
Farah semakin menangis tergugu mendengar apa yang di ucapkan prianya saat ini sungguh menyayat hatinya. Pedih ia rasakan, saat semua telah berbalas namun keadaan mereka seolah tidak lagi berpihak seperti sebelumnya. Farah sampai berpikir apa perjuangannya selama ini akan sia-sia saja. Jika ingin memilih, dia lebih memilih memendam perasaannya namun masih bisa melihat Keenan seperti biasa saat sebelum keduanya di satukan dalam ikatan cinta yang penuh drama seperti saat ini.
"Apa kau mendengarku Farah?" Keenan menatap nanar kearah gadisnya yang masih terdiam tanpa kata.
"Aku telah berjanji pada Paman Lee untuk menjagamu seumur hidupku. Aku Keenan akan menepati janjiku...
"So please... Please Baby, do it well as I already choose it to you." Keenan menahan gemuruh di dadanya yang semakin membuatnya sesak nafas rasanya. "Please, patuh padaku Baby. For your better life, with me or not!"
Farah semakin menunduk dan menangis dengan derasnya. Sudah bisa di pastikan Keenan sendiri seolah tengah memberikan kata perpisahan padanya sekarang. Farah menggeleng kepalanya perlahan, terus menunjukkan keras kepalanya.
Dari tempatnya Keenan memberikan senyuman paling manis seperti dahulu terakhir kali yang di ingat Farah saat dirinya mulai masuk kuliah. Farah tetap mengunci mulutnya, hanya mampu menangisi keadaan mereka yang selalu saja tidak berpihak padanya.
"Aku mencintaimu Farah Lee..." tutur Keenan kembali menyatakan perasaannya seolah terlambat. "Terima kasih sayang, sudah mau menjadi ibu dari anakku kelak... Aku tidak pernah terpikirkan akan berada di posisiku saat ini. Bermimpi pun tidak!" Keenan terkekeh pilu. "Kamu dan bayi kita adalah dunia baruku... Terima kasih... Terima kasih Sayang!" Ingin rasanya Keenan memeluk Farah saat ini, hanya saja dia takut. Jika dia kembali mendekati Farah, akan semakin sulit melepaskannya.
Bruk!
Bukan Keenan yang menghampiri gadisnya, melainkan Farah yang dengan sekuat tenaga bangkit memeluk erat prianya.
"Jangan tinggalkan aku, aku mohon... Aku juga bisa bertahan hidup hanya demi bersama dengan Kakak." ujar Farah terisak pedih membuat keadaan mereka semakin tidak jelas.
"Baby... My Farah Lee..." Keenan melonggarkan pelukannya menatap lekat gadisnya.
Tak lama pria itu mencium bibir pucat kekasihnya, menyesap semampunya dan turun menciumi leher Farah terus turun dan berhenti di perut calon istrinya. Debar rasa di jantung Keenan semakin berpacu tidak beraturan saat ini. Lamat Keenan mencium perut Farah, mengusapnya lembut dan bersiap berkomunikasi dengan bayi mungilnya.
"Maafkan Papa sayang," ucap Keenan lembut di depan perut Farah yang baru sedikit terlihat menonjol. "Papa sempat tidak ingin mengakui keberadaanmu, papa mengabaikan dan tidak menginginkanmu. Papa minta maaf, semoga kelak kamu mengerti dan menerima keberadaan Papa." Tubuh Farah bergetar hebat, bahkan ajaibnya permukaan kulit perut Farah berdenyut seolah menerima respon dari pergerakan bayi di dalam kandungannya.
DEG!
Keenan semakin menutupkan erat kedua netranya yang sudah basah "Papa minta maaf jika Papa harus mengingkari janji Papa untuk menjaga dan membesarkanmu kelak. Tapi Papa yakin di tangan ibumu, kamu akan menjadi anak yang hebat yang akan melampaui kemampuan Papa!"
Farah mengusap lembut rambut tebal prianya yang terus saja membanjiri wajahnya dengan air mata yang tiada hentinya.
"Ingan pesan Papa padamu sekarang, jaga ibumu seperti dia menjagamu selama ini. Kau bukan apa-apa jika tidak bisa berbakti pada ibumu walaupun dunia sudah ada dalam genggamanmu!" Keenan memeluk erat Farah menempelkan telinga di perutnya. "Kamu kebanggaan Papa..."
Seperti sebelumnya, tidak hanya Farah dan Keenan yang tengah dalam kondisi sesak dan terisak dalam diam. Ada Samuel yang sekuat tenaga tidak bersuara dan menginterupsi keduanya.
"Sam!" seru Keenan menghentikan termehek-mehek mereka.
Keenan melonggarkan pelukan setelah sebelumnya meminta kembali sebuat pagutan mesra di bibir mungil kekasihnya.
"I-Iya Tu-an..." sahut Sam terbata mengusap air matanya segera.
"Kita mulai sekarang!" tukas Keenan lantang membuat debar jantung Farah kembali berdetak lebih kencang dari sebelumnya.
"Sebelum di mulai, aku akan memberikanmu arahan terlebih dahulu." Sam merefleksikan kembali sebuah hologram di hadapan Keenan dan Farah saat ini.
__ADS_1
"Persiapan robot keselamatan Farah telah stand by dan bisa di gunakan setelah waktunya ready." Sam menstimulasikan rencana mereka pada Keenan. "Saat kamu mengaktifkan Chi-mu akan ada ledakan awal dalam kontainer. Bersamaan dengan itu Ben dan Ken akan meluncur melempar Shield dan juga sejumlah Microbots tambahan. Keduanya mempersiapkan segala hal yang dimaksudkan untuk menutupi ledakan awal dan menghalau pemicu ledakan di beberapa peledak lainnya." terang Sam mulai terdengar begitu serius.
