
Penthouse Manhattan Triplex, 08.00 PM.
Erick dan Karen sempat kembali beradu mulut untuk kesekian kalinya karena masalah yang sama. Erick sudah tidak sabar mempersunting Karen, sedangkan Karen masih terus menundanya. Bagi Erick, selain mencintai wanita pujaannya, ada rasa kebanggaan yang akan diterima di masyarakat luar kelak. Erick mengetahui bahwa Karen berasal dari salah satu keluarga ternama dan berpengaruh kedua di negara S. Sedangkan, Erick berasal dari keluarga Shin. Mereka tidak begitu memiliki pengaruh di dunia bisnis. Bahkan, tahun ini bisnis konstruksi Shin sedang mengalami keuangan yang cukup signifikan. Bergabungnya keluarga Kaviandra tentu menjadi ajang memperbaiki dan menaikan strata sosial mereka.
"Maafkan aku ya, Honey!" Erick menyapu perlahan wajah Karen. Dia kembali memagut bibir kekasihnya lembut dan terus menuntut. Keduanya kembali melakukan cumbuan sampai keduanya puas. Sudah bukan hal yang disembunyikan Karen pada teman kuliahnya. Erick tidak segan untuk menginap di mansionnya. Saat ini, mereka hanya tidak tahu, bahwa bahaya sedang mengintai mereka sebentar lagi.
Tok... Tok... Tok...
Erick melepaskan pagutan panas keduanya, terlihat Karen terengah akibat ulah tangan nakal kekasihnya. "Siapa yang datang semalam ini, Sayang?" Erick menatap tidak senang pada kekasihnya.
"Aku tidak tahu, aku tidak mengundang siapa pun. Mungkin Rangga!" Karen bangkit dan menautkan kembali kancing kemeja kekasihnya yang ia kenakan.
"Ck, dia masih terus mengunjungimu?" sungut Erick cemburu.
"Oh ayo lah, Sayang!" Karen terkekeh mencium pipi kekasihnya lembut dan segera menuju pintu.
Ceklek!
"Kakak!" Karen terbelalak dengan wajah yang memucat segera.
"Ya!" Keenan mencurigai sesuatu terjadi pada adiknya. TIdak biasanya Karen tidak menyambutnya dengan ceria. "Kenapa kamu terkejut seperti melihat hantu? Apa kamu tidak menyukai kedatangan Kakak, hm?" Keenan mencubit lemah pipi Karen dan mencium sekilas pipi adik kesayangannya itu.
Deg!
'Bau pria!'
"Sayang, kok lama?" seru Erick turun dari lantai dua tidak menyadari keadaan sebenarnya. Karen semakin pucat, mendadak dia lupa caranya bernafas.
"Owh, kamu tidak menyambutmu karena dia?" Keenan menatap nyalang adiknya. Wajah Keenan sudah berubah sepenuhnya. Sorot mata tajamnya menusuk indra penglihatan Karen sekarang.
"Kak, aku─" Karen berusaha menjelaskan. Namun, lidahnya seolah kelu.
Erick mengerti, sepertinya dia sedikit mengetahui siapa pria yang sedang menatapnya nyalang. 'Shiiit, gue lagi topless gini!'
"Kamu sungguh sangat berani memasukkan seorang pria kedalam mansionmu Karennina!" Keenan berjalan tegap mendekati Erick yang sudah mematung. Tubuh pria itu bagai tak bertulang, dia lemas hanya dengan menerima tatapan tajam calon kakak iparnya.
"Jelaskan padaku Karennina Kaviandra!!" Keenan memekik emosi melihat kenyataan adiknya yang sudah di luar batasan. "Apa ini Karen!"
"Aarrrkk!" Keenan telah mencekik leher Erick dengan gerakan cepat.
Karen terlihat syok, dia tersadar dan bersiap menyelamatkan kekasihnya. "Kakak, lepaskan dia!"
Keenan berbalik menatap adiknya, pria itu seperti merasakan tertusuk di belakang tubuhnya. "Ini kah yang kamu lakukan selama jauh dari keluarga, hah?!"
Bruk!
"Uhhhukk!"
