
Kediaman Luciano seminggu yang lalu,
"Ughh..."
Farah terbangun dari tidur panjangnya, setelah insiden ledakan di tengah samudera Farah di selamatkan tepat waktu oleh Axcel yang tak lain dan tak bukan adalah sahabat sekaligus pengagumnya.
"Di mana aku?" Farah berusaha bangkit dari tidurnya, dia terperenjat saat kembali melihat selang infus menancap di permukaan punggung tangannya. "Aaark!! Apa di surga juga adjarum infus?" rutuk Farah konyol.
Saat ini Farah berpikir dirinya telah mati setelah menceburkan dirinya untuk menolong kekasih hatinya. Farah mengibas-ngibaskan tangannya dengan perasaan kesal. Seketika dia menyelidik ke seluruh penjuru kamar yang begitu asing di indra penglihatannya.
Ceklek...
Seseorang tengah membuka pintu kamar, Farah langsung menatap ke arah asal suara pintu terbuka itu.
"Farah!! Kau sudah bangun?!" seru seseorang yang di hafal suaranya oleh Farah.
"Axcel? Kau mati juga?" tanya Farah dengan raut wajah bingung dan omongan yang ngelantur.
Axcel menghentikan langkah kakinya yang sedari tadi ingin berlari menemui wanitanya, dia mengerutkan keningnya seketika. "Apa kau tidak waras sekarang?"
Keduanya saling tatap dengan wajah terbelalak mereka. "HAHAHAHAHA!!"
Pecah tawa Axcel dan menghampiri Farah yang masih terduduk lemah di atas ranjangnya.
"Ayaang... I save your life baby..." tutur Axcel lembut membenarkan posisi rambut Farah dan menautkannya di cuping telinga gadis incarannya.
Farah membuka mulutnya perlahan, dia tengah mencerna apa yang di ucapkan Axcel padanya saat ini.
"Kamu? Ka mu yang─" gagap Farah menatap haru Axcel.
"Ya... Kamu hampir mati di tengah samudera." tukas Axcel perih jika harus mengingat bagaimana kondisi awal Farah saat ia temukan. Mengenaskan!
Farah menitikan air matanya, dia perlahan mencubit tangannya. "Aaaw..."
"Heh..." kekeh Axcel gemas melihat tingkah Farah saat ini. "Syukurlah... Kamu segera bangun..." Axcel kembali mengusap lembut kepala Farah.
"KAKAK!!" pekik Farah seketika mengingat keadaan Keenan.
Axcel yang menyadarinya merubah raut wajahnya menjadi kesal. Hanya ada Keenan saja di otak Farah selama ini. Padahal karena pria itu lah Farah sampai harus bertaruh nyawa seperti sekarang ini.
"Axcel... Antar aku pulang... Aku harus memastikan keadaan Kakakku!!" pekik Farah menggenggam kedua tangan Axcel dengan raut wajah yang memelas.
__ADS_1
Axcel terpaku tidak ingin bergeming dari tempatnya atau sekedar menyahut ucapan Farah.
"Huh, apa kau tidak mengerti Farah?" cicit Axcel menghentikan rengekan wanita di depannya. "Kamu bisa dalam keadaan berbahaya seperti ini karena DIA!!" pekik Axcel tidak terima.
Farah menarik kembali tangannya dan beringsut mundur menundukan wajahnya. Wanita itu kembali meneteskan air mata yang sebelumnya sudah terkuras habis saat terakhir kali bertemu dengan Keenan.
"Kau tahu sendiri bukan?" Farah mendongak menatap netra Axcel serius. "Dia hidupku... Aku sangat mencintainya... Apapun keadaan kami berdua, aku tidak masalah... Selama aku bersamanya maka aku sudah sangat bersyukur!!"
Hati Axcel seperti di tusuk ribuan jarum secara bersamaan saat mendengar pernyataan Farah saat ini. Dia membuang wajahnya, meneguhkan sikapnya dengan mengepalkan kedua tangannya erat.
"Aku sangat berterima kasih padamu Axcel... Maaf kan aku..." tukas Farah kembali membuat Axcel menatapnya. "Sejak insiden kecelakaan itu aku terus memikirkan keselamatanmu... Puji Tuhan, kamu selamat..." Farah melebarkan senyuman dengan terus mengalirkan air matanya. "Maafkan aku..."
Tanpa meminta ijin Axcel memeluk erat Farah segera. "Aku sangat takut Farah... Aku sangat takut kamu tidak bangun lagi..." tutur Axcel tidak tahan dan ikut serta menjatuhkan air matanya.
"Kabar yang aku terima dari berita yang beredar, putra sulung Kaviandra Group tengah koma saat ini."
JEDEEERRR!!
Tubuh Farah bergetar hebat, dia menutup mulutnya segera dan tak lama kemudian dia meraung menangis kencang di dalam dekapan Axcel.
"Kakaaaaak... Huuuuuaa... Ini salahku... Ini salaahku..." jerit tangis Farah terdengar pilu di telinga Axcel.
"Sssttt..." Axcel mencoba menenangkan mengusap lembut punggung Farah. Tubuh wanita itu masih bergetar hebat, Axcel sungguh iba dengan kondisi Farah saat ini. "Kamu tenanglah, kamu pasti tahu sendiri kemampuan keluarga Kaviandra bukan? Dia di tangani oleh team medis yang hebat..." bujuk Axcel membuat Farah menghentikan tangisnya sejenak.
"Ya..." lirih Axcel perih mendapati gadisnya begitu patuh hanya karena menyemangatinya bahwa kekasihnya pasti akan sembuh.
