
Farah berlarian kecil karena waktu sudah menunjukkan sebentar lagi kelas akan dimulai. Tanpa disadari olehnya ada beberapa pasang mata yang sudah mengawasinya. "Kita lihat saja Farah, apa yang bisa aku lakukan sekarang!"
Ternyata Arnetha yang sedang diam-diam mengintai wanita yang jadi incaran tunangannya. Dia bersama kedua temannya sedang merencanakan sesuatu yang gila. "Sel, kamu jaga-jaga!"
"Hm!"
Sella yang merupakan salah satu teman Farah segera mengamati kondisi sekitar. Kebetulan yang menguntungkan dirinya, Farah berbelok arah dan menuju salah satu toilet yang cukup jauh dari lokasi ruang pembelajaran.
"Ah, gara-gara Kakak, aku hampir terlambat. Aku juga kebelet!" Farah buru-buru memasuki salah satu pintu kamar mandi dan menyelesaikan hajatnya.
Arnetha perlahan mendatangi toilet yang digunakan Farah dengan mengendap tanpa bersuara. Dia memastikan bahwa hanya ada Farah di dalam sana. "Bagus! Tuhan saja sedang membantuku Farah Lee, kita lihat! Apa kamu masih bisa berlaku angkuh setelah ini? Hahaha!"
Ceklek!
Traaak!
Farah terbelalak, jantungnya seperti lepas dari sarangnya. "Da-mn!"
Farah buru-buru merapihkan tampilan dan merayap mencari tasnya. Farah berhasil mendapatkan ponselnya, dadanya kembang-kempis. Untuk sekian kalinya dia selalu terjebak dalam ruangan gelap gulita membuat pernapasannya terganggu sekarang juga. Farah begitu trauma kejadian tempa hari bersama kakak sepupunya.
"Seumur-umur aku kuliah, tidak mungkin mati lampu!" Farah menyalakan flash dan merasa awas.
Farah sempat terdiam sesaat, kakinya terlalu lemas untuk keluar. Pikirannya masih terus berpikir kemungkinan besar yang sedang menimpanya. "Aku pasti lagi dikerjain!"
Farah buru-buru mencoba menghubungi kakak sepupunya. Hanya ada nama Keenan yang ada di pikirannya saat ini. Di saat tengah mencoba mendial nomor kekasihnya, dia mendengar seseorang membuka pintu wc dengan hening. Farah semakin gelisah, dia ingat kejadiaan di hotel emperor, setelah lampu mati pasti ada bunyi tembakan. 'Oh Tuhan, dosa apa aku selama ini?'
Farah kembali berpikir positif, mungkin seseorang yang datang bisa menolongnya. Farah lekas membuka knop pintu dan...
'Terkunci?!' Farah semakin gelisah, sudah jelas dirinya sedang dalam bahaya.
"Sayang, ayo keluar... Apa kamu tidak takut kegelapan?"
Deg!
Jantung Farah kembali merasa berhenti berdetak beberapa saat, kemudian berdenyut kencang setelahnya. Suara yang ia dengar adalah suara seorang pria yang tidak dikenalnya. Siapa yang berani menjebaknya seperti ini. Farah sangat takut, dia tidak ingin mengulang malam naas seperti sebelumnya.
Trak!
Lampu kembali menyala hanya satu di bagian tengah ruangan. Hal itu mengakibatkan pencahayaan sedikit temaram. Farah mengatupkan bibirnya erat, tubuhnya sudah bergetar hebat. Pandangannya menatap bayangan di bawah pintu yang diperkirakan lebih dari dua orang. 'Ya Tuhan, siapa mereka? Apa mereka benar-benar mengincarku?'
"Geledah semua kamar mandi, waktu kita terbatas. Kapan lagi bisa bersenang-senang dengan anak angkat Kaviandra yang sangat cantik itu!"
"Kapan lagi kita bisa senang-senang sama anak angkat keluarga Kaviandra?! Hahaha" seru salah satu pria memprovokasi teman yang lain.
Hati Farah semakin mencelos, dia tidak menyangka mereka benar-benar menargetnya. Dari ucapan para bandit itu Farah bisa mengerti langsung apa yang akan mereka lakukan padanya. Farah mengedarkan pandangan, dia mencari sesuatu yang bisa membantunya melawan. Dia lebih baik mati jika harus menyerah begitu saja!
Brak!