Erick jatuh tersungkur di bawah kaki Keenan. Pria besar itu melepaskan mangsanya, Erick memegangi lehernya yang terasa panas dan perih. 'Aku tidak menyangka, dicekik begitu saja, rasanya seperti kematian sedang mendatangiku!' Pria itu meraup oksigen sebisanya.
"Aku sudah besar Kak, ini kehidupan pribadiku! Kakak tidak perlu ikut campur..."
__ADS_1
Plaaak!
Deg!
Karen menjatuhkan air matanya segera dan memegang pipinya yang panas disebabkan tamparan keras yang dilayangkan kakaknya.
"Ini kah yang kamu maksud menjadi dewasa? Menjadi kurang ajar pada Kakakmu, hah?!" Emosi Keenan sudah diambang batas.
Melihat adiknya menggunakan kemeja pria, dan satu-satunya pria yang ada disana tengah berte-lanjang dada. Apa lagi yang bisa dipikirkan Keenan jika bukan hal yang sering dia lakukan dengan Farah. Hati Keenan seperti hancur, seharusnya adiknya bisa menjaga dirinya.
"M-maafkan aku Kak... Hiks..." Karen terisak setelahnya membuat hati Keenan melemah.
"Apa yang sudah kamu lakukan pada adikku!"
Bug!
Dengan cepat Keenan meninju perut Erick, pria itu sampai memuntahkan darah dari mulutnya langsung.
"Kakak! Stop it!!" Karen segera meraih tubuh Keenan dan menghentikan pria itu memukul kekasihnya lebih jauh lagi.
Bug!
Bruuuk!
"Aku mohon hentikan Kak, kami tidak melakukan apapun... Hiks... Lepaskan dia Kak!"
Bruuuk!
"Berdiri Karennina Kaviandra!!" Bentak Keenan pada adiknya dengan lantang. "Aku tidak pernah mengajarkanmu merendahkan diri untuk orang lain. Bangun!!"
Sam menelan ludahnya, ini pertama kalinya dia melihat konflik di dalam keluarga inti Kaviandra. 'Huh, lantas... Bagaimana jika adikmu tahu, apa yang sudah kamu lakukan pada Farah Lee!'
"Tidak!" Karen mendongak, dengan lelehan air matanya dia terus memohon pada kakaknya. "Aku tidak akan berdiri sebelum Kakak melepaskannya dan membiarkannya pergi sekarang!"
"Heh!" Keenan membanting tubuh Erick yang dia cengkram erat. Pria itu sudah bertransformasi menjadi iblis yang tidak ingin berbelas kasih. "Apa aku akan membiarkan pria yang menodai adikku begitu saja?" Keenan menunduk, mengapit wajah adiknya dengan erat.
Denyut jantung Karen berpacu seperti dia di kejar oleh makhluk astral. 'Ini kah Mr. K yang marak dibincangkan orang-orang? Sukses, dingin dan mematikan!'
"Aarrkk... Aarhh... Hah!" Karen yang sempat kehabisan udara, segera menghirup oksigen sebisanya saat tangan Keenan melepaskannya.
"Ini peringatan untukmu Karennina!" Keenan menatap nyalang adik dan kekasihnya. "Sam, perintahkan anak buahmu untuk mencambuk pria bajingan ini sebanyak dua puluh kali!"
"Tidaaak! Kaaak aku mohon!" Karen kembali memelas di bawah kaki Keenan.
"Ini hukuman paling ringan Karen, sepatutnya aku membawanya menuju gerbang kematiannya!" Keenan kembali menunjuk penuh amarah di hadapan Karen. "Dia sudah berani menyentuhmu, harusnya aku membunuhnya sekarang juga!" Keenan melemaskan otot lehernya.
"Hah!" Dengan masih membawa emosinya Keenan keluar dari mansion adiknya. Dia harus menghemat energinya, ada satu urusan bisnis jaringan hitam yang akan dilaksanakan sebentar lagi.
"Sam, urus mereka!"
"Baik Tuan!" Sam menunduk dan mempersilahkan tuannya.
__ADS_1
"T-tidak Sam, aku mohon!" Karen tetap memohon pada asistennya.
