Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 79 # Rindu


__ADS_3


------------------------------


Seminggu kemudian...


Sudah sepekan lamanya Farah menjalani kehidupan seperti biasa, tanpa kakak sepupunya, dia merasa tentram dan terlampau membosankan. Selama sepekan Farah memanfaatkan waktunya melakukan apa yang disukainya tanpa perlu mengkhawatirkan gertakan prianya. Selama sepekan juga Keenan bak di telan bumi, tanpa ada kabar bahkan pesan. Farah selalu merasa kehilangan, beberapa puluh pesan singkat sudah Farah kirimkan. Sayangnya, tidak seperti sebelumnya, Keenan benar-benar mengabaikannya.


Mengapa masih ada, sisa rasa di dada... Di saat kau pergi begitu saja? Mampukah ku bertahan, tanpa hadirmu, sayang? Tuhan, sampaikan rindu untuknya...


Farah memandangi pemandangan di balkon kamar kakak sepupunya. Hari ini dia kembali berada di Condo Royal, dia begitu merindukan pelukan lelaki yang sangat dicintainya. Dengan menggunakan earphone miliknya Farah memainkan ponsel di tangan.


[ Farah_Lee : Sudah sepekan, rinduku tak kunjung usai! ]


"Aargghh, shibal!" Farah mengumpat kesal setelah mengirimkan pesan singkat pada kekasihnya.


Masih jelas teringat, pelukanmu yang hangat, seakan semua tak mungkin menghilang. Kini hanya kenangan yang t'lah kau tinggalkan, tak tersisa lagi waktu bersama...


Farah menatap hiruk pikuk jalan kota S dengan gemerlap lampu kota yang semakin membuat semarak. Namun, hatinya begitu dingin. Dia merasa kesepian, seperti biasanya saat sebelum Keenan memporak-porandakan kehidupannya.


"Huh..." Farah masuk kembali menuju kamar dan menyulam mimpi. Dia begitu lelah, sejujurnya selama Keenan tidak ada Farah juga sangat senang menghabiskan waktu bersama ketiga temannya. Orang yang paling merasa beruntung tentu saja Axcel, dia justru selalu berdoa Keenan tidak pulang kembali ke negara mereka.


Kantor pusat, KTech. 04.00 PM.


Tring!


Farah terbelalak, dia mendongak segera bangkit memposisikan duduk yang benar. Farah benar-benar memakan gaji buta. Tidak ada yang dia bisa lakukan selain memainkan ponsel atau menulis jurnalnya. Selama tuannya tidak ada, maka tidak ada juga aktivitas di lantai lima belas ini. Dia hanya bertemankan Sandra, keduanya sudah seperti putri Fiona yang terjebak di kastil paling puncak.


Farah mendengus kesal ternyata yang datang adalah office boy yang mengantarkan beberapa berkas yang diinginkan Sandra. Farah kembali pada posisinya semula dan membuka kembali aplikasi permainan di ponselnya. Sejujurnya Farah iri setiap kali temannya bercerita pasal pekerjaan mereka. Dia bahkan selalu membual bahwa dia ikut membantu Sandra merapihkan berkas. 'Sungguh menakjubkan kerja di perusahaan sebesar dan seterkenal KTech! Hanya diam dan bermain game...' rutuk Farah sarkas pada dirinya.


Waktu bergulir dengan cepat, jam bekerja telah usai. Farah segera melesat keluar, hari ini dia absen hangout bersama temannya. Dia juga mengatakan pada pengurus Tang untuk tidak perlu menjemputnya. Dia ingin kembali meluangkan waktu menikmati kesendiriannya, entah mengapa dia sedang tidak ingin diganggu saat ini. Farah berencana menikmati sore di taman tengah kota. Farah menggunakan transportasi umum dengan bus, setelah turun di pemberhentian bus, Farah melipir menuju salah satu minimarket untuk membeli cemilan dan kebutuhan lainnya. Sudah setengah jam yang lalu juga Axcel uring-uringan karena Farah menjelaskan tidak ingin diganggu oleh siapapun.


Farah memindai dari rak yang satu ke yang lainnya mencari sesuatu yang cocok untuk dimakan. Tiba-tiba saja Farah menjerit tertahan saat tangan seseorang merengkuh tubuhnya. "Aarrmmphh!"


Tangan besar itu ikut membekap mulutnya, seketika Farah teramat sangat ketakutan dan mulai berontak. 'Tunggu, wanginya kek kenal nih!'


Farah semakin berontak dan berbalik badan, kedua netranya berkaca-kaca. Keenan menurunkan tangannya, dia ikut menunjukan senyuman tampan memabukkan Farah. "Do you miss me, Baby?"


"No..." sahut Farah lirih, kedua tangannya segera memeluk tubuh Keenan. "Coz, I'm crazy without you..."


Keenan menutup mata, membalas memeluk erat tubuh gadis kecil yang sama membuatnya gila selama ini. Mereka lupa sedang dimana. Mereka tidak peduli, Keenan mencium lekat pucuk kepala Farah. Dia begitu senang bisa kembali bertemu si berisik adik sepupu rasa kekasih itu.


