Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 89 # Best Friends 4ever


__ADS_3

Keenan kembali menghentikan pekerjaannya, dia mencium kepala Farah yang tertidur dalam pelukannya. Setelah berbincang cukup panjang, Farah justru mengantuk menunggu kekasihnya yang masih berkutat dengan pekerjaannya membuat virus.


“Bangun, Sayang!” Keenan berbisik dan menggigit perlahan daun telinga gadisnya.


“Emm…” Farah mengulat, dia merentangkan tangannya ke udara.


“Kamu sungguh hidup nyaman!” cicit Keenan mengejeknya.


“Bukan salahku!”


Keenan terkekeh dengan respon gadisnya. “Apa kamu lapar? Ini sudah jam makan siang…”


“Mau makan disini atau keluar?”


Farah terlihat berpikir, dia memutuskan untuk sejenak terlepas dari prianya. “Bolehkah aku makan siang dengan kedua temanku di bawah?”


“Ya!”


“Serius?”


Farah mendekatkan wajahnya yang tidak percaya dengan jawaban Keenan.


“Jika, tidak ya sudah kita keluar.” sahut Keenan ketus.


“Oh tiydak… Maaf… Terima kasih Sayangnya akuuu!” Farah segera meredakan emosi kekasihnya. Sebelum keluar gadis itu memeluk Keenan dan keduanya juga sempat bertautan mesra. Keenan memperhatikan lekat gadisnya, sejujurnya pekerjaannya begitu banyak. Sekali lagi, jika Farah di sampingnya itu artinya dia sedikit lambat.


Farah sudah mengirimkan pesan pada kedua temannya. Mereka sudah memesan makanan dan duduk di salah satu pojok kantin yang tidak terlalu ramai.


“Lu sakit apa?!” Meishya langsung mencerca Farah setelah beberapa hari mereka tidak saling bertemu.


“Iya, Far… Lu dikit-dikit sakit sekarang!” timpal Ceillyn membenarkan.


“Aku juga gak paham… Mungkin daya tahan tubuh gue lagi gak normal!”


“Serius?” Meishya dan Ceillyn memindai tubuh temannya bersamaan.


“Isshh… Apa sih!” Farah menoyor kedua kepala temannya kesal.


“Eh, lu tahu gak kemaren Ratu Elisabeth kemari loh!” cicir Ceillyn kembali mencairkan suasana.


“Seriously? Ngapain? Kudeta?” sahut Farah antusias.


“Lu oon anjir! Ya, jenguk lu anak setan!!” pekik Meishya geram.


“Emang lu gak ketemu?” Meishya dan Ceillyn menatap nyalang meminta sebuah penjelasan.


"Ngapain Ratu Elisabeth jenguk gue?"


"Bibi lu kampret!!" pekik kedua teman Farah kesal.


“Owwh... Eh?" Farah tersadar dia terdiam sejenak. "Huh, gue semenjak magang dimari, pindah ke Condo bareng Kakak… Jadi, ya begitulah… Kemarin ya gue pikir Bibi dari rumah ke Condo, bukan mampir kesini dulu!”


“Ooo!” Keduanya membulat bersama-sama.


“Kok tumben lu deket banget ama Kakak you? Bukannya selama ini gak sedekat itu?” Meishya semakin memojokkan Farah. Keduanya yakin, Farah benar-benar sedang menyembunyikan skandal.


“Emang kenapa? Suka hati gue dong… Gue juga cape kalo mesti bolak-balik Pulau H kemari!” Farah tak kalah sewot menjawab pertanyaan teman lucknutnya.


“Cape?!!” Kedua temannya memekik bersama-sama. Mereka terlihat seperti bayi kembar beda ibu dan bapak.


“Heh, Keong Racun!” Meishya menghentikan aksi Farah yang mengaduk garpunya tanpa ingin memakan makanannya. “Lu pikir kita gak kenal You! Dua tahun lu mondar-mandir, ke kampus yang jaraknya bagaikan kutub utara dan selatan ama rumah lu. Mana pernah you sakit!”

__ADS_1


“Lu bahkan hang out terus ampe malem bareng kita, gak pernah tuh besoknya lu tumbang… Izin seminggu kek izin liburan aja lu!!”