Perlahan Axcel mengusap lembut wajah sembab gadisnya. "Sekarang kamu makan okey... Kamu juga sudah tertidur selama sepekan. Kamu butuh tenaga... Terlebih─" Axcel menatap sendu bagian perut Farah.
Sudah tidak bisa di sembunyikan lagi, saat menemukan Farah gadis itu mengalami pendarahan di bagian bawah pusat tubuhnya. Dengan segala upayanya Axcel mengerahkan team medis terbaik di ibu kota menangani Farah. Dia akhirnya mengetahui bahwa gadisnya tengah mengandung. Axcel seperti tengah berdiri di atas tepi jurang sebelumnya. Saat mendengar Farah diindikasikan mengalami gejala awak keguguran dini pria itu seperti di dorong kuat dan terjatuh ke dasar jurang terdalam.
Farah menyadari tatapan lain Axcel pada bagian tubuhnya yang sudah menonjol. "Axcel, seharusnya dengan ini juga kamu bisa mengerti... Kamu tidak punya harapan atas diriku... Aku tengah mengandung putra Keenan Kaviandra." ujar Farah lantang mengusap perutnya dengan bangga.
"Heh... Aku tidak menyangka Farah..." kekeh Axcel pedih. "Gadis lugu yang aku kenal, yang membuat aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Kau─" Axcel tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Semua terlalu menusuk dalam perasaannya.
"Here I'm... Aku tidak sebaik yang kamu kira bukan? But... Aku justru bahagia dengan kehadiranya..." Farah kembali mengulas senyum hangatnya membuat luka yang di alami Axcel perlahan justru memudar.
Axcel menaruh telapak tangan di perut Farah, gadis itu sedikit terbelalak. "Tidak masalah, aku akan menjadi Papa Kecilnya..." Axcel tak kalah mengembangkan senyum lebarnya.
"Mau aku suapi? Ini spagetty yang paling kamu sukai... Aku juga membawa cheese burger yang kamu sayangi!"
"Aaaarrrrkkk... YOU KNOW ME SO WELL!!!" pekik Farah begitu bahagia, jika biasanya Keenan akan mengantarkan makanan hambar tak berselera. Lain hal dengan Axcel yang justru mengerti apa kegemaran wanitanya itu.
__ADS_1
Jika sekilah makanan fast food itu terlihat benar-benar mirip dengan makanan fast food pada umumnya. Namun di tangan keluarga Luciano, segala hal bisa di buat lain menjadi jauh lebih sehat dengan komposisi bahan yang 100% Axcel buat dengan bahan yang ramah bagi wanita hamil dan juga pasien seperti Farah saat ini.
"Agak lain tapi ya rasanya dari Mekdi? Kamu beli di mana?" Farah menyelidik burger yang baru dia gigit.
"Beli? Sorry dori morry... Itu aku buat sendiri penuh dengan cinta..." ujar Axcel bangga menunjukan bakat terpendamnya.
"PREEETT!!" olok Farah membuat keduanya terbahak bersama saat ini.
Ini bukan pertama kalinya mereka seperti ini, Farah memang sudah sangat dekat dengan Axcel. Dari awal mereka kenal di semester pertama masa perkuliahan mereka. Sampai Axcel mengajaknya ke Dubai bersama kedua temannya untuk menyatakan perasaannya pada Farah. Sialnya perasaannya tentu saja di tolak halus oleh Farah kala itu.
Flash back masa itu...
"Farah Lee... Aku sangat menyukaimu, may be I loving you... May I?" tutur Axcel bersimpuh di hadapan Farah saat berada di gedung tertinggi di dunia. Wajahnya sudah memerah tersipu menatap gadis pujaan hatinya.
Keduanya tengah melakukan makan malam bersama, tiba-tiba saja area resto gelap gulita dan langsung terpancar sinar redup dari beberapa candle light yang mengelilingi mereka dengan bentuk sebuah hati. Farah menutup mulut dengan kedua tangannya takjub atas apa yang di lihatnya saat ini.
"What are you doing!!" lirih Farah melotot ke arah Axcel.
"Farah Lee... Maukah kamu menjadi wanitaku... Calon istri dan ibu dari anak-anakku?!"
Semua orang terbelalak, Meishya dan Ceillyn sampai membuka mulut mereka selebar mungkin. Karena suara yang terdengar berbeda dari Axcel yang biasanya mereka dengar sedikit kemayu. Saat ini justru suara husky yang bisa menggetarkan jiwa siapapun yang mendengarnya.
"Terima..."
"Terima..."
"Terima..."
Seluruh pekikan pengunjung lain bahkan kedua sahabatnya itu memprovokasi Farah agar menerima cinta pria yang tengah bersimpuh di hadapannya.
"I'm sorry Axcel... I can't."
Axcel menunduk lemas, dia mengepalkan kedua tangan dengan erat. Seluruh yang mendengar merasa iba tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. Tapi bagi Axcel yang pantang menyerah tidak mempermasalahkannya. Dia kembali bangkit dan menunjukan senyuman lebar dan tampannya.
DEG!
Farah bukan tidak tersentuh atau hatinya sedikit tergerak pada apa yang di lakukan pria di hadapannya yang sudah ia anggap seperti saudara laki-lakinya. Hanya saja bayangan Keenan selalu muncul tepat saat hatinya goyah. Seolah pria tua itu tengah menghantui dan mengingatkan kembali pada Farah untuk siapa cintanya selama ini.
"It's okay... I'll be try another days..."
Farah menggelengkan kepalanya lemah, berharap pria itu menyerah padanya.
__ADS_1
Flash back off...