"Ingat! Kamu hanya mempunyai waktu lima menit untuk melakukan proses ekstraksi. Menjaga staminamu sampai akhir adalah kunci keberhasilan misi kita kali ini!" beber Sam memperingati tuannya yang terkadang semaunya sendiri.
"Saat ledakan terjadi, kontainer akan berlubang dan air akan membanjiri kontainer kalian merikut dengan beberapa Microbots yang akan kamu kendalikan."
"Empat menit proses ektraksi dan satu menit proses evakuasi. Kamu sanggup?" Entah mengapa Sam masih ingin melakukan negosiasi dengan tuannya walau kecil kemungkinan di dengarkan.
"Aku bahkan bisa lebih cepat dari itu!" hardik Keenan angkuh.
"TIDAAK BISA!" pekik Sam tidak mengijinkannya. "Aku sudah memperhitungkan semuanya, ini waktu terbaik untuk memenuhi energi Chi-mu hingga sampai pada waktu kamu menarik kontainer ke dasar!"
Keenan mengepalkan kedua tangannya, dia tidak percaya tidak bisa melakukan hal lebih lagi saat ini.
"Aku akan mulai menghitung waktumu, katakan jika kamu sudah siap." tutur Sam, justru dia yang tidak siap sejujurnya.
"Sam..." lirih Keenan memanggil rekan seumur hidupnya.
"Ya..." Seolah mengerti keadaannya, Sam menyahut dengan nada sendu.
"Jag Farah Lee okay..." titahnya lembut tidak pernah selama mereka bersama memberi perintah dengan nada rendah seperti ini.
"Cih!" elak Sam seolah mengumpat. "Aku tidak akan menjaganya jika kamu tidak naik ke permukaan setelah Farah berhasil kami evakuasi!" olok Sam mengepalkan buku tangannya hingga jelas terlihat memutih.
"Heh, kamu mulai ngelunjak ya Samuel!" Keenan telah menjatuhkan air matanya mengingat hari-hari yang sudah ia lewati bersama Sam hampir di separuh usia mereka.
Keenan terpaku tidak ingin menjawab, dia segera mengalihkan pembicaraan yang kembali dirasakan memilukan.
"Kak..." lirih Farah menatap Keenan sendu.
Keenan menyambut menyapu air mata Farah dengan perlahan dan lembut. "Percayalah sayang, aku pasti bisa menyelamatkan kamu dan putra kita."
"Sam!" pekik Keenan memberikan kendali pada asistennya.
"Empat..."
"Tiga..."
"Dua..."
"SATU!"
Syuuuutttt!
DDDUUUUUUAAAAARRRR!!
__ADS_1
***
Sehari sebelumnya...
Praaaaang!
DEG!
Debar jantung Karen tidak menentu secara tiba-tiba, dia dan kekasihnya tengah memadu kasih di salah satu hoten berbintang yang tak jauh dari pusat kota.
"Sayaaaang!" pekik Erick saat pria itu tengah membawa beberapa cemilan.
Karen tengah menyesap teh hangt miliknya namun tak sengaja menjatuhkan gelasnya tepat saat perasaan tidak nyaman menyelesup dalam benaknya dan teh itu terasa panas di bibirnya. Refleks dia menjatuhkan gelas hingga berserak.
"Diam disitu!" pekik Erick khawatir dan menghubungi bagian room service meminta orang untuk pergi ke kamar mereka dan merapihkan kekacauan yang tak sengaja tercipta.
Karen sendiri tengan menatap nanar pecahan gelas miliknya dengan hati yang mencelos. 'Ada apa ini? Farah─'
Dia segera menyambar ponselnya yang berada tak jauh dari tempatnya saat ini. Tanpa menunggu lama Karen menghubungi adik angkat yang ia sayangi itu.
Tuuuutt... Tuuuutt...
Nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan ini─
DEG!!!
"Si Degil ini tidak pernah sekalipun mematikan ponselnya, bagi dia HP adalah nyawanya!" gumam Karen semakin gelisah.
Dia beralih mencoba menghubungi kakaknya, dengan tangan yang terus bergetar dan tiba-tiba air mata yang jatuh begitu saja berusaha menekan tombol pintas menghubungi Keenan.
Nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan ini─
Braaak!
"Kareeen..." seru Erick dengan wajah kebingungannya melihat tingkah Karen yang tiba-tiba saja seperti orang kebingungan.
Setelah petugas membersihkan kekacauan sebelumnya dengan cepat Erick mendekati kekasihnya. "Kamu kenapa sayang? Apa ada masalah?" tanya Erick hati-hati.
"Farah!" pekiknya mencengkram kedua lengan kekasihnya.
"Ada apa dengan dia?" tanya Erick sama gelisahnya.
"Dia dan Kakakku tidak bisa di hubungi!!" tutur Karen dengan raut wajah yang semakin pucat dan nada yang begitu mengkhawtirkan keduanya. "Aku harus pulang sekarang untuk memastikannya!"
"Sayang, mungkin saja mereka sedang tidak ingin di ganggu seperti kita sekarang?" Erick mencoba menenangkan kekasihnya.
__ADS_1
Karen menggelengkan kepala dan meninggalkan Erick disana tanpa sepatah kata apapun lagi. Karen yang sangat mengenal keduanya faham sekali tidak mungkin hanya karena berduaan ponsel mereka di non-aktifkan. Rasanya mustahil, apalagi bagi Raja Bisnis Mr. K...
--- To be continued ---