Gadis Kecil Milik Mr. Mafia

Gadis Kecil Milik Mr. Mafia
EPS 169 # Happiness


__ADS_3

"Apa kalian sudah siap?"


Keenan berbalik menatap kedua makhluk Tuhan yang mengalihkan segala hal di dunia ini dan memusatkan pada keduanya saja. Farah menganggukan kepala perlahan dan memantapkan hatinya. Keano mendongak melihat ibunya dan ikut serta mengiyakan.


"Kalian jangan khawatir, kita hanya akan pulang ke rumah, Sayang," Keenan mengusap lembut kepala masing-masing dan mulai menyalakan kendaraannya meninggalkan hotel menuju kediaman besar Kaviandra.


Sungguh kebetulan yang seolah telah di rencanakan Tuhan. Hari ini tepat jadwal Karennina pulang ke rumah. Keenan sudah membayangkan keharuan yang sebentar lagi menguar di kediaman. Kediaman yang selama lima tahun terasa hampa tanpa kehadiran Farah.


Selama perjalanan hanya ada kesunyian yang mendera di dalam kuda besi mereka. Keano yang tengah duduk di pangkuan ibunya memindai keadaan mereka. Ayahnya tengah fokus mengedarai dengan tatapan seolah tengah membayangkan sesuatu. Begitu pula saat kedua netranya memandang ibunya yang membuang wajah menatap pemandangan di luar jendela.


'Jika yang berada di samping kami adalah Papa Kecil maka aku bisa pastikan mobil ini berisik sekali dengan ocehannya. Harus aku catat, wanita seperti Ibu ternyata menyukai pria dingin dan tidak pandai menghidupkan suasana.' Keano masih tetap sibuk mencibir sifat ayahnya yang begitulah adanya.


Pada kenyataannya, keduanya tengah dilanda canggung luar biasa. Keenan masih membawa rasa cemburunya, sedang Farah dengan tidak enak karena melebihi batas yang di tentukan saat berbincang dengan Axcel. Bahkan dia menjadi merasa bersalah karena dia dan Axcel terlibat ciuman yang tak bisa dielaknya.


Saking terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing mereka sudah sampai di pekarangan pulau Kaviandra.


"Kita sudah sampai, Keano... Ini keluarga besar kita," Keenan melebarkan senyuman dan begitu senang melihat wajah putranya yang benar-benar begitu mirip dengannya. Dia akan sangat bangga memamerkan pria kecil itu di hadapan keluarganya sebentar lagi.


Sebelum ketiganya turun Keenan sempat mengacak rambut Keano gemas. Sialnya Keano bertanya pasal sesuatu yang membuat keadaan mereka tidak enak sekarang.


"Apa Papa yakin mereka akan menerimaku?" tanya Keano sendu.


Kening Keenan berkerut. "Tentu saja! Mengapa kamu berpikir seperti itu?"


"Bukankah aku anak haram, aku lahir sebelum kalian menikah. Ibu juga pergi saat mengandungku, dengan demikian aku mungkin tidak di terima saat itu."


DEG!!


Bagai kembali seperti di hunus belati tepat di jantung Keenan yang tengah berdetak kencang. Keenan merasa seperti tak bernyawa beberapa saat.


"Keanoo...," Farah merasa bersalah atas kesalah-pahaman masa lalu mereka. Dia membalikkan tubuh pangeran kecilnya.


"Siapa yang dengan berani mengatakan kamu anak haram Papa?!" tekan Keenan tidak suka. "Waktu itu─" Keenan sedikit tercekat, dia tiba-tiba kesulitan menjelaskan bahwa sebagian yang diucapkan putranya adalah fakta.


"Keano, Ibu tidak pernah mengatakan hal seperti itu bukan?" tanya Farah mengambil alih, berharap situasi mereka akan lebih baik kedepannya.


"Ini semua pilihan Ibu," Farah mengusap perlahan wajah Keano. "Ibu yang memutuskan untuk menjauh dari Papa, semua karena Ibu tidak ingin menjadi bebannya,"


Keenan menjatuhkan air matanya begitu saja tanpa bisa dia tahan, bahkan keberadaannya saja dia tidak menyadarinya.


"Papamu orang besar, orang penting... Akan sangat menyusahkan jika mereka tahu bahwa dia sudah memiliki pewaris. Keadaan saat itu tidak sebaik sekarang... Kita sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja."

__ADS_1


"Tapi percayalah, kedepannya... Kamu akan memiliki waktu lebih bersama Papamu... Kamu masih memiliki banyak waktu untuk mengenalnya,"


"Ibu sangat tahu, makanya Ibu selalu menceritakan kebaikannya padamu semata karena dia sangat menginginkanmu dan bangga akan kehadiranmu."


Tubuh Keenan bergetar, wajahnya dia tekuk dengan tangan yang menahan kembali laju air mata yang sialnya tidak bisa berhenti saat ini.


"Sayang," Keenan menarik salah satu tangan Farah dan tangan Keano bersamaan. "Kelak, jangan pernah lagi mengambil keputusan tanpa kesepakatan bersama." Keenan mencium punggung tangan keduanya. "Kamu salah besar, kalian bukan kelemahanku... Tapi justru sebaliknya, kalian sumber kekuatanku...,"


Ketiganya sempat berpelukan erat sejenak sebelum akhirnya benar-benar turun dan menggemparkan keluarga besar Kaviandra.


***


Kediaman Kaviandra.


"Selamat datang Tu─" Pelayan sempat terperanjat melihat Farah dan Keano yang berada dalam genggaman tuannya. "M-maaf Tu-an, no-na...," gagap si pelayan menundukan tubuhnya menyambut kedatangan tuannya.