Meishya sudah tidak bisa mengontrol emosinya. Ceillyn segera menyadarkan temannya yang memang jauh lebih berani dari siapapun diantara ketiganya.


“Kenapa gue dimarahin terus sih?!” rutuk Farah mengalihkan pembicaraan.


“Kagak ada! Gue lagi sebel ama sahabat kita yang ngakunya sahabat tapi tetap aja gak anggep sahabat!” Meishya sudah kehilangan selera makannya. Ceillyn pasrah kali ini, mereka memang jarang bahkan tidak pernah berselisih baru kali ini keduanya merasa memang Farah terlihat keterlaluan menganggap pertemanan mereka.


“Far, kapan sih kita gak anggep lu?” Ceillyn mulai bersuara. “Kita berdua selalu menceritakan apapun kejadian yang kita alamin. Bukan nambah beban, tapi─”


Farah tertegun, dia menundukkan wajahnya tidak berani menatap kedua temannya.


“Apa lu pikir, kita temenan sama you karena lu dari keluarga Kaviandra?” Ceilly bertanya lirih, rasanya tiba-tiba seperti sesak mendera hatinya.


“Lyn…” Farah mendongak, kedua netranya tengah berkaca. Dia sungguh merasa bersalah, tentu saja dia tidak ingin melibatkan sahabatnya dalam masalahnya.


“Kita selama ini diam, hanya karena ingin menghargai privasimu…” Meishya kembali berucap sedikit melemah. “Sekarang gue dah gak tahan. Sampai kapan lu bohongin status lu ama Kakak Sepupu lu itu?!” Meishya menunjukan rekaman dimana Farah berciuman mesra dengan Keenan di pinggir jalan.


“Apa kamu bakalan ngelak, ini juga hal biasa di Kaviandra? Seriously?!!”


Farah sudah menjatuhkan air matanya, dia sudah tidak bisa lagi berbohong. Lonjakan emosinya kembali, dia bangkit dan bergegas menuju kamar mandi.


“Farah, oi!” Meishya ikut bangkit dan mengejar Farah. Ceillyn ikut serta menyusul keduanya.


“Hoek… Hoeeek…”


Farah menumpahkan isi perutnya yang tidak ada apapun disana.


“Farah…” Meishya terkejut dengan temannya yang mengalami muntah-muntah hebat di kamar mandi. “Lu kenapa?” Meishya memijat tengkuk leher Farah perlahan.


“Far.. Lu masih sakit?” sambung Ceillyn mendekat menyerahkan botol air mineral yang kebetulan dia bawa.


“Thanks Lyn, Mei…” Farah menyeka air matanya cepat. “Kemarin gue keracunan makanan, makanya langsung dilarikan ke RS buat opname…”


“Lu tahu gak rasanya seperti tidak dianggap? Kita berdua mengirim pesan sudah bukan beberapa kali lagi. Puluhan Far!!” Meishya menjatuhkan air matanya saking emosinya.


“Far, kita temenan udah dua tahun loh… Selama ini kita tidak pernah berselisih seperti ini. Tapi, semenjak kamu dekat dengan Kakakmu. Kamu berubah!” Ceillyn ikut menyeka sudut matanya.


“Sorry… Aku yang salah… Maafkan aku… Ingat, KTech tidak berdinding. Kita keluar sekarang!”


Keduanya kembali dilanda ketakutan saat Farah menggenggam kedua tangan mereka.


“I See… Sorry Far…” Meishya membalas menggenggam erat tangan temannya. “Lu, harus inget… Lu gak sendirian!”


Farah segera memeluk kedua temannya. “Gue tanpa kalian, bagai makanan tanpa MSG!”


Ketiganya terkekeh, merapikan tampilan dan keluar dari sana.


***


“Dimana Farah?!” Keenan keluar ruangan dan langsung mencerca sekretarisnya.


“Maaf, Tuan… Sepertinya Nona masih berada di pantry…”


Jam makan siang telah usai satu jam yang lalu. Gadis kecilnya tidak terdengar sama sekali memasuki ruangannya. Keenan segera beranjak menuju pantry yang ada di ujung lantai. Farah memang telah kembali. Namun, dia mengalami mual hebat. Dia meminta izin pada Sandra terlebih dahulu.


“Aaarh!” Farah memekik terkejut, Keenan memeluknya erat dari belakang.