Melihatmu bahagia, satu hal yang terindah, anug'rah cinta yang pernah kupunya... Kau buatku percaya ketulusan cinta, seakan kisah sempurna 'kan tiba...


"Kakak jahat tidak pernah ada kabar!" Farah merutuk kesal memukul perlahan dada bidang prianya. "Aku sungguh seperti penghangat kasurmu saja!"


Masih jelas teringat, pelukanmu yang hangat, seakan semua tak mungkin menghilang. Kini hanya kenangan yang t'lah kau tinggalkan, tak tersisa lagi waktu bersama...


Keenan melonggarkan pelukan, dia menyeka wajah Farah yang sudah basah oleh air matanya. "Kenapa nangis. hm?"

__ADS_1


"Aku senang, aku pikir aku tidak akan bisa bertemu dengan Kakak lagi!" Farah berujar di sela isak tangisnya.


"Heh, kamu bodoh!" Keenan kembali memeluk Farah dengan erat.


Jika bukan karena dia ingin menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, mungkin saja dia membalas pesan-pesan Farah yang sudah ia baca. Namun, Keenan sadar, semakin dia membalas semakin dia tidak tahan ingin segera pulang menemui kekasihnya.


Mengapa masih ada, sisa rasa di dada... Di saat kau pergi begitu saja? Mampukah ku bertahan, tanpa hadirmu, sayang? Tuhan, sampaikan rindu untuknya...


"Apa kamu akan menghukumku?" Keenan kembali melepaskan pelukan menekan dagu kekasihnya.


"Ya! Jangan harap Kakak mau aku lepaskan kali ini..."


Keenan terkekeh, dia segera menarik tengkuk leher kekasihnya dan memagut bibir Farah dengan cepat.


Oh, masih tersimpan, setiap kеnangan, ho-wo-wo-oh... Semua cinta yang kau beri, kau takkan terganti... Mengapa masih ada, sisa rasa di dada... Di saat kau pergi begitu saja? Mampukah ku bertahan, Tuhan, sampaikan rindu untuknya...


Lidah mereka saling membelit, keduanya bertukar saliva tanpa perlu waktu lama. Bunyi decap peraduan bibir mereka semakin terdengar jelas. Sam bahkan harus mengevakuasi seluruh karyawan toko. Sungguh berat beban anak buah tuannya. Tuannya sibuk bercinta anak buahnya sibuk menutupi kelakuan tuannya.


Di luar area toko, anak buah Keenan yang ikut serta tengah duduk saling bercengkrama, menunggu instruksi tuannya selanjutnya.


"Nasib..." Sam menenggak satu kaleng sekaligus bir yang ada di tangannya.


"Lu mah bilang aja sirik ama Si Bos! Makanya cari cewek Bro..." Ken menepuk bahu sahabatnya. "Lu kalau kelamaan jomblo, maka niscaya ngenes seumur hidup anda!"


Pletak!


"Aaaah, Samuel Paaark!! Atiit..." Ken menjerit memegang kepalanya yang di pukul keras menggunakan kaleng bir.


"Haseeek... Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul, si anying gue jadi pengen ikut mukul!!" Ken mencubit pipi Sam gemas.


Traaaang!


Secepatnya Ken menyingkir saat kilatan mata Sam tertuju padanya. Sam melempar kaleng bir kearah teman lucknutnya. Sialnya Ken bisa menghindar. "Ich, Abang jahad, aku tuh cinta berat!" Ken berubah menjadi banci perempatan.


"Anjg! Gue ogah banget berbagi oksigen sama orang macam dia!" Sam kembali merutuk pada anak buah Keenan yang otaknya terasa setengah saja.


"Kupu-kupu makan buaya, hiyahiya!!" Ken tidak pernah kapok mengusili Sam.


Ben dan yang lainnya hanya bisa menggelengkan kepala dan menghembuskan nafas berat. Dia kembali mengedarkan pandangan memeriksa keadaan. Sedangkan di dalam minimarket, kedua sejoli tengah sama-sama tersipu merona melepaskan pagutan liar sebelumnya.


"Kita lanjutkan di rumah, Sayang?" Keenan berbisik lirih di depan wajah Farah, tak lupa tangannya masih memegang bibir basah kekasihnya.


"Ya!" Farah tersipu menjawab ajakan kakak sepupunya, perasaannya sudah teramat sangat berbahagia saat ini, setelah sekian lama dia merindukan kekasihnya, pria itu datang tiba-tiba dengan keromantisan. Sungguh di luar prediksi ilmuwan NASA.


Keenan menarik kedua tangan Farah dan menciumnya mesra. Farah semakin ingin meledakkan jutaan kupu-kupu yang tengah menggeliat di perutnya. Kedua netranya menangkap sesuatu yang semakin membuatnya mengharu biru. "Kakak masih memakainya?"