Keenan melangkah tegap penuh kepuasan, dia langsung menuju ruang keluarga yang sudah rih terdenagr beberapa mulut yang riuh sedang berbincang.


"Semuanya...," Keenan menyembunyikan Farah di balik tubuhnya.


"Keenan," Nyonya Lyn terkejut melihat wajah berseri Keenan terlihat di hadapan mereka saat ini.


"Kak," lirih Carol menatap takjub dengan ketampanan Keenan yang berkali-kali lipat.


Semuanya mendadat berdebar dengan apa yang akan Keenan katakan, kesemua orang menatap Keenan dengan raut wajah seriusnya. Apalagi adik kesayangannya, dia terus memindai keadaan kakaknya, dia melihat bayangan di belakang tubuh kakaknya.


"Semuanya, Istriku telah kembali... Bersama dengan putraku!" Keenan berbalik badan menarik tangan Farah dan putranya menunjukan senyuman terbaiknya.


DEEGG!!


Semua detak jantung keluarga Kaviandra seperti berpacu cepat seperti sedang dalam kawasan arena balap liar. Nyonya Lyn segera menutup mulut dengan mata yang sudah berkaca.


"Far-ah..." Karen yang pertama segera bangkit dari kursi berjalan tertatih tidak percaya mendekati adik kesayangannya.


"Ka u be nar Fa rah Lee?" Bergetar tubuh Karen mencoba meraih tubuh Farah dan ingin mendekapnya segera.


Farah sudah ikut berkaca, jangan di tanya bagaimana kondisi hatinya saat ini. Hanya saja, semua terasa canggung. Otaknya mulai kembali kepada settingan Farah selama di kediaman.


"Bukan..." lirih Farah menunjukan tampang annoyingnya. "Aku utusan alam baka, aku di perintahkan Raja Ming untuk menghantuimu... Huuuu~" Farah menjulurkan kedua tangannya seolah tengah menakuti Karen.


Karen menghentikan sikap sendunya, dia akhirnya menyadari bahwa seseorang di depan matanya benar-benar gadis tengilnya. "Bajingan kecil, SINI KAU... AKU CEKIK KAMU, HAH!!"

__ADS_1


Karen menggulung lengan kemejanya bersiap melakukan serangan.


"Uuuh, tatuuut~" sahut Farah menjulurkan lidahnya. "Kejar aku, kau tak akan ku tangkap!" cibir Farah mulai menghindar.


"FARAH LEE JERK!!" maki Karen menahan air matanya dan bersiap menangkap gadis tengilnya.


"Wleee!" Farah kembali berulah.


Keenan terkekeh, keduanya tidak pernah tobat jika sudah bersama layaknya keong racun di hadapannya. Keano menghembuskan nafas berat, dia sungguh malu dengan tingkah ibunya.


'Terkadang aku malu dengan sikap Ibuku ini, ada yang bersikap kekanak-kanakan lebih dari aku yang anak-anak.' batin Keano mendengus kesal melihat tingkah ibunya.


Bruuk!


Karen sudah tidak tahan, dia menarik dalam satu tarikan tangan Farah kedalam dekapannya. "Huhu... Finally!!"


"Kamu akhirnya tahu jalan pulang degil! Huhu..." Karen memeluk erat Farah dengan isak tangis yang sudah tidak bisa dia tahan.


Nyonya Lyn segera menghampiri keduanya dan ikut bergabung memeluk kedua gadis yang begitu dia sayangi selama ini. Tak lama tuan Kaviandra ikut bergabung menyambut putri bontot yang merupakan calon menantunya.


"Maafkan akuu... Huhu," Farah ikut terisak pilu.


"Akhirnya doa Bibi terkabul, kamu kembali kerumah, Sayang..."


"Sudah, sudah... Tuan Kaviandra menghentikan adegan termehek-mehek mereka. "Hal terpenting sekarang, Farah telah kembali pulang, ini adalah keberkahan bagi keluarga kita." Tuan Kaviandra mengusap lembut punggung Farah yang masih bergetar hebat.


"Kesemuanya kembali memeluk Farah dengan perasaan membuncah. Mereka tidak percaya, keyakinan akan Farah masih tetap hidup membuat mereka benar-benar kembali berkumpul bersama.


Keenan mengusap cepat pelupuk matanya, senyum lebarnya jelas terpetakan di wajahnya yang kembali merona setelah beberapa tahun terakhir begitu kaku dan suram. 'Terima kasih Tuhan, ini pertama kalinya aku melibatkanmu... Aku sungguh malu... Tidak sekalipun aku percaya bahwa kuasaMu nyata, sampai aku kehilangan separuh nyawaku. Terima kasih...'


Semua orang tengah berbahagia, tetapi hanya satu yang tidak merasakannya. Wanita itu justru tengah mengumpat dalam hatinya. 'Sialan, kenapa wanita itu masih hidup!!'


"KAKAAAAK!!" Tiba-tiba saja Jimmy yang sudah terbangun dari tidur siangnya mencari keberadaan orang-orang.


Dia terkejut sekaligus bahagia melihat kembali Keano. Wajah Keano berubah pucat seketika, Keano berpikir bagaimana caranya menyingkir dari sana sekarang juga.


"Aku tahuuu, aku tahuuu, kita pasti akan bertemu kembali!! Yuhuuuu...," Jimmy berlari kencang dan memeluk Keano dengan cepat.


'Sialan, aku lupa Si Beban satu ini!' batin Keano merutuk.


Rasa hati ingin segera menyingkirkan tubuh Jimmy yang menempel erat di tubuhnya. Tapi dia sedang menjaga sikap. 'Kelak aku akan membalasnya, kamu akan menyesal selalu mencoba dekat denganku!' sungut Keano kembali bersumpah-serapah pada kelakuan adik sepupunya.

__ADS_1


---To be continued---


__ADS_2