Beberapa orang sudah serentak membuka masing-masing pintu yang berjumlah lima pintu, hasilnya nihil. Sisa satu pintu yang tersisa. Ketua kelompok berandal itu menaikan sudut bibirnya.
"Percuma kamu diam Farah Sayang!" pekik orang yang diyakini menjadi ketua kelompok berandalan yang berjumlah lima orang itu. "Atau... Kamu sedang menghemat tenaga untuk kesenangan kita, Sayang?"
Farah begitu jijik dengan ucapan pria kurang ajar yang sedang berada di balik pintu. Dirinya sudah bersiap menggunakan sikat toilet yang ada. Berharap tenaganya cukup untuk menghindar dan memukul sebagai pertahanannya.
Braaak!
"Menjauhlah dariku!" Farah segera memukul seseorang yang mendobrak paksa pintu kamar mandi yang Farah singgahi.
__ADS_1
Bug!
"Shiiit! Cewek kurang ajar! Berani kamu memukulku?!"
"Aaarrrk!"
Farah memang bisa mengenai kepala salah satunya. Hanya saja, dia sudah kalah kekuatan, dia juga kalah jumlah. Anggota yang lain langsung menyergap tubuh Farah dan pria yang Farah pukul mencengkram erat leher Farah.
"Kamu pikir bisa menghentikan kami dengan sikat wc?!" geram si pria yang kena pukulan Farah.
Tik!
"Ckck... Farah Lee, semakin hari, kamu kenapa semakin cantik sih? Aku sampe terus bergairah jika menggunakan wajahmu untuk berfantasi!"
Farah semakin ketakutan, rasanya dia tidak asing dengan wajah pria yang barusan menjentikkan jari menghentikan rekannya.
"Minggir, dia milikku lebih dulu!"
"Aman itu Bos! Walaupun sisa, aku yakin masih akan sangat memuaskan!"
"Hahahaha..." Gelak tawa dari seluruh orang menertawakan nasib sial Farah.
Farah tidak ingin menyerah, walau kedua tangannya di kunci di belakang, dia sedang menunggu waktu yang tepat menendang dengan kakinya.
"Apa yang kalian inginkan dariku? Mengapa kalian melakukan ini?!"
"Hahaha, tentu saja karena aku menyukaimu!" Pria yang berperawakan tinggi dengan wajah yang lumayan good looking itu kembali mendekat dengan seringai menjijikkannya. "Tenang aja Sayang, kita akan melakukannya dalam tempo waktu sebentar. Tapi, aku jamin kamu puas dan mungkin akan kembali mencariku untuk meminta ronde berikutnya!"
"Cuuiih!" Farah meludahi pria kurang ajar di hadapannya. Semua mata terbelalak dengan keberanian Farah. Gadis itu lupa dia sedang berbicara dengan siapa. "Apa kalian bodoh? Apa kalian tidak tahu siapa aku?" Farah mencoba mengulur waktunya. Dia berharap akan ada orang yang datang dan menyelamatkannya.
Plaaak!
Pria yang Farah ludahi begitu murka, dia mengusap kasar ludah yang Farah semburkan. Dia langsung menampar kasar gadis di depannya. "Memangnya kenapa? Kamu hanya anak angkat Kaviandra, jangan terlalu sok!"
"Bi-tch!"
Sraaak!
"Arrrrgghh! Tolooong!!"
"Aku sungguh menyukai ekspresimu Farah, berteriaklah... Aku pastikan tidak akan ada yang datang menolongmu. Kelas sudah dimulai dan kita berada di lokasi yang cukup jauh, Sayang!"
Air mata Farah sudah tumpah ruah, dia tidak ingin menyerah. "Saat Kakak tetuaku tahu kamu melakukan hal ini padaku, aku pastikan kalian akan menyesal!"
Deg!
Beberapa orang saling tatap, siapa yang tidak tahu Keenan Kaviandra yang terkenal dingin, angkuh dan kejam di dunia bisnis komersial. Tapi, tidak dengan pria yang memang sudah berhasrat melihat keindahan di depan matanya.
"Tentu saja kami akan menyesal jika dia mengetahuinya? Bagaimana jika tidak? Kamu lihat kamera itu? Kamu akan aman jika menutup mulutmu! Jika tidak, maka aku pastikan seluruh kampus akan melihat video panas kita yang akan kita buat sekarang, Sayang!"
Farah seperti lupa caranya bernafas, dia menatap nanar ke arah orang yang sedang membawa kamera tangan yang kini menyeringai mengolok dirinya. 'Kak! Tolong aku...'
