Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 146 # Pengakuan


__ADS_3

Nyonya Lee kembali merangkul putrinya, dia begitu bangga putrinya bisa bertahan sejauh ini. "Ibu selalu mendukung apapun keputusan yang ingin kamu ambil Nak."


"Tapi─" Nyonya Lee melepas perlahan pelukannya. "Apa Keano mengetahui pasal ayah kandungnya? Sekilas ibu mendengar dia menyebut kata Papa?"


DEG!


Farah kembali di dera perasaan yang sulit di jelaskan oleh kata sederhana. "Keano adalah anak yang sangat special terutama untukku."


"Dia tidak pernah mempermasalahkan pertanyaan kekanak-kanakan seperti ini. Dia juga tidak menuntutku atau mempermasalahkan siapa ayah kandungnya." Farah menjelaskan sebisanya.


"Aku selalu menceritakan bahwa ayahnya adalah orang besar yang memiliki segudang prestasi. Aku juga selalu mengatakan bahwa ayahnya sangat mencintai dan bangga padanya sama seperti pesan terakhir Kakak padaku." Farah menahan sekuat tenaga air matanya.


"Untuk mempertemukan mereka berdua aku butuh waktu. Aku akan mengikuti alurnya tanpa memaksa yang berlebihan... Selama ini kemauan Keano aku akan menyanggupinya."


"Masalahnya adalah─"


Farah menatap lekat ibunya. "Publik tahunya aku meninggal, aku tidak tahu harus memulai dari mana untuk menunjukan diriku kembali."


Nyonya Lee kembali memeluk putrinya. "Ibu mengerti Nak, Ibu hanya bisa mendoakan kebahagianmu kelak. Entah itu bersama keluarga Kaviandra atau tidak Ibu tidak akan mempermasalahkannya."


"Tanpa mereka sekalipun kita masih bisa hidup bukan?" Nyonya Lee melengkungkan sebuah senyuman yang membuat hati Farah tenang setelahnya.


Tak berapa lama mereka kembali larut dalam obrolan lainnya, Farah menceritakan siapa yang menolongnya selama ini dan siapa yang di panggil Papa oleh Keano. Di sisi lain di kamar Daniel, pria itu tengah mengorek informasi dari keponakan instannya.


"Hey, apa kamu tahu siapa ayahmu?" tanya Daniel hati-hati di sela permainan game yang mereka tengah mainkan.


Keano menghentikan pergerakan tangannya, dia berbalik menatap tajam paman kecilnya. "Ibu selalu menceritakannya layaknya dongeng pengantar tidur. Aku merasa bosan mendengarnya..."


Daniel berwajah masam mendengar jawaban dingin seorang bocah cilik arogan di depannya. "Tapi, tadi kamu bilang kalau semalam kamu dan Papa membuat game simulasi. Siapa itu?"


"Oh itu..." Keano meneruskan permainannya dengan santai. "Selama ini aku hidup selain bersama Ibu, ada Papa Kecil dan Kakek Besar." Keano melanjutkan menjelaskan. "Ibu bilang, satu-satunya orang yang boleh aku panggil Papa adalah Papa Axcel. Dia juga yang menjadi waliku di sekolah. Walau seluruh temanku tidak percaya dan selalu mengolok bahwa aku anak pungutnya."


DEG!!


Daniel langsung merasa sesak mendengar penuturan anak sekecil Keano terdengar seolah mendendam. Tanpa meminta ijin Daniel memeluk Keano yang langsung di tepis langsung oleh pria kecil itu.


"UNCLEEE!!" protes Keano mendorong tubuh Daniel. "Aku tidak butuh dikasihani, selama Ibu bahagia aku bahagia... Siapa yang berani menyakitinya dia akan berurusan denganku dan Papa Axcel!"


"HEY!!" hardik Daniel bergidig. "You masih anak piyik mana boleh ngomong kayak orang gede begitu. Nyeremin tauuu!!"


Keano tidak peduli dan kembali memasang wajah dinginnya.


'Jelas semakin mirip Kak Keenan jika melihatnya dari sudut ini.'


"Oh iya, apa kamu sudah mengenal Mr. K? Keenan Kaviandra. Orang besar dan paling jenius di Negara S? Pendiri KTech dan Raja Bisnis se-Asia Pasific?" celoteh Daniel kembali memanasi.


Keano mengepal erat gadget pintarnya dan berbalik kembali menatap paman kecilnya. "Ya, aku pernah mendengarnya."