"Maaf Nona, seharusnya anda mengetahui sendiri bagaimana sifat Kakak anda. Ini benar-benar hukuman paling ringan bagi kekasih anda. Jika saja Tuan tidak melihat anda, mungkin saja Tuan menyuruhku memotong tangannya."
Wajah Erick semakin pucat, dia sudah terlihat pasrah. 'Aku tahu sekarang, mengapa Karen begitu sulit membawaku ke tengah keluarga besarnya. Kakaknya seperti monster!'
***
Gedung Atrium SF, acara pelelangan bawah tanah x, 11.00 PM.
Keenan dan anak buah intinya sudah berada di acara puncak perjalanan bisnis mereka. Keenan sudah membersihkan lebih dulu dirinya. Dia bahkan sudah memukuli orang yang didapatkan anak buahnya sebagai pelampiasan emosinya. Keenan melangkah tegap di ikuti Sam di sampingnya. Dia menyeringai saat di depannya dia bisa dengan jelas bertemu dengan musuhnya.
"Well, aku tidak menyangka Mr. K juga berminat pada pelelangan kali ini? Apa kamu berniat untuk kembali mencurinya?" tanya Mr. Wei sarkas di hadapan Keenan.
"Ck, kita lihat saja nanti. Apa uang Huateng bisa melampaui keuangan Ktech!" Keenan mengejek dengan seringainya yang menjengkelkan.
Keenan melewati Mr. Wei dengan angkuh, di ikuti Sam berada di sampingnya dengan raut wajah serupa. Dengan sekuat tenaga Mr. Wei menahan emosi yang sudah hampir melewati ambang batas. Terlihat eksekutor terbaiknya melemaskan otot lehernya ingin menyerang Mr. K segera. Tuan Wei menahan dengan tangannya, bukan waktu yang tepat untuk menyerang musuhnya di wilayah perbatasan seperti ini. Mereka sedang berada di kawasan dimana hukum melarang kubu organisasi menyerang tanpa alasan.
Jenis pelelangan kali ini berupa sebidang tanah atau properti yang berharga. Salah satu yang menjadi incaran beberapa penguasa bisnis adalah kawasan seluas lima hektar yang berada di segitiga emas industri komersial. Kawasan industri tersebut disebut memiliki potensi ekonomi hingga puluhan tahun ke depan. Semua peserta sudah mempersiapkan harga terbaik yang mereka punya. Tak jarang mereka benar-benar bertaruh dengan harta terakhir yang mereka miliki.
"Baiklah, kali ini kita sudah berada di puncak acara!" Sang moderator acara kembali membuka sesi terakhir dari keseluruhan acara.
"Gold Triangle Land!"
Ting!
"Lima milyar!"
Baru di sebutkan namanya, salah satu peserta sudah melakukan penawaran pertamanya. Ruangan kembali ricuh dengan penawaran yang hilir mudik saling sahut menyahut agar tanah tersebut bisa mereka bawa pulang. Keenan hanya menyeringai dengan tingkah para Monkey yang jadi bahan lelucon untuknya.
Ting!
"Sepuluh triliun!"
Semua mata terbelalak saat asisten Lee menawar tanah atas nama tuannya. Keenan semakin memacu adrenalinnya.
"Wow!" pekik MC antusias dengan penawaran yang membuat keributan menghilang dengan sendirinya. Tidak mungkin ada yang berani menawar lebih besar dari Klan Long. "Mari kita hitung sama-sama, last call di sepuluh triliun!"
"Satu..."
Mr. Wei menatap Keenan, pria itu sedikit mengernyit keheranan. 'Mengapa dia begitu santai? Aku harus waspada!'
"Dua..."
"Ti─"
Ting!
"Dua puluh triliun!"
Semua pasang mata di dalam aula seolah ingin keluar dari tempatnya. "Siapa yang memiliki uang sebanyak itu?!" Seperti itulah pertanyaan yang serupa yang ada di benak para peserta pelelangan. Keenan menyeringai, asisten Sam telah menyatakan penawarannya. Pembawa acara sempat menghentikan suaranya saking syoknya. Sudah tuan Wei duga, Keenan memang selalu tidak bisa di tebak!
__ADS_1
--- To be continue ---