“Kenapa lama!” rutuk Keenan protes.


“Aku ngantuk, aku bikin kopi!”

__ADS_1


Keenan tersenyum, dia menciumi tengkuk leher Farah bertubi-tubi.


“Kaaak, kita lagi di luar ruangan loh!” Farah berusaha menghardik tingkah kekasihnya yang mulai mesum.


“Memang kenapa? Aku pemiliknya tidak ada yang akan mengomentariku!”


Farah membuka mulutnya lebar, memang kadang otak pria di dekatnya ini bisa geser juga. Tidak memerlukan waktu lama Keenan memutar tubuh Farah menghadap dirinya. Gadis itu juga didudukkan di meja pantry.


“Aarhh, Kak… Jangaaan!” Farah menjerit lirih menolak perlakuan mesum kekasihnya.


Keenan tidak merespon, dia terus menyesap leher jenjang Farah dan turun menyentuh permukaan kulit bagian bawah kedua bukit kembarnya.


“Aarrghh, Kaaak, nanti ada orang!” Farah mulai melenguh atas sentuhan Keenan.


“Sam akan mengurusnya!”


“Aaarrghh!”


Farah merutuki sikap Keenan yang kembali cabul tanpa kenal tempat dan waktu. Benar saja, Keenan menggagahi Farah di dalam pantry kecil khusus Sandra dan beberapa anak buah intinya yang biasa membuat kopi disana.


Tidak hanya Farah, Sam juga ikut mengutuk tindakan mesum tuannya. ‘Emang kebangetan banget Si Keenan Brengsek ini, wik wik depan jomblo… Sungguh tindakan penistaan kejombloan!! Tapi gue bisa apa, gue kan pekerja ngenes! Huhu’


Keenan dan Farah telah selesai dengan hajat mereka. Farah terengah lemas memeluk prianya. Keenan segera mengenakan kembali pakaian dalam kekasihnya. “Ternyata, bercinta seperti ini nikmatnya berkali-kali lipat!”


“Kakak sungguh gila!!” Farah sudah tidak tahu lagi harus berkata seperti apa pada kekasihnya.


“Ya, aku gila karena kamu, Sayang!”


Keenan kembali menggendong gadisnya menuju ruangan pribadinya. Dia berniat kembali menggagahi Farah. Dia butuh mengembalikan kembali energinya yang sempat terkuras karena pekerjaannya. Tubuh Farah sungguh terasa seperti opium bagi tubuh Keenan.


“Bangsat, kenapa juga earphone gue ketinggalan!” Sam merutuk kembali tuannya. “Gue milih ketemu Kuntilanak ketibang denger Farah ah, ih, uh, eh, oh gak jelas! Aarrghh…”


Sam kembali menuju meja kerjanya, dia merebahkan diri dengan kasar membuat Sandra mendelik ke arahnya. “Lu kenapa?”


“Apa Nek!” sungut Sam sewot.


“Hish, cowok aneh!”


“Lu yang aneh, Nenek Lampir…”


Bruuuk!


“Aawww Sandraaa!”


Dengan wajah dingin dan datar Sandra tidak peduli, barusan dia melempar berkas tepat di wajah rekan kerja lucknutnya.


***


Di kediaman Condo Royal, dengan tertatih paman Tang menerima panggilan yang membuyarkan istirahatnya.


“Halo, Nyonya!”



“Baik Nyonya, Nona Muda sudah membaik… Dia sudah kembali bekerja dengan Tuan Muda…”


….


“Tidak Nyonya, Tuan tidak lagi kasar. Beliau juga tidak menginap disini kemarin…”


Paman Tang terpaksa berbohong. Semalam, anak buah Keenan menerobos masuk kediaman dan menyeret Jenny. Di bawah perintah Sam langsung Jenny dibawa paksa untuk di adili. Paman Tang merasa berdosa mengetahui kenyataan yang terjadi. Farah berada di rumah sakit karena Jenny meracuninya.

__ADS_1


Paman Tang memang pantas menerima hukuman cambuk dari tuannya. Dia benar-benar lalai dan membawa musuh yang membahayakan anggota keluarga besar Kaviandra. “Aku harap kedepannya Tuhan menjagamu, Farah!”


--- To be continue ---


__ADS_2