryohae
gil ilheun naneun jigeum eodiro
cham manhi jichyeosseo eoseo natana jwo
eoseo natana jwo...
eoseo natana jwo...
eoseo natana jwo...
Cuz I don’t want to be alone
Aku kehabisan ruang sepanjang hari memikirkanmu,
Hatiku merasa sangat sakit, aku butuh perawatan...
Aku yang tersesat di mana aku harus pergi?
Aku sangat lelah, tolong cepat dan muncul di hadapanku...
Tolong cepat dan muncul di hadapanku...
Tolong cepat dan muncul di hadapanku...
Tolong cepat dan muncul di hadapanku...
Karena aku tidak ingin sendiri...
Dengan cepat Farah kembali meteskan air matanya, rasanya campur aduk. Tanpa membalas semua kalimat manis Axcel, gadis itu justru tengah membuka pengait kalung miliknya. Farah segera menarik tangan Axcel membuka telapak tangan pria itu dan menaruh kalung kesayangannya.
Tubuh Axcel bergetar dia membuang wajahnya tidak ingin terlihat cengeng di depan Farah.
"Ini untukmu, simpanlah baik-baik...," Farah menggenggam erat kepalan tangan Axcel. "Kalung ini aku menemukannya kembali saat di rumah." Farah menarik nafas sejenak. "Kalung ini pemberian Papa, benda paling berharga milikku. Kamu harus menjaganya dan jangan sampai kamu menghilangkannya," sambung Farah sendu.
"Saat kamu merindukanku, kalung ini akan mengingatkanmu, bahwa aku akan selalu ada di sampingmu." bujuk Farah. "Bohong jika aku tidak memiliki perasaan cinta padamu. Karena jatuh cinta adalah perkara yang mudah, terlebih apa yang sudah kamu lakukan untukku, untuk Keano...," Farah berusaha keras mengontrol emosinya.
"Kamu jahat!" pekik Axcel membuat Farah terperanjat. "Jika benar kamu mencintaiku, lantas mengapa kamu masih memilih pria itu, hah?!"
"Apa dia tahu bagaimana rasa sakit saat kamu gigit seluruh tubuhku bagai monster saat kamu menggila?"
"Apa dia tahu bagaimana rasanya di cengkram erat, sampai terasa tulangku akan patah saat kamu melahirkan Keano?"
"Apa dia pernah merasa depresi saat sekuat tenaga aku memikirkan caranya membuat kamu tersenyum, tertawa, dan kembali berselera makan di saat kondisi mentalmu down?!"
"Hanya aku yang tahu rasanya Farah, dan hanya aku yang ada disisimu kala itu,"
"LANTAS MENGAPA KAMU MEMILIH KEENAN SEKARANG, HAH?"
"KENAPAA FARAAAH!!"
Axcel meluapkan seluruh emosi yang ia pendam selama ini. Setelahnya dia teregah menatap Farah yang masih tercengang atas sikap kasarnya.
"Aku marah, aku sedih, cepat peluk aku!!" umpat Axcel merajuk di depan Farah seperti biasanya.
Farah menundukan wajah dan terkekeh dengan kelakuan Axcel. Dengan cepat Farah memeluk pria yang diam-diam namanya tersimpan rapi di sebagian kecil hatinya.
'Rasa cintaku padamu mengalahkan segalanya Farah. Aku harap kamu bisa merasakan setiap debar jantungku, bahkan di setiap helaan nafasku akan selalu ada namamu disana. Semua yang aku berikan tulus untukmu... Aku merelakanmu lagi dan lagi sebagai bentuk rasa cinta yang nyata yang aku punya. Melihatmu bahagia maka semua sudah lebih dari cukup seperti kamu membalas perasaan cintaku Farah,'
Axcel melepaskan pelukan, menangkup lembut wajah Farah dengan senyuman bahagianya. "Berjanjilah padaku, kamu harus bahagia kedepannya."
Farah mengatupkan bibirnya erat dan mengangguk setuju.
"Jika sampai Keenan membuatmu terluka ataupun bersedih, aku tidak akan segan untuk merebutmu kembali, dan aku tidak akan mengalah untuk kesekian kalinya." Axcel mengusap lembut pipi Farah, darahnya seolah mendesis panas. Dia menundukan wajah dan mencuri sebuah ciuman hangat.
Anehnya Farah tidak menampiknya, dia justru membalas tautan Axcel sejenak. Hal ini dilakukan Farah sebagai bentuk kompensasi yang wajar untuk pria sebaik dan sesabar Axcel mau melepasnya tanpa bersusah payah.
"Terima kasih Papa Kecil," Farah memberikan senyuman lebar. "Hidup bersama Keenan adalah cita-citaku selama ini. Kamu sudah sangat tahu itu."
"Tapi, jika dia menyia-nyiakannya lagi. Kamu tidak perlu menjemputku, aku sendiri yang akan mendatangimu."
Axcel terkekeh dengan sikap Farah yang mulai berubah tak sepolos dulu lagi.
"Nyenye..," cibir Axcel kesal.
"Kamu juga harus berjanji untuk menjalani hidup jauh lebih baik lagi dan berbahagialah... Kamu pantas mendapatkan kebahagiaanmu sendiri. Kelak, jika ada kesempatan aku akan selalu mengunjungi kamu dan Kakek."
"Ingat, kalian juga adalah keluargaku...," Farah memeluk kembali Axcel dengan lembut, pria itu mencium pucuk kepala Farah berusaha tegar menerima kenyataannya.
Sedangkan di sisi lain di sudut yang tidak terlihat oleh keduanya, Keenan dan Keano tengah memperhatikan mereka sedari tadi.
"Apa Papa butuh tissue? Pisau? Pistol? Apa sianida yang cepet?" ejek Keano menahan tawa pada Keenan yang sudah menahan emosi dan rasa cemburu berlebihannya.
"Aku butuh Ibumu cepat kembali kepelukanku!" tutur Keenan kesal.
"Dih buciin...," cibir Keano kembali mengusili ayahnya yang bersiap menjitak kepalanya.
---To be continued---
__ADS_1
*Credit of song *warung-lyrics(.)blogspot(.)com