'Kakak tidak memberitahukan pasal ini kah?'


"Aku beritahu ya, kamu miriiiiiip sekali dengannya. Sembilan puluh sembilan persen MIRIP!" tutur Daniel antusias mengompori hidup orang adalah jalan ninjanya. "Lagi pula sangat wajar jika anak cebongnya nyasar ke perut ibumu, Kakak ku hidup di Keluarga Kaviandra sudah lebih dari sepuluh tahun lamanya." sambungnya menautkan kedua mata seolah memberikan isyarat penting pada Keano.


"Anak cebong? Maksud uncle sper*ma?" tanya Keano memastikan.

__ADS_1


"Aarkk!" Daniel menutup mulut Keano segera. "Kamu ngomong kok nyablak macam ibumu!! Jika dia dengar kamu akan di jitak tak berbelas kasih sepertiku." rutuk Daniel kesal. "Kamu kok kayak dewasa sebelum waktunya gak sih!!"


"Mmmppphh!!"


"Aarh!"


Keano segera melepaskan tangan Daniel dengan lihai sedikit menggunakan tenaga membuat Daniel mengernyit terkejut seolah dirinya musuh keponakannya.


"Jika aku bersikap seperti anak seusiaku pada umumnya, lalu siapa yang akan melindungi dan menjaga Ibu selama ini?"


DEG!


Daniel tertegun dengan keseriusan Keano dalam setiap kata dan sikapnya. Dia merasa semakin bersalah, sebagai satu-satunya anggota keluarga pria di Keluarga Lee dia tidak bisa melakukan apapun selain menyusahkan dengan penyakit bawaannya.


***


Ceklek...


Farah membuka pintu kamarnya, ada haru yang menyeruak dalam dirinya. Kamar yang cukup luas pada masanya yang saat ini hanya muat ditiduri oleh Keano seorang.


"Dulu ini kamar Ibu, apa kamu mau tidur di sini?" Farah berbalik badan menatap putranya dengan senyuman.


"Hm... Tapi di sini banyak boneka dan aku pria!" celetuk Keano tidak senang.


"Hihi..." Farah mengacak rambut Keano gemas. "Kamu tuh adakalanya bersikaplah seperti anak kecil pada umumnya..."


"Sudahlah ibu, ini permintaan ibu yang keberapa kalinya aku tidak ingat. Aku memang terlahir seperti ini!! Lagi pula, jika aku terlihat lemah orang akan dengan mudah menindasku, dan aku tidak bisa melindungimu."


"KEANO!!"


Farah menatap putranya. "Terima kasih sayang, apapun yang kamu inginkan akan ibu perjuangkan. Kebahahianmu prioritas Ibu, jadi tidak perlu khawatirkan lagi keadaan kita oke?"


"Sudah tugas Ibu sebagai orang tua menjagamu, bukan sebaliknya." Farah menangkup wajah putranya yang masih terlihat datar.


"Lalu bagaimana dengan dia?" celetuk Keano mulai berani membahas ayahnya.


"Maksud kamu?" Farah mengernyit dengan debar rasa yang tiba-tiba tidak mengenakan.


"Keenan Kaviandra." sahut Keano tajam. "Selama ini dia tidak melakukan apapun menjaga kita. Semua cerita Ibu tak lain hanya dongeng semata!!"


Deg!!


"Apa kamu membencinya?" Satu bulir air mata lolos jatuh di pipi Farah. Keano menyapunya perlahan. "Ibu minta maaf atas namanya..."


"Aku hanya kecewa... Selama ini dia tidak pernah berusaha keras mencari kita!!" berang Keano terlintas amarah di dalam sorot matanya.


"Keano... Ini tidak sesederhana yang kamu bayangkan... Ayahmu orang penting dia─"


"Cukup Ibu!" hardik Keano cepat. "Jika seperti ini, ayo kita pulang kembali bertemu Papa Kecil. Aku sudah tidak berminat dengannya!!" ujar Keano dingin.


Farah terbelalak dengan kearoganan putranya yang sudah terasah sedari dini. Farah terkekeh sejenak, akhirnya dia menyadari bahwa Keano sebenarnya begitu ingin bertemu ayahnya.


"Istirahat sekarang ya, besok kita meminta ijin Kakek untuk terbang ke Negara S." Farah mengacak rambut Keano dan mengembangkan senyuman.