Sorot mata Farah menunjukan kearah dimana cincin pasangan keduanya masih tersemat di jari besar Keenan. Pria itu kembali menunduk dan memagut bibir Farah sekilas. "Tentu saja!"


'Aaaarrrk, aku ingin meledaaak... Mak, tolong mak...' batin Farah menjerit tidak karuan dengan perasaan yang berjuta rasanya ini.

__ADS_1


Keenan sudah tidak sabar, dia menarik tangan Farah membawanya keluar mini market. Pada akhirnya, Farah tidak membeli apapun dari sana. Seluruh anak buah Keenan bangkit bersiap menyambut tuannya. Farah begitu senang melihat Sam, tiba-tiba saja dia ingin membuat rusuh anak buahnya.


"Hai Sam, long time no see... Apa kamu gak rindu sama aku?"


Sam dan seluruh anak buah Keenan membuka mulut mereka lebar, tiba-tiba saja jiwa Sam meninggalkan raganya. 'Sejauh ini, ini yang paling jauh!' rutuk Sam kesal pada kelakuan sepupu tengil bosnya.


"Jadi kamu berharap ada yang merindukanmu selain aku?" Pertanyaan dingin Keenan sudah membuat atmosfer disana berubah drastis. Farah cekikikan melihat tingkah Keenan yang seperti sedang cemburu pada asisten khususnya.


"Cie... Cemburu!!" Farah melompat dan memeluk Keenan dari belakang. "Gendooong~"


"Hiiissshh!!"


Dengan sigap Keenan menangkap tubuh adiknya segera, Farah sudah melingkarkan kedua tangannya erat di leher kakak sepupunya. "Sayang tidak perlu cemburu, karena aku pastikan semua cintaku hanya untukmu!"


Farah mencium pipi Keenan membuat pria itu merona. Ingin rasanya seluruh anak buahnya menghilang saat ini juga.


'Jujurly, aku sih mening ditugaskan ke Mars ketemu Alien, ketibang ngeliat yang uwu begini. Salah-salah, entar disalahin!!' Ken gelisah dan bermonolog dalam dirinya.


Sebelum meninggalkan barisan anak buahnya, Keenan sudah menginstruksikan titahnya. Semua mengerti dan menunduk hormat.


"Sam, harusnya lu ajuin pembuatan Neuralizer! Tiap kali bikin perkara kita juga yang susah..." Ken kembali merutuk kesal.


Sam pura-pura tuli mendengar ocehan rekannya. Dengan cepat Sam merubah tampilan wajahnya, dia sudah terlihat bak Keenan yang dingin dan angkuh. Seperti biasanya, tuannya yang berulah mereka yang menyelesaikan sisanya. Seluruh karyawan dan juga orang sekitar yang tidak sengaja melihat keberadaan mereka telah menerima kompensasi juga pemeriksaan ponsel mereka satu per satu. Di antara orang-orang asing yang ikut serta menonton aksi Keenan dan Farah, ada salah satu orang yang menyeringai dan dengan lihai beringsut keluar dari pemeriksaan anak buah Sam.


***


Mansion Beverly, 07.00 PM.


Keenan membawa Farah kembali menuju Beverly, tiap kali keduanya hanya ingin menghabiskan waktu bersama maka Keenan akan membawa Farah kesana. Sesampainya di unit milik Farah, Keenan langsung menyergap wanitanya membuang tas yang di bawa gadisnya dan memagut bibir Farah dengan liar. Farah sempat terkejut, sejurus kemudian tubuhnya merespon keinginan prianya.


Dengan terus bergerak mencari tumpuan, Keenan akhirnya bisa menjatuhkan tubuh Farah di sofa. Tanpa menunggu lama mereka tentu saja melakukan adegan panas yang selama sepekan mengeringkan lahan keduanya. Lolongan teriakan keduanya menggema, Keenan kembali membawa Farah menuju kamar mereka. Keenan tidak akan melepaskan Farah sampai pagi menyapa.


"Uggh," Farah terbangun saat sinar matahari menyeruak dari balik tirai jendela kamarnya. Farah tersenyum saat kembali ingat bagaimana brutal kekasihnya melepaskan kerinduan mereka. Dengan tertatih Farah turun agar tidak membangunkan Keenan yang masih terlelap di atas ranjang tanpa sehelai benang.


Farah mengerutkan kening, dia bergegas mengunci pintu kamar mandi dan...


Hoek... Hoek... Hoek...


Farah mencoba memuntahkan sesuatu dari dalam tubuhnya. Perutnya sungguh terasa mual dan tidak nyaman. "Aawhh... Sakit!" Farah merintih lirih memegangi perutnya, dia terjatuh bersimpuh di depan toiletnya.


Kepalanya ikut terasa pusing seperti gasing, "Kenapa ini?"


Tok... Tok... Tok...


"Baby, are you okay?"


--- to be continue ---


Note :

__ADS_1


Neuralizer adalah alat yang digunakan agen Men in Black untuk menghapus ingatan seseorang.


Credit of Song : Sisa rasa by Mahalini.


__ADS_2