"Menjauh dariku, brengsek!" Farah kembali meronta saat tangan jahat itu mencoba menggerayangi tubuhnya. Dalam satu kali hentakan, seluruh kancing kemeja Farah luruh menunjukan tampilan flawless tubuhnya.
"Astaga! Ternyata kamu adalah ja-lang!"
"Hahahaha!"
__ADS_1
Semua orang tertawa dan berhasrat dalam waktu bersamaan. Tanda cinta yang di sematkan Keenan terlihat jelas di indra penglihatan mereka. Pria itu semakin tidak segan mencium ceruk leher Farah dan menyesapnya. "Aaarrrghh! Pergi kaliaaan!!"
Farah menjerit ketakutan, tubuhnya di rengkuh erat dengan tangan yang sudah diikat kebelakang. Wajah pria bajingan itu semakin terbenam dalam tubuh Farah sampai seseorang datang dan membuyarkan kesenangan mereka.
Braaak!
"Farah! Bangsat kau Leo!!"
Buug... Buug... Buug... Buug...
"Kamu sangat berani menyentuh wanitaku!"
BUUUG!!
Dengan kasar Axcel memukul kelima penjahat hingga tersungkur pingsan. Farah luruh di lantai, dia sungguh malu. Air matanya terus keluar dengan tubuh yang bergetar hebat. Dia merasa sangat kotor sekarang. "Farah!"
Axcel telah selesai dengan para bajingan, dia segera membuka jaketnya dan menutupi tubuh terbuka Farah. Jantung Axcel sungguh seperti diremas kencang. 'Bagaimana jika aku terlambat datang?! Oh Shiiit!'
"Tenang Sayang, semua sudah selesai!" Axcel juga segera membuka simpul tali yang mengikat tangan Farah.
"Hiiikss, Axcel! Kenapa kamu lama sekali!! Huhu..." Farah segera memeluk Axcel dengan sangat erat. Gadis itu masih begitu ketakutan luar biasa.
Axcel menaikan sudut bibirnya sejenak. "Maafkan aku Ay, ayo kita keluar dulu dari sini... Apa ada yang sakit?"
Farah melepaskan pelukan dan menggelengkan kepalanya. "Aku akan menghubungi Paman Chen untuk menjemputku. Hiks..."
"Aku yang akan mengantarmu pulang!" Axcel memapah tubuh Farah sejenak.
Farah segera menghindar saat kembali ingat apa pesan kakaknya. "Tidak perlu Cel, aku tidak ingin ada yang salah paham pada kita sekarang. Apalagi keluargaku..."
Axcel mengepalkan erat kedua tangannya. "Sampai sudah seperti ini pun, kamu terus menghindariku, Ay!"
"Thank you Cel, aku berhutang budi padamu atas masalah ini. Tapi, tolong mengertilah... Hubungan kita tidak akan bisa dikaitkan dengan kata sederhana. Aku pikir kamu akan bisa memahami aku berasal dari mana?!"
Axcel semakin emosi mendengar ucapan Farah yang masih begitu angkuh padanya. "Ay, apa kamu tidak mengizinkanku untuk mengejarmu dengan baik-baik? Aku akan buktikan pada mereka, aku pantas untuk menjadi pendampingmu!"
Farah kembali terisak, dia begitu iba pada kegigihan pria yang bisa dianggap sebagai sahabat. "Maaf Cel, kenyataan yang tidak kamu ketahui adalah... Aku sudah mencintai pria lain!"
DEG!
Aku kamu selesai...
Namun ada rasa ku ingin kembali...
Aku kamu selesai...
Namun kamu masih saja mengintaiku...
Kita sama-sama menghabiskan waktu...
Melihat kamu walau tanpa bertemu...
Farah menunduk sejenak, kemudian dia berlalu meninggalkan Axcel yang masih termangu di tempatnya dengan perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata. Farah tertatih menelusuri lorong kampus, dia menundukan pandangan dengan kedua tangan yang memeluk erat tubuhnya. Air matanya juga ikut terus keluar dari sarangnya.
Tanpa disadari olehnya, sepasang mata semakin nyalang menatapnya. "Kamu sungguh beruntung bisa lolos kali ini! Namun, kamu jangan senang dulu... Kedepannya aku pastikan kamu tidak akan tenang hidup!"
--- to be continued ---
__ADS_1