__ADS_1


Cup~


"Ingat Keano, mereka pikir kita telah mati. Jadi jangan kaget jika ekspektasi tak seindah realitanya." pesan Farah mengingatkan Keano.


"Hmm... Setidaknya aku tahu pria seperti apa yang selalu membuat Ibu menangis sepanjang hari!!"


JLEEEB!!


'Ngidam apa gue selama hamil doi, oh iya selama hamil gue selalu di bentak Kakak wajar saja anaknya begini modelnya... Nasiip-nasip cuma jadi tempat nampung benih tok!' batin Farah merutuki sikap putranya yang bak pinang di belah samurai itu.


***


Keesokan harinya, seluruh anggota keluarga Lee tengah bersuka cita menyambut hari dengan sarapan bersama yang di selingi perbincangan yang di mulai dari mengharu biru sampai mengundang gelak tawa.


"Jadi kuliahmu sudah selesai?!" tanya Farah pada Daniel.


"Ya... Baru minggu lalu Tuan Keenan secara langsung memberikan aku hak istimewa magang di KTEEEECHH!! WUUUOOO~" menjerit histeris.


Farah hanya mencibir dengan tingkah berlebihan adiknya. "Baguslah, tidak setiap orang bisa masuk ke KTech..." ucap Farah terlihat sendu, namun seketika otak nistanya bekerja kembali seperti biasa.


"Aku bagi tahu ya, peraturan KTech itu sama dengan peraturan Alam Baka... HAHAHAHAHA!" Farah terbahak mencoba membuat Daniel ketakutan berada di KTech. "Kau pikir KTech bisa sebesar sekarang jika bukan under pressure bisa dari apa?!" Farah menunjuk sendok ke depan wajah Daniel.


"Tau dari mana Kakak?!" cibir Daniel tidak ingin percaya.


"Tentu saja aku pernah kerja disana, dua minggu berasa seabad!! Belum lagi tiap kali salah saat itu juga kena hukuman!!" cakap Farah menggebu masih menyisakan kekesalan atas masa lalunya.


"Hah? Demi Raja Neptunus... Lu kerja apa disana kak? Cleaning Service mesti, kan otak kakak gak sepintar otak aku?!" ejek Daniel menatap sangsi pada kakaknya.


"Heh, kau menghina!! Aku jadi sekretaris CEO you know..." Bangga Farah menunjukan dirinya di depan adiknya.


"Owwh... Patutlah anak cebong CEO itu nyasar dimari!" ejek Daniel selalu saja bisa menjatuhkan harga diri kakaknya secara tidak sadar itu.


"DANIEL LEE!!!"


Keduanya terus saja melakukan adu mulut seperti biasa setiap kali mereka bertemu, mereka akan bertingkah layaknya Tom and Jerry. Tapi, seperti itulah kemesraan sesungguhnya sesama saudara. Nyonya Lee hanya bisa mendengus pasrah, sedangkan Keano menyantap makanannya dengan tidak ingin peduli pada sekitar.


"Hey anak cebong Keenan, apa kamu tidak mau cepat ketemu Papamu? Dia banyak memproduksi robot canggih loh!" pekik Daniel memanasi Keano sekarang.


"Owh, robot Hi Friends itu ya?" Keano membalas menatap pamannya. "Aku sudah memilikinya, tanpa perlu meminta padanya aku mampu membelinya!"


"BUAHAHAHAHAHA!!" Farah begit puas saat Daniel di kerjai putranya seperti barusan.


"Asyeemm~" lirih Daniel salah memilih lawan adu mulut.


Keano kembali dengan settingan awal wajah dingin, datar dan tidak pedulinya. Kembali menyantap sarapan pagi sebagaimana mestinya. Farah dan keluarganya kembali bersuka cita sebelum akhirnya mereka pamit untuk pergi ke Negara S mengunjungi keluarga Kaviandra.


── Cuplikan next episode...


"FARAAAAAH!!"


"Haah... Hah... Hah..."


Keenan terbangun dari tidurnya, setiap hari dia selalu bermimpi buruk. Mimpinya selalu sama, dia selalu berusaha mengejar wanitanya namun wanitanya selalu tak tergapai.

__ADS_1


"Di mana kamu Sayang!" Keenan mengusap wajahnya kasar. "Ini sudah lima tahun berlalu, apa masih belum cukup kamu memberiku hukuman atas kutukanmu?!"


---To be continue---


